
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Keluarga Reno semua sudah tahu jika Cahaya sudah melahirkan, termasuk Satria dan Dinda. Dinda sendiri langsung datang kerumah sakit dengan di antar pak sopir. Satria ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan. Ibu Nursi sendiri juga sudah ada di rumah sakit, dia terlihat bahagia sudah mempunyai cucu yang cantik dan lucu.
" Aku boleh gendong bayinya bu?."Tanya Dinda dengan sopan kepada ibu Nursi yang saat ini memang sedang menggendong cucunya.
" Tentu saja boleh dong, Non."Jawab Ibu Nursi dengan ramah.
Ibu Nursi langsung memberikan cucunya kedalam gendongan Dinda. Dinda terlihat sangat bahagia, dia menciumi bayi itu tiada henti. Terlihat sekali jika dia sangat menginginkan seoarang anak perempuan.
" Usia kandungan kamu sudah berapa bulan, Non?."Tanya ibu Nursi.
" Sudah 6 bulan bu. Oh iya bu, tolong jangan panggil saya Non. Panggil Dinda saja sih bu, aku tidak nyaman dengan panggilan Non. Kita inikan keluarga bu."Ucap Dinda dengan ramah dan sopan.
" Ehh iya, ibu lupa. Baiklah ibu tidak akan lupa lagi, Dinda."Seru ibu Nursi sambil terkekeh.
Tok Tok Tok
Pintu kamar rawat Cahaya di ketuk dari luar, setelah mereka menyahut dan memberikan izin untuk masuk akhirnya orang yang ada di balik pintu itupun melangkah masuk.
" Mbak Sinta." Seru Dinda, Cahaya dan Reni bersamaan.
" Iya, maaf ya aku ganggu."Ucap Sinta merasa tidak enak. Ternyata di ruangan itu banyak orang, Sinta mengira hanya ada Cahaya dan Reno saja.
" Mbak tidak ganggu kok. Oh iya, mbak tahu darimana kalau istriku melahirkan? Saya merasa belum memberitahu mbak Sinta?."Tanya Reno heran.
" Oh itu, dari Joni. Tadi aku ke toko kamu, terus disana ada Joni yang ikut menjaga toko. Nah saat aku tanya kemana kalian, Joni terus kasih tahu kalau Cahaya melahirkan makanya saya langsung kesini. Ehh maaf, ibu apa kabar?."Tanya Sinta menghampiri ibu Rahayu dan ibu Nursi serta mencium tangannya bergantian.
__ADS_1
Ibu Rahayu tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Sinta yang tertutup hijabnya. Harapan ibu Rahayu, semoga Sinta akan tetap menjadi wanita yang baik dan selalu ingat dan bertanggung jawab terhadap Hana.
" Alhamdulillah ibu baik. Sini kami duduk sini saja, oh iya kok si Bagas tidak ikut?."Tanya Ibu Rahayu menanyakan anak sambung Sinta yang memang sudah ibu Rahayu anggap seperti cucunya sendiri.
" Bagas sedang ikut om nya jalan-jalan sama neneknya Bu. Mumpung masih liburan sekolah, karena papa dan mamanya masih sibuk terus jadi Bagas jalan sama Omnya dan neneknya."Ucap Sinta bicara dengan jujur.
Ibu Rahayu hanya menganggukan kepalanya saja. Sintapun menghampir Cahaya, lalu mengucapkan selamat atas kelahiran babby girl nya.
" Mbak Sinta kapan Hana pulang?."Tanya Rena.
" Katanya besok lusa, Ren. Dia nanti 2 minggu saja di Indonesia."Jawab Sinta.
Sinta terlibat obrolan dengan para wanita itu, sehingga membuat Reno memilih menarik diri dari perkumpulan para wanita. Dia keluar ke kantin untuk sekedar minum kopi dan merokok.
" Mbak, pernah dengar kabarnya Sarah gak sih?." Tanya Rena sangat kepo.
" Sarah !! Aku sudah lama tidak bertemu dengan Sarah, ada kalau 1 bulan lebih. Memangnya ada apa, Ren? Kok kamu tumben-tumben banget menanyak Sarah?."Tanya Sinta lagi.
" Tidak apa-apa sih, hanya saja kata Joni sekitar 2 minggu yang lalu dia masuk rumah sakit. Siapa tahu mbak Sinta tahu kabar dia, dulu kan best friend forever. Sarah sepertinya sudah kena karma dari perbuatannya."Seru Rena dengan kesal.
Seru ibu Rahayu berdehem agar para wanita itu berhenti bergosip tentang Sarah. Apalagi disana ada Cahaya,bagaimanapun harus bisa menjaga perasan Cahaya terlebih dahulu.
" Ehh maaf bu, kelabasan."Seru Rena sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Jangan gosip di sini."Seru ibu Rahayu lagi.
" Iya bu." Jawab semuanya termasuk Cahaya.
