
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Keributan itupun langsung berhenti saat pak Karim mencoba kembali mengangkat tangannya untuk menampar pipi Sinta, namun secara tiba - tiba Dinda mencengkal tangan pak Karim. Dinda tidak mau keributan itu semakin panjang dan akan menjadi konsumsi para tetangga.
" Pak sudah jangan kotori tangan bapak. Mbak Sinta lebih baik mbak Sinta masuk kamar saja agar keributan segera berakhir. Dan saya minta sama mbak Sinta agar tidak seenaknya dirumah ini. Jika mbak masih seenaknya saja, aku pastikan malam ini terakhir mbak Santi tidur dirumah ini." Dinda bicara dengan tegas sampai mata Sinta menyorot tajam kearah Dinda.
" Sombong ! Jangan mentang - mentang sekarang ini aku bukan lagi bagian dari keluarga kamu, sebab mas Rudi sudah meninggal kalian mau seenaknya saja memperlakukanku. Baiklah, malam ini saja aku akan tidur dirumah ini. Besok pagi aku akan pergi dari rumah ini. Hana besok pagi kamu ikut dengan mama, kita tinggal dikontrakan saja." Seru Sinta sembari memandang kearah Hana.
Deg..
Seketika jantung Satria dan pak Karim tidak aman, apa yang mereka takutkan terjadi juga. Mereka berdua tidak bisa membiarkan Hana dibawa atau ikut Sinta. Yang ada Hana akan diperlakukan tidak baik oleh Sinta. Pak Karim dan Satria saling melempar pandangannya, Satria menganggukkan kepalanya.
" Tidak bisa ! Jika kamu keluar dari rumah ini jangan bawa Hana. Mau kamu kasih makan apa Hana ? Sedangkan kamu hanya pengangguran, bisa - bisa Hana putus sekolah." Tolak pak Karim dengan tegas.
* Mereka tidak tahu jika saat ini aku sudah banyak uang lagi. Semenjak mas Rudi masuk penjara aku sudah kembali di dunia ku yang dulu. Apalagi saat ini mas Rudi sudah tidak ada jadi aku bisa semakin bebas. Tapi jangan sampai mereka tahu tentang dunia luarku.* Gumam Sinta dalam batinnya.
Suasana semakib tegang karena pak Karim menolak Sinta membawa Hana. Malam semakin larut dan perdebatan belum juga selesai justru semakin panas dan sekarang masalah Hana yang di perdebatkan.
" Aku ini ibu kandungnya jadi aku yang berhak atas Hana, Pak." Jawab Sinta dengan tegas.
" Tapi kamu itu tidak punya biaya Sinta." Seru pak Karim pura - pura tidak tahu dengan apa yang saat ini ditekuni Sinta.
" Tapi aku Mamanya.Aku yang lebih berhat atas Hans!" Jawab lantang sinta tidak perduli jika saat ini sudah tengah malam.
" Cukup ! " Bentak Hana dengan air mata yang berderai.
Mungkin memang belum waktunya mereka memperdebatkan masalah ini. Apalagi saat ini memang mereka semua masih dalam keadaan berduka. Melihat Hana yang menangis, Dindapun mendekati Hana dan memeluk Hana dengan lembut.
" Maaf Ma, Hana memang anak mama. Tetapi Hana berhak menentukan Hana mau tinggal dimana. Hana mau tinggal sama Om Satria dan tante Dinda saja. Jadi tidak tinggal dengan mama dan tidak tinggal dengan kakek. Jadi kalian berdua tidak perlu ribut lagi. Om, tante bolehkan Hana tinggal sama kalian?." Tanya Hana sambil terisak.
Dinda tidak bisa memutuskan, apalagi ada Sinta yang lebih berhak. Dinda tidak mau mempunyai masalah dengan Sinta. Mendengar keputusan Hana membuat pak Karim lega dan sedikit berkurang rasa khawatirnya.
__ADS_1
" Boleh " Jawab Satria dengan yakin.
