
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Para tamu belum juga pulang dari rumah satria, mereka masih betah dirumah satria yang terasa nyaman dan dingin itu. Indra sendiri sudah pulang karena dia harus balik ke perusahaan, ada meeting selepas jam makan siang yang harus dia ikuti.
Kali ini satria masih berbincang - bincang dengan pak karim, sambil sesekali melirik tajam ke arah rudi. Rudi sendiri tidak tahu arti lirikan sang adik iparnya.
* Oh iya mas rudi dan mas reno sekarang kerja dimana ? Bisnisnya lancar ya ?" Tanya satria mencari tahu.
" Semuanya gagal gara - gara kamu !" Seru rudi dengan nada suara kesal.
" Kok saya ? Memangnya saya ini salah apa ? Bisnis apa yang sedang kalian jalani saja aku tidak tahu ? Makanya kalau mau memulai berbisnis itu usahakan dimulai dengan kejujuran, jangam berbohong " Jawab satria dengan senyum mengejek.
" Sudah jangan dibahas lagi. Pak, buk kapan ini mau pulang ? Aku malas berlama - lama ada dirumah orang sombong seperti ini. Tahu saudara kesusahan dan tidak ada pekerjaan bukannya di tolong malah dibuat makin susah. Bekerja diperusahaannya juga dipecat, adik ipar macam apa itu ? Jangan mendekat saat susah dan saat butuh saja " Ucap rudi ketus.
Hhhuuuuuhhhhh
Dinda sebagai adik kandung dari Rudi , merasa malu dengan sikap rudi. Ketiga kakaknya memang mempunyai tabiat yang tifak bagus. Tapi rudi yang mulutnya dan sikapnya yang semakin kurangajar.
Dia seenaknya bicara sepeeti itu, padahal apa yang dia ucapkan itu tidak pernah terbukti. Selama dinda menjadi istri satrua sedikitpun dinda dan satria tidak pernah merepotkan keluarganya, terutama Rudi.
" Memangnya selama saya menjadi bagian keluarga mas rudi, apa saya pernah meminta tolong mas rudi ? Aku aku dan istriku pernah merepotkan mas rudi ? Saya rasa tidak, bahkan saat saya sakitpun kalian semua tidak perduli kan ? Aku tahu saat aku sakit dan butuh uang untuk berobat , dinda meminjam sama kalian satu diantara kalian tidak ada yang mau meminjamkan dengan alasan kami miskin dan tidak akan bisa membayarnya. Bahkan mas rudi pernah menyumpahi aku untuk mati kan ?" Tanya satria dengan penuh penekanan.
Deg....
Dinda langsung memandang suaminya , sebab masalah itu tidak pernah dinda katakan kepada suaminya. Jadi darimana suaminya tahu soal kata - kata rudi itu. Dinda terus bertanya- tanya pada dirinya sendiri.
" Kamu jangan kaget sayang , aku tahu semua yang kamu sembunyikan. Sebab saat kamu meminjam uang sama mas rudi, aku berada di teras rumah bapak. Saat itu ingin menyusul mu, namun kenyataanya aku mendapati sumpah serapah dari kakak iparku " Ucap satria.
Satria masih ingay betul saat itu ada rudi dirumah pak karim, dia datang bersama anak istrinya. Dan diinda mencoba untuk meminjam uang untuk berobat tetapi bukan uang yang dia dapat tapi sebuah hinaan ,cacian dan sumpah serapah dari rudi.
* Untuk apa kamu capek - capek mengurus pria miskin dan sakit - sakitan itu Dinda ! Lebih baik kamu tinggalkan dia,dan biarkan saja dia mati saja. Aku tidak akan meminjamkan uang ku untuk kamu apalagi untuk dia berobat, biar saja dia mati *
Kata - kata itu samai saat ini masih saja teringat dalam ingatan satria. Bila ingat kata - kata itu jantung satria terasa sakit dan sesak.
" Emm...satria, itukan kejadiannya sudah lama. Mungkin saat itu rudi memang sedang tidak ada yang. Harap dimaklumi saja, kamu lupakan saja kejadian itu. Kita semua inikan keluarga, tidak baik jika harus ribut - ribut begini. Satria, maafkan anak - anak ibu ya mungkin selama ini mereka terlalu berbangga diri dengan pencapainnya." Ucap ibu rahayu mewakili anak - anaknya meminta maaf kepada satria.
Dinda dan pak karim heran dengan perubahan sikap ibu rahayu. Ibu yang dulu paling anti untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan kini mau merendahkan diri untuk meminta maaf kepada satria untuk anak - anaknya.
