
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hari minggu , seperti yang dijanjikan jika minggu ini Dinda dan Satria akan berkunjung ke Panti Asuhan. Nenek Murni juga akan ikut sebab dia juga sudah kangen dengan anak - anak disana. Namun sayang Hana tidak bisa ikut sebab sebelumnya Sinta sudah memberitahu jika dia mengajak Hana untuk makan siang.
" Kamu beneran tidak mau ikut Hana?" Tanya Dinda memastikan.
" Tidak tante, soalnya kemarin lusa mama sudah bilang jika nau mengajak Hana makan siang. Bukannya Hana sudah bilang ya semalam sama tante. Apa tante Dinda lupa?." Tanya Hana memastikan jika dia tidak salah ingat memang dia sudah memberitahu Dinda saat Dinda menemui Hana dikamarnya.
Deg..
Tiba - tiba Dinda langsung terdiam, dia lupa jika Hana hari ini ada janji dengan Sinta. Dinda belum memberitahu Satria jika Hana akan pergi dengan Sinta. Dinda langsung memandang kearah Satria, Satria tahu arti tatapan khawatir dari Dinda.
" Mas, bagaimana ini? Aku khawatir mbak Sinta akan membawa Hana pergi. Maaf mas, aku lupa memberitahu kamu." Seru Dinda langsung dihadapan Hana.
" Tante tenang saja , tadi sehabis sholat subuh Hana sudah bicara sama Om Satria. Hana tahu mama pasti akan merencanakan sesuatu. Tapi tante Dinda tidak perlu khawatir, ada anak buahnya Om Satria dan Om Indra yang akan mengawasi Hana." Seru Hana menyakinkan Dinda jika dia pasti akan hati-hati.
Satria mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Hana. Dinda tidak perlu khawatir karena Hana itu anak yang cerdas, dia pasti bisa menjaga diri dan ada beberapa anak buahnya yang akan menjaga Hana. Jika Sinta sudah membahayakan Hana sudah pasti Satria juga akan ikut turun tangan.
" Yang dikatakan Hana benar kamu jangan khawatir sayang. Hana pasti sudah tahu apa yang harus dia lakukan." Ucap Satria dengan yakin.
" Tapi mas, aku tetap khawatir jika mbak Sinta nekat akan membawa Hana dari sekarang. Dia memang benar ibu kandungnya tapi kelakuannya tidak mencerminkan ibu kandungnya. Ibu mana yang tega menjual anaknya dan menjaminkannya untuk hutang?." Seru Dinda lagi.
" Tante Dinda, terimakasih sudah mengkhawatirkan Hana. Tapi percaya sama Hana jika Hana akan baik - baik saja. Mama memang ingin menikahkanku dengan pria hidung belang itu tapi tidak sekarang, yang pasti memang dalam waktu dekat ini." Ucap Hana membuat Dinda semakin tidak paham dengan apa yang dikatakan Hana.
Satriapun akhirnya menceritakan semuanya kepada Dinda, menceritakan apa saja yang sudah didengar dan diketahui oleh orang suruhannya selama 1 bulan ini. Satria memang sudah mengawasi pergerakan Sinta, sampai ke tempat usaha Sinta pun tidak luput dari intaian anak buah Satria. Jadi saat Badar sering datang ketempat panti pijat Sintapun mereka tahu dan secara diam-diam mereka mencari informasi melalu para karyawan Sint dan mendengarkan langsung obrolan Sinta.
" Jadi dalam waktu 1 bulan ini pria itu akan menikahi Hana mas ? Dan justru Hana akan mendekatkan diri kepada pria itu, untuk mencari bukti - bukti usaha haramnya? " Seru Dinda yang mulai paham arah pembicaraan Satria dan Hana.
" Betul sekali Tante." Jawab Hana dengan yakin.
" Tapi apa tidak terlalu bahaya Hana ?" Tanya Dinda khawatir.
__ADS_1
" Tidak tante,ini demi masa depanku jadi aku harus bisa menyelesaikan masalah ini." Ucap Hana dengan penuh semangat.
Satria sangat suka dengan semangat Hana, Hana memang harus menjadi wanita yang kuat. Sebab saat ini jika dia lemah, dia akan mudah diperdaya oleh orang yang ingin menghancurkannya salah satunya mama kandungnya sendiri.
