
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Kehidupan Sinta dan Ardi pun sangat bahagia dan harmonis. Kehadiran Anggun di tengah-tengah mereka membawa kebahagiaan tersendiri. Anggun juga diterima dengan baik oleh keluarga Ardi, Bagas sangat menyayangi adik nya itu meskipun bukan adik kandungnya sendiri.
Namun biarpun Sinta bahagia, akan tetapi dia selalu merasa kurang. Kurang semangat karena dia sampai saat ini belum bisa hamil anak Ardi. Dan hal itu yang membuat Sinta takut jika suatu saat Ardi akan meninggalkannya.
Ardi sendiri sudah beratus-ratus kali jika dia tidak akan menuntut anak dari rahim Sinta. Hsna, Bagas dan Anggun sudah cukup membuat dia bahagia.
" Ma, kok melanun?."Tegur Ardi saat melihat Sinta melamun di teras belakang.
" Ehh mas. Sudah selesai ngajarin Bagas belajarnya? Hemm tidak melamun kok mas, itu hanya melihat bintang-bintang di langit. Bintang nya banyak dan indah banget ya mas."Ucap Sinta menunjuk ke arah bintang yang ada di angkasa sana.
" Iya Ma, malam ini kelihatan cerah sekali dan bintangnya juga banyak. Tapi ada satu bintang yang mas suka dan sangat mas kagumi."Ucap Ardi sambil merangkul Sinta dari samping.
Sinta tidak tahu bintang yang mana yang dimaksud oleh sang suami. Dia menunggu suaminya menyelesaikan ucapannya lagi sampai akhir.
" Bintangnya saat ini ada di sampingku, yang sedang aku rangkul ini. Bintang hidupku, dan cahaya hidupku yang akan terus menerangi ku dan anak-anakku. I Love You Sinta."Ucap Ardi dengan mesra lalu mencium kening Sinta dengan lembut.
Bluussshh
Wajah Sinta langsung merona merah di perlakukan seperti itu oleh Ardi. Ardi memang pria yang romantis, selama ini dia sering sekali memberi kejutan-kejutan kecil untuk Sinta. Dan memperlakukan Sinta dengan penuh kasih sayang.
" Mas, terima kasih atas sayang dan cintamu. Aku bahagia mas, aku sangat bahagia. I love you to mas Ardi."Ucap Sinta lalu memeluk erat sang suami tercintanya.
Sinta tidak pernah berfikir jika dia akan mendapatkan suami sebaik Ardi, sesabar Ardi dan seromantis Ardi. Ternyata dibalik semua musibah dan masalah ada hikmahnya juga. Allah masih memberikan kebahagiaan untuknya, berupa suami dan keluarga yang sangat mencintainya.
" Sama-sama istriku. Yuk kita ke kamar, sudah malam nih sudah mulai dingin."Seru Ardi sambil memainkan matanya.
" Kalau sudah seperti ini pasti ada maunya. Hemm sebentar ya mas, mas duluan saja ke kamar. Aku mau mengecek Anggun dan Bagas dulu."Ucap Sinta dengan lembut.
__ADS_1
Sudah menjadi rutinitas Sinta, sebelum dia tidur pasti selalu mengecek kedua anaknya terlebih dahulu. Meskipun Ardi menyiapkan pengasuh untuk Anggun tetap saja, Sinta juga ikut mengurus Anggun. Anggun adalah tanggung jawabnya, dia sudah berjanji kepada Sarah jika dia akan merawat anak nya dengan baik dan menjadi orang tua yang baik untuk Anggun.
" Iya sayang, mas tunggu di kamar ya."Ucap Ardi sambil mencium tangan Sinta.
Sinta masuk ke kamar Anggun terlebih dahulu baru dia kekamar Bagas. Rumah Sinta saat ini sudah memiliki 4 kamar, Ardi sudah merenovasi rumah itu dengan menambah 2 kamar dan memperbesar dapur serta teras belakang.
" Alhamdulillah Anggun tidur nya nyenyak sekali. Semoga kamu mimpi indah ya sayang, kelak jika kamu sudah dewasa mama akan memberitahu siapa mama kamu yang sesungguhnya. Kamu harus tahu, siapa wanita hebat yang sudah melahirkanmu. Selamat tidur anak mama yang cantik."Seru Sinta sambil mengusap pipi Anggun lalu menciumnya.
Setelah dari kamar Anggun, Sinta beralih ke kamar Bagas yang ada tepat di samping kamarnya. Sedang kan kamar samping Anggun di tempati oleh pengasuh Anggun.
" Hemm jagoan mama juga sudah tidur. Mimpi indah sayang."Ucap Sinta lalu mencium kening Bagas.
