
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Mama hanya ingin kamu tinggal dengan mama saja Hana. Oh iya kenapa dari tadi pagi mama hubungi kamu tidal kamu angkat juga ? Mama kirim pesan juga tidak kamu balas ?." Tanya Sinta merasa aneh sebab Hana sama sekali tidak membalas pesan dan teleponnya.
Sinta kembali datang kerumah Satria untuk mengajak Hana tinggal dengannya. Tapi Hana bukan anak yang mudah dibodohi, semua gerak - gerik Sinta sudah Hana ketahui. Hana tidak akan mungkin bisa terperdaya oleh bujuk rayu Sinta meskipun Sinta itu mama kandungnya sendiri.
" Ponselku lagi rusak Ma. Hana tidak bisa tinggal sama mama, lagipula bukannya mama bilang saat Hana umur 17 tahun baru mama akan mengambil Hana ? Kenapa sekarang sudah berubah?." Tanya Hana mencoba memancing Sinta.
Sinta terlihat bingung dan gugup, sepertinya memang Sinta belum menyiapkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Hana. Hana memandang jengah kearah mamanya yang tidak bisa memberikan jawaban ataupun alasan dari pertanyaannya. Hana bukan bermaksud untuk durhaka atau melawan mamanya, Hana hanya ingin tidak mau mamanya bersikap semena - mena terhadap dirinya.
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, ingin anaknya hidup dengan layak dan mempunyai pasangan hidup yang bisa membahagiakannya. Seorang ibu pasti akan melakukan apapun untuk anaknya, namun berbeda dengan Sinta. Justru dia mengorbankan anaknya untuk kesenangan dan kebahagiaannya sendiri. Sedikitpun tidak ada rasa ibu terhadapnya, apa dia lupa saat dimana dulu dia berjuang melahirkan anaknya.
* Maaf Ma, Hana harus bersikap tegas sama mama. Bukan berarti Hana tidak menghormati mama ataupun tidak menyayangi mama. Tapi Hana hanya ingin mama itu tidak bersikap semaunya kepada Hana.* Gumam Hana dalam batinnya.
" Hana yuk tinggal sama mama, mama kesepian sekali tinggal sendirian Hana. Sekarang cuma kamu loh yang mama punya, apa kamu tidak kasihan sama mama ? Mama sudah tidak punya siapa - siapa lagi selain kamu mama hanya ingin tinggal sama kamu sayang." Ucap Sinta merayu Hana.
Deg...
Hana terdiam, hati dan batinnya terasa sakit mendengar kata - kata dari mamanya. Mamanya berbuat baik hanya saat dia menginginkan sesuatu. Dia tidak akan memanggilnya sayang jika tidak sedang nenginginkan Hana ikut dengannya.
" Maaf ma Hana tidak mau tinggal dengan mama. Hana sudah senang tinggal disini, lagipula mama tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk biaya hidup Hana. Disini semua kebutuhan Hana sudah dipenuhi oleh Om Satria dan tante Dinda. Hana lebih nyaman tinggal disini, kakek dan nenekpun lebih setuju Hana tinggal disini sebab disini kehidupan ku terjamin Ma." Ucap Hana tetap menolak tinggal dengan Sinta.
Braakkkk
Sinta menggebrak meja sampai menimbulkan suara yang keras, sehingga pelayan mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Penjaga rumahpun langsung mendekat dan melihat apa yang dilakukan Sinta.
" Dasar anak durhaka ! Aku ini mama kamu Hana, kenapa kamu justru lebih memilih tinggal sama orang lain?." Tanya Sinta mulai terpancing emosi.
" Bukannya Hana tidak mau Ma. Mama jugakan baru bekerja dan tempat tinggal juga belum pasti, mama tahukan Hana sekolah itu butuh duit yang besar. Sedangkan mama saja baru bekerjakan Ma ? " Seru Hana beralasan jika Sinta baru saja bekerja sehingga belum cukup uang untuk biaya mereka berdua.
Pertanyaan Hana berhasil membuat Sinta terdiam, padahal saat ini jika untuk menafkahi Hana saja Sinta cukup banyak uang. Pekerjaannya juga cukup menghasilkan uang banyak. Lagipula dia mau menarik Hana bukan untuk tinggal dengan dirinya tetapi untuk dia serahkan kepada Badar.
" Mama sudah punya uang untuk biaya hidup kita. " Jawab Sinta dengan yakin.
__ADS_1
" Sesuai kesepakatan saja ma, saat usia Hana 17 tahun saja Hana akan ikut mama. Lebih baik sekarang mama pulang sebab Hana capek mai istirahat, lagi pula di rumah Om Satria dan tante Dinda tidak ada." Ucap Hana mengusir Sinta secara halus.