" Hahh.. Bagaimana bisa kamu mau tinggal dengan mereka? Atau jangan - jangan memang kalian yang sudah mempengaruhi Hana ? Kalian mau menjadikan Hana pembantu dirumah kalian ? Haahh... !" Sentak Sinta dengan berapi - api.
" Sinta ! Jika kamu masih saja punya pikiran buruk kepada Satria dan Dinda, bapak yakin selamanya Hana tidak akan pernah mau tinggal ataupun ikut dengan kamu. Biarkan Hana memilih mau tinggal dimana, tinggal dengan Dinda juga bukan hal yang buruk. Daripada tinggal sama kamu nanti mentalnya akan kamu rusak." Ucap pak Karim.
Sinta tidak bisa berkata - kata lagi. Diapun memilih diam daripada nanti dia salah bicara dan akan kehilangan Hana untuk selamanya. Apalagi saat Hana berusia 17 tahun nanti Sinta akan membutuhkan Hana. Tanpa sepatah katapun Sinta meninggalkan perdebatan itu dan masuk kekamarnya.
Ibu Rahayu yang sedari tadi diam saja juga kini sudah masuk kamar bersama pak Karim. Sebenarnya banyak pertanyaan dalam benak ibu Rahayu, dia merasa janggal kenapa suaminya mengizinkan Hana untuk tinggal dengan Satria dan Dinda ketimbang dengan mereka, yang sudah jelas kakek dan neneknya.
" Pak, bapak yakin membiarkan Hana tinggal dengan Satria. Jika tidak tinggal dengan Sinta, kita sebagai kakek dan neneknya yang berhak merawat Hana pak bukan Satria." Ucap ibu Rahayu .
" Suatu saat nanti ibu pasti akan tahu jawabannya. Sekarang lebih baik ibu tidur, karena ini juga sudah tengah malam." Ucap pak Karim belum mau bicara yang sejujurnya dengan istrinya.
Sampai sekarang ini ibu Rahayu juga belum membaca surat yang dituliskan Rudi. Surat itu baru pak Karim saja yang mrmembacanya, mungkin saja ibu Rahayu lupa sehingga dia tidak menanyakan surat itu.
Sementara itu saat ini dikamarnya Sinta sedang memikirkan cara bagaimana agar Hana bisa ikut tinggal dengan dirinya. Semenjak kembali keduania haramnya kasih sayang sebagai seorang ibu luntur dan hilang begitu saja. Yang ada difikiran Sinta saat ini hanya bagaimana mendapatkan uang dan memperkaya diri.
" Apa aku biarkan saja dulu Hana tinggal dengan Satria, saat 17 tahun nanti aku akan mengambilnya dan menyerahkan dia kepada Bang Badar. Aku selama ini harus rela menjadi pengganti Hana untuk memuaskan bang Badar, kenapa juga harus menunggu Hana berusia 17 tahun. Kalaupun mau dari sekarang sudah aku berikan saja Hana sama dia, apalagi mas Rudi sudah tidak ada sehingga aku dengan mudah untuk menyerahkan Hana." Ucap Sinta bermonolog pada dirinya sendiri.
Sinta terus berfikir apakah dengan membiarkan Hana tinggal dengan Satria adalah pilihan yang terbaik. Dengan begitu Sinta tidak perlu keluar uang untuk biaya hidup Hana.
Selama 5 tahun ini Sinta memang terikat dengan pria yang bernama Badar. Sinta meminjam sejumlah uang yang nilainya samapa 350 juta dan menjaminkan Hana sebagai jaminannya. Dan selama 5 tahun ini juga Sinta harus menjadi salah satu wanita pemuas untuk Badar, dan itu akan berhenti disaat Hana sudah 17 tahun dan diserahkan kepada Badar.
Awalnya Rudi tidak tahu menahu jika Sinta punya hutang sebanyak itu. Baru sekitar 4 tahun belakangan ini Rudi mengetahui semuanya,Rudi marah dan mengancam akan melaporkan Sinta kepolisi karena sudah menjalani bisnis haram dan menjadikan anaknya jaminan hutang.
