Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Sarah mendorong Dinda


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Kek, ini ada kak Hana telepon. Dia mau bicara sama kakek dan nenek."Seru Joni menghampiri kakek dan neneknya yang ada di teras belakang.


Pak Karim dan ibu Rahayu langsung bergegas mengambil ponsel yang diberikan Joni. Hana memang seminggu 1 sampai 2 kali selalu menghubungi keluarganya yang ada di Indonesia.


[Assalamualaikum cucu kakek.] Seru pak Karim sembari melambaikan tangannya kearah ponsel. Mereka saat ini melakukan panggilan video call.


[Waalaikumsalam Kakek, nenek. Hana kangen sama kalian semua, mau pulang belum waktunya libur. Oh iya kakek dan nenek sehat?.]


[Alhamdulillah kita semua sehat, Hana. Kamu sehat kan? Oh iya, apa kamu tidak pernah menghubungi mama kamu? Jangan pernah melupakam mama kamu Hana, seburuk apapun perangai Sinta, dia tetap mama kamu dan orang yang melahirkan kamu.]


[Hana tadi sudah menghubungi mama kek, tapi mama tidak mau mengangkat telepon dari Hana. Pesan Hana juga tidak dia angkat, mungkin mama masih marah sama Hana sebab Hana tidak mau mengikuti kemauannya. Hana juga pergi keluat negeri tanpa pamit dulu sama mama.]


[Kamu tidak pamit juga ada alasannya Hana, kalau waktu itu kamu pamit pasti kamu saat ini sudah menikah sama bandar barang haram itu.] Ucap ibu rahayu kini ikut bersuara.


[Iya nek. Oh iya, kata Joni om Reno mau menikah lagi dengan wanita pilihan hatinya ya, Nek?.]


[Iya sayang. Doakan saja semoga acaranya lancar dan rumah tangga om Rena langgeng sampai tua. Kamu disana jaga kesehatan dan belajar yang rajin ya nak. Jangan sampai mengecewakan Om Satria.]


[Iya nek itu pasti. Ya sudah, Hana matikan dulu ya nek teleponnya. Assalamualaikum.]


[Iya sayang, waalaikumsalam.]


Sambungan video call itu terputus dan ibu Rahayu menyerahkan ponselnya kepada Joni. Joni menerima ponsel itu dan memasukannya ke kantong celana pendeknya.


"Nenek sama kakek mau minum teh?."Tanya Joni.


"Mau, kalau ada yang buatin."Seru ibu Rahayu.


"Ok, Joni buat teh dulu ya. Tadi Joni juga lagi mau buat teh tapi kak Hana telepon, katanya telepon di ponsel kakek tidak di angkat. Pasti ponsel kakek ada dikamar, iya kan?." Seru Joni sembari terkekeh.


"Iya ada di kamar."Jawab pak Karim juga ikut tertawa.


Joni berlalu kedapur untuk membuatkan teh kakek dan neneknya, dia juga membuat untuk dirinya sendiri. Setelah menunggu beberapa menit 3 cangkir teh Joni bawa ke teras belakang rumah.


"Silahkan diminum kakek dan nenek."Seru Joni dengan senang.

__ADS_1


"Waahh terimakasih cucu kakek."Seru pak Karim.


Joni ikut duduk bergabung dengan kakek dan neneknya, sebenarnya dia ingin membicarakan soal Sarah kepada kakek dan neneknya. Sebab Sarah masih saja menghubunginya agar bisa membujuk papanya untuk rujuk.


"Kek, mama masih saja menghubungi Joni dan meminta Joni untuk membujuk papa agar mau rujuk dengan mama. Joni sudah bilang jika papa sudah mau menikah, tetapi mama justru memarahi Joni. Justru dia ingin tahu wanita yang akan menjadi istri papa, joni tidak mau kasih tahu."Ucap Joni menyampaikan keluh kesahnya tentang Sarah kepada kakek dan neneknya.


"Jangan kamu kasih tahu, Nak. Kalau mama kamu tahu pasti dia akan melabrak Cahaya, tahu sendirikan bagaimana watak dan sikap urakan mama kamu. Jika dia menghubungi kamu, kamu biarkan saja."Ucap ibu Rahayu.