" Jadi kamu mengusir Mama kamu sendiri Hana? Apa begini seorang anak memperlakukan mamanya?."Tanya Sinta dengan kesal karena Hana tetap tidak mau tinggal dengannya dan malah mengusirnya.
" Maaf ma, Hana tidak bermasuk seperti itu. Jika mama mau Hana tinggal dengan mama, mungkin mama bisa merubah sikap dan sifat mama terlebih dahulu. Sehingga Hana bisa merasa nyaman dan aman tinggal dengan Mama." Jawab Hana membuat Sinta semakin kesal dan mengepalkan kedua tangannya.
Hana bangkit lalu berjalan masuk ke kamarnya, dia tidak memperdulikan teriakan dan makian dari Sinta yang dilontarkan untuk dirinya. Sinta terus memanggil-manggil Hana agar Hana mau ikut dengannya tetapi Hana tetap tidak memperdulikan teriakan mamanya.
" Hana aku ini mama kamu ! Aku yang melahirkan kamu! jadi aku berhak atas hidup kamu Han, keluar kamu. Jangan jadi anak kurangajar kamu Hama." Teriak Sinta terus memaki dan memanggil Hana.
" Maaf bu, tolong jangan teriak-teriak di rumah ini. Dapat mengganggu yang lainnya, ibu bisa pulang dari sini sekarang juga. Jangan sampai menunggu saya mengusir atau menyeret Anda keluar dari rumah ini."Ucap salah satu petugas keamanan di rumah Satria.
Tidak mau diperlakukan kasar oleh pihak keamanan akhirnya dengan amarah dan rasa kesalnya Sinta keluar dari rumah Satria. Dia harus menyiapkan alasan yang tepat saat Badar menanyakan soal Hana, sebab Badar akan memarahinya jika tahu Sinta tidak berhasil membawa Hana keluar dari rumah Satria.
* Aku harus kerumah Bapak dan Ibu. Aku akan meminta mereka untuk menasehati Hana agar dia mau tinggal denganku. Aku sudah tidak tahan lagi dengan Badar, semakin cepat Hana menikah dengannya semakin cepat juga aku bebas dari pria hidung belang itu. Terserah Hana mau bahagia atau tidak yang penting aku terlepas dari pri gila itu.* Gumam Sinta menggerutu dalam hatinya.
Sinta pergi kerumah mertuanya untuk meminta bantuan agar mereka mau menasehati dan merayu Hana. Siapa tahu setelah kakek dan neneknya yang berbicara Hana mau tinggal dengannya. Tidak nenunggu waktu lama akhirnya Sinta sudah sampai dirumah mertuanya.
" Mau apa kamu datang kesini Sinta?." Tanya ibu Rahayu.
" Mana bapak bu?" Sinta balik bertanya.
Tiba - tiba dari arah belakang pak Karim datang menghampiri Sinta. Pak Karim mencoba bersikap baik dan sewajarnya saja terhadap Sinta. Pak Karim mengajak Sinta duduk dan menanyakan apa hal yang membuat Sinta datang mencarinya. Sinta secara gamblang menceritakan keinginannya kepada kedua mertuanya.
" Maksud kamu, kamu menyuruh kami bicara sama Hana agar dia mau ikut dengan kamu?." Tanya pak Karim memperjelas.
" Iya " Jawab singkat Sinta.
" Maaf Sinta, Bapak tidak bisa. Keputusan tetap ada pada Hana sendiri, karena Hana yang berhak menentukan kehidupan dan kebahagiaan dia sendiri. Jika sama kamu saja Hana tidak mau, lantas bapak bisa apa?." Seru pak Karim.
" Tapi bapak ini dekat sama Hana, pasti Hana mendengar perkataan bapak. Ayolah pak tolongin Sinta, Sinta hanya ingin tinggal dengan Hana dan bisa berbagi kasih sayang sama anak Sinta sendiri. Didunia ini sekarang hanya Hana yang Sinta punya. " Ucap Sinta merayu bapak dan ibu mertuanya.
Pak Karim dan ibu Rahayu sudah tidak percaya lagi dengan mulut busuk Sinta. Baginya Sinta sudah busuk dan bobrok, tidak ada lagi yang bisa dipercaya dari Sinta. Semua kebusukannya sudah diketahui oleh kedua mertuanya, tetapi mereka hanya pura-pura tidak tahu saja dan seolah tidak terjadi apa-apa.
" Jika Hana dekat dengan kami, kenapa dia tidak dekat dengan kamu ? Padahal kamu itu mama kandungnya ? Berarti ada yang salah dong sama kamu ? Jangan buat hidup cucuku sengsara karena ulahmu Sinta, sampai kapanpun Hana berhak bahagia dengan caranya sendiri. Sampai kamu macam-macam dengan Hana aku pastikan kamu akan menyesal.!" Ancam pak Karim dengan tegas.