Setelah dari kamar Bagas, kini waktunya Sinta masuk kamar pribadinya dan mengurus bayi tuanya yang sudah menunggu. Sudah dua malam bayi tuanya itu tidak mendapatkan jatah suntikan vitamin yang dia inginkan. Sudah pasti malam ini akan meminta double jatah nya.
" Sayang cepat sana ganti baju, setelah itu kita istirahat."Ucap Ardi yang sudah lebih dulu berbaring di atas ranjang king size nya.
" Langsung tidur ya."Seru Sinta sambil memainkan matanya.
" Ahhh sayang, kamu jangan menggodaku dong. Sudah tidak perlu ganti baju kalau begitu."Seru Ardi bangun dan langsung menyergap Sinta.
*****
Oooeekk Ooeeekk Ooeeekkk
Suara tangisan bayi terdengar nyaring dari ruangan bersalin. Indra yang memang menunggu di luar ruangan, nampak bahagia dan meneteskan air matanya saat dia mendengar tangisan sang bayi.
" Alhamdulillah bayiku sudah lahir, Boss. Aku sudah resmi menjadi orang tua."Seru Indra memeluk Satria.
Saat ini Satria dan Dinda memang ada di rumah sakit menemani Amara dan Indra.
" Alhamdulillah, selamat ya Ndra."Ucap Satria juga ikut bahagia.
Dia tahu apa yang dirasakan Indra saat ini. Pasti bahagia yang tidak terkira lagi, sama dengan yang dia rasakan dulu saat Dinda melahirkan anak pertamanya, Raja.
" Kamu tadi seharusnya ikut masuk Ndra. Liat perjuangan Amara saat melahirkan, tapi kenapa kamu justru ada di luar."Seru Dinda heran.
__ADS_1
Haahhh... !!
Indra bengong seperti orang bodoh, dia sendiri tidak tahu kenapa dia tadi ada diluar bukannya ikut masuk. Dia benar-benar lupa, karena efek paniklah dia bisa lupa seperti itu.
" Aku panik jadi lupa."Jawab Indra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ceklekkk
Pintu ruangan bersalin terbuka, dokter keluar dari ruangan itu dan di sampingnya ada suster yang menggendong anak Indra yang baru saja lahir.
" Selamat ya pak Indra, alhamdulillah anak bapak perempuan dan terlahir dengan sehat. Kondisi ibunya juga baik, sebentar lagi akan kami pindahkan keruang perawatan. Bapak bisa masuk dulu untuk melihat keadaan istri bapak. Anak bapak biar di bersihkan dulu, nanti akan kami antarkan ke kamar rawat dan bisa anda Adzani."Ucap dokter itu dengan ramah.
" Iya dokter, terima kasih."Jawab Indra.
Setelah dokter pergi, Satria dan Dinda pun pamit pulang duluan. Mereka akan datang lagi nanti saat Amara sudah dipindahkan, saat ini Indra sendiri yang menemui Amara di ruangan bersalin sana.
" Mas, nanti Ratu banyak teman nya ya."Seru Dinda saat di perjalanan pulang.
" Maksud nya bagaimana sayang?."Tanya Satria tidak paham.
" Ya banyak teman karena rata-rata yang lahir dekat-dekat itu semua perempuan. Anak mas Reno perempuan, ada Anggun anak mbak Sarah, terus Ratu nah anaknya Hakim saja nanti yang laki-laki."Seru Dinda sambil terkekeh.
" Ouwhh iya juga ya. Nanti anaknya Hakim biar jadi teman Raja, nah anak itu kira-kira bisa tidak main sama anak nya Hakim yang lebih kecil dari dia. Mas perhatikan Raja itu lebih suka main sama anak yang usianya diatas dia, seperti Gibran dan Bagas."Seru Satria.
Hahahaaaaa
Bukan nya menjawab, Dinda justru tertawa dengan kuat. Apa yang dikatakan Satria memang benar, jika Raja memang lebih suka bermain dengan anak yang lebih besar dari dia. Dia merasa sudah punya adik sehingga dia lebih memilih main sama yang lebih besar.
" Iya juga sih mas, tapi nanti kalau ada anaknya Hakim dan Melisa pasti dia mau lah main bareng. Karena selama ini yang seusia dia rata-rata memang cewek jadi dia lebih memilih main sala Gibran dan Bagas saja."Seru Dinda berpendapat.
" Kamu benar juga sayang."Ucap Satria setuju dengan yang dikatakan oleh istrinya.
Mobil yang dikendarai Satria kini sudah sampai di depan sekolah atau play group dimana Raja saat ini sudah mulai sekolah. Satria dan Dinda awalnya hanya mencoba dulu, namun di luar prediksinya. Raja justru mau datang setiap hari, padahal play group itu hanya 3 kali pertemuan dalam seminggu. Dan itupun hanya bermain, berinteraksi dengan sesama teman. Belajar pun tidak di paksakan.
*********
__ADS_1