"Iya nek. Joni tidak mau kalau papa rujuk dengan mama, sebab pacar mama itu banyak. Joni beberapa kali melihat mama jalan bersama pria yang berbeda-beda. Joni malu mempunyai mama seperti itu, lebih baik joni tidak punya mama daripada punya mama tapi wanita tidak benar yang pacarnya dimana-mana."Seru Joni dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ibu Rahayu langsung membawa Joni dalam pelukannya, sedangkan pak Karim mengusap pundak Joni. Tangisan Joni pecah di pelukan neneknya. Joni sering mendapat cibiran dari temannya, yang mengatakan mamanya seorang p3l@cur yang setiap jalan dengan pria selalu pria yang berbeda-beda.


"Sabar sayang, doakan saja semoga mama kamu segera kembali kedalam jalan yang benar. Jangan pernah putus mendoakan mama kamu, seburuk apapun prilaku mama mu. Sebagai anak kamu tidak boleh membenci mama kamu, terlebih dia orang yang sudah melahirkan kamu."Ucap pak Karim dengan lembut.


"Tapi Joni malu kek. Mama itu hanya memikirkan kesenangan dan kebahagiaannya saja tanpa mau mengerti perasaan Joni. Joni malu Kek, teman-teman Joni sudah tahu kelakuan mama. Bahkan ada papa teman Joni yang pernah jalan sama mama. Joni hanya berharap semoga mama segera tobat, tidak mengganggu kebahagiaan papa dan mama Cahaya." Seru Joni dengan serius.


Anak 12 tahun sudah mengerti arti kehidupan rumah tangga. Joni tahu betul bagaimana kehidupan mamanya diluaran sana. Pak Karim dan Ibu Rahayu sangat menyayangkan kelakuan Sarah, namun mereka bisa bernafas lega sebab Sarah bukan lagi menantunya.


"Joni kekamar dulu ya nek, kek."Ucap Joni melepaskan pelukannya dari sang nenek.


"Iya sayang, kamu istirahat ya. Jangan mikirin mama kamu, kamu belajar yang baik. Bukannya kamu sebentar lagi mau ujian."Ucap ibu Rahayu pelan.


"Iya nek."Jawab Joni.


********


Dinda merasa jenuh ada dirumah terus menerus, dia kangen ingin ke Cafe. Dindapun menghubungi Satria untuk meminta izin ke Cafe.


[Tapi jangan mengerjakan pekerjaan ya sayang. Mas tidak mau kamu kelelahan, Sayang.]


[Aku cuma ingin lihat-lihat saja kok, Mas. Mungkin cuma makan sama ngobrol sama karyawan, ini juga di antar pak sopir.]


[Iya, nanti pulangnya sama mas saja. Nanti mas mampir ke Cafe untuk menjemput mu.]


[Baiklah mas. Kalau begitu aku tutup ya teleponnya ma, Assalamualaikum.]


[Waalaikumsalam, Mas.]


Klik


Dinda mematikan sambungan teleponnya lalu menghampiri pak sopir untuk mengantarkannya ke Cafe. Dengan segera pak sopir mengantar Dinda ke Cafe, setelah cukup lama diperjalanan akhirnya mobil yang di kendarai pak sopir sampai di Cafe.


"Kebetulan sekali sih kita ketemu, oh iya aku lupa. Ini kan memang Cafe milik kamu jadi wajar dong kalau kita bertemu."Seru Sarah yang tiba-tiba menghampiri Dinda.

__ADS_1


Baru juga turun dari mobil, Dinda sudah dibuat kesal oleh Sarah. Ternyata Sarah juga baru datang dan mobilnya parkir tepat di samping mobil Dinda. Sarah datang dengan teman prianya yang sudah pasti teman kencan Sarah.


"Ohh mbak Sarah. Mau makan? Silahkan masuk saja mbak, dan segera makanan dan minuman yang mbak suka. Untuk mbak Sarah nanti aku berikan diskon 30 persen deh."Seru Dinda.


