Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Hari bahagia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hari bahagia yang di tunggu-tunggu oleh Cahaya dan Reno pun datang. Reno dan Cahaya hari ini melangsungkan pernikahan mereka di panti asuhan, semua kelurga berkumpul dengan bahagia menyaksikan pernikahan Reno dan Cahaya.


"Bagaimana para saksi, Sah ?." Tanya pak penghulu setelah Reno selesai mengucapkan ijab qabulnya.


Sahhhh


Saaahhhhh


Suara sah sudah menggema di ruangan yang dijadikan tempat ijan qabul. Semua orang yang hadir mengucapkan kata sah secara bersamaan.


"Alhamdulillah."Ucap pak penghulu juga diikuti oleh semuanya.


"Kini kalian berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri."Ucap pak penghulu lagi.


Reno dan Cahaya mengangguk sembari tersenyum bahagia. Cahaya mencium tangan Reno dengan takzim, sedangkan Reno membalasnya dengan mencium kening Cahaya dengan lembut. Sentuhan pertama kali bagi Cahaya, sehingga jantung Cahaya berdetak semakin kencang.


*Huhhh ini baru dicium kening nya saja, bagaimana kalau mas Reno meminta haknya? Jangan sampai copot jantung ku.*Gumam Cahaya dalam hatinya.


Ucapan selamat mengalir diberikan secara bergantian, senyum bahagia terlihat jelas dari bibir sepasang pengantin baru itu.


"Selamat ya mas, semoga menjadi keluarga yang Sakinah, mawaddah, warrohmah dan segera diberikan keturunan yang sholeh dan sholeha."Ucap Dinda memberikan selamat kepada dua pengantin itu.


"Aamiin."Jawab Reno dan Cahaya bersamaan.


"Selamat ya mas Reno, Cahaya. Doa terbaik untuk kalian berdua. Mas, Cahaya kalau masih seperti anak-anak sentil saja telinganya ya. Heheeee."Ucap Satria sambil terkekeh.


"Selamat ya gadis kecil ku yang bawel, semoga gadis kecil ini tidak membuat repot mas Reno."Seru Indra ikut menggoda Cahaya.


"Kak Satria dan kak Indra apaan sih? Ini hari pernikahanku loh, jangan bikin aku marah dong."Seru Cahaya sembari mengerucutkan bibirnya.


Hahaaaaa

__ADS_1


Satria dan Indra tertawa lepas, begitulah mereka berdua yang dari dulu memang senang sekali mengganggu Cahaya. Meskipun diantara mereka tidak ada hubungan darah, namun mereka sudah seperti saudara dan adik kakak.


"Satria, Indra. Jangan begitu dong, lihat nih cucuku jadi cemberutkan? Sudah jangan kamu dengarkan kedua kakakmu itu, Sayang. Mereka nanti biar nenek yang memarahinya."Seru nenek Murni dengan lembut.


"Iya nenek ku sayang, Terima kasih."Seru Cahaya sembari memeluk bahagia nenek Murni.


Acara berjalan dengan lancara, kini semuanya sedang menikmati makanan yang sudah siapkan oleh sang tuan rumah. Namun tidak dengan Satria dan Dinda, mereka berdua memutuskan untuk segera pulang sebab anak mereka hari tidak ikut.


Hari ini juga, hari yang membahagiakan untuk Satria dan Dinda. Sebab dokter mengabarkan jika Raja hari ini sudah bisa keluar dari inkubator. Berat badannya sudah bertambah dan tidak membuat cemas lagi.


"Mas Reno, Cahaya. Maaf ya kami harus pulang lebih dulu, soalnya kasihan Raja kalau kami tinggal terlalu lama, bahagia selalu ya buat kalian berdua. Mas Reno, titip Cahaya ya mas. Meskipun diantara kami tidak ada hubungan darah, tetapi aku sudah menganggap Cahaya ini adikku. Bahagiakan dia dan bimbing dia menjadi istri yang baik."Ucap Satria berpamitan sekaligus berpesan kepada Reno.


"Insya Allah, aku akan selalu menjaga dan membahagiakan dia."Jawab Reno dengan yakin.