* Apa yang terjadi dengan ibu, tumben dia mau meminta maaf. Semoga saja ini benar - benar tulus tidak ada maksud terselubung * Gumam dinda dalam batinnya.
" Aku sebenarnya sudah melupakan dan memaafkannya bu, tetapi mas rudi sendiri tadi yang membuat aku untuk kembali teringat dengan kata - katanya itu. Aku ini hanya manusia biasa,punya yang namanya hati dan perasaan, ada saatnya aku ini juga merasa tersakiti. Selama ini aku sama sekali tidak pernah mendapat perlakuan baik dari kalian semua, kecuali bapak dan mas beni. " Ucap satri dengan tegas.
Sebagai orang tua pak karim merasa gagal mendidim anak - anaknya. Anak yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang, tumbuh besar dan dewasa dengan sikap yang kurang baik. Mereka sombong, angkuh dan tidak pernah mau menghargai orang lain. Hanya diinda yang mempunyai sifat lembut dan penuh kasih sayang.
" Sudahlah satria jangan dipermasalahkan lagi. Lagipula sekarang kamu sudah kaya dan sukses, uang kamu ada dimana - mana. Dengan begini tidak ada lagi yang akan menghina kamu soap uang karena kamu tidak akan pernah kesulitan uang, iya kan ? Kita semua ini saudara sudah sepantasnya saling tolong menolong, bukannya begitu pak, buk?" Seru Sinta meminta persetujuan pak karim dan ibu rahayu.
__ADS_1
Pak karim hanya diam saja, dia tidak mau menhomentari ucapan sinta. Sebab dia mencium aroma yang tidak baik. Apa yang dikatakan sinta menunjukan ada maksud terselubung dari ucapannya itu.
" Iya sinta. Ibu ini ingin anak - anak dan para menantu ibu hidup rukun dan damai. Semuanya hidup damai tanpa kurang suatu apapun, saling tolong menolong sesama saudara ." Ucap ibu rahayu.
" Sekarang tidak perlu berbasa - basi lagi. Katakan saja apa yang menjadi tujuan mbak sinta dan ibu " Seru satria dengan tegas.
Ibu rahayu dan sinta saling melempar pandang dengan senyum penuh makna. Mereka memang ada maksud tertentu , jika tidak mana mau mereka berbaik - baik seperti itu dengan satria, apalagi kalau bukan soal uang , uang dan uang. Sinta meminta ibu rahayu untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan.
" Jangan ada maksud terselubung ya bu " Ucap pak karim.
" Bapak diam saja. Ini urusan ibu sama satria ! Begini nak satria, seperti yang kamu ketahui jika kehidupan rudi ini sekarang jauh dari kata kaya. Rudi juga seorang pengangguran, bahkan sekarang mereka juga sudah kembali lagi kerumah kami karena tidak sanggup bayar sewa rumah kontrakan lagi. Jadi begini, ibu ingin meminta tolong sama kamu untuk memberikan rudi modal untuk membuka usaha. " Ucap ibu rahayu dengan senyum penuh dibibirnya.
Haaahhhhh....
Uang ? Modal usaha ? Memangnya mas rudi mau usaha apa ? Satria terlihat kaget mendengar rudi mau pinjam untuk membuka usaha. Bukannya rudi dan reno sedang berbisnis dengan teman - temannya. Satria tidak mau begitu saja meminjamkan uangnya tanpa ada jaminan yang pasti, dia mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi nanti.
" Bu,memangnya mas rudi mau buka usaha apa ? Kalau mas rudi dipenjemin aku juga mau dong , aku juga berencana membuka toko bangunan yang besar di daerah tempat kita tinggal. Kebetulan didaerah kitakan belum ada toko bangunan, ada juga jauh harus kepasar dulu." Ucap reno protes.
" Aku mau buka usaha showroom motor Ren, tentunya perlu modal yang besar. Aku ingin membangun usaha yang besar, agar teman - temanku bangga dengan ku. Setelah itu mereka tidak akan menghinaku pengangguran lagi. " Ucap rudi dengan bangganya. Belum apa - apa dia sudah menyombongkan diri.
Terlalu percaya diri mereka, mereka yang mau membangun usaha kenapa harus satria yang mengeluarkan biaya. Kelakuan kedua anaknya membuat pak karim malu dan sangat - sangat malu. Dulu saat satri belum diketahui siapa dia yang sebenarnya, rudi dan reno selalu menghina satria namun kini mereka seakan menjilat lidahnya sendiri.
" Sayang, tolong bawa bapak kekamar tamu. Biarkan bapak istirahat disana. Sepertinya bapak sangat lelah. " Ucap satria yang tidak mau pak karim melihat keributan yang akan terjadi nanti.
