
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Setelah dari rumah Dinda, Sinta mendatangi rumah mantan mertuanya. Sebenarnya Ardi ingin sekali ikut mengantarkan undangan dan berkenalan langsung dengan mantan mertua Sinta. Namun Sinta menolaknya dengan tegas, dia tidak mau Ardi ikut karena mantan mertuanya belum sepenuhnya memaafkannya terutama ibu Rahayu.
" Mau apa kamu datang kesini, Sinta?."Tanya Ibu Rahayu masih terdengar sedikit ketus.
" Duduk dulu bu, jangan seperti itu dong. Mbak Sinta datang kesini pasti dengan niat yang baik. Sini duduk di samping, Cahaya."Ucap Cahaya dengan sopan.
Ibu Rahayu terlihat mencebikkan bibirnya tanda tidak begitu suka dengan perkataan Cahaya. Namun dia tetap mengikuti apa kata menantunya itu. Ibu Rahayu duduk di samping Cahaya, terlihat Sinta tersenyum merasa tidak enak dengan mantan ibu mertuanya itu.
" Maaf bu, kedatangan Sinta kali ini hanya ingin menyampaikan undangan ini untuk keluarga ibu. Minggu depan Sinta mau menikah, Sinta harap ibu bapak dan semuanya bisa datang untuk memberikan doa dan restunya untuk Sinta. Di dunia ini Sinta hanya punya kalian semua dan Hana, mau bagaimanapun keluarga ini tetap keluarga Sinta. Maaf jika dulu Sinta banyak salah sama ibu, selama menjadi menantu Sinta tidak pernah bersikap baik."Ucap Sinta menyadari semua kekeliruannya.
" Mbak Sinta jangan bersedih, masa iya calon pengantin kok bersedih. Insya Allah kita semua nanti akan datang, mbak Sinta tidak boleh sedih lagi ya."Ucap Cahaya mencoba membuat Sinta tersenyum.
* Ya Allah, aku sebenarnya sudah memaafkan Sinta. Segala perlakuannya terhadapku sudah aku maafkan. Tapi saat aku ingat dia hendak menjual Hana, hatiku kembali sakit bahkan mulai tumbuh kembali rasa benci itu. Ya Allah, lapangkanlah hatiku agar aku bisa menerima Sinta dengan tulus. Sinta juga saat ini sudah menjadi wanita yang lebih baik, dia sudah berubah dan sudah menyesali semua perbuatannya.*Gumam ibu Rahayu dalam hati.
" Insya Allah kami akan datang. Semoga pernikahanmu kali ini langgeng sampai menua bersama. Jangan bergonta-ganti pasangan lagi, ingat kamu itu punya anak perempuan. Jangan sampai kelakuan buruk mu ini di tiru oleh anak kamu."Ucap ibu Rahayu menasehati Sinta.
" Insya Allah ini yang terakhir untuk Sinta bu, mohon doanya saja. Terima kasih ibu sudah mau peduli dengan Sinta."Jawab Sinta terharu dengan nasehat yang diberikan oleh ibu Rahayu.
Sinta menghampiri ibu Rahayu dan duduk disampingnya, lalu memeluknya dengan erat. Sinta menangis dalam pelukan ibu Rahayu, begitupun ibu Rahayu. Dengan pelan dia mengusap pucuk kepala Sinta yang tertutup hijab biru muda itu.
__ADS_1
" Sinta ini sudah yatim piatu, Sinta punya kakak perempuan. Tapi Sinta tidak tahu dia ada di mana? Hanya kalian semualah saat ini yang menjadi keluarga Sinta. Bu, maukah ibu tetap menganggap Sinta ini anak ibu?." Tanya Sinta dengan terisak.
" Iya Sinta, kamu sampai sekarang tetap ibu anggap anak ibu sendiri."Jawab Ibu Rahayu lalu melepaskan pelukannya.
" Terima kasih bu."Jawab Sinta sambil mengusap air matanya.
Melihat pemandangan yang ada di depannya membuat Cahaya juga ikut terharu. Dia ikut bahagia dengan kedekatan ibu mertuanya dengan Sinta. Meskipun dulu mereka sudah pernah saling memaafkan, namun kejadiaan hari ini juga cukup membuatnya terharu.
" Oh iya, ini nitip undangan untuk Rena. Tadi sudah mampir ke rumah Rena, tapi rumahnya kosong. Kata tetangga Rena dan keluarganya sedang kerumah mertuanya."Ucap Sinta memberikan satu undangan lagi untuk Rena.
" Iya mbak. Rena dan Beni memang tadi pagi berangkat ke tempat orang tua Beni. Saudara Beni ada yang menikah jadi mereka kesana, nanti undangannya biar Cahaya yang sampaikan."Jawab Cahaya dengan sangat ramah.
Setelah urusannya selesai, Sinta pun berpamitan pulang. Sinta langsung melajukan kuda besinya menuju rumahnya. Dia ingin segera pulang sebab hari ini ada banyak barang yang harus di packing dan Sinta ingin membantu karyawan nya.