Dinda sudah tidak berkata - kata lagi, dia sudah tidak bisa melarang Hana. Apalagi itu semua memang atas kemauan Hana sendiri, apalagi Satria juga mendukung Hana.
" Tapi jangan bilang sama kakek dan nenek ya tante , Hana tidak mau membebani fikiran mereka. Selama kami tinggal dengan mereka, mama sudah sangat membebani mereka berdua. Mama tidak lagi menghormati mereka, mama kasar sama mereka. Jika dikasih tahu mama selalu membantah." Ucap Hana mengingat kenangannya saat tinggal dengan kakek neneknya.
Dinda sudah tidak kaget lagi mendengar cerita Hana, tanpa Hana cerita Dinda sudah tahu jika Sinta memang mempunyai sifat yang buruk. Sinta dan Sarah itu sama saja, sama - sama tidak menghargai mertuanya.
Setelah percakapannya dengan Hana selesai, Dinda dan Satria serta nenek Murni berangkat ke panti asuhan. Kebetulan Indra juga sudah datang. Indra yang mengendarai mobil, nenek dan Dinda duduk di kursi belakang.
***********
" Hana kamu mau pesan apa sayang ?" Tanya Sinta dengan senyum ramahnya.
Hana dan Sinta saat ini sudah berada disalah satu Cafe yang sudah dijanjikan oleh Sinta. Hana mengambil buku menu lalu memesan makanan yang dia inginkan. Saat Hana sedang memilih menu makanan tiba - tiba datang seorang pria yang Hana yakini itu adalah Badar.
" Hai pak apa kabar ? " Seru Sinta memanggil badar dengan panggilan Pak.
" Iya kenalkan ini Hana. Hana sayang kenalkan ini pak Badar, beliau ini orang baik loh. Beliau yang sudah memberikan mama pekerjaan, kalau kamu lulus sekolah nanti biar kerja sama pak Badar saja." Seru Sinta pura - pura peduli.
Hana hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya agar Badar dan Sinta tidak manuruh curiga jika dia sudah mengetahui rencana busuk Sinta dan Badar. Hana tidak menyangka jika mamanya bisa berperilaku seperti itu, yang tega menjadikan anaknya sebagai jaminan hutang. Secara tidak langsung Sinta sudah menjual Hana kepada pria yang bernama Badar.
Dengan terpaksa Hana menyambut uluran tangan Badar. Hana bisa melihat jika Badar menatapnya dengan penuh nafsu. Hana merasa jijik ditatap seperti itu oleh Badar, dengan segera Hana menarik tangan dari genggaman Badar seolah-olah tangannya gatal.
" Maaf pak tangannya gatal ." Ucap Hana pura-pura menggaruk telapak tangan kanannya.
" Oh tidak apa-apa, kamu cantik loh. Kamu mau kerja sama Om. ah iya panggil Om saja ya jangan pak karena kesannya tua banget kalau pak." Seru Badar sambil tersenyum penuh makna ke arah Hana.
" Iya Om nanti ya kalau sudah lulus sekolah Hana pasti akan menghubungi Om. Tapi Hana sekarang saja masih SMA, lulus sekolah pun masih lama. Hana juga masih berkeinginan untuk berkuliah. Hana juga ingin menjadi wanita yang sukses agar bisa membahagiakam mama, sebab saat ini orang tua Hana tinggal mama saja. Jadi Hana tidak mau buru-buru menikah juga Om."Ucap Hana sambil melirik ke arah Sinta.
Sinta hanya pura-pura tersenyum manis kearah Hana, agar dia terlihat seperti mama yang peduli dan penuh kasih sayang. Padahal dalam hatinya, saat ini Sinta sedang menggerutu tidak jelas.
* Jangankan mau kuliah, kamu lulus SMA saja entah jadi apa tidak. Karena dalam bulan-bulan ini kamu harus sudah menikah dengan Badar, sehingga aku bisa terbebas dari pria yang gila dengan perempuan itu.* Gumam Sinta dalam hatinya.
Tidak menunggu lama makanan yang tadi dipesan Sinta dan Hana pun sudah datang. Dan ternyata Badar juga sudah memesan makanan, sudah pastinya Sinta lah yang memesankan makanan untuk Badar. Hana sudah tahu jika pertemuan kali ini bukan tanpa sengaja tapi memang sudah terencana.
