
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Pov. Satria
Aku adalah seorang suami yang di anggap miskin oleh keluarga istriku, Dinda. Mereka semua menghinaku dan merendahkanku termasuk ibu mertuaku sendiri. Hanya bapak mertua yang bisa menghargaiku dan saudara ipar suami dari mbak Rena yaitu mas Beni.
Mas Beni sampai sekarang yang masih bekerja di perusahaanku , karier nya semakin bagus sehingga dia mendapat promosi untuk menjadi menejer. Tetapi aku meminta mas Beni untuk merahasiakan semuanya dari para saudara yang lain. Aku tidak mau mereka semua semakin membenciku, karena ditengah - tengah masalah yang menimpa para saudara iparku aku justru menaikan jabatan mas Beni.
Masalah baru juga silih berganti, kehadiran keluargaku juga menimbulkan masalah baru dalam hidupku. Aku yang mengira kedua orang tua ku sudah meninggal ternyata mereka masih hidup.
Dulu saat aku miskin tidak ada orang yang mau mendekat, bahkan saudarapun menjauh. Kini saat mereka tahu aku punya segalanya mereka mendekat dan hanya hartaku saja yang mereka harapkan. Begitu juga kedua orang tuaku, mereka hadir hanya ingin dengan uangku saja.
Aku sangat sedih dan terpukul dengan apa yang orang tuaku lakukan. Tega sekali mereka meninggalkanku hanya karena tidak mau hidup miskin. Beruntung aku mempunyai seorang nenek yang pekerja keras sehingga saat umur ku 5 tahun kehidupan kami beranjak membaik. Dan sekarang aku juga mempunyai istri yang sangat baik dan bisa menerima segala kekuranganku.
" Mas kenapa melamun ?" Tanya Dinda istriku yang menghampiriku saat aku sedang duduk di teras rumah kontrakan yang dulu selama 2 tahun kami tempati.
Ya, malam ini aku sengaja ingin bermalam dirumah kontrakan ini untuk mengenang semua masa susahku dulu. Beruntung rumah ini belum ada yang mengontrak sehingga aku masih bisa menginap dirumah ini.
__ADS_1
" Tidak sayang. Aku hanya ingat masa sulit kita dulu sambil menikmati es cendol ini." Ucapku sambil mengangkat segelas es cendol buatan ku sendiri.
" Oh begitu. Mas, malam ini kata bapak dia mengajak kita makan malam dirumah. Bapak bilang dia kangen ingin makan malam seperti dulu, bapak juga mengundang semua anaknya kecuali mas Rudi." Ucap istriku dengan lembut.
Aku tahu ada kesedihan dalam wajah istriku saat menyebut nama kakaknya, Rudi. Aku tahu istriku itu wanita yang baik dan wanita yang mandiri. Apa mungkin dia mau aku membebaskan mas Rudi ? Sudah hampir 2 bulan mas Rudi mendekam dipenjara. Sepertinya 2 bulan itu sudah cukup untuknya merenungi kesalahannya.
" Kamu kenapa Dinda ?Apa kamu mau aku membebaskan mas Rudi ?" Aku bertanya kepada istriku itu.
" Tidak mas. Bukan itu yang membuat aku bersedih. Aku , aku bersedih karena mbak Sinta katanya mau menggugat cerai mas Rudi. Aku hanya kasihan dengan Hana. " Jawab istriku menatap kearah ku dengan raut wajah yang terlihat sedih.
" Apa karena mas Rudi dipenjara terus mbak Sinta mau menggugat cerai ?" Tanyaku ingin tahu alasan yang pasti.
" Aku tidak tahu mas. Mbak Sinta juga sekarang tidak akur sama ibu mas, bapak bilang hampir setiap hari ribut sama ibu. Dan ibu meminta mbak Sinta untuk keluar dari rumah kalau dia tidak mau ikut aturan ibu. Dan mbak Sinta mengancam akan menuntut cerai jika dia diusir. Aku kasihan Hana kalau sampai itu semua terjadi mas." Ucap istriku menceritakan semuanya.
" Ini semua sengaja aku pesan untuk makan malam dirumah bapak mas. Aku tadi sudah bilang sama ibu kalau tidak usah masak. " Ucap Istriku tanpa aku bertanya dia sudah menjelaskannya.
" Ya sudah kalau begitu sekarang kita kerumah bapak saja. Kamu bantu ibu untuk menyiapkan semua makanan ini." Ucapku segera mengajak Dinda kerumah mertuaku karena memang sudah jam 7 malam.
