Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Rena dan temannya


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hari - hari satria terasa lebih nyaman tanpa adanya gangguan dari kedua orang tuanya. Sudah seminggu ini satria tidak tahu kabar mereka, dan memang tidak mau tahu. Soal uang bulanan diurus dan di transfer langsung oleh Indra sang assistennya.


Masalah rudi juga agak meredup karena satria akan menuntut rudi lebih berat lagi jika mereka masih saja meminta satria untuk membebaskan rudi simanusia tidak tahu diri itu.


" Mas, apa tidak sebaiknya kita menjenguk mama dan papa ? Sudah seminggu lebih loh kita ini tidak melihat keadaan mamamu, bahkan terakhir bertemu saat kamu masih dirumah sakit kan mas ?" Tanya dinda.


" Biarkan saja mereka. Mas masih malas membicrakan mereka, mereka hanya butuh uang ku saja. Bahkan saat ini mereka cuma duduk manis saja. Aku tidak melupakan tanggung jawabku untuk menafkahi mereka. Aku hanya ingin melihat kemampuan mereka, sebab mereka sudah berjanji akan bisa sukses tanpa bantuan kami. Hhuuuhhh... Mereka juga menolak syarat yang diberikan oleh nenek" Ucap satria dengan serius.


Nenek murni juga sudah menceritakan kepada Dinda sehingga dinda sudah tidak kaget lagi. Dinda hanya menganggukkan kepala pelan, dia menghargai apa yang sudah menjadi keputusan suaminya. Dinda mengisi piring satria dengan nasi , sayuran dan lauk pauk yang lainnya. Saat ini mereka memang sedang sarapan, dinda dan satri sarapan bersama.


" Mas, kemarin nenek tanya kapan kita mau tinggal dirumah nenek. Emm... Kasihan nenek sepertinya beliau kesepian mas, bagaimana kalau nenek kita ajak tinggal sama kita dirumah ini ?" Tanya dinda menyampaikan pendapatnya.


" Nenek pasti tidak mau, sidah dari pertama kita pindah dirumah ini mad itu sudah mengajaknya tetapi dia tidak mau. Kalau untuk menginap sesekali sih tidak masalah tapi tidak untuk pindah. Nanti kita saja yang tinggal disana dan rumah ini bisa kita tempati saat kita ingin menginap saja " Ucap satria lalu menyuapkan sesendok nasi dimulutnya.


" Iya mas, aku setuju - setuju saja " Jawab dinda.


Mereka menyelesaikan makannya setelah itu pergi ketempat kerja mereka masing - masing. Kali ini dinda ingin mengecek keadaa butik dan salon dan dinda sudah diizinkan untuk mengendarai mobil dengan sendiri. Satri memang ingin dinda menjadi wanita yang kuat , tangguh dan mandiri. Meskipun dinda memang sudah mandiri sejak dulu.


Bukan tanpa alasan satria meminta dinda untuk menjadi wanita yang tangguh, sebab untuk menghadapi para kakaknya dinda harus mempunyai keberanian. Tidak selamanya harus mengalah kepada yang lebih tua. Jika memang merasa benar tidak perlu takut dan hal itu yang selalu satria ajarkan kepada dinda.


" Selamat pagi Nona Dinda " Sapa amara dengan ramah dan lembut.


" Pagi juga amara. Bisa keruangan saya dan tolong bawa laporan yang semalam saya minta juga ya " Ucap dinda juga tidak kalah ramah menjawab sapaan amara sang asisten kepercayaanya.


" Baik Non " Jawab amara singkat.


Dinda masuk keruangannya dan amara juga masuk keruangannya untuk mengambil berkas yang diminta oleh Dinda. Setelah itu dia juga menyusul dinda diruangannya.

__ADS_1


" Ini berkas yang nona minta. Ini sudah saya kerjakan dari kemarin non jadi insya allah rapi dan mudah dipahami. " Ucap amara percaya diri.


" Terimakasih amara kamu sudah banyak membantuku. Aku memeriksa laporan ini bukan aku tidak percaya sama kamu, tetapi dengan memeriksa begini aku juga bisa sambil belajar kan ?" Tanya dinda meminta persetujuan amara.


" Iya benar non. Tetapi biarpun aku yang membuatnya non amara tetap harus memeriksanya. Siapa tahu akh ada kesalahan, yang namanya manusia ya Non tidak luput dari yang namanya salah " Jawab amara dan dindapun mengangguk setuju dengan apa yang barusan oleh amara.


Pelanggan butik dan salon semakin siang semakin ramai, untuk pelanggan rata - rata memang dari kalangan orang berduit. Tetapi semenjak dinda memegang alih butik, dinda juga menjual baju dan fashion wanita dengan harga yang ramah dikantong di kalangan masyarakat umum dengan kualitas yang terjamin. Dinda naik kelantai atas untuk melihat - lihat keadaan salon , dilantai atas ini juga terbilang ramai pelanggan apalagi hari ini memang sedang mengadakan promo potongan 25% untuk segala macam jenis perawatan.


Mata dinda mengitar sekeliling salon dan pandangannya berhenti kepada salah satu pelanggan yang tidak asing bagi lagi dimata dinda. Ada rena dan temannya yang sedang menunggu antrian , karena memang pelanggan sedang ramai.


" Mbak rena ?" Dinda menghampiri rena dan menyapanya dengan ramah.


" Dinda ? Ngapain kamu ada disini ? Mau perawatan juga ?" Tanya rena dengan ketus.


Meskipun dia tahu jika saat ini dinda sudah kaya raya dan banyak uang, tetap saja perlakuan rena kepada dinda tidak berubah. Apalagi saat tahu dinda kaya , semakin membuat saudaranya marah dan membencinya serta iri. Iri dengan apapun yang dimiliki oleh dinda dan satria.


