Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Keributan di Cafe


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Perusahaan STR Group.


" Maaf ya mas aku terlambat mengantar makan siang kamu. Soalnya tadi jalanan sedikit macet". Ucap Dinda beralasan jika jalan macet.


Dinda sengaja tidak mau memberitahu alasan pasti kenapa dia sampai telat masuk ke ruangan Satria. Karena Dinda tidak mau membuat Lisa dalam masalah, apalagi sampai kehilangan pekerjaannya hanya soal perkara keributan yang terjadi tadi.


" Iya sayang tidak apa - apa. Mas bisa maklum, yang namanya jalanan macet itu sudah biasa. Bahkan mas sendiri sering mengalaminya. Sekarang saatnya kita makan siang, mas sudah tidak sabar nih makan masakan istri tercinta." Ucap Satri sambil mengulas senyum.


Dinda mengambilkan makan suami terlebih dulu baru dia mengambilkan untuk dirinya sendiri. Satria dan Dinda akhirnya makan siang bersama - sama. Selesai makan siang, Dinda membereskan kotak makan yang tadi dia bawa. Dinda juga mencuci peralatan makan, di ruangan Satria ada dapur kecil tersendiri sehingga jika dia ingin kopi atau teh tidak harus memanggil OB karena dia bisa membuatnya sendiri.


" Sayang, maaf ya mas pekerjaannya banyak banget sehingga tidak bisa mengantar kamu pulang. " Ucap Satria sambil menikmati teh yang baru saja dibuatkan oleh Dinda.


" Tidak apa - apa mas. Aku juga bawa mobil sendiri kok mas, jadi tenang saja. Oh iya mas, emm... Mas Beni bagaimana kinerjanya ? " Tanya Dinda ingin tahu.


" Mas Beni kerjanya bagus dan dia juga orangnya teliti dan jujur. Makanya sampai sekarang mas Beni masih bertahan di perusahaan ini. Kalau dia seperti kedua kakakmu itu sudah pasti sekarang mas Beni sudah out dari Perusahaan ini." Jawab Satria dengan serius.


Dinda mengangguk paham dengan penjelasan sang suami. Menurut Dinda juga begitu, selama ini Beni memang tidak pernah ikut campur dengan urusan kedua kakaknya, Rudi dan Reno. Beni selama ini juga bersikap baik meskipun Beni lebih banyak diam saat ada kumpul dengan keluarga.


Perbincangan Dinda dan Satria tidak terlalu lama. Karena Satria ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Dinda juga harus ke cafe, ada urusan dengan para pegawai Cafenya sebab hari ini para pegawai gajian.


Dinda keluar ruangan Satria melalui lift khusus yang dipakai oleh petinggi perusahaan, beruntung kali ini tidak ada wanita yang bernama Lisa tadi karena sudah jam kerja sehingga karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tetapi ada beberapa karyawan yang memperhatikan Dinda mereka penasaran siapa Dinda sehingga bisa menggunakan lift petinggi perusahaan secara mudah.


Kasak kusuk dari beberapa karyawanpun terdengar di telinga Dinda. Tetapi Dinda tidak menghiraukannya, dia terus berjalan menuju lobby perusahaan dan menghampiri mobilnya yang terparkir di parkiran. Setelah itu Dinda melajukan mobilnya menuju Cafe miliknya.


Sesampainya di cafe, Dinda langsung menuju ruangannya dan memanggil manajer Cafe. Ada sesuatu hal yang ingin Dinda bicarakan dengan manajer Cafe berkaitan dengan gaji karyawan Cafe.


" Sepertinya bulan ini saya ingin memberikan bonus tambahan untuk para karyawan. Karena omset bulan ini melebihi perkiraan saya kamu berikan mereka bonus 25 persen dari gaji mereka." Ucap Dinda dengan serius.


" Baik bu. Tapi kalau saya boleh saran lebih baik untuk bonus disamaratakan saja bu. Misal 1 juta ya 1 juta semua, kalau dihitung dari berapa persen gaji mereka pasti bonus yang diterima akan berbeda. Sebab gaji mereka itu semua beda - beda." Ucap menejer Cafe memberikan saran.

__ADS_1


" Oh.. Saran yang bagus. Kamu berikan untuk koki bonus masing - masing 5 juta. Dan karyawan yang lainnya 1,5 juta. Dan untuk kamu apa juga mau bonus ?" Tanya Dinda sengaja bertanya seperti itu.


" Soal bonus siapa yang tidak mau bu. " Jawab sang menejer dengan santainya.


" Kamu juga dapat kok, tenang saja. Semua yang terlibat di Cafe ini tetap mendapatkan bonus, dari satpam dan penjaga parkir tolong juga berikan hak mereka dengan baik. Aku tidak mau ada kecurangan sedikitpun, kamu tahukan konsekuensinya jika kamu curang dan tidak amanah ?." Tanya Dinda dengan serius.