"Haaiii !! Kamu kira aku ini orang miskin yang tidak sanggup membayar makanan di cafe kamu ini?. Jangan mentang-mentang pemilik cafe ini, jadi kamu seenaknyq saja memperlakukan saya. Saya disini itu pelanggan, jadi kamu harus hormat sama saya."Seru Sarah dengan ketis sambil berkacak pinggang.


"Aku sombong bagaimana sih mbak? Perasaan aku ngomong tidak ada yang sombong-sombongnya sama sekali. Dikasih diskon kok bilang sombong, situ kali yang sombong."Jawab Dinda semakin membuat Sarah kesal dan geram.


Sarah mendekati Dinda dan tangannya terangkat untuk menampar Dinda. Namun dengan cepat teman pria Sarah menghentikan tindakan Sarah, dia tidak mau Sarah berulah yang justru akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Sarah, sudah ! Jangan main kasar begini, nanti kamu malah malu sendiri."Seru teman pria Sarah yang bernama Heri.


"Tapi sayang, dia ini harus dikasih pelajaran."Seru Sarah tetap tidak terima.


"Sudahlah mbak jangan cari ribut terus denganku. Oh iya mbak, pria ini siapa ? Kok sudah ganti, minggu lalu bukannya sama Hakim dan kemarin lusa baru saja ngajakin mas Reno untuk rujuk tapi sekarang kok sudah menggandeng pria lain.


Sarah terlihat salah tingkah, dia di skak mati oleh Dinda. Padahal dia sedang berusaha untuk mengajak Reno rujuk, tetapi justru hari ini dia jalan sama pacar barunya. Dan parahnya diketahui oleh Dinda.


"Jangan ikut campur dengam urusanku, Dinda. "Seru Sarah sembari memandang tajam Dinda.


"Huuuhhh... Maaf ya mbak, aku tidak akan ikut campur urusan kamu dengan para pria kamu itu. Tetapi jika menyangkut kakakku, aku terpaksa ikut campur. Tapi untungnya mas Reno tidak mungkin rujuk dengan kamu, dia sudah mempunyai wanita yang lebih baik dari kamu."Seru Dinda dengan senyum mengejek Sarah.


Selesai bicara seperti itu Dinda langsung berlalu dari hadapan Sarah. Dia berjalan masuk dan diikuti oleh pak sopir dari belakang, pak sopir harus memastikan tidak terjadi sesuatu dengan Dinda. Namun Sarah tidak tinggal diam, dia sengaja berjalan dengan cepat dan mendorong Dinda.


"Dasar wanita sombong."Seru Sarah dengan mendorong Dinda secara cepat sampai pak sopir tidak menyadarinya.


Brrrukkkk


Dinda terhuyung, dan dia jatuh menyamping menabrak pot bunga besar.


"Bu Dinda."Seru pak sopir kaget.


Dinda memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, sebab perutnya terantuk pot bunga yang besar. Sarah memandang sinis kearah Dinda, dia sangat puas membuat Dinda kesakitan.


"Aduhhh pak perut ku sakit banget."Seru Dinda sembari memegangi perutnya.


"Ya Allah, bu Dinda. Kita kerumah sakit saja bu."Seru pak sopir dengan panik.


Beberapa karyawan menghampiri Dinda dan segera membantu pak sopir membawa Dinda kembali kemobil untuk dibawa ke rumah sakit. Sarah dan teman prianya kini meninggalkan Cafe juga, Sarah mulai takut terjadi sesuatu dengan kandungan Dinda dan dia akan berurusan dengan Satria.


*Kenapa tadi aku sampai nekat mendorong Dinda? Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Dinda dan kandungannya, pasti Satria akan menghajarku. Bisa-bisa aku juga akan dipenjarakan, aku harus cari alasan apa agar Satria tidak menyalahkanku. Hemmm lagipula tadi hanya pak sopir saja yang bersama Dinda. Sepertinya sopir itu juga tidak menyadari pergerakanku, jadi aku bilang saja kalau tadi tidak sengaja bersenggolan dengan Dinda, lalu Dinda terhuyung dan menabrak pot bunga.*Gumam Sarah dalam batinnya.


**********

__ADS_1


__ADS_2