Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Ke toko Sinta


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Kabar kehamilan Dinda sudah diketahui oleh keluarga yang lainnya. Kehamilan Dinda baru jalan 1 bulan, sedangkan kehamilan Cahaya kini sudah masuk 4 bulan.


"Akhirnya Raja akan punya adik juga."Ucap Rena.


"Alhamdulillah mbak. Tapi Raja masih terlalu kecil mbak, semoga saja semua ini tidak akan mengganggu tumbuh kembang Raja."Ucap Dinda penuh harap.


Dinda masih saja mengkhawatirkan tumbuh kembang Raja, yang masih terlalu kecil sudah mempunyai adik. Sekarang Raja masih 7 bulan, saat usia 16 bulan Raja nanti sudah resmi menjadi seorang kakak.


"Jangan berfikir seperti itu, Raja pasti akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Dia akan menjadi kakak yang bisa melindungi adik dan saudara-saudaranya. Percayalah Allah pasti sudah memiliki rahasia tersendiri."Ucap Rena menasehati Dinda.


"Yang dikatakan Rena itu benar, Din. Kamu jangan bersedih begitu dong, anak-anak itu mempunyai rezekinya masing-masing. Raja itu pasti kelak akan menjadi kakak yang bisa melindungi adiknya. Dan nanti dia juga melindungi saudaranya, seperti anak dalam kandungan ku ini juga."Ucap Cahaya setuju dengan ucapan Rena.


Ketiga wanita itu saat ini memang sedang duduk di teras rumah pak Karim. Joni dan Tiara masih sekolah, sedangkan Gibran sudah pulang dan saat ini sedang ikut kakek dan neneknya bermain di belakang rumah bersama Raja juga.


"Oh iya, Din. Dengar-dengar mbak Sinta sekarang sudah punya usaha toko baju-baju muslimah ya? Kapan-kapan kita kesana yuk? Mau cari gamis untuk pergi-pergi ke acara atau kondangan gitu. Yah meskipun kesehariaan belum siap berhijap tapi secara perlahan saat keluar rumah aku mencoba akan menggunakan hijab."Ucap Rena terlihat serius.


Di antara mereka bertiga memang tidak ada yang menggenakan hijab dalam kesehariaannya. Mungkin hanya di acara-acara tertentu saja mereka berhijab.


"Bagaimana kalau sekarang saja kita kesana?."Seru Dinda yang memang dari kemarin-kemarin ingin berkunjung kerumah Sinta.


"Boleh."Jawab Cahaya dan Rena bersamaan.


Cahaya dan Rena secara serempak mengiyakan ajakan Dinda. Mereka juga berniat akan mengajak ibu Rahayu namun sang ibu tidak mau, dia memilih beristirahat saja di rumah.


Dinda, Rena dan Cahaya pun akhirnya berangkat ke rumah Sinta. Gibran dan Raja tetap ikut, meskipun ibu Rahayu tadi sudah meminta Raja untuk di tinggal. Dinda tidak tega meninggalkan Raja terlebih Raja juga masih minum Asi.


"Tante Dinda kita mau kemana?."Tanya Gibran penasaran.


"Kita mau kerumah tante Sinta, Sayang. Nanti disana kita beli baju baru ya untuk Gibran dan kakak Tiara."Jawab Dinda sambil memangku Raja.


Untuk yang mengendarai mobil adalah pak Supri, sopir yang disiapkan Satria untuk mengantar jemput Dinda jika dia mau pergi. Sopir yang lama saat ini beralih mengantarkan Satria, sehingga Satria mencari sopir baru untuk Dinda. Pak Supri baru 3 bulan bekerja dengan Dinda dan alhamdulillah orangnya baik, sopan dan cekatan.

__ADS_1


"Untuk kak Joni tidak dibelikan?."Tanya Gibran bocah kecil yang saat ini sudah kelas 1 Sd itu.


"Iya dibelikan juga, adik Raja juga nanti dibelikan. Semua nanti beli ya."Jawab Dinda sambil terkekeh.


"Horreee kita beli baju baru semua. Memangnya sudah mau lebaran ya, Tante. Tapi kan kita belum puasa?."Tanya Gibran lagi.


Dulu mereka biasanya beli baju baru saat mau lebaran saja. Hari-hari biasa jarang banget beli baju baru. Selain memang baju mereka sudah banyak, Rena lebih memilih memakai uang jatah anak-anaknya terlebih dahulu untuk keperluan pribadinya. Namun tidak dengan sekarang, Rena sudah berubah dan uang jatah untuk anak-anaknya dia tabungkan untuk masa depan anak-anaknya.


"Tidak sayang, lebaran itu masih lama loh."Jawab Rena.


Mobil yang di kendarai pak Supri sudah sampai di daerah tempat tinggal Sinta. Meskipun mereka belum pernah kerumah Sinta, mereka bisa mencari tahu lewat layanan maps di ponsel mereka. Apalagi mereka memang sudah tahu nama toko nya jadi lebih mudah.


"Bagaimana ya reaksi mbak Sinta kalau tahu kita datang?." Tanya Dinda antusius.


"Loh, memangnya kamu tidak kasih tahu mbak Sinta, Din?."Tanya balik Rena heran.


Rena dan Cahaya mengira jika Dinda tadi sudah memberitahu Sinta soal kedatangan mereka. Namun ternyata, Dinda belum memberitahunya. Rena hanya khawatir jika mereka datang ternyata Sinta tidak ada di tempatnya.


