
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Semua orang terdiam mendengarkan penjelasan yang dikatakan oleh Satria tentang keadaan bayinya. Dinda terlihat bersedih sebab dia harus pulang tanpa membawa anaknya.
"Jadi besok aku sudah boleh pulang dan anak kita belum boleh pulang mas?." Tanya Dinda lagi memastikan apa yang sudah dikatakan oleh Satria tadi.
"Iya sayang. Tapi jika kamu setuju aku bisa meminta rumah sakit untuk memindahkan anak kita dirumah, nanti ada dokter dan suster yang menjaga anak kita dirumah."Ucap Satria sembari memeluk Dinda yang sudah berlinang air matanya.
"Apa bisa mas?."Tanya Dinda sembari mendongak melihat kearah wajah suaminya.
Satria mengangguk untuk menyakinkan istrinya. Kali ini Satria akan menggunakan kekuasaan uang nya untuk membawa anaknya pulang dari rumah sakit. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi ini semua dia lakukan demi istrinya. Demi menjaga mental sang istri, terlebih sang istri sehabis melahirkan.
"Bisa, nanti mas bicara sama dokter."Seru Satria dengan lembut.
"Nenek setuju dengan yang dikatakan oleh, Satria. Kita punya uang jadi kita bisa membayar semua biaya untuk membawa cicit nenek pulang beserta alat-alat yang dibutuhkan."Ucap nenek Murni menyetujui yang dikatakan Satria.
"Iya nek. Kalau begitu Satria mau menemui dokter lagi ya nek, biar mereka menyiapkannya dari sekarang. Jadi besok kita tinggal bawa pulang."Seru Satria.
Semua yang ada diruangan itu mengangguk dengan patuh, Satria pun keluar kamar rawat Dinda dan kembali nenemui dokter yang merawat Dinda untuk meminta izin membawa bayinya pulang.
" Aku sampai lupa memberikan nama untuk anakku. Hemm... Aku sudah menyiapkan nama untuk jagoan ku, nanti pasti akan aku umumkan."Ucap Satria pada dirinya sambil terus melangkah menuju ruangan dokter.
Dikamar rawat Dinda saat ini masih tetap ada, Cahaya, Rena dan nenek Murni yang menemani Dinda. Reno sudah pulang untuk ke tokonya, nanti siang dia akan datang lagi sekalian mengantarkan ibunya.
"Tiara dan Gibran tadi tidak mau sekolah tahu, Din. Dia mau ikut mbak kerumah sakit tapi mbak larang. Nsnti saja kalau sudah dibawa pulang saja mereka lihat dedek bayinya."Ucap Rena menceritakan antusius Tiara dan Gibran yang tidak sabar lagi bertemu dengan sepupu barunya.
"Wahh... Dinda juga kangen sama Tiara dan Gibran mbak. Sudah lama Dinda tidak bertemu dengan mereka. Itu tandanya Gibran mau adik baru mbak."Seru Dinda menanggapi cerita dari kakaknya.
__ADS_1
"Hussssttt nanti dulu lah, masih ribet. Dua saja mbak sudah dibuat pusing, apalagi kalau mereka lagi ribut ada saja yang bibuat ribut. Mau nambah nanti-nanti saja, tunggu Gibran SD."Seru Rena sambil tertawa.
Cahaya dan nenek Murni hanya menyimak saja, dia tahu apa yang dialami dan dirasakan oleh Rena. Sebab di pantipun seperti itu, apalagi disana ramai dan segala macam karakter anak ada disana.
"Cahaya bagaimana urusan pernikahan kamu dan Reno, apa sudah beres?."Tanya nenek Murni memilih berbincang dengan Cahaya menanyakan persiapan pernikahan.
"Sudah beres nek, tinggal hari H nya saja. Nenek jangan lupa datang loh."Seru Cahaya sembari memeluk nenek dari samping.
"Iya, Cahaya. Kalau sudah menikah tidak boleh manja seperti ini. Jadi istri yang baik dan jangan membantah suami selagi suami kamu mengajarkan hal yang positif."Seru nenek murni sembari mengusap punggung Cahaya.
Saat penghuni yang ada kamar rawat Dinda sedang sibuk dengan obrolannya masing-masing. Satria datang dan terlihat sekali wajah gembiranya.
"Bagaimana, Satria? Dokter mengizinkan?."Tanya nenek langsung memberi pertanyaan tanpa menunggu Satria duduk terlebih dahulu.
"Alhamdulillah boleh nek, mereka akan mempersiapkan semua yang dibutuhkan. Dan dokter yang menangani Dinda disini yang langsung akan ikut merawat anak kamu dirumah. Satria juga meminta satu suster untuk ikut, sehingga dokter bisa bergantian dengan suster."Ucap Satria dengan senang memberikan kabar bahagia untuk semuanya.
"Alhamdulillah. Ya Allah, semoga setelah ini anakku sehat selalu serta tumbuh jadi anak yang cerdas dan sholeh."Seru Dinda penuh harap.
"Aamiin."Jawab semuanya dengan serempak.
"Apa kalian tidak kasihan dengan tubuhku yang putih dan seksi ini jika aku tidak mandi. Pasti kalian juga tergodakan dengan tubuhku, aku akan melayani kalian berdua dengan imbalan kalian harus melepaskanku. Dan aku ingin mandi dulu sebelum berperang dengan kalian berdua agar tubuhku lebih segar."Seru Sarah merayu Beno dan Wardi.