Namun Sinta juga balik mengancam akan menyerahkan Hana saat itu juga kepada Badar. Dan akhirnya Rudi mengalah dan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan tertekan.
*********
Pagipun menjelang, semua orang sudah bangun terkecuali Sinta. Sinta masih saja tidur dikamarnya dan tidak ada satu orangpun yang mau membangunkannya.
Hooeekk Hoeeekk Hooekk
Saat sedang memasak sarapan perut Dinda tiba - tiba mual dan langsung memuntahkan semua isi perutnya. Selama tahu hamil, ini pertama kali Dinda muntah dan mual dipagi hari.
" Kamu kenapa Din?" Tanya ibu Rahayu yang memang sudah mulai kembali baik kepada Dinda.
__ADS_1
Mungkin dia menyadari jika Dinda juga anaknya tidak sepantasnya dia perlakukan dengan buruk. Dari dulu sampai sekarang hanya Dinda yang selalu perduli dengannya.
" Perut Dinda mual bu." Ucap Dinda dengan lemas.
" Apa kamu hamil?" Tanya ibu Rahayu langsung menebak jika Dinda sedang hamil.
" Heemmm... Iya bu. Dinda hamil dan sekarang baru berusia 1 bulan." Ucap Dinda dengan senyum tipisnya sebab dia masih sangat lemas.
Secara spontan ibu Rahayu langsung memeluk Dinda dengan lembut dan penuh haru. Tanpa terasa air matanya membasahi pipinya yang sudah tidak muda lagi. Begitupun dengan Dinda, dia terharu dan bahagia mendapatkan pelukan hangat dari ibunya. Pelukan yang sudah bertahun - tahun tidak dia rasakan,saat ini kembali dia rasakan.
" Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil Din. Ibu ikut bahagia, kamu harus menjaga kehamilan mu. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu dan biar ibu yang masak sarapan sendiri. Ada Hana juga kok yang bantuin ibu, dia masih ibu suruh kewarung tadi beli tepung terigu." Ucap ibu Rahayu dengan lembut.
" Iya bu maaf Dinda tidak bisa bantuin ibu masak. Biasanya juga Dinda tidak seperti ini bu, tidak tahu kenapa tadi mencium bau bawang putih kok mual banget. Bahan makanan habis ya bu? Nanti Dinda pesankan ke toko biasa Dinda pesan ." Ucap Dinda.
Ibu Rahayu hanya mengangguk saja, sebenarnya bahan makanan masih ada tetapi tidak banyak. Para tetanggapun kemarin datang ada yang membawa sembako, tetapi kenapa bahan makanan itu tidak terlihat seperti ada yang mengambilnya.
Dinda masuk kamar dan ternyata Satria hendak keluar kamar sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Hari ini Satria harus kekantor,sebab sudah 3 hari Satria tidak masuk kantor dan tentunya banyak pekerjaan yang sudah menumpuk. Kasihan Indra jika harus dibiarkan mengerjakan semuanya sendiri.
" Mas sudah mau berangkat?" Tanya Dinda dengan lembut.
" Iya sayang, ini baru saja mas mau keluar dari kamar tapi kamu sudah masuk lebih dulu." Jawan Satria.
" Oh begitu. Maaf ya mas aku belum bikin sarapan, tapi tadi ibu lagi goreng pisang. Mas tidak apa - apakan sarapan pisang goreng sama teh saja. Tadi mau bikin ayam kecap tapi saat mengupas bawang putih perutku langsung mual Mas." Ucap Dinda menjadi merasa bersalah karena tidak bisa memasak sarapan untuk Suaminya.
" Iya sayang tidak apa-apa. Jadi kamu sudah mulai mual ya ? Kalau begitu istirahat saja ya,biar mas sarapan yang ada saja. Jadi ibu sudah tahu kalau kamu saat ini sedang hamil?" Tanya Satria antusius.
Dinda mengangguk sambil tersenyum manis, bukan saja tahu justru ibunyalah yang memintanya untuