
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Haaahhhh ?
Garis dua?
Mata Dinda terbelalak saat melihat garis dua merah yang ada di tespack yang saat ini ada di tangannya. Bahkan mulut Dinda pun menganga lebar, dia tidak menyangka jika dia akan hamil secepat ini. Padahal dia berniat ingin menyelesaikan kuliah nya terlebih dahulu baru dia akan merencanakan menambah momongan.
"Aku hamil lagi? Apa alat ini tidak salah? Tapi alat ini dua-dua nya menunjukan garis dua."Ucap Dinda dengan wajah masih syok.
Bagaimana tidak syok, saat ini dia sudah hamil lagi sedangkan Raja masih sangat kecil. Raja baru berusia 7 bulan, dan masih terlalu kecil untuk punya anak. Apa kata keluarga dan para tetangga jika mengetahui dirinya hamil lagi.
Ceklekkk
Pelan-pelan, Dinda membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan langkah gontainya. Mimi langsung mendekati Dinda dan menanyakan hasil dari tesnya tadi.
"Bagaimana Bu?."Tanya Mimi penasaran.
"Positif Mi."Jawab Dinda dengan lesu.
"Alhamdulillah, selamat ya bu. Akhirnya mas Raja akan punya adik."Seru Mimi dengan senang.
"Tapi Raja masih kecil, Mi."Ucap Dinda dengan lesu.
Mimi tahu kekhawatiran yang dirasakan oleh Dinda. Mempunyai anak lagi dengan jarak yang terlalu dekat memang tidaklah mudah. Pasti ada kekhawatiran tersendiri, takut jika tidak bisa berlaku adil dan khawatir kasih sayang tidak akan terbagi rata.
"Siapa yang hamil?."Tanya Satria yang tiba-tiba masuk ke kamar tamu sambil menggendong Raja.
Dinda dan Mimi langsung memandang ke arah Satria. Melihat Satria datang membuat Mimi tidak enak hati dan dia memilih keluar dari kamar. Sebelumnya Mimi mengambil Raja dalam gendongan Satria, dan membiarkan Dinda bicara berdua dengan Satria tanpa ada Raja yang mengganggu.
__ADS_1
"Siapa yang hamil sayang? Kamu yang hamil lagi sayang?." Tanya Satria yang kini sudah mengajak Dinda duduk di pinggiran ranjang.
Dinda masih terdiam, dia belum mau memberitahu Satria jika dia yang beneran hamil. Namun Satria tahu jika Dinda sedang menggenggam sesuatu ditangannya. Tanpa menunggu persetujuan Dinda, Satria mengambil benda yang di genggam oleh Dinda.
"Tespeck? Garis dua?." Seru Satria saat mengetahui benda yang di pegang oleh Dinda.
"Iya mas. Aku hamil lagi, maaf ya mas."Seru Dinda menunduk takut-takut.
Dinda takut jika Satria akan memarahinya, karena Raja masih terlalu kecil untuk mempunyai adik. Bahkan untuk berjalanpun belum bisa.
" Alhamdulillah. Tapi kenapa meminta maaf, Sayang? Memangnya kamu salah apa?." Tanya Satria sambil mengerutkan keningnya.
"Karena aku hamil disaat Raja masih terlalu kecil, Mas. Aku takut Raja akan kekurangan kasih sayang, karena aku fokus dengan kehamilanku. Di tambah kuliahku pun belum selesai-selesai mas."Ucap Dinda menjelaskan kekhawatiran yang saat ini dia rasakan.
Satria tersenyum dan membawa Dinda dalam pelukannya. Mana mungkin dia akan marah atas kehamilan sang istri. Lagipula Dinda hamil juga atas perbuatannya juga.
"Sayang, kenapa meminta maaf ? Mas justru senang kamu hamil lagi. Itu artinya, Allah percaya dengan kita untuk menjaga amanahnya lagi. Lagipula, mas loh yang sudah membuat kamu hamil. Jadi kamu jangan sedih dan merasa bersalah begini."Seru Satria bicara dengan lembut agar Dinda tidak bersedih.
" Beneran mas? Mas tidak marah kan?."Seru Dinda dengan binar mata bahagianya.
Dinda mengangguk paham, diapun menghapus air matanya lalu mengeratkan pelukannya ditubuh Satria. Dinda sangat bersyukur mempunyai suami sebaik dan sepengertian Satria.
"Mas, antar aku ke dokter ya. Aku ingin memeriksakan kandungan ku ini. Ingin tahu sudah masuk usia berapa." Ucap Dinda sambil melepaskan pelukannya.
"Iya sayang. Sekarang kita bersiap-siap ya, dan mas coba hubungi dokternya dulu agar kita tidak mengantri terlalu lama."Seru Satria setuju dengan ajakan Dinda.
