Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Dinda cemburu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Melisa kok tidak ada? Apa dia sudah pulang?." Tanya Satria sambil mencari keberadaan Melisa.


Dinda hanya menganggukkan kepalanya saja. Tiba-tiba saja dia tidak suka dengan suaminya yang mencari keberadaan Melisa. Dinda pun langsung cemberut dan bibirnya mengerucut. Melihat perubahan sang istri membuat Satria langsung menepuk keningnya sendiri.


Plllakkkk


Satria langsung mendekati sang istri dan membawanya dalam pelukan. Namun Dinda berontak tidak mau di peluk, dia masih kesal dengan Satria.


Satria serba salah, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Serba salah menghadapi wanita yang sedang hamil.


" Maaf sayang, mas tidak bermaksud menanyakan Melisa. Tadi mas hanya ingin tahu saja dia sudah pulang apa belum? Jika masih ada dia mas tidak nyaman, makanya tadi mas sengaja berlama-lama di kamar Hakim."Ucap Satria memberi alasan yang cukup masuk akal.


" Halah alasan dong, padahal memang ingin bertemu dengan Melisa lebih lama. Alasan mu tidak masuk akal sih, Mas." Ucap Dinda dengan masih saja cemberut.


" Sayang kok marah sih, mas tidak mau ketemu dengan Melisa. Mas, tidak mau kamu salah paham istriku sayang. Jangan cemberut dong, yuk temani mas ngeteh di halaman belakang sambil kita melihat kolam-kolam ikan hias."Ucap Satria mencoba mencairkan suasana hati Dinda yang saat ini sedang buruk.


Dinda melengos begitu saja, bukannya menjawab justru dia berjalan menuju kamar yang ada di lantai dua dan Satria tetap mengikutinya dari belakang.


" Masih marah sayang?." Tanya Satria mencoba mengajak Dinda untuk bicara.


" Aku tidak suka mas memperhatikan dan memikirkan Melisa. Tadi dia sudah aku sindir-sindir, dan akhirnya aku marah sih sedikit. Dan dia minta maaf lalu pergi begitu saja, mungkin dia malu karena aku mematahkan semangat dan keinginannya untuk mendekatimu lagi. Enak saja dia mau kalau dijadiin yang kedua, aku saja ogah berbagi suami." Seru Dinda jujur.


Satria diam dan tidak mau ikut menjawab apapun, Dinda sedang sensitif. Salah sedikit saja dia bicara, Dinda akan langsung marah dan memintanya untuk tidur di luar.


" Maaf ya sayang. Mas tidak akan bertanya soal Melisa lagi."Seru Satria tetap meminta maaf.


" Janji ya?." Tanya Dinda.


" Iya mas janji sayang, Melisa juga itu hanya masalalu. Sekarang masa depan mas ada sama kamu dan anak-anak."Ucap Satria lalu merengkuh Dinda dan membawanya kedalam pelukan.


Akhirnya Dinda pun luluh dan tidak marah lagi. Dia membalas pelukan suaminya dengan erat, mana mungkin Dinda akan marah terlalu lama sedangkan tidak ada alasan sedikitpun untuk memarahi Satria. Dinda sangat percaya dengan suaminya, dia yakin jika Satria adalah pria terbaik yang sudah Tuhan kirimkan untuknya.


* Masalalu suamiku memang sempat membuat hati ini kalut, tapi aku harus bisa melawan rasa kalut itu. Aku tidak mau membuat rumah tanggaku rusak hanya karena kekalutannku sendiri. Mas Satria yang pertama dan yang terakhir untuk ku. Aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti mas Satria, jika dia mau pasti sudah dari dulu dia meninggalkan aku.*Ucap Dinda bicara pada hatinya sendiri.


" Mama, papa."Seru Raja yang terbangun dari tidurnya dan langgsung memanggil mama dan papanya.


Satria dan Dinda langsung melepaskan pelukan mereka. Raja yang masih mengantuk langsung di gendong oleh Satria.


" Anak papa kok sudah bangun? Bentar banget bobok nya?." Tanya Satria.

__ADS_1


" Susu."Seru Raja meminta susu.


" Dia haus mas, bentar ya mama buatkan susu dulu sayang." Ucap Dinda sambil mengusap kepala Raja dengan lembut.