Mulut Sarah kini sudah tidak lakban lagi, namun tangan dan kakinya masih tetap terikat. Sarah mencoba merayu kedua preman suruhan Satria, siapa tahu rencana mereka berhasil. Terlihat Beno yang memang dari awal sudah tergoda dengan kemolekan Sarah, terlebih Sarah hanya mengenakan rok mini setengah paha dan kaos yang benar-benar ketat ditubuhnya.
"Kalau bukan karena Boss sudah berpesan agar tidak macam-macam dengan wanita ini, aku pasti sudah menggarapnya habis. Tapi sayangnya boss melarangnya, wanita ini memanh bukan wanita baik-baik. Pasti lubangnya juga sudah banyak yang masuk."Seru Bone bicara dengan Wardi.
"Ssstt jangan macam-macam kamu, Bone. Kalau kamu macam-macam pasti Boss akan menghajarmu. Sudah kita laksanakan saja tugas yang diberikan oleh Boss. Kalau dia sudah mengizinkan kita main dengan wanita ini, nah baru kita layani dia. Kasihan sekali dia, sepertinya sudah tidak tahan ingin digaruk. Haaahaaa."Seru Wardi lalu tertawa dengan lantang dan diikuti oleh Beno.
Sarah yang mendengar perbincangan Bone dan Wardi hanya mendengus dengan kesal. Kalau misal bukan karena terpaksa saja dia pasti malas melayani dua pria menyeramkan itu.
*Kalau misal hanya dengan melayani mereka aku bisa bebas, aku tidak masalah meskipun aku mual melihat wajah-wajah mereka. Yang penting aku bebas saja dulu, setelah keluar dari sini aku bisa mandi bunga 7 rupa.*Gumam Sarah dalam batinnya.
Ceklekkk...
__ADS_1
Pintu ruang depan terdengat ada yang membuka, Wardi mencoba mengintip. Ternyata Indra yang datang untuk memastikan tawanan Satria.
" Boss.. Seru Wardi menghampiri Indra.
"Mana wanita gila itu?."Tanya Indra dengan singkat.
"Ada didalam boss."Jawab Wardi sembari menunjuk kearah kamar.
Indra mengangguk lalu melangkah menuju kamar dan diikuti oleh Wardi dibelakangnya. Pintu kamarpun terbuka, terlihat Sarah yang memandang kearah Indra. Indra juga memandang Sarah dengan tajam.
"Apa kabar kamu, Sarah? Apa kamu masih betah tinggal disini? Atau mau pindah kehotel prodeo yang gratis?." Tanya Indra dengan beruntun sembari tersenyum sinis.
"Lepaskan aku dari sini, Indra. Tolonglah kasihanilah aku, aku janji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Kamu pasti maukan membebaskan aku? Aku tahu, kamu pasti tidak akan tega melihat aku seperti ini. Kamu pasti masih menyimpan perasaan cintamu untukku kan? Buktinya sampai sekarang kamu masih belum menikah."Seru Sarah dengan percaya dirinya.
Plaaakkkk
Bukan sebuah senyuman atau sambutan yang baik yang diterima oleh Sarah. Namun justru sebuah tamparan keras yang dia dapatkan dari Indra. Indra terlihat marah dan emosi saat Sarah mengatakan soal perasaannya.
"Jaga mulut mu, Sarah !!. Aku bisa membuatmu lebih parah dari ini, aku bisa saja meminta Satria untuk membuangmu ketempat yang lebih parah lagi dari kehidupanmu. Dimana disana kamu akan diperlakukkan seperti piala bergilir dan siapa saja bisa memakaimu secara gratis !! Asal kamu tahu, aku sudah menikah ."Seru Indra dengan kesal.
Sarah dan Indra dulunya pernah dekat sebelum Sarah menikah dengan Reno. Tepatnya saat masa-masa sekolah menengah atas. Meskipun mereka bersekolah ditempat yang berbeda, Sarah dan Indra dipertemukan disalah satu event yang diadakan oleh sekolah Sarah. Indra jatuh cinta dengan Sarah yang cantik, putih. Namun perasaan cintanya itu tidak terbalas, saat dia menyatakan perasaan cintanya kepada Sarah. Sarah bukannya menerimanya, namun justru Sarah menolak dan menghinanya dihadapan teman-temannya sampai Indra benar-benar malu. Sarah dengan sengaja mempermalukan Indra.
"Jangan pernah bicara soal masalalu, Sarah. Aku menyesal pernah memiliki rasa untuk kamu, tapi saat ini justru rasa benci yang ada dalam diriku!! Ternyata begini kelakuan kamu, beruntung Reno juga sudah terlepas darimu. Dasar wanita j@l@n9 !!."Seru Indra dengan ketus.
Mata Sarah langsung terbelalak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Indra. Yang Sarah tahu Indra dulu sangat mencintainya dan bertutur lembut saat bicara dengannya, tetapi semuanya sudah berubah.
"Maaf."Lirih Sarah lalu menundukkan kepalanya.
"Tiada kata maaf untuk mu!!."Seru Indra ketus.
Setelah bicara seperti itu, Indra pun keluar dan dengan segera dia meninggalkan rumah penyekapan. Indra teringat lagi dengan masalalu nya, dimana dia dipermalukan oleh Sarah dihadapan teman-temannya.
*Dasar wanita murahan !! Istriku saat ini lebih baik dan lebih segalanya dari dia, tidak akan sedikitpun aku tergoda dengan wanita murahan itu. Selama ini aku sudah menyimpan masa lalu ini, bahkan Satria dan nenek saja tidak ada yang tahu.*Gumam Indra dalam hatinya.
__ADS_1
***********