
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Belum juga Sarah dan Hakim keluar dari tokonya Reno, tiba-tiba Dinda juga datang ke toko Reno. Dinda yang baru saja pulang dari kampus sengaja mampir toko kakaknya karena ingin bertemu dengan dua keponakannya, Gibran dan Tiara. Namun sayang hari ini Rena tidak bisa membantu di toko, sebab dia sedang ada arisan rutin mingguan.
" Mas Reno kok bengong." Seru Dinda.
" Sssssstt...lihat itu ada siapa?."Seru Reno menunjuk kearah monitor CCTV.
Arah mata Dinda langsung mengkitu tangan Reno yang menunjuk kearah layar monitor yang ada dihadapan Reno. Demeja kasir memang ada monitor yang biasa Reno gunakan untuk memantau CCTV sebab Reno lebih banyak menghabiskan waktunya di meja kasir daripada di ruang pribadinya.
" Mbak Sarah sama Hakim?." Seru Dinda yang mengenali dua orang yang dimaksud Reno.
" Kamu mengenal pria itu?." Tanya Reno dengan heran.
" Heeemm aku kenal mas. Dia itu Hakim, adiknya mas Satria. Dan setahuku Hakim itu suaminya mbak Sinta? Tapi kenapa bisa sama Sarah? Ini ada yang tidak beres, pasti mereka ada main dibelakang mbak Sinta. Asal maa tahu, Hakim dan mbak Sinta itu punya usaha yang tidak benar. Mereka mempunyai panti pijat plus, tempat judi bisa dibilang prostitusi gitulah mas." Seru Dinda dengan penuh keyakinan.
" Sudah biarkan, kita tidak perlu ikut campur. Lebih baik kamu istirahat saja diruanganku sana, biar tidak bertemu dengan mereka. Jika mereka melihat kamu disini pasti nanti kamu akan jadi sasaran hinaan Sarah. Biar mas saja yang menghadapi wanita sialan itu."Seru Reno meminta Dinda untuk menghindari Sarah dan Hakim.
Reno tidak mau Sarah dan Hakim akan memcari ribut dengan Dinda. Reno mengkhawatirkan keadaan Dinda yang sedang hamil. Bukannya ibu hamil tidak boleh sering emosi dan marah? Namun belum juga sempat menghindar, Sarah dan Hakim sudah melihat keberadaan Dinda dan Reno.
Sarah menghampiri meja kasir sembari mengulas senyum sinisnya. Dia menunjukan kemesraannya dengan Hakim dihadapan Dinda dan Reno.
"Wah ada mantan suami dan mantan adik ipar ? Ngapain kalian ada disini?."Tanya Sarah dengan ketus.
__ADS_1
" Aku ada disini bukan urusan kamu. Oh iya ini siapa? Suami baru kamu, pacar baru kamu atau pelanggan kamu?."Tanya Reno secara beruntun.
" Haaii maksud kamu apa mengatakan pelanggan? Jangan asal bicara kamu ya, Reno. Dasar pria miskin, pengangguran tidak tahu diri." Seru Sarah mulai terpancing emosi akibat pertanyaan dari Reno.
Reno dan Dinda hanya tertawa mendengar amarah dari Sarah. Hakim hanya diam saja menyimak perdebatan Sarah dan Reno, sebab dia juga tidak mau banyak bicara sebab ada Dinda disitu. Hakim hanya tidak mau mencari masalah dengan Dinda, dia taku berurusan dengan Satria. Padahal dia ingin sekali membalaskan dendam kepada Satria namun dia belum menemukan cara yang tepat.
" Jangan buat keributan disini mbak, yang ada nanti kalian sendiri yang akan malu."Seru Dinda ikut berbicara.
" Kamu juga jangan ikut campur. Kenapa juga aku malu? Sayang, lihatlah para orang-orang miskin ini. Ehh kalau mantan adik ipar tidak miskin ya, karena suaminya orang kaya tetapi biarpun kaya dia sangat pelit. Haii mantan suami, kamu menyesalkan pisah dariku? Kini hidupmu hanya menumpang orang tua dan hidupmu juga pengangguran." Seru Sarah menghina Reno.
" Siapa yang pengangguran? Aku memang tidak bekerja sama orang, tetapi aku punya usaha sendiri. Oh iya kenapa kamu tidak mengenalkan pria yang ada disampingmu itu?."Seru Reno sembari melirik kearah Hakim yang sedari tadi hanya diam saja.
" Oh baiklah. Kenalkan ini Hakim calon suamiku, dia lebih tajir dan lebih muda dari kamu kan?."Seru Sarah dengan bangganya memperkenalkan Hakim.
Reno dan Dinda saling melempar pandangan, ingin rasanya mereka tertawa tetapi mereka urungkan sebab pasti akan mengundang banyak tanya para pelanggan yang datang. Untuk sementara pelanggan mengantri di kasir Cintia, karena memang hanya beberapa pelanggan saja yang ingin membayar.
" Calon suami? Tidak salah tuh, yakin pria ini calon suami kamu?." Tanya Reno sembari tersenyum jahil.
