
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Ini surat apa bu?." Tanya Reno saat dia sampai rumah dan melihat ada surat untuknya ada diatas meja ruang keluarga.
Tanpa menunggu jawaban dari ibunya Reno membuka surat itu dan membacanya. Bibirnya menyunggingkan senyum kecut saat dia sudah tahu apa isi surat itu. Ternyata itu surat panggilan sidang dari pengadilan agama. Tanpa Reno mengajukan gugatan cerai nya ternyata Sarah sudah menepati janjinya untuk menggugatnya lebih dulu.
" Surat apa Ren?." Tanya pak Karim ingin tahu.
" Surat panggilan sidang pak." Jawab Reno jujur.
Ibu Rahayu menghampiri keduanya, saat Reno memanggilnya tadi dia masih ada di kamar mandi untuk buang hajat.
" Sudah tahu isinya? Kalau ibu tadi tanpa membuka isinya sudah tahu, pasti surat panggilan sidang ceraikan? Sudah kamu jangan datang, agar prosesnya lebih cepat. " Ucap ibu Rahayu berpendapat.
" Iya bu, Reno juga berencana tidak akan datang agar semuanya cepat selesai. Tidak perlu ada mediasi, malas juga Reno bertemu dengan Sarah. Ibu sudah masakkan bu? Reno sudah lapar sekali, kita makan siang sama-sama yuk." Seru Reno mengalihkan pembicaraan agar tidak Sarah lagi yang mereka bahas.
" Kamu dan bapak sudah sholat? Kalau sudah kalian makan saja dulu, ibu mau sholat dulu." Ucap ibu Rahayu.
Reno dan pak Karim sudah sholat, saat perjalanan pulang tadi mereka mampir kemasjid lebih dahulu untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Pak Karim dan Reno pun sudah duduk dikursinya masing - masing, belum juga mereka sempat makan siang yang sudah sedikit telat dari arah depan Joni masuk.
Reno segera meminta Joni untuk ganti baju dan ikut bergabung makan bersama mereka. Joni akan pulang sekolah saat dia sudah melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu.
" Nenek mana Kek?." Tanya Joni tidak melihat keberadaan Neneknya.
" Masih sholat. Cepat kamu makan nanti perut kamu sakit, bukannya kamu ini punya masalah dengan lambung kamu." Seru pak Karim menasehati cucunya.
" Iya kek." Jawab Joni sembari menganggukkan kepalanya.
Tidak menunggu lama, ibu Rahayu juga sudah bergabung dengan keluarganya untuk makan siang yang sudah terlambat. Mereka makan dalam hening, fokus dengan makanannya masing - masing.
Selesai makan siang Reno masuk kekamarnya untuk beristirahat begitupun dengan pak Karim. Joni membantu neneknya untuk mencuci piring. Dikamarnya Reno menghubungi Dinda memberitahu jika nanti malam dia akan menemui Satria.
__ADS_1
[ Jadi kak Reno mau kerumah saja?.]Tanya Dinda memperjelas.
[ Iya Din. Sampaikan kepada Satria nanti malam aku akan kerumah kamu. Oh iya, kamu mau mas bawakan apa?. ]
Untuk pertama kalinya Reno menawarkan sesuatu kepada Dinda. Ini pertama kali dari semenjak Dinda dekat dan menikah dengan Satria. Dinda terharu melihat perubahan sikap kakaknya, kebetulan Dinda sangat ingin minum cendolnya pak Marno.
[ Emm kalau mas Reno tidak keberatan tolong belikan es cendol tempatnya pak Marno. Tidak perlu dikasih es batunya ya mas, dirumah ada es batunya kok. Kalau langsung dikasih es, nanti saat sampai sini sudah tidak dingin lagi.]
[ Baiklah, biar mas belikan dari sekarang ya. Kalau beli nanti malam takutnya sudah habis. Nanti biar mas simpan dikulkas dulu.]
[ Iya mas terimakasih. Boleh minta tolong satu lagi tidak mas?.]
[ Boleh, katakan saja.]
[ Aku juga mau terang bulan yang keju cokelat tempatnya pak Sukris.]
[ Ok. Nanti mas belikan. Apa ada lagi?.]
[ Tidak ada mas.]
[ Waalaikumsalam.]
Klik
Reno mematikan sambungan teleponnya dan segera bangkit dari kasur. Reno ingin kewarung pak Marno untuk membelikan pesanan Dinda.
" Loh mau kemana lagi, Reno?." Tanya ibu Rahayu yang melihat Reno mengambil kunci motor yang ada dia atas rak Televisi.
" Mau ke lapaknya pak Marno, Bu. Dinda nanti malam ingin dibawakan cendol pak Marno. Reno mau beli dari sekarang terus nanti mau Reno simpan di kulkas dulu. Nanti malam tinggal bawa." Jawab Reno.
" Oh begitu. Ya sudah sana kamu ke lapaknya pak Marno keburu habis. " Seru Ibu Rahayu.