Pak Karim bicara dengan sorot mata yang menakutkan sehingga membuat Sinta memilih meninggalkan rumah mertuanya. Dia pulang dengan harapan hampa,niat meminta tolong mertuanya justru dia dibuat takut oleh mertuanya.
* Apa jangan - jangan mereka sudah tahu soal hutang ku ya ? Tapi jika mereka tahu, masa iya mereka bersikap biasa saja. Tidak memarahi ku atau memakiku padahal Hana yang sudah aku jaminkan. Saat bertemu Badar juga Hana biasanya saja, tidak ada rasa takut sama sekali. Hemmm ini sangat membingungkan.* Gumam Sinta dalam batinnya.
__ADS_1
********
Malam yang ditunggu - tunggu pun sudah datang. Saat ini anggota kepolisian sudah ada di tempat yang akan dijadikan transaksi oleh Badar dan temannya. Sebanyak 20 puluh personil kepolisian diturunkan dan sudah menyebar disetiap titik. Para anggota kepolisian itu sudah datang dari dua jam yang lalu.
" Semuanya sudah siap pak. Kita tinggal tunggu target datang , dan kita langsung sergap saat mereka bertransaksi." Ucap salah satu polisi.
" Kalian hati - hati, jangan sampai kita ketahuan. Badar ini target utama kita, sebab dia pengedar kelas besar. " Ucap Polisi yang memimpin penyergapan.
" Baik pak. " Jawab anggota polisi.
Satria menginformasikan kepada polisi jika saat ini padahal sudah sampai di lokasi dengan segera semua anggota kepolisian itu bersiap-siap di tempat titik mereka masing-masing.
Benar saja dari mereka sudah melihat ada mobil di dekat gedung tua ,tempat yang akan dijadikannya transaksi oleh Badar dan temannya. Tidak lama dari itu datang satu mobil lagi, mereka berdus turun dan ikut masuk ke dalam gedung tua.
" Wooii Badar , kamu makin sukses saja. " Ucap Pria yang bernama Juki.
" Iya dong. Apa kamu sudah siapkan uangnya ? Ini barang yang kamu minta, senilai 20 milyar kan ?" Seru Badar sambil menunjuk tas ransel yang dia tenteng.
" Tenang saja, yang 20 milyar ada didalam koper besar ini. Kamu ini kenapa tidak mau bertransaksi dengan cek, padahal aku tidak perlu repot - repot bawa uang sebanyak ini. " Seru Juki sambil menyeringai.
" Ribet amat. Uang ini mau aku gunakan untuk pesta pernikahan dan mahar untuk calon istri ke 6 ku. Kali ini gadis ting ting yang tentunya masih sangat legit, bahkan dia masih daun muda. Jadi aku mau uang tunai biar tidak ribet." Ucap Badar dengan santainya.
Para anggota sudah bersiap bahkan sudah mengepung tempat yang saat ini dijadikan transaksi barang haram itu. Dengan segera para polisi masuk dan ke gedung tua itu sehingga membuat Badar dan yang lainnya kaget.
" Kalian sudah terkepung ! Jadi kalian menyerah saja kalau tidak timah panas ini akan menghujam kulit tubuh kalian." Seru polisi yang menjadi komandan dalam penggerebekan itu.
" Angkat tangan kalian!!" Teriak polisi yang laiinya.
* Kurangajar ! Kenapa bisa tercium oleh polisi, aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak mau dipenjara.* Gumam Badar dalam hatinya.
Dua anak buah Badar sudah diringkus polisi, begitupun teman Badar dan dua anak buahnya. Tinggal Badar saja yang masih diam mematung memperhatikan gerak-gerik polisi. Di saat polisi mulai lengah, Badar mencoba berlari untuk menyelamatkan diri. Tetapi tidak bisa semudah itu Badar bisa lolos. Malam ini sepertinya nasib baik sedang tidak berpihak kepada Badar.
" Berhenti !! Jangan lari ! Jika kamu tidak mau berhenti aku akan menembakmu .!" Teriak polisi memberikan peringatan kepada Badar.
Sepertinya Badar tidak memperdulikan peringatan dari polisi, dia tetap saja berlari menjauh. Namun polisi akhirnya terpaksa mengeluarkan timah panasnya.
Ddoorr Ddoorr
Dua timah panas berhasil dilepaskan dan mendarat di kaki kanan dan kiri Badar. Seketika itu Badar langsung terkulai lemas dan ambruk dengan darah di kakinya yang mulai bercucuran.
__ADS_1
***************