Sudah 1 bulan ini Raja sudah minum dengan memakai botol. Sebab kehamilan Dinda yang sudah memasuki usia 5 bulan mempengaruhi air asinya yang tidak lancar lagi. Sehingga dokter menyarankan untuk memberi susu formula.


* Maaf ya kak jika Author nya ada kesalahan dalam penjelasan soal Asi dan ibu hamil.*


********


Sarah dilarikan kerumah sakit, karena dia terjatuh di kamar mandi serta mengalami pendarahan. Ira yang tadinya yang datang untuk mengantar makanan di kagetkan dengan teriakan Sarah yang meminta tolong, dan ternyata Sarah ada di kamar mandi dengan posisi duduk di lantai.


" Bagaimana keadaan pasien, Dok?." Tanya Ira dengan khawatir.


" Mba keluarganya?." Tanya dokter memastikan.


" Bukan, saya hanya tetanganya yang bekerja di rumahnya. Pasien hidup sendiri, tidak mempunyai suami juga. Dia janda, dokter." Jawab Ira bingung.


" Hemm baiklah, pasien harus di rawat beberapa hari disini. Dia mengalami pendarahan yang cukup parah, namun alhamdulillah kandungannya masih bisa di selamatkan."Ucap dokter menjelaskan.


Alhamdulillah...


Ira mengucap rasa syukur karena kandungan Sarah masih bisa selamat. Sedari tadi Ira takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak dalam kandungan Sarah. Ternyata Allah masih memberikan kehidupan untuk anak itu.


" Terima kasih dokter. Apa saya boleh melihat pasien?."Tanya Ira.


" Baik dokter." Jawab ira singkat.


Ira masuk keruangan Sarah, dilihatnya Sarah terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangan nya. Ira kasihan melihat Sarah yang terbaring lemah seperti itu.


" Ira, kamu ada diaini?." Tanya Sarah dengan pelan.


Sarah mengira jika tidak ada orang yang menungguinya. Dia beruntung masih ada Ira yanf setia menemaninya, jika tidak ada Ira tidak tahu lagi bagaimana nasibnya dan calon bayinya.


" Ya jelas saya masih ada disini dong mbak, kalau bukan saya siapa lagi yang akan menemani mbak Sarah disini? Sedangkan mbak Sarah saja sama tetangga jarang mau bertegur sapa, jadi mereka juga malas mau berteman dengan mbak Sarah. Beruntung tadi saat aku meminta tolong untuk membawa mbak Sarah kerumah sakit ada yang mau."Ucap Ira bicara jujur apa adanya.


Sarah melongos, malas sekali dia mendengar ceramah dari Ira. Sudah tahu sakit dan masih lemas, masih saja di ceramahi membuat Sarah lama-lama juga malas sama Ira. Tapi Sarah sadar diri, jika tidak ada Ira siapa lagi yang akan dia mintain tolong. Saudara dan keluarga saja dia tidak punya.


" Kalau dikasih tahu itu di dengerin mbak, jangan malah melengos begitu. Kalau mbak kenapa-kenapa seperti saat ini tetap minta tolongnya sama tetanggakan? Bukan sama orang yang ada di ponsel mbak itu?." Ucap Ira dengan kesal. Ira lupa dengan pesan dokter jika jangan mengajak Sarah banyak bicara dan biarkan Sarah untuk istirahat.


" Sudahlah Ira, lebih baik kamu diam. Aku mau istirahat, ceramah tapi tidak tahu tempat." Gerutu Sarah kesal.


" Terserah mbak Sarah sajalah, ya sudah kalau begitu aku mau pulang dulu. Mungkin besok aku datang lagi, jadi malam ini mbak Sarah di rumah sakit sendiri saja. Saya juga ada anak dan ibu yang harus aku urus, jika perlu bantuan panggil suster saja. Ini ponsel dan dompet mbak Sarah ada dalam tas ini, tenang saja aku tidak mengambil uang mbak Sarah. Hanya tadi aku mengambil untuk adminstrasi pendaftaran saja. "Ucap Ira mulai malas menghadapi Sarah yang sombong dan keras kepala.


