Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Reno tidak tahu malu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Jadi kamu mau membawa Hana keluar negeri Satria?" Tanya Pak Karim serius.


Satria, Dinda dan Hana saat ini sudah berada di rumah pak Karim. Satria sengajak mereka datang sebab Satria akan membicarakan soal rencananya membawa Hana keluar negeri. Tiga hari lagi Satria akan mengantarkan Hana ke luar negeri. Pak Karim dan Ibu Rahayu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Satria.


Mereka tahu Satria pasti punya alasan tertentu kenapa sampai mengirim Hana bersekolah disana. Alasannya pasti karena Sinta yang membahayakan Hana. Wanita iblis itu pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, meskipun harus menjual anaknya sekalipun. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu seakan sudah mati.


Pak Karim dan istrinya memandang sedih kearah Hana yang nampak murung. Betapa rumitnya nasib Hana, ayah sudah tidak ada justru ibu yang seharusnya menjadi tumpuan kasih sayang tetapi ibunya malah tidak peduli. Ibunya rela menjadikannya jaminan untuk hutangnya, tidak menutup kemungkinan Hana juga suatu saat akan digunakan Sinta untuk mendapatkan uang.


" Iya pak, bu. Ini semua demi kebaikan Hana. Jangan khawatir, disana Hana akan aman. Dia akan tinggal di asrama yang disediakan oleh sekolahan. Dan aku sendiri yang akan mengantarkan Hana. " Jawab Satria lebih menyakinkan kedua mertuanya.


" Tapi Sinta bagaimana ? Meskipun pria yang bernama Badar itu sudah di penjara, Sinta pasti akan tetap meminta Hana. Wanita iblis berwujud manusia itu pasti tidak akan setuju jika Hana pindah ke luar negeri. Ibu tahu betul bagaimana watak wanita itu." Ucap Ibu Ratri menghawatirkan Hana jika Sinta akan mengacaukan kepergian Hana.


" Justru karena Satria ingin Hana menjauh dari mbak Sinta, sehingga Satria membawa Hana ke luar negeri. Agar mbak Shinta tidak bisa berbuat macam-macam kepada Hana. Di sini Saya minta sama Bapak dan Ibu, rahasiakan kepergian Hana ini. Jangan sampai mbak Sinta dan yang lainnya tahu, cukup kita yang ada di sini aja yang tahu. Mas Reno dan mbak Sarah serta mbak Rena jangan sampai mereka tahu. Bukan Satria mau berpikir buruk kepada mereka, tetapi tidak ada salahnya kita untuk berjaga-jaga." Uccap Satria memberitahu mertuanya jika kepergian Hana ke luar negeri memang harus dirahasiakan.


Kedua mertua Satria mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Memang lebih baik Hana dijauhkan dari mamanya, bukan bermaksud untuk menguasai Hana atau mengajarkan tidak baik terhadap Hana. Apa yang dilakukan Satria semata-mata demi kebaikan dan masa depan Hana. Dan Satria pun tidak memaksa Hana, jika Hana tidak setuju dengan rencananya ke luar negeri , Satria pun bisa memakluminya. Namun ternyata Hana setuju karena memang Hana sudah muak dengan kelakuan mamanya. Kepergiannya ke luar negeri juga ingin menata kehidupan barunya, dan menghilangkan kesedihan akibat apa yang sudah dilakukan oleh ibunya.


" Hana tidak masalahkan kalau tinggal dan bersekolah diluar negeri?." Tanya ibu Rahayu dengan lembut.


" Tidak apa - apa nek, memang Hana juga yang mau. Suatu saat Hana pulang nanti mama sudah berubah. Hana akan mendoakan yang terbaik untuk mama, biarpun mama bersikap seperti itu dia tetap ibu kandung Hana. Hanya kelakuannya saja yang tidak Hana sukai tetapi pada hakikatnya mama tetap orang tua kandung Hana." Ucap Hana bicara dengan bijak.


Ibu Rahayu memeluk cucu pertamanya itu, dia terharu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Hana. Anak remaja seusia Hana sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan ibu Rahayu tahu Hana sudah bisa menjaga dirinya juga.


" Hana kamu nanti hati - hati ya nak di negara orang. Kakek sama nenek akan selalu mendoakan kamu, sekolah yang benar dan kelak bisa menjadi orang yang sukses. Jika sudah sukses jangan lupa sama Om Satria ya. Sebab karena Om Satria lah yang sudah memperjuangkan kamu dan melindungi kamu." Ucap pak Karim menasehati sang cucu.


" Iya kek, Hana pasti akan selalu ingat dengan orang - orang yang sudah menyayangi Hana. " Ucap Hana memeluk Kakeknya.

__ADS_1


" Wahhh lagi pada kumpul nih " Seru seseorang yang baru saja masuk kerumah.


Suasana haru dan bahagia tiba - tiba saja menjadi canggung karena kedatangan Reno dan Sarah. Tanpa permisi mereka masuk tanpa permisi terlebih dahulu. Dinda melihat jengah kedatangan kakak dan iparnya itu, mereka seperti tidak punya sopan dan santun.


" Mau ngapain kamu datang kesini? Mau ambil sembako dan bahan makanan lagi ?" Tanya ibu Rahayu dengan kesal.


Setiap kali anak keduanya itu datang selalu ada saja bahan makanan yang hilang. Ibu Rahayu sudah malas berbaik muka kepada Reno dan Sarah. Semakin dibaikin semakin mereka semaunya, jika meminta dengan baik - baik dan tahu batasannya pasti ibu Rahayu tidak akan kesal. Reno kalau meminta memaksa dan terkadang juga tidak izin terlebih dahulu.


" Apaan sih bu, baru juga datang. Seharusnya ibu menyambut kedatangan kami dengan baik." Ucap Sarah sambil mendengus dengan kesal.


" Wahhh ada Hana juga ya ? Bagaimana rasanya tinggal dengan orang kaya dan dirumah gedong yang mewah ? Pasti betahlah ya sampai diajak tinggal sama ibu kandung sendiri tidak mau. Ehh Satria kamu kan sudah menjamin dan membiayai sekolah Hana, yang adil dong. Anakku juga harus kamu berikan uang untuk biaya sekolah kamu." Ucap Reno dengan songongnya.


Hhhuuufff


Hana menghela nafas dengan kasar, dia lebih baik hengkang dari perkumpulan itu. Hana masuk kekamar yang dulu dia tempati dan memilih istirahat disana.


Pak Karim ingin sekali memukul kepala Reno agar bisa berfikir secara waras. Bisa-bisanya dia meminta Satria untuk menanggung biaya sekolah anaknya sendiri. Semakin hari Reno dan Sarah, semakin tidak waras bahkan pekerjaan pun tidak punya. Hanya lontang lantung sana sini.


Satria dan Dinda ingin sekali tertawa mendengar jawaban dari Pak Karim. Namun mereka tahan karena tidak mau menyinggung keduanya.


" Bapak mendoakan saya untuk mati?" Seru Reno memandang kesal kearah bapaknya.


" Iya kalau memang sudah saatnya mati ya mati saja. Mau sembunyi dimanapun ya tetap tidak bisa. " Jawab pak Karim dengan santainya.


Sarah dan Reno mengerucutkan bibirnya, ucapan dari pak Karim berhasil membuat mereka kesal. Mau marah tapi takut, takut jika tidak diperbolehkan mengambil bahan makanan lagi.


" Mas, yuk kelapaknya pak Marno. Aku ingin minum es cendol, tapi tetap kamu yanv harus meraciknya sendiri." Seru Dinda mengajak Satria kelapak pak Marno.


Tujuan mereka datang sebenarnya tadi juga ingin kelapak pak Marno untuk meminum es cendol. Dinda ngidam es cendol buatan suaminya, meskipun kini sudah berpindah tangan untuk rasa pasti sama saja. Sebab resep dan takaran semua pak Marno sudah dapat ilmunya langsung dari Satria.


" Oh iya, istriku ini tadi mengidam es cendol. Ya sudah yuk kita kesana, mau jalan kaki apa naik mobil ?" Tanya Satria.


" Naik motornya bapak saja mas. Kalau naik mobil kurang greget,heheee " Jawab Dinda sambil terkekeh.

__ADS_1


" Katanya orang kaya, tetapi kok ngidamnya kampungan banget sih ? Duchhh ngidam kok minum cendol, ngidam itu beli berlian atau jalan-jalan keluar negeri. Ini ngidam minum cendol yang harganya cuma 3000 perak." Seru Sarah mencibir Dinda.


Dinda dan Satria tidak perduli dengan ocehan Sarah, mereka berdua segera bangkit lalu menghampiri motor yang terparkir di teras rumah. Pak karim segera masuk kamar untuk mengambilkan kunci motor dan menyerahkannya kepada Satria.


" Eehh jangan lupa aku juga mau dong. " Seru Sarah tidak tahu malu.


" Beli sendiri ! Bukannya tadi kamu bilang itu minuman kampungan ? Jadi untuk apa kamu mau juga ? Nanti alergi gatal - gatal loh mbak." Jawab Dinda.


Jawaban Dinda berhasil membuat Sarah terdiam, dia tadi yang menghina cendol minuman kampungan tetapi justru dia mau juga. Sarahpun diam dan membuang muka kesembarang arah.


" Makanya jangan sok kaya kalau apa - apa masih minta. Bahan makanan dan sembako saja masih mint sok jadi orang kaya mengatakan cendol minuman kampung. Sudaglah Dinda, kamu cepat pergi jangan kamu hiraukan mulut dia." Seru ibu Rahayu bicara sambil melirik Sarah.


Satria dan Dinda melajukan motornya menuju lapak pak Marno. Dinda sendiri sudah tidak sabar ingin segera meminum es cendol. Apalagi panas - panas begini membuat tenggorokan semakin kering, dan akan segar saat meminum es cendol yang dingin dan segar.


" Bu bagi gula sama minyak dong." Seru Reno tidak tahu malu.


" Tidak ada ! Dinda sudah tidak membelikan kami sembako lagi. Kami beli sendiri karena memang ibu tidak mau sembako itu habis sama kamu jadi ya lebih baik ibu beli sendiri." Jawab ibu Rahayu.


" Lahhh kok gitu sih bu. Tapi kan uang yang ibu pakai beli juga dari Satria dan Dinda kan? Bagi uang dong bu kalau begitu, 500 ribu saja bu cukup untuk beli sembako seminggu." Seru Reno semakin tidak tahu malu.


Bugghhhh


Ibu Rahayu memukul bahu Reno dengan kesal, bagaimana bisa dia meminta uang kepada ibunya. Padahal ibunya juga sama saja menumpang hidup dengan Satria masih saja dimintain uang.


" Kamu kira ibumu ini gudang uang? " Ketus ibu Rahayu bicara sambil bersungut - sungut.


" Tapi ibu kan dapat uang bulanan dari Satria bu. Bagi dikit saja dong bu." Seru Reno lagi.


" Tidak !" Bentak ibu Rahayu bicara cukup kuat.


Reno hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat ibunya menolak memberikan uang kepadanya. Reno bangkit dan menuju dapur sambil memegangi perutnya yang sedari tadi sudah meronta - ronta minta diisi.


**********

__ADS_1


__ADS_2