"Kak Satria."Seru Cahaya sudah tidak bisa lagi membendung air mata bahagianya.


"Sudah jangan menangis, malu dong sudah besar menangis. Bukan besar lagi loh, sudah jadi seorang istri juga kan?." Seru Satria.


"Sedih tahu kak."Jawab Cahaya sembari mengusap air matanya.


Dinda menyimak pemandangan yang mengharukan yang ada di depannya. Dinda bisa melihat jika suaminya sangat menyayangi Cahaya seperti adik kandungnya sendiri. Sedikitpun Dinda tidak ada rasa cemburu denhan kedekatan Satria dan Cahaya.


*Mungkin karena selama ini mas Satria tidak mempunyai seorang adik, jadi dia sangat menyayangi Cahaya. Punya adikpun bertemu saat dia sudah dewasa dan menikah denganku. Ditambah hubungannya dengan Hakim dan kedua orang tuanya tidak baik. Oh iya, aku ingin sekali mengunjungi mertuaku.*Gumam Dinda dalam batinnya.


"Mas kapan kita mau menjenguk mama dan papa? Meskipun mereka sudah bersalah, mas jangan melupakan jika mereka itu kedua orang tua mas. "Ucap Dinda mencoba menasehati Satria.


"Iya sayang. Nanti kita kesana, bagaimana kalau besok lusa. Kebetulan mas besok lusa tidak ada pekerjaan yang mendesak. Tapi jangan ajak Raja ya, mas takut mengajak Raja keluar jauh-jauh. Apalagi kondisi dia memang masih belum normal."Ucap Satria.


"Iya mas, nanti Raja biar dirumah saja. "Jawab Dinda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Satria.


Satria sudah menyiapkan pengasuh yang akan membantu Dinda untuk mengurus dan menjaga Raja. Sebenarnya Dinda sudah menolak, namun Satria tetap kekeh untuk memakai pengasuh. Sebab Satria tidak mau Dinda kelelahan saat mengurus Raja, apalagi saat Dinda sudah masuk kuliah nanti. Pengasuh hanya bertugas untuk membantu saja, tidak untuk mengurus Raja sepenuhnya.


Setelah 45 menit dalam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Satria sudah sampai di depan rumah. Satria dan Dinda bersamaan turun dari mobil dan langsung masuk kerumah. Mereka berdua sama-sama menuju ke kamarnya, untuk bersih-bersih dan ganti baju terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar Raja.


"Terimakasih, dokter dan suster. Selama hampir dua minggu ini sudah mau merawat Raja dengan baik."Ucap Dinda dokter dan suster sembari menggendong Raja.


Semenjak Raja dilahirkan, baru kali ini Dinda bisa menggendong Raja. Selama dalam inkubator Raja tidak diperbolehkan dipegang siapapun terkecuali suster dan dokter.


"Sama-sama bu Dinda. Untuk Raja, sudah bisa ibu gendong sepuasnya. Berat badannya sudah bertambah, dan alat pernafasannya sudah normal. Kalau begitu kami berdus permisi ya Pak, Bu. Kami doakan semoga Raja sehat selalu dan akan jadi anak yang sholeh serta membanggakan kedua oranh tuanya."Ucap Dokter dengan tulus.

__ADS_1


"Aamiin."


"Terimakasih atas doa dan harapannya untuk Raja, Dokter."Jawab Satria.


Dokter dan suster Ima pun pulang, mereka kembali bertugas dirumah sakit seperti sedia kala lagi. Setelah Suster dan Dokter pulang, Dinda membawa Raja kekamarnya.


"Alhamdulillah sayang, akhirnya mama dan papa sudah bisa menggendong kamu. Mulai malam ini kamu tidur di kamar mama dan papa ya, Nak."Seru Dinda sembari memeluk Raja yang ada dalam gendongannya.