Aku dan Dindapun segera kerumah mertuaku, hanya butuh beberapa langkah saja aku dan istriku sudah sampai dirumah mertuaku. Saat kami masuk rumah tidak lama mas Beni dan mas Reno serta anak istrinya juga datang beriringan.
" Kalian semua sudah datang ? Oh iya Dinda kamu pesan makanan apa ?." Tanya ibu Rahayu mertuaku.
" Ini ada ayam bakar, sayur asem, telor balado sama sambal teri medan bu. Dinda pindahkan dulu ya ke tempatnya nanti baru kita makan sama - sama." Jawab Dinda sambil mengangkat kantong plastik yang sedari tadi dipegangnya.
__ADS_1
" Katanya orang kaya tapi kok makanannya sederhana sekali." Ucap Mbak Sinta melirik kearah istriku dengan tajam.
Aku tahu mbak Sinta itu pasti marah dan benci kepadaku dan istriku karena masalah suaminya yang masih aku penjarakan.
" Sinta kalau kamu tidak mau makan makanan itu ya sudah sana kamu beli sendiri atau masak sendiri saja. Bahan - bahan didapur juga masih ada tuh, belum ada yang mengangkutnya lagi." Ucap ibu mertuaku sambil melirik kearah mas Reno, anak keduanya.
Ada apa ini ? Tumben sekali ibu mertuaku bicara seperti itu. Biasanya jika anak-anaknya bicara seperti itu ibu mertuaku juga ikut-ikutan bahkan dia akan bicara lebih sadis. Dari cara menyambut kamipun dia sudah lebih baik tidak sinis seperti biasanya. Semoga saja ibu mertuaku sudah berubah dan menyayangi aku dan istriku dengan tulus.
" Apaan sih bu, baru juga aku minta bahan makanan sedikit sudah sewot seperti itu." Ucap mas Reno sambil berlalu dan suduk di ruang keluarga.
" Sedikit kata kamu ? Bahan makanan cukup selama 2 minggu kamu bilang sedikit ? Dasar anak tidak tahu diri, seharusnya kamu itu yang memberi Ibu bukan malah mengangkalut apa yang ada di sini. Semua kamu angkut ke rumah kamu. Semua itu pemberian Dinda dan Satria, dan itu untuk ibu sama bapak. Kamu kan tahu bapak sama ibu sudah tidak bisa bekerja, kami sudah tua. " Ucap ibu mertuaku terlihat sekali dia marah dengan anak keduanya itu.
Oh jadi bahan makanan yang kami kirimkan itu sebagian diangkut oleh mas Reno. Hemmm aku tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran mas Reno, sehingga mempersulit kehidupan orang tuanya.
" Sudah bu, jangan ribut soal bahan makanan lagi. Nanti Satria belikan lagi untuk stok dirumah, setelah itu ibu kunci lemarinya agar tidak di ambil lagi sama mas Reno." Ucapku mencoba menenangahi.
" Nah yang ngasih saja tidak masalahkan kalau bahan makanannya aku ambil. Ibu tinggal menikmati saja kok bawel amat, lagipula disini mbak Sinta dan Hana juga ikut menikmati itu semuakan ? Harus adil dong ? Jadi aku juga ikut menikmatinya bu." Seru mas Reno seenak jidatnya sendiri , seolah apa yang aku berikan untuk mertuaku itu untuk dibagi sama dia.
" Reno ! Jangan bikin masalah.!" Seru bapak mertuaku terlihat sekali dia marahnya.
Dinda istriku datang dan menghentikan perdebatan yang sedang terjadi. Dinda datang untuk mengajak kami semua makan malam, karena makanan sudah siap terhidang di atas meja. Dinda tadi pasti dibantu oleh Hana menyiapkan semua makanan yang dia bawa. Istriku itu memang wanita yang sangat luar biasa. Padahal di rumah saat ini ada mbak Sinta, mbak Sarah dan mbak Rena. Tetapi dia tetap mau mengerjakannya sendiri beruntung ada Hana yang membantunya.
Akhirnya kami semua makan malam dengan menu yang tadi dibeli istriku lewat aplikasi online. Semuanya terlihat sedang lahap menikmati makan malamnya, mbak Sinta yang tadi mencibir makanan yang dibawa istriku justru terlihat paling antusius makan. Terlihat dua potong ayam bakar ada diatas piringnya.
__ADS_1
**********