* Aduhhh kalau Ira pulang aku sendirian dong? Kalau aku mau kekamar mandi gimana? Masa iya aku sendirian sih, anak ini memang bikin susah saja. Kenapa juga dia tidak m4ti !!.* Gumam Sarah kesal.


Ira meletakkan tas Sarah di atas nakas samping brankar, lalu ira pun keluar dari ruang rawat Sarah dan memilih segera pulang. Sebenarnya jika Sarah tadi bersikap baik dan mau menerima nasehatnya dengan baik, dia akan menemani Sarah di rumah sakit.

__ADS_1


Sepeninggalan Ira, Sarah meraih tasnya dan mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi Joni, untuk memberitahu jika dirinya di rawat di rumah sakit. Sarah ingin Joni menemaninya di rumah sakit, tidak malam ini juga tidak masalah yang penting Joni datang. Lagipula jarak rumah sakit kerumah Joni juga jauh.


[ Hallo, Jon kamu lagi apa?.] Seru Sarah langsung menyapa Joni saat teleponnya diangkat.


[ Lagi belajar.] Jawab Joni singkat.


[ Oh.. Joni, mama di rawat di rumah sakit. Mama minta tolong kamu besok kesini ya, temani mama di rumah sakit. Mama tidak ada yang menemani, Jon.]


[ Maaf ma, Joni tidak bisa. Besok Joni masih ada ulangan, mama suruh orang saja dan mama bayar. Mama kan banyak uang. Oh iya, bukannya mama sudah menikah lagi? Kenapa mama tidak minta tolong suami mama saja?.]


[ Mama belum menikah, Joni.]


[ Lantas kok mama bisa hamil?]


Telakkk


Pertanyaan Joni membungkam mulut Sarah, dia tidak bisa lagi menjawab pertanyaan dari Joni. Tidak menikah dan tidak punya suami tapi dia bisa hamil? Sudah pasti Joni tahu apa jawabannya.


[ Kenapa diam, Ma? Malu? Kenapa mesti malu, bukannya itu memang mama sendiri yang buat diri mama malu. Mama tidur dengan banyak pria, tanpa memikirkan akibatnya.]


[ Joni !! Aku ini mama kamu, yang sopan kalau bicara?.]


[ Aku malu punya mama, seperti mama !!.]


Tuttttttttt Tuuuutttttt


Sambungan telepon di matikan secara sepihak oleh Joni. Sarah menggerutu sendiri, anaknya saja tidak mau memperhatikannya. Justru terang-terangan dia malu mempunyai mama seperti Sarah.


Sarah seakan lupa, jika dulu dia sudah mengusir Joni dan membuangnya dengan tidak ada belas kasihan. Dengan tega dia mengusir anaknya sendiri demi kesenangannya sesaat. Jika sekarang Joni tidak perduli dengannya, jangan pernah menyalahkan Joni. Seban Joni seperti itu juga atas buah perbuatan Sarah sendiri.


* Apa memang aku ini seorang ibu yang jahat? Sehingga anakku sendiri tidak mau peduli dengan ku? Apa aku ini ibu yang kejam?* Gumam Sarah terus bertanya pada dirinya sendiri.


Aaaarrrrrgggghhhhh


Sarah menjerit seorang diri di kamar rawatnya, saat-saat seperti ini dia sangat membutuhkab dukungan dari anak dan orang-orang terdekatnya.


" Aaoowww... Aaouwww sakit." Seru Sarah sambil memegangi perutnya yang terasa sakit lagi.


Beruntung ada seorang perawat yang datang karena mendengar jeritan Sarah tadi. Perawat itu dengan sigap memanggil dokter untuk menangani Sarah.


" Kenapa pasien sus?." Tanya dokter.


" Tidak tahu dokter, tadi dia menjerit. Dan saat saya masuk dia kesakitan seperti ini." Jawab Suster jujur.


Dokter mulai memeriksa Sarah, Dokter tahu sepertinya Sarah stress atau fikiran sehingga mengakibatkan perutnya terasa sakit. Dokter menyuntikkan obat penanang yang aman untuk ibu hamil. Dokter melakukan itu agar Sarah bisa istirahat dengan tenang sehingga fikirannya tifal akan terforsir yang menyebabkan perutnya sakit lagi.


***********

__ADS_1


__ADS_2