"Anak papa yang ganteng. Jagoan papa yang hebat, sehat-sehat ya sayang. Banyak loh yang sayang sama Raja, nanti kalau keadaannya sudah memungkinkan kita adakan syukuran kelahiranmu ya sayang. Maaf bukan papa dan mama sengaja memperlambat, tetapi karena kemarin-kemarin keadaan kamu yang tidak memungkinkan."Seru Satria mencium Raja yang masih dalam gendongan Dinda.


Satria mengambil alih Raja dari gendongan Dinda, dia juga ingin menggendong anaknya. Hari ini mereka merasakan dua kebahagiaan, yang pertama bahagia karena Reno dan Cahaya sudah resmi menikah. Yang kedua bahagia Raja sudah sehat dan tidak perlu lagi berada di inkubator.


"Mas, nanti kalau mau buat syukuran atau aqiqah tidak perlu mengundang banyak orang atau teman bisnis ya mas. Cukup keluarga, anak-anak panti dan tetangga komplek sini saja."Ucap Dinda terlihat serius.


"Iya sayang. Kamu pasti khawatirkan kalau kita mengundang banyak orang akan membuat Raja capek? Pasti hanyak orang yang akan menggendong Raja, oper sana sini."Seru Satria tahu kekhawatiran sang istri.


Dinda mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Suaminya. Bukan bermaksud untuk pelit atau membatasi para tamu yang datang, atau tidak membolehkan Raja untuk digendong orang lain. Mengingat kondisi Raja yang memang masih rentan sehingga membuat Dinda dan Satria harus ekstra hati-hati.


"Oh iya mas. Kamu pasti sudah tahukan hal apa yang membuat aku sampai masuk rumah sakit dan terpaksa melahirkan secara secar dua minggu yang lalu? Sekarang Sarah ada dimana mas?."Tanya Dinda yang baru ingat untuk menanyakan keberadaan Sarah.


"Dia ada di penjara. Aku sudah menyerahkan dia kepada polisi, biar saja polisi yang memberikan hukuman. Aku seorang pria tidak mau menyakiti wanita dengan tanganku sendiri."Jawab Satria jujur jika Sarah ada di penjara.


Satria tidak memberitahu jika dia pernah menyekap Sarah selama 3 hari. Yang penting saat ini Sarah sudah ada di penjara, namun satu yang membuat Satria khawatir. Jika Sinta dan Hakim akan membebaskan Sarah dan menjamin kebebasan Sarah.


Jika Sarah bebas, pasti dia akan membuat perhitungan dengan Satria. Sebab Sarah adalah tipe manusia yang tidak mau kalah dan pendendam. Sehingga Satria harus menjaga keluarganya dengan ekstra hati-hati. Dua pengawal juga sudah mulai bekerja kembali dua minggu yang lalu.


"Sini Raja mas, sepertinya dia mengantuk."Seru Dinda mengambil Raja dalam gendongan Satria.


"Iya sayang, ini juga sudah mulai haus kayaknya. Ya sudah, kamu kasih Asi saja dulu. Kalau Raja tidur kamu juga harus tidur sayang, biar kamu tidak kelelahan. Kalau kamu lelah jangan sungkan panggil mas atau mbak Ayu.


Ayu adalah nama dari pengasuh Raja, Ayu sudah mulai masuk kerja dari dua hari yang lalu. Sebelum Raja keluar dari inkubator, Ayu membantu pekerjaan rumah terlebih dahulu.


"Iya mas. Kamu juga jangan lupa untuk istirahat, nyuruh orang istirahat tapi mas sendiri tidak mau istirahat."Ucap Dinda mengingatkan suaminya.


"Iya istriku yang paling cantik. Lihat sayang, mama kamu kalau sudah bawel papa tidak bisa berkutik lagi. "Seru Satria sembari mengusap pipi Raja.


Dinda melirik tajam dan mencubit kecil pinggang suaminya. Biarpun cuma cubitan kecil, akan tetapi rasanya membuat Satria mengaduh kesakitan.


**********

__ADS_1


Maaf ya kak, jika beberapa hari ini up nya sering telat dan terkadang cuma 1 bab. 🙏


Author seminggu yg lalu mengalami sedikit insiden, jadi harus perbanyak istirahat. 🙏🙏🙏


__ADS_2