" Haahaaaa Sarah, Sarah. Jangan kamu kira aku tidak tahu siapa pria yang bersama kamu ini. Dia inikan suaminya Sinta, dia juga punya usaha prostitusi tersembunyi bersama Sarah. Dan kamu juga salah satu wanita yang tergabung. Duhh jangan berbangga diri Sarah, kalau sudah apes habislah kalian di gelandang polisi."Seru Reno sembari tertawa mengejek.
*Sialan ! Ternyata mereka sudah tahu jika Hakim sudah menikah dengan Sinta.* Gumam Sarah dalam batinnya.
Hakim dan Sarah langsung terdiam, Hakimpun menarik Sarah dan membawanya keluar toko. Namun justru Sarah memberontak, dia tidak mau diajak keluar. Dia belum selesai bicara dengam Reno dan Dinda.
" Kita pergi saja dari sini saja Sarah, kalau kamu terus seperti ini. Kita juga yang akan malu, sudahlah Sarah jangan bikin aku malu dengan kelakuan kamu."Seru Hakim tetap mengajak Sarah keluar toko.
" Aku belum selesai bicara dengan pria pengangguran itu, Sayang. Aku tidak mau keluar !! Lagi pula itu belanjaan nya juga belum dibayar."Sentak Sarah menghempaskan tangan Hakim dengan kasar.
" Sarah !! Berani kamu mempermalukan aku ditempat umum seperti ini, aku akan meninggalkanmu! Aku tidak jadi belanja, kita pulang saja!!." Bentak Hakim dengan kasar.
__ADS_1
Dinda dan Reno hanya menyimak perdebatan antara Sarah dan Hakim. Perdebatan mereka menjadi tontonan gratis bagi para pengunjung toko, mereka heran melihat Sarah dan Hakim yang ribut di tempat umum tanpa tidak punya rasa malu.
" Cepat pergi kalian dari sini ! Jangan buat keributan di toko ini. Brissiikkk !!."Bentak Reno kesal sebab Sarah dan Hakim justru beradu mulut di depan pintu masuk.
" Haai memangnya kamu siapa, berani mengusirku? Memang kamu yang punya toko ini ? Haahhhh !!."Seru Sarah dengan ketus.
Hakim sudah tidak bisa mentolerir sikap Sarah, dia langsung menarik Sarah keluar toko dengan paksa. Tidak peduli lagi dengan Sarah yang terus berontak, Hakim dengan kasar memaksa Sarah masuk ke mobil.
" Beruntung mereka sudah pergi. Bikin kacau toko saja."Seru Dinda dengan kesal.
" Sarah sama Sinta sama-sama tidak jelas. Pria seperti itu kok bisa menggait mereka berdua, apa juga yang dilihat dari si Hakim itu." Seru Reno.
" Emm mas kita lupakan masalah tadi. Mas Reno tidak ingin menikah lagi? Itu mbak Sarah saja sudah pungganti mas Reno, masa kalah sih."Ucap Dinda menggoda kakaknya.
Reno hanya senyum-senyum sendiri mendapat pertanyaan soal menikah dari Dinda. Dia bukannya tidak mau menikah, tetapi hanya belum bertemu dengan wanita yang cocok saja, terlebih dia seorang duda dan mempunyai anak yang sudah beranjak remaja.
" Nanti kalau sudah ketemu jodohnya pasti mas menikah. Sekarang perbaiki diri dan perbaiki usaha dulu, jadi saat menikah nanti mas sudah punya modal, sehingga bisa menafkahi istri mas dengan layak. Dan tidak akan adalagi Sarah kedua dalam hidup mas." Ucap Reno dengan serius.
" Aamiin." Seru Dinda mengaminkan ucapan Reno.
Dinda akhirnya memilih untuk pulang saja, sebab orang yang dia cari juga tidak ada di toko. Dinda tadi lupa untuk menghubungi Rena terlebih dahulu untuk menanyakan apakah kedua anaknya ada di toko. Tetapi Dinda tidak menyesal datang ke toko meskipun tidak bertemu dengan Gibran dan Tiara. Sebab tadi dia justru bertemu dengan Sarah dan Hakim dan menonton pertunjukan yang sudah lama tidak dia tonton.
Sementara itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah Sarah, Hakim terus memarahi dan memaki perilaku Sarah yang menurutnya sangat berlebihan dan keterlaluan. Hakim dibuat malu karena ulah Sarah, padahal di dalam toko tadi ada banyak pengunjung.
" Kamu tahu tidak sih Sarah, jika perbuatan kamu itu mempermalukan diri kamu sendiri dan juga mempermalukan aku. Aku malu Sarah, kita jadi tontonan para pengunjung toko."Seru Hakim sembari terus memaki Sarah dengan tangan Hakim tetap fokus dengan setir mobil.
" Kamu itu yang bodoh !! Seharusnya kamu tadi itu membela aku bukan justru menarikku, dan membawaku pergi dari toko itu. Aku belum puas memaki mantan suamiku yang pengangguran dan miskin itu."Sentak Sarah tidak mau kalah dari Hakim.
Hakim hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sarah yang sudah tidak punya malu lagi. Bahkan lebih senang menjadi tontonan orang daripada menyelamatkan rasa malu dan harga dirinya sendiri. Hakim sudah tidak mau berkomentar lagi, dia memilih diam dan fokus dengan setir mobilnya.
__ADS_1
**********