"Belum. Biar kejutan gitu, mbak."Jawab Dinda sambil tersenyum.


Mobil yang dikendarai pak Supri kini sudah sampai di depan sebuah toko. Para penghuni dalam mobil pun bergantian turun dari mobil.


"Selamat datang di toko "Sinta Muslim fashion" ."Seru salah satu karyawan saat Dinda dan rombongan masuk ke toko.


"Emm.. iya mbak terimakasih. Oh iya mbak Sinta nya ada kan mbak? Sambil kami pilih-pilih baju yang cocok, boleh minta tolong panggilkan mbak Sinta tidak?." Tanya Dinda dengan ramah.


"Oh.. Ibu Sinta ada. Nanti saya panggilkan, silahkan jika mau pilih-pilih baju nya bu. Saya tinggal panggilkan bu Sinta."Ucap Lilis dengan ramah dan sopan.


Mereka semua mengangguk paham, setelah Lilis pergi mereka semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Sibuk memilih baju gamis yang cocok di tubuh mereka, Gibran juga sangat antusius memilih setelan koko untuk dirinya dan sang papa.


Saat Dinda dan rombongan sedang memilih baju-baju. Lilis saat ini sedang berada di ruangan Sinta yang di khususkan untuk packing agar tidak mengganggu para pengunjung toko.


"Ada apa Lis?."Tanya Sinta saat melihat Lilis masuk keruangan packing.


"Itu bu, ada pembeli yang ingin bertemu dengan ibu. Apa ibu mau menemui mereka?."Tanya Lilis yang memang melihat Sinta sedang sibuk packing.


Seharusnya mereka memang sudah menambah minimal 1 karyawan lagi untuk membantu packing, namun Sinta belum mau dengan alasan masih bisa menghandel sendiri packingan. Padahal sehari dia bisa packing sampai 100 pcs packingan.


"Iya akan saya temui, Lis. Tidak enak kalau pembeli ingin bertemu saya tolak, bisa jadi dia tidak mau belanja lagi di toko kita. Benar tidak,Lis?."Tanya Sinta meminta persetujuan Lilis.

__ADS_1


"Benar juga bu."Jawab Lilis sambil terkekeh.


Sinta meninggalkan packingan barang nya yang masih lumayan banyak itu untuk menemui pembeli yang ingin bertemu denganya.


"Dinda!."Seru Sinta saat mengetahui jika Dinda yang ingin bertemu dengannya.


"Mbak Sinta, maaf ya kami datang tidak kasih kabar dulu. Heheee biar kejutan gitu."Ucap Dinda sambil tertawa.


"Ihhh beruntung tadi aku tidak jadi pergi makan siang sama temen ku. Oh iya kamu datang sama siapa? Loh ini ada Rena dan istrinya Reno juga, nah ada Gibran juga. Kalian datang ramai-ramai?." Tanya Sinta saat Rena dan yang lainnya berdatangan dan ikut bergabung dengan Dinda.


Mereka akhirnya saling berpelukan secara bergantian. Sinta terlihat sangat senang saat didatangi para mantan adik iparnya itu. Hubungan mereka memamg semakin membaik.


"Raja mana?."Tanya Sinta mencari keberadaan Raja.


"Oh ada sama pak Supri, supirnya Dinda di luar tuh."Jawab Rena menunjuk kearah luar toko.


Sinta mengajak Dinda dan rombongan kerumah nya yang ada di samping toko. Kini mereka semua sudah bersantai di ruang tamu, sembari menikmati minuman segar yang dibuatkan oleh ART yang bekerja dirumah Sinta.


"Mama, Gibran mau baju yang warna hijau tadi."Ucap Gibran dengan mulut mengerucut.


"Iya sayang. Gibran tenang saja, tadi tante Sinta sudah bilang sama penjaga tokonya untuk membungkus baju pilihan Gibran tadi."Seru Sinta dengan lembut.


"Terimakasih, Tante Sinta."Jawab Gibran sangat senang.


Mereka semua berbincang dan saling bercerita, cukup lama mereka bercerita dan pada akhirnya Raja juga tertidur. Sinta meminta Dinda untuk menidurkan Raja di kamar tamu.


Saat mereka sedang asik berbincang-bincang tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumah Sinta. Sinta tahu betul siapa yang datang, dia adalah Ardi dan anaknya, Bagas. Ardi dan Bagas memang sering datang kerumah Sinta, terkadang Ardi hanya mengantar Bagas dan saat menjelang sore baru di jemput.


"Assalamualaikum"Seru Ardi dan Bagas bersamaan.


"Waalaikumsalam."Jawab Sinta dan yang lainnya kompak.


"Ohh lagi ada tamu ya mbak, Sinta? Maaf kalau kedatangan saya mengganggu."Ucap Ardi merasa tidak enak dengan Sinta dan yang lainnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Bagas sayang yuk masuk."Seru Sinta dengan ramah dan lembut. Bahkan kini dia memanggil Ardi juga dengan sebutan mas.


Dinda, Rena dan Cahaya saling melempar senyum. Mereka mengira jika pria yang baru datang itu adalah calon suami Sinta, sebab mereka melihat Bagas sudah sangat lengket dengan Sinta.


*********

__ADS_1


__ADS_2