Dengan segera Reno langsung menghampiri motor yang terparkir diteras dan melajukan kearah lapak pak Marno. Hanya butuh waktu 5 menit, Reno sudah sampai di lapak pak Marno.
" Es cendolnya masih pak?." Tanya Reno menghampiri pak Marno.
" Eh Reno. Masih Ren, ini tadi baru buat lagi kok. Oh iya pak buatkan 4 bungkus memakai es batu dan 4 bungkus tanpa es batu, harga 5000 ya pak." Ucap Reno dengan ramah.
__ADS_1
" Kok tidak pakai es batu ? Panas-panas begini makan es cendol tanpa dikasih es pasti kurang greget dong Ren." Ucap Pak Marno sambil terkekeh.
Reno juga ikut tertawa, apa yang dikatakan pak Marno memang benar. Tapi es itu untuk Dinda, dan nanti saat dirumah Dinda akan diberi es batu oleh Dinda.
" Itu pesanan Dinda pak. Nanti malam saya mau kesana dan dia mau dibawakan cendol. Nanti esnya dikasih saat dirumahnya." Ucap Reno jujur.
" Oh untuk mbak Dinda. Yang untuk dibawa kerumah mbak Dinda nanti habis magrib saya antar kerumah pak Karim saja,Mas. Kalau dibuat sekarang dan diminum nanti malam takutnya kurang enak lagi. Ini saya buatkan untuk yang pakai es saja ya." Ucap pak Marno dengan ramah.
" Oh iya pak. Baiklah nanti tolong antarkan kerumah saja ya pak. " Seru Reno setuju dengan apa yang dikatakan pak Karim.
Pak Marno mengangguk sembari tersenyum ramah ke arah Reno. Dia segera membuatkan 4 bungkus pesanan Reno yang memakai es, sedangkan untuk pesanan Dinda akan dia buatkan selepas magrib nanti. Setelah pesanannya selesai dibuatkan, Reno langsung membayarnya. Awalnya pak Marno tidak mau menerima uang yang diberikan oleh Reno, akan tetapi Reno memaksanya. Bagaimanapun pak Marno berjualan memakai modal, jadi Reno tidak mau dikasih secara gratis apalagi pesanan Reno ada 8 gelas.
Setelah membayar, Reno segera mengendarai motornya menuju kediaman orang tuanya dengan membawa 4 es cendol. Sesampainya di rumah, ternyata Joni ada di ruang tamu dedang bermain ponsel. Reno menyerahkan es itu kepada Joni, dan dengan senang hati Joni menerimanya.
" Nenek sama kakek mana, Jon."Tanya Reno menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.
" Sepertinya nenek tadi keluar Pa, terus Kakek ada di kamarnya. Ini yang punya kakek sama nenek, Joni simpan di dalam kulkas aja ya, Pa? Kita makan yang punya kita"Ucap Joni.
" Iya kamu simpan yang punya kakek sama nenek di kulkas."Jawab Reno setuju dengan perkataan Joni.
Joni dan Reno menikmati masing-masing es cendolnya, di saat mereka duduk berdua seperti ini. Joni menggunakan kesempatan untuk menanyakan soal mamanya, Sarah.
" Papa beneran mau bercerai dari Mama."Tanya Joni dengan raut wajah serius.
" Iya Jon. Kamu pasti sudah tahu jawaban papa, hubungan papa dan mama sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mamamu sendiri yang menggugat papa. Apa kamu sedih dengan keputusan kami?." Tanya Reno dengan pelan.
Hati anak mana yang tidak akan sedih jika kedua orang tuanya berpisah. Jika ingin jujur, Joni pasti ingin kedua orang tuanya tetap hidup bersama. Namun Joni tidak bisa egois, hubungan kedua orang tuanya memang sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Jalan satu - satunya memang dengan berpisah.
" Ditanya sedih apa tidak, sudah pasti Joni sedih pa. Tapi jika itu memang menjadi keputusan papa dan mama, Joni tidak bisa untuk menghalanginya. Semoga dengan perpisahan akan membuat mama dan papa bahagia dengan cara kalian masing - masing." Jawab Joni menanggapi masalah kedua orang tuanya dengan dewasa dan bijaksana.
" Alhamdulillah, terimakasih Nak. Papa tidak pernah menyangka kamu bisa menyikapi masalah kami sedewasa ini. Papa janji akan menjadi papa yang baik untuk kamu dan papa juga akan membahagiankan kamu." Ucap Reno.
" Iya pa. Kita tunjukan kepada mama jika kita bisa bahagia dan bisa sukses tanpa mama. Bukan Joni benci sama mama, tetapi Joni hanya ingin menunjukan keberhasilan papa." Seru Joni lagi.
Pengusiran yang dilakukan Sarah waktu itu masih membekas dihati Joni. Terlebih Joni seorang laki - laki dan tentunya sangat mementingkan harga dirinya dan papanya. Tanpa rasa kasihdnnya Sarah mengysir mereka, meskipun demikian Joni tetap menyayangi mamanya, Sarah.
**********
__ADS_1