__ADS_1
Saat makan pun Badar masih terus memandangi wajah Hana , membuat Hana begitu risih dengan tatapan mata penuh nafsu dari badar.
" Om Badar kenapa melihat Hana seperti itu sih? Apa karena Hana cantik ya Om?." Ranya Hana pura-pura bicara genit di hadapan Badar.
" Iya kamu cantik banget, imut lagi. Mau tidak kalau menikah muda." Tanya Badar.
" Tidak mau ! Menikah sama om gitu ? Kenapa tidak mamaku saja yang Om nikahi. " Jawab Hana tegas.
Uhuuukk Uhhuuukkk
Tiba - tiba Sinta tersedak makanannya lalu batuk - batuk. Hampir saja dia mati karena tersedak ayam goreng yang baru saja dia gigit. Jawaban Hana tadi membuat Sinta terkejut, seoalah Hana tahu jika dia akan dinikahkan dengan Badar.
" Nia kok bicaranya seperti itu sih?" Tegur Sinta tidak suka dengan cara bicara Hana.
" Kenapa ma ? Kaget ya aku bicara seperti itu ? Aku bicara tidak ada yang salah kan Ma? Lagi pula kenapa Om Badar pakai tanya soal nikah muda segala? Aku belum mau menikah Ma, kalau memang yang seharusnya menikah itu Mama. Kebetulan Papa juga kan sudah meninggal, Hana ikhlas kok kalau mama mau menikah lagi. Apalagi menikahnya sama Om Badar, kelihatannya Badar ini orang yang baik, pengertian. Iya kan Om, mau kan jadi bapakku ?" Seru Hana dengan beraninya.
Badar dan Sinta hanya saling melempar pandangan, Sinta tidak menyangka jika Hana bisa bicara selugas itu. Apalagi terlihat sepertinya dia mulai dekat dengan Badar, biasanya Hana tidak akan banyak bicara apalagi kepada orang yang baru saja dia kenal.
" Kalau Om maunya kamu bagaimana?" Tanya Badar semakin berani.
" Tunggu sampai aku lulus kuliah." Jawab Hana singkat dengan senyum ramah yang dipaksakan.
" Maunya bulan ini bagaimana ?" Tanya Badar lagi.
Pertanyaan Badar barusan membuat Sinta membolakan matanya. Bagaimana bisa Badar bertanya hal sedetail itu kepada Hana, padahal pertemuannya kali ini hanya untuk pendekatan saja kepada Hana. Jangan sampai membuat Hana ketakutan atau Hana menaruh curiga terhadap Badar dan Sinta.
" Kalau mau bulan ini, ya menikah saja sama mamaku Om." Jawaba Hana dengan santainya.
Badar akhirnya terdiam, ternyata dia salah menilai Hana. Dia mengira Hana bakalan diam dan malu - malu saat bertemu dengannya, tetapi justru menjadi Hana yang banyak bicara dan sosok yang ceria. Beda sekali dengan yang diceritakan oleh Sinta.
" Tapi kalau Om mau menikahiku , nanti akan aku fikirkan dulu. Sudah ya Hana mau makan dulu." Seru Hana seolah dia sangat lapar sehingga dia dengan cepat menghabiskan makanannya.
" Oh iya Hana sayang. Kamu habiskan saja makanan kamu, setelah makan kalau kamu mau jalan - jalan om siap mengantarnya." Ucap Badar berusaha mencari celah untuk mendekati Hana.
Hana tidak menjawab dan tidak memperdulikan ajakan Badar. dia pura-pura tidak mendengar dan fokus dengan makanannya. Dalam hati Hana dia ingin sekali pergi dari tempat itu sebab sudah sangat muak menjadi pura - pura baik.
* Tumben sekali Hana banyak bicara dan bisa bicara sopan dengan Badar. Sepertinya rencana ku kali ini akan berhasil dan aku akan mendapat 20 juta dari Badar. Badar sudah berjanji jika Hana mau diajak bertemu dia akan memberiku uang 20 juta. Siapa tahu dia juga bisa memberikan barang kepadaku secara cuma - cuma tanps harus aku bekerja keras untuk menyenangkannya terlebih dahulu.* Gumam Sinta dalam batinnya.
__ADS_1