" Iya mas. Bapak istirahat saja yuk dikamar " Seru dinda mengajak pak karim.
Pak karim mengangguk patuh dan dia mengikuti dinda masuk kekamar tamu. Dari kamar tamu suara dari ruang utama tidak seberapa kedengeran sebab kamar tamu yang ditempati pak karim letaknya ada dibawah tangga dan agak jauh dari ruang utama.
Setelah mengantarkan pak karim, dinda berkumpul lagi dengan para keluarganya yang tidak tahu diri itu. Jantung dinda sendiri sudah merasa tidak aman, sebab terlihat sekali sorot mata satria menunjukan amarah.
Satria masih saja tetap duduk dikursi rodanya, tanpa mau pindah ke sofa. Rudi dan reno merasa jika saat ini satria akan mempermalukannnya lagi.
" Memangnya tidak boleh ya kakak ipar kamu pinjam duit Satria ? Kamu sekarangkan sudah bukan pedagang cendol lagi, tetapi kamu seorang sultan. Uang kamu banyak , membatu saudara sendiri tidak akan membuat kamu miskin " Seru ibu rahayu ikut berbicara lagi.
" Memangnya kalian mau pinjam uang berapa ?" Tanya satria serius.
" Aku mai pinjam 700 juta , karena aku mau usaha showroom motor jadi harus punya biaya yang besar. Aku sudah tanya - tanya temanku modal segitu sudah lumayan, tapi kalau kamu mau menambahi genap 1 milyar ya tidak apa - apa " Jawab rudi dengan senang.
" Kalau mas rudi 1 milyar aku juga mau satu milyar " Jawab reno dengan tidak mau kalah dari Rudi.
" Mas, apa mas kira uang 1 milyar itu sedikit ? Apa kalian sanggup untuk mengembalikannya ? Jangan buat aku dan bapak malu jika kalian tidak bisa bayar, dulu saya mau pinjam uang hitungan ratusan ribu saja tidak mas kasih. Sekarang dengan gampangnya kalian masing - masing mau pinjam 1 milyar. Aku tidak yakin kalian bisa membayarnya " Ucap dinda merasa kesal dengan kelakuan kedua kakaknya.
" Kamu diam dinda ! Ini urusan kakakmu dan suamimu, jadi kamu jangan ikut campur ! " Tegur ibu rahayu.
Senyum sinis terukir dibibir satria, dia bukanlah orang bodoh yang mau merelakan uang nya begitu saja untuk para ipar yang tidak tahu diri. Jika hubungan mereka dari dulu baik dan mereka menghargai dan menyayangi satria dengan tulus, tanpa dimintapun satria akan menolongnya. Bahkan satria tidak mungkin memecat mereka dari kantornya.
" Apa jaminannya ?" Tanya satria masih dengan tenang.
" Apa ? Jaminan ?" Tanya reno dan rudi bersamaan. Tidak menyangka satria akan meminta jaminan, jika reno masih ada rumah dan mobil yang bisa dia jaminkan. Sedangkan rudi, dia tidak punya apa - apa untuk dijadikan jaminan.
Brakkkk....
__ADS_1
Rudi menggebrak meja kaca itu dengan kuat, beruntung meja kaca itu dilapisi kayu yang kokoh sehingga tidak mudah pecah. Rudi marah saat satria menanyakan soal jaminan.
" Kami ini kakak ipar kamu,jadi untuk apa harus ada jaminan !! Takut sekali kamu hutang itu tidak aku bayar " Sentak rudi dengan lantang.
" Kamu keterlaluan satria . Mereka berdua itu adalah kakak ipar kamu sendiri, seharusnya mereka tidak perlu berhutang dan kamu bisa memberinya secara cuma - cuma. Dasar menantun pelit, sombong kamu satria !" Ibu rahayu ikut memarahi satria.
" Didalam dunia bisnis yang namanya hutang ya tetap hutang bu. Tidak ada istilah saudara atau keluarga, sekarang kalau ada jaminannya aku bisa memberikan uang itu hari ini juga. Tapi jika tidak ada, maaf aku tidak akan memberikannya. Karena aku yakin jika mereka tidak akan bisa membayarnya, daripada uang itu dinikmati mereka lebih baik satria sumbangkan saja kepanti asuhan " Jawab satri masih dengan tenang namun sorot mata sangat tajam.
Para wanita hanya diam, mereka cukup menyimak dan mendengarkan . Sebenarnya sarah dan sinta tadi sudah mau ikut bicara tetapi rena melarangnya, biar saja para suaminya dan ibu yang bicara dengan satria. Seban jika sarah dan sinta ikut bicara urusannya semakin ruwet dan ribet.