Dinda meletakkan bayi mungil itu di tempat tidur khusus bayi. Dengan sangat hati-hati agar babby girl yang belum bernama itu tidak bangun.
" Mbak anaknya mau dikasih nama siapa?."Tanya Dinda sudah kembali bergabung lagi.
" Emmm itu masih rahasia dong."Jawab Cahaya sambil terkekeh.
__ADS_1
" Bocoran dikit dong."Seru Dinda memaksa.
" Jangan dong, kalau ada bocorannya berati bukan rahasia lagi. Pokoknya nanti kalian akan tahu sendiri kok."Ucap Cahaya tetap merahasiakan nama untuk anaknya.
Hhhuuufffttt
Dinda mendengus sambil mengerucutkan bibirnya hampir lima centi sendiri.
Tidak terasa haripun sudah beranjak sore. Dinda, Rena dan Sinta pamit pulang bersama namun mereka pulang dengan kendaraannya masing-masing. Rena kasihan kedua anaknya yang dia titipkan di rumah pak Karim.
******
Keadaan jantung Hakim sudah tidak masalah, hanya saja Hakim harus mulai pola hidup sehat. Tidak boleh merokok apalagi minum-minuman yang beralkohol. Dan makanan pun tidak boleh makan yang instan-instan.
" Kak Satria, apa aku sudah boleh tinggal di rumah yang kak Satria belikan? Aku tidak mau terlalu lama merepotkan kak Satria."Ucap Hakim yang memang ingin belajar hidup secara mandiri.
Sudah 3 hari ini Hakim bekerja di perusahaan Satria sebagai salah satu staff keuangan. Hakim masih harus banyak belajar, sehingga dia tidak mau saat Satria menempatkan dia di posisi menejer. Terlebih dia hanya tamatan SMA yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Hakim juga akan menolak perusahaan anak cabang yang sudah Satria berikan kepadanya.
" Emm.. Boleh sih tapi kamu harus ingat jika kamu itu harus menerapkan pola hidup sehat. Nanti akan ada pembantu yang akan mengurus makan minum kamu. Dan jika ada apa-apa kamu harus langsung hubungi aku."Ucap Satria terlihat perhatian sekali dengan Hakim.
Pada dasarnya dari dulu Hakim itu baik, hanya saja dia salah pergaulan dan salah didikan dari kedua orang tuanya. Jika dari dulu dia bisa di arahkan pasti sekarang Hakim sudah bisa menjadi pembisnis yang handal. Terbukti baru juga 3 hari bekerja progres Hakim sudah bagus.
" Iya kak. Kak, masalah perusahaan anak cabang itu aku sepertinya tidak bisa menerima kepemimpinannya. Aku lebih nyaman bekerja disini saja, Kak. Aku belum mampu untuk mempin sebuah perusahaan."Seru Hakim berkata dengan jujur.
" Terus siapa yang mau memimpinnya kalau bukan kamu? Kamu itu punya kemampuan dan hanya perlu di asah saja. Kalau mau belajar dulu disini tidak apa-apa, dan jika kamu sudah siap kamu bisa langsung memimpinnya."Ucap Satria memberikan solusi yang bijak.
" Emm, begini saja kak. Nanti jika aku memang sudah sanggup dan bisa, aku akan memimpin perusahaan anak cabang itu. Tapi suatu saat jika anak-anak kak Satria sudah besar-besar aku akan meminta salah satu dari mereka untuk menggantikan aku."Ucap Hakim yang memang merasa tidak pantas menerima perusahaan itu. Sudah cukup banyak dia merepotkan Satria dan menghabiskan uang Satria.
" Raja nanti akan aku wariskan perusahaan ini dan untuk anak yang ada dalam kandungan Dinda, dia akan mewariskan anak cabang yang lain dan usaha istriku, karena insya Allah anak ku ini nanti perempuan. Kamu jangan menolak, jika kamu menolaknya aku akan marah. Suatu saat kamu nanti juga akan menikah, dan perusahaan itu bisa menjadi tempat kamu mencari nafkah untuk anak istrimu. Tidak mungkinkan selamanya kamu akan menjadi karyawan ku terus menerus."Seru Satria dengan tegas.
Hakim sudah tidak bisa berkata-kata lagi, terlalu baik memang sangat terlalu baik Satria kepadanya. Sudah berapa ratus juta saja uang Satria dia habiskan, namun Satria tetap memberikan perusahaan cabang itu untuknya. Hakim berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan mengembangkan perusahaan itu dengan baik.
Hakim ingin membuat Satria, Nenek dan kedua orang tuanya bangga kepadanya. Lingkaran dunia hitam masalalunya benar-benar sudah dia lupakan. Hakim tidak mau terjerumus dalam dunia hitam itu lagi, yang justru akan membuat hidupnya sengsara dan hancur. Kini saatnya untuk menata masa depan yang jauh lebih baik lagi.
__ADS_1
***********