" Eh.. Ren, inikan si dinda adik kamu yang suaminya pedagang cendol itu kan ? Ya , Ampun mau ngapain sih dia disini?. Apa mungkin dia bekerja sebagai cleaning service ya disini ?" Tanya teman rena yang dinda ketahuo bernama Tina.


" Hussst... Jangan bicara seperti itu ? Suaminya sekarang bukan lagi pedagang cendol " Jawab rena sembari melirik kearah dinda yang hanya diam sambil menyunggingkan senyum.


" Suamiku bekerja apapun itu bukan urusan kamu ya mbak Tina yang budiman. Ya , sudah silahkan menikmati perawatan disalon kami. Semoga bisa berlangganan tetap ya di salon ini, nanti aku kasih kartu pelanggan VIP untuk kalian berdua " Ucap dinda masih dengan senyum ramahnya.


Hhaaahhhaaaahaaaaaa


Rena dan tina tertawa lebar, mereka menertawakan dinda. Meskipun rena tahu dinda sudah banyak uang, dia tidak berfikir jika salon ini bisa saja milik dinda. Justru dia menertawakan dinda , beranggapan dinda itu orang yang menghayal terlalu tinggi.


" Jangan menghayal kamu dinda, cuma istri tukang cendol saja kok gayanya melebihi yang punya salon ini. Salon sama butik dibawah itu pemiliknya satu orang, kamu mungkin belum pernah ketemu atau melihat pemiliknya kan ?" Tanya tina dengan tawa lantangnya.


" Pemiliknya ada didepanmu ini " Jawab dinda dengan santainya.


Haaahhhhh....


Mata rena langsung melotot dan mulutnya mangap. Dia percaya jika dinda punya uang banyak, tetapi dia baru tahu jika salon dan butik ini adalaj milik dinda. Sedangkan tina hanya menertawakan dinda dan menganggapnya mimpi terlalu tinggi.


" Kalau mimpi jangan ketinggian dinda. Butik dan Salon ini tuh milik keluarga STR Group jadi bangun dulu kamu dari tidur siang kamu. Aku bisa tahu karena suamiku juga bekerja di STR Group, jadi bagi karyawan STR Group yang sudah berkeluarga atau belum dapat kartu khusus dari perusahaan. " Ucap tina dengan bangganya.

__ADS_1


Rena juga baru ingat jika dia juga punya kartu dari STR Group dan diapun saat ini akan memakai kartu itu juga. Dinda hanya menanggapi dengan senyuman saja , dia baru tahu jika tina juga suaminya bekerja di perusahaan satria.


* Bodoh ! Apa dia tidak tahu jika STR Group milik suami dinda. Kamu cari perkara tina , kalau aku cari perkara masih wajar dia adikku * Gumam rena dalam hati merutuki kebodohan sang sahabat.


" Pemilik STR Group itu suamiku " Jawab dinda dengan tenang dan santainya.


Perdebatan mereka bertiga menjadi pusat perhatian pelanggan salon. Banyak yang berkasak kusuk menyalahkan tina dan rena yang memang sedari awal sudah cari masalah terlebih dahulu dengan menghina dinda selaku pemilik butik.


Tina ingin menyela namun secara tiba - tiba rena menutup mulut tina agar tidak semakin melakukan kesalahan.


" Kamu ini kenapa sih Ren, enggap tahu kamu tadi kamu tutup begitu mulutku. Aku mau menyadarkan adik kamu yang mengkhayal terlalu tinggi ini " Ucap tina dengan kesal.


" Ssstt... Kamu ini malah mau nambah masalah. Jika salon dan butik ini milik STR Group berarti ini memang milik dinda " Ucap rena memberitahu.


" Maksud kamu apa ?" Tanya tina belum paham maksud rena.


" Iya milik dinda karena perusahaan tempat suami kita bekerja itu milik satria , suami dinda " Ucap rena memberitahu.


Deg...


Tina langsung memandang kearah dinda dengan rasa yang sulit diartikan. Bagaimana bisa sedari tadi dia sudah menghina istri pemilik perusahaab tempay suaminya selama 4 tahun ini mencari nafkah.


" Kamu serius Ren kalau satria adik ipar kamu itu pemilik perusahaan tempat suami kita bekerja. Setahuku bernama pak perkasa ?" Tanya tina lagi.


" Serius, perkasa itu ya satria suami dinda ini " Ucap rena menunjuk dinda.


Rena ingat pesan beni jika jangan pernah bikin ulah atau cari ribut dengan dinda ataupun satria. Beni takut akan berpengaruh dengan pekerjaannya, bisa saja karier yang selama ini beni jalani akan hancur hanya karena ulah dari kecerobohan rena, jika sampai semua itu terjadi beni tidak segan untuk berbuat kasar kepada rena.


" Iya semua yang dikatakan mbak rena benar. Tapi tenang saja aku tidak akan mencampur adukkan masalah ini dengan pekerjaan suami kalian. Sebagai gantinya biaya salon hari ini kalian bayar full tanpa diskon dan tanpa kartu dari perusahaan. Bagaimana adilkan ?" Tanya dinda sambil memainkan alisnya.


" Maaf " Seru tina sambil menundukkan kepalanya.


Dinda hanya mengibaskan tangannya saja dan meninggalkan tina dan rena. Dinda turun kelantai bawah dimana ruangannya berada. Sudah tidak memusingkan lagi keributan yang baru saja terjadi di salon.


* Ternyata teman mbak rena sama saja sifatnya dengannya, huhhh tapi aku perhatikan mbak rena sudah tidak seketus dulu. Bahkan tidak urakan seperti biasanya. Baguslah kalau mbak rena berubah * Gumam dinda dalam hatinya.

__ADS_1


*******


__ADS_2