Dinda paling tidak suka dengan orang yang tidak amanah dan curang. Lebih baik jika butuh sesuatu bicara langsung dengannya daripada harus berbuat curang. Orang yang curang bagi Dinda sama saja dengan pengkhianat yang sulit untuk dimaafkan.


" Insya Allah saya pasti akan menjalankan tugas saya dengan baik bu. " Jawab sang menejer cafe dengan serius menyakinkan Dinda.


" Baiklah, aku percaya sama kamu. Sekarang kamu sudah bisa kembali bekerja lagi. " Ucap Dinda lagi.


Sang menejer Cafe itupun mengangguk lalu keluar dari ruangan Dinda. Baru juga menejer Cafe itu sampai depan pintu Dinda tiba - tiba ada karyawan yang datang menyampaikan jika di depan ada keributan karena orang makan tidak mau membayar, mereka beralasan jika mereka adalah orang tua Satria. Sang manajer Cafe itu pun kembali masuk ke ruangan Dinda dan memberitahu apa yang sedang terjadi di luar sana.


Mendengar kata-kata orang tua Satria membuat Dinda menjadi penasaran. Siapa orang itu apakah mertuanya atau hanya orang lain yang membawa-bawa nama orang tuanya Satria. Dinda akhirnya mendatangi meja di mana tempat orang itu makan dan ternyata apa yang dikhawatirkan Dinda terjadi juga.


" Kalau kalian tidak mau membayar lebih baik jangan makan disini. Karena semua bahan - bahan disini itu dibeli pakai uang. Karyawanku juga butuh dibayar pakai uang, saya sendiri saja kalau makan juga bayar." Ucap Dinda dengan santai namun terdengar menyakitkan bagi ketiga orang yang ada dihadapannya.


" Haiii... Tempat ini itu milik anakku, Satria. Jadi kapanpun aku mau makan di sini ya terserah aku. Aku ini orang tuanya Satria. Aku ibunya, ini Ayahnya dan ini adiknya. Kamu di sini cuma orang lain yang sok berkuasa menguasai harta anakku dasar istri mandul." Ucap Rahma dengan suara yang dibuat keras sehingga banyak pengunjung Cafe yang memandang ke arah mereka.


Hati Dinda bergetar hebat. Kata-kata mandul kembali terdengar lagi di telinganya dan kata itu dilontarkan langsung oleh wanita yang sudah melahirkan suaminya. Hati Dinda benar-benar sakit dikatakan mandul oleh mertuanya sendiri. Sebagai seorang istri Dinda pun ingin segera mempunyai momongan. Tetapi memang Allah belum memberikannya, jadi apa harus Dinda yang disalahkan? Sedangkan Dinda dan Satria sama-sama tidak ada masalah, mereka berdua sehat.


" Kalian silahkan pergi dari sini dan jangan pernah lagi makan disini jika tidak punya uang. Untuk kali ini aku gratiskan kalian makan disini!" Seru Dinda dengan nafas tersengal - sengal menahan amarahnya.


" Jadi menantu pelit banget sih? Saya ini mertua kamu, orang tua dari suami kamu tapi begini cara kamu memperlakukan kami. Haii semuanya, beginilah dang owner cafe memperlakukan mertuanya. Dia sangat kurangajar dan sangat tidak menghargai kami sebagai keluarga suaminya. !!" Teriak Rahma dengan lantang sehingga para pengunjung cafe sudah mulai berkasak - kusuk.


Tuduhan buruk sudah mulai terdengar ditelinga Dinda. Sepertinya Rahma memang sengaja ingin mempermalukan Dinda dan menghancurkan usaha Dinda. Dinda mencoba menahan amarah dan emosinya agar tidak semakin fatal. Diapun menjawab pernyataan mertuanya dengan pelan tapi pasti.


" Terserah kalian mau beranggapan apa yang jelas aku seperti tidak punya mertua seperti kalian. Suami saya saja enggan mengakui kalian apalagi saya ? Selama beberapa bulan ini aku dan suamiku sudah cukup baik sama kalian bertiga. Rumah kami sediakan bahkan uang bulanan kami berikan, uang habis kalian datang kepadaku. Mama dan Papa macam apa yang tega meninggalkan anaknya saat dia umur 1 tahun sampai sekarang berumur 30 tahun kalian baru muncul kembali. Bahkan kalian merekayasa kecelakaan agar kalian menghilang tanpa ada yang mengira jika kalian masih hidup." Ucap Dinda dengan santai.


Dinda bicara cukup jelas dan mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarnya. Dia sengaja bicara dengan tenang dan tidak memakai emosi agar semua orang yang ada di dalam Cafe tahu jika tiga orang yang ada dihadapannya adalah parasit.


" Kalian meninggalkan suamiku saat dia berusia 1 tahun, saat itu kehidupan suamiku memang miskin bahkan miskin sekali. Karena tidak mau hidup miskin, Kalian meninggalkan suamiku dan nenek begitu saja. Sekarang setelah suamiku dan nenek mempunyai segalanya kalian pulang dan seenaknya mengatur hidup kami dan seenaknya meminta uang kepada kami. Selama kalian menghilang, kalian hidup enak di luar sana tanpa memikirkan anak kalian sendiri. Jadi selama 29 tahun ini kalian sudah dianggap mati oleh suamiku." Ucap Dinda dengan tegas dan cukup berani.