*******
" Mbak Sarah jatuh cinta sama pria yang sudah beristri?."Tanya Ira kaget saat Sarah menceritakan jika dia jatuh cinta dengan pria yang bernama Ardi yang dia ketahui sudah punya anak. Jika sudah punya anak pasti dia juga sudah beristri.
" Iya, apa aku salah? Yang namanya jatuh cinta dan rasa cinta itukan tidak bisa di bendung dan kita tidak pernah tahu kapan dia datang."Jawab Sarah dengan seenaknya.
" Iya sih mbak, tapi tidak dengan suami orang juga kalie mbak. Boleh dan sah-sah saja jatuh cinta dan mencintai, tapi ingat mbak ! Cinta itu bukan berarti harus memiliki ya mbak. Awas mbak sakit hati loh mencintai pria yang sudah berkeluarga."Ucap Ira mengingatkan Sarah dan tidak membenarkan apa yang dirasakan Sarah.
" Heleh kamu itu tahu apa soal cinta, Ira. Kamu terlalu awam jika berurusan soal cinta dan cinta. Asal kamu tahu, Ra. Pria yang bernama Ardi itu baik banget, tampan dan kelihatannya dia sholeh. Jika aku bisa menikah dengan dia, aku janji akan merubah kelakuan burukku."Ucap Sarah sudah berandai-andai dan membayangkan wajah Ardi.
Ardi benar-benar sudah meracuni pikiran Sarah, pagi, siang dan malam Ardi terus -menerus yang difikirkan Sarah. Bahkan dalam tidurpun Sarah memimpikan Ardi dan Ardi, sepertinya Sarah benar-benar sudah jatuh cinta dengan Ardi.
Ira sudah tidak bisa lagi menasehati Sarah lebih banyak. Ternyata Sarah memang cukup keras kepala, padahal apa yang dikatakan Ira tadi sudah benar. Sarah seolah tidak mau berkaca dari masalalunya, apalagi saat ini dia sedang hamil dan keadaan tubuhnya juga tidak sehat.
__ADS_1
* Sebenarnya aku ini kasihan dengan mu mbak, Sarah. Kamu hidup sendirian dalam keadaan hamil dan punya penyakit. Tapi kenapa kamu keras kepala sekali? Seolah-olah kamu itu tidak ingat dengan masalalu kamu yang kelam itu. Sudah hamil tanpa suami, kok malah mau merebut suami orang.*Gumam Ira dalam hatinya.
" Kira-kira siapa ya istrinya Ardi itu? Aku harus mencari tahu, kira-kira istrinya itu secantik apa ya? Kalau dimadu dia mau tidak ya?." Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.
" Tidak ada bu wanita yang mau di madu terkecuali dia memang mempunyai kekurangan. Salah satu contohnya, seperti si Wanita sakit-sakitan parah atau dia tidak bisa hamil. Nah baru si wanita biasanya meminta suaminya untuk menikah lagi."Ucap Ira menjelaskan.
Heeehhhhh....
Sarah hanya menanggapinya dengan malas sambil mendengus kesal. Apapun nasehat Ira seakan memang tidak berguna untuk nya.
" Ya sudah lah, kalau begitu saya mau pulang saja. Pakaian juja sudah selesai saya setrika, tinggal susun dalam lemari saja."Ucap Ira.
" Ya, nanti biar aku saja yang menyusun di dalam lemari." Jawab Sarah dengan tanpa memandang kearah Ira.
Ira pun pamit pulang, lebih baik dia pulang saja daripada dia sakit kepala karena Sarah. Sarah terus senyum-senyum sendiri sembari membayangkan wajah Ardi.
" Aku tidak peduli dia sudah beristri, jika aku bisa mendapatkannya aku janji akan menjadikannya dia pria terakhir dalam hidupku. Tapi anaknya kelihatannya jutek dan tidak menyukaiku. Halah itu urusan kecil, jika Ardi sudah berada dalam genggamanku. Anaknya bisa apa?." Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.
Bagaimana jadinya jika Sarah tahu kalau Ardi adalah calon suami Sinta. Apakah Sarah akan syok dan terus mencoba untuk mendekati dan mendapatkan Ardi?
Lamunan Sarah tiba-tiba buyar saat tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan malas-malasan Sarah mengangkat panggilan telepon itu.
[ Hallo, siapa ini?] Seru Sarah dengan ketus.
[ Maaf kamu salah sambung.]
Klikkk
__ADS_1
Sarah pun langsung mematikan sambungan telepon yang menurutnya tidak penting itu. Sarah melempar ponselnya sembarang, dia kembali menghayalkan indahnya kebersamaannya bersama dengan Ardi. Sepertinya Sarah sudah benar-benar gila cintanya kepada Ardi sampai dia tidak ingat lagi dengan keadaan perutnya yang sudah buncit.
***********