"Iya mas. Tapi kalaupun ikut antrian tidak apa-ap mas, kita harus membudayakan antri."Seru Dinda dengan menampakkan senyum bahagianya.
Setelah itu Dinda keluar kamar tamu dan naik ke lantai 2 menuju kamar pribadinya. Satria mencoba menghubungi dokter yang biasa tempat Dinda memeriksakan kandungannya saat hamil Raja. Satria menghubungi Dokter agar tidak terlalu lama ikut di antrian. Beruntung sekali hari itu memang sedang tidak banyak pasien sehingga Satria dan Dinda tidak akan menunggu ataupun mengantri lama.
*******
Kehamilan Sarah saat ini sudah memasuki bulan ke 3, dia masih tetap tinggal di kontrakannya. Kini dia hanya bisa hidup seorang diri, namun ada Ira yang sering datang melihat keadaan Sarah. Sampai saat ini Ira masih tetap pura-pura tidak tahu soal penyakit yang di derita Sarah.
"Mbak Sarah, apa mau saya antar ke rumah sakit untuk periksa kehamilan?." Tanya Ira yang saat ini datang kerumah Sarah.
__ADS_1
"Hemm sepertinya tidak usah mbak, saya malas mau kerumah sakit."Jawab Sarah.
Semenjak habis keluar dari rumah sakit, Sarah belum pernah memeriksakan kandungannya sama sekali. Dia malas bertemu dengan ibu-ibu hamil yang lainnya yang kebanyakan ditemani oleh para suaminya.
"Kenapa mbak? Kasihan bayi dalam kandungan dalam perut mbak, Sarah."Ucap Ira mencoba menasehati Sarah.
"Haahh.. Periksa atau tidak, anak ini juga mungkin akan tetap terlahir tidak sempurna. Aku seakan malas untuk memeriksakan kehamilanku ini."Jawab Sarah dengan pasrah.
"Kenapa mbak Sarah bicara seperti itu? Bukannya anak itu adalah karunia dan rezeki dari yang maha kuasa. Kita tidak pernah tahu dan tidak bisa menolalnya. Lagipula, kenapa mbak Sarah bilang kalau anak itu tidak akan terlahir sempurna?." Tanya Ira masih pura-pura tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh Sarah.
Hhhuuufffff
Sarah menghela nafas dengan berat. Mungkin sudah saatnya dia bicara jujur kepada Ira, dia juga yakin jika Ira orang yang baik dan bisa dipercaya.
"Aku sakit , Ra. Dan sakitku mungkin tidak bisa sembuh dan bisa jadi anakku juga tidak akan terlahir dengan sempurna. Aku mempunyai sakit kelamin akibat aku sering gonta-ganti pasangan, aku wanita yang menjijikan. Kamu belum tahu kisah hidup ku yang sesungguhnya, Ra."Ucap Sarah yang akhirnya berkata jujur.
Akhirnya Sarah menceritakan semua apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dari dia yang suka berselingkuh, menelentarkan anak dan suaminya bahkan sampai dia menjadi perempuan nakalpun dia ceritakan semua. Bahkan soal hubungannya dengan Bayu sampai dia hamil pun dia ceritakan semua dengan Ira.
"Mbak Sarah harus optomis, anak itu pasti tidak kenapa-napa. Mbak Sarah jangan berkecil hati, saya yakin semuanya akan baik-baik saja."Ucap Ira dengan penuh keyakinan.
Ira ingin Sarah tetap optimis dan yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Apa anakku ku ini bisa terlahir sempurna?."Tanya Sarah ragu-ragu.
"Insya Allah, anak mbak Sarah baik-baik saja. Mbak Sarah harus rutin periksa kandungannya setiap bulannya. "Ucap Ira menyakinkan Sarah.
"Terimakasih, Ira. Kamu sudah mau berteman dengan orang menjijikan seperti ku."Ucap Sarah.
Sarah merasa jika Ira yang baik dan tulus mau berteman dengannya. Sarah juga yakin jika Ira sudah tahu jika dirinya mempunyai penyakit kelamin. Sebab saat Sarah memberitahunya tadi Ira sama sekali tidak terkejut sedikitpun.
"Kita ke dokter yuk, Mbak."Ucap Ira dengan lembut.
"Aku siap-siap dulu ya, Ra"Ucap Sarah.
Ira mengangguk dan membiarkan Sarah bersiap, dia menunggu Sarah diluar kontrakan saja. Ira sama sekali tidak merasa jijik berdekatan dengan Sarah, dia berharap Sarah akan menjadi wanita yang jauh lebih baik lagi.
__ADS_1
************