" Jadi kamu tidak bisa meminjamkan uang untuk kedua kakak iparmu ?" Tanya ibu rahayu.
" Tidak bisa !" Jawab satria dengan singkat.
Rudi dan Reno langsung bangkit hendak meninggalkan rumah satria, sebelum pergi rudi menunjuk kearah satria.
" Kamu ! Lihat saja saat kamu butuh bantuan ku aku tidak akan sudi membantumu, dasar manusia kikir ,sombong ! Kenapa kemarin saat kecelakaan kamu tidak mati saja !" Bentak rudi dengan kesal.
" Astaghfirullahaladzim... Mas Rudi !" Bentak dinda lantang.
Plakkk
Dinda sudah hanis kesabaran menghadapi kakaknya yang bernama rudi. Begitu teganya mulutnya mengatakan keburukan untuk suami adiknya sendiri. Seorang kakak yang seharusnya bisa menjadi panutan untuk adiknya justru berkalakuan buruk didepan adiknya.
" Apa mas rudi sadar bicara seperti itu ? Betarti tadi tujuan kalian kesini bukan untuk menjenguk mas satria, tetapi untuk meminjam uang. Tega ya kalian ! Mas satria ini baru saja kena musibah seharusnya kalian prihatin setidaknya perduli dengan keadaan suamiku. Bukan malah datang untuk meminjam uang dan marah - marah begini. Tidak ada hati kalian, sekarang lebih baik kalian pergi dari rumah ku. Pergi !" Usir dinda dengan lantang.
Saat ini dinda sudah tidak bisa membendung amarah dan sedihnya. Matanyapun sudah berkaca - kaca , tidak tahu lagi cara menghadapi para kakaknya. Tidak bermaksud menjadi adik yang pembangkang, tetapi kelakuan rudi sudah tidak bisa dibiarkan terus menerus.
Semuanya berdiri dan terkejut dengan keberanian dinda menampar rudi serta mengusir mereka semua. Satri memeluk dinda dari samping sambil mengusap punggung dinda agar dinda lebih tenang.
" Sabar sayang,jangan emosi begini. " Ucap satria dengan lembut.
" Aku sudah tidak bisa sabar lagi mas. Mas rudi sudah keterlaluan, dulu dia menghina kita muskin tapi sekarang dia mau seenaknya sama kita. " Ucap dinda dengan nafas tersengal - sengal.
" Dasar adik durhaka ! Aku menyesal mempunyai adik seperti kamu ! Kenapa saat kecelakaan kemarin kamu tidak ikut sekalian biar mampus sekalian, syukur - syukur bisa mati !" Ucap rudi.
Deg....
Semua pasang mata memandang kearah rudi, sampai hati rudi menyumpahi adik kandungnya sendiri. Dengan rudi bicara seperti itu, dinda jadi curiga jika rudi ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa satria beberapa hari yang lalu.
" Sepertinya mas tahu betul ya sama kecelakaan itu ? Atau jangan - jangan memang mas yang sengaja menyabotase mobil suamiku ?" Tanya dinda dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
Rudi tampak gugup dan salah tingkah, dia tidak mungkin untuk mengakui perbuatannya. Bisa - bisa dia masuk penjara seumur hidup. Sinta sebagai istri tidak terima atas tuduhan dinda yang tidak ada bukti sama sekali.
" Jaga ucapanmu dinda ! Mas rudi tidak mungkin seperti itu , jangan firnah kamu. " Seru sinta dengan kesal.
" Iya dinda, jangan buat pernyataan yang mengundang fitnah. Ibu itu mendidik kalian semua dengan baik dan penuh kasih sayang, jadi tidak mungkin rudi mau berbuat jahat seperti itu " Tambah ibu rahayu membela sang anak pertamanya.
" Iya nih dinda. Mulut kok tidak bisa dijaga, jangan mentang - mentang sudah kaya jadi mulut bisa seenaknya bicara. Kita pulang saja,disini kita sama sekali tidak dihargai. " Seru rena membuat suasana semakin panas.
" Silahkan kalian semua pergi dari rumah kami. Jangan pernah datang kerumah kami jika hanya untuk buat keributan seperti ini. Lihat saja aku akan buat perhitungan jika sampai ada yang berani menyakiti istriku." Ucap satria dengan ketus.
__ADS_1
Semua tamu itupun akhirnya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun . Bahkan mereka melupakan keberadaan pak karim yang saat ini sedang beristirahat didalam kamar.
**********