Para pengunjung Cafe pun terperangah dan kaget mendengar apa yang dijelaskan oleh dinda. Ternyata Dinda bersikap tegas seperti tadi karena memang ketiga orang itu sudah tidak tahu malu bahkan tega meninggalkan anaknya sendiri selama puluhan tahun. Kini cacian berbalik, para pengunjung ikut mencaci Rahma dan Kandar.


" Huuuhhhh dasar orang tua tidak tahu malu."

__ADS_1


" Punya anak kok tidak diurus selama puluhan tahun, dan sekarang datang hanya untuk menjadi parasit. Tidak tahu malu. "


" Beruntung masih dikasih rumah dan uang bulanan. Kalau aku jadi anaknya pasti aku tidak perduli lagi. "


Dan masih banyak lagi cacian yang dilontarkan oleh pengunjung Cafe. Dan itu semua berhasil membuat Rahma, Kandar dan Hakim malu dan marah. Bahkan Hakim bangkit dan mendekati Dinda dan dengan cepat dia menampar pipi Dinda sampai pipi Dinda memerah.


Plaakkk


Tamparan itu membuat Dinda terkejut, bahkan pengunjung cafe juga ikut terkejut. Satpam langsung memegangi tubuh Hakim agar tidak semakin menyakiti Dinda.


" Tamparan itu belum seberapa dibandingkan dengan kelakuan kamu yang sudah mempermalukan kami !. Lihat saja aku akan berbuat yang lebih dari itu jika kamu masih saja menjatuhkan nama baik orang tuaku." Ucap Hakim dengan penuh emosi.


" Bagus Hakim, tampar saja dia. Bila perlu mulut nya sekalian kamu tampar. Haii Satpam miskin, lepaskan anakku. Biar dia memberi pelajaran kepada wanita yang tidak tahu malu ini." Ucap Rahma sambil menunjuk kearah Dinda.


Dinda masih memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas. Bagaimana tidak sakit, jika pria dengan badan tegap seperti Hakim menampar pipinya. Sudah pasti Hakim mengeluarkan tenaganya, sehingga pipi Dinda memerah dan bekas telapak tangan Hakim tergambar jelas di pipi Dinda.


" Buat kamu Bu. Ingat jangan pernah lagi mulut mu itu mengatakanku wanita mandul. Kamu tidak berhak menghinaku ! Sekali lagi aku dengar mulut mu itu menghinaku wanita mandul aku tidak segan - segan untuk merobek mulut mu." Seru Dinda penuh penekanan.


Nyali Rahma langsung menciut mendengar ancaman Dinda. Kandar sebagai suaminya hanya bisa berlindung dibawah ketek istrinya saja. Sedari tadi Dinda belum mendengar suara Kandar.


" Kamu Hakim. ! Kamu ini sudah dewasa tapi kamu tidak bisa menafkahi diri kamu sendiri. Jangan minta terus, karena tidak selamanya kami akan menanggung hidup kamu. Kalau mau sukses itu bekerja dan semua dimulai dari nol." Ucap Dinda.


" Dan anda bapak Kandar, sebagai seorang kepala keluarga seharusnya anda bisa bersikap tegas bisa menjadi panutan yang baik untuk anak istrimu. Lelaki cuma bisanya berlindung dibawah ketek istri. Pak satpam tolong segera bawa mereka pergi dari sini. " Perintah Dinda dengan tegas.


" Tidak perlu menarik kami. Karena kami bisa jalan sendiri !. Dan kamu wanita sombong ! Lihat saja suatu saat nanti kami akan bikin perhitungan sama kamu. " Ucap Rahma masih sempat mengancam Dinda.


Dinda hanya tersenyum tipis saja menanggapi ancaman mama mertuanya. Dia sama sekali tidak takut dengan ancamannya.


" Silahkan saja kalian lakukan apq yang kalian mau. Tapi jangan salahkan saya jika kalian sampai tinggal dikolong jembatan. " Ucap Dinda.


Setelah bicara seperti itu Dinda berjalan meninggalkan tempat keributan dan masuk ke ruangan kerjanya. Didalam ruangannya Dinda merenungkan apa saja yang baru saja terjadi. Dia seperti orang yang kejam karena tadi sudah bicara tidak sopan dengan orang tua suaminya.


* Ya Allah. Maafkan atas apa yang tadi sudah aku perbuat kepada keluarga suamiku. Aku tadi benar - benar terpancing emosi * Gumam Dinda dalam hatinya.


Salah satu karyawan masuk ke ruangan Dinda membawa baskom kecil yang berisi air es dan kain handuk kecil untuk mengompres pipi Dinda yang tadi ditampar oleh Hakim.


***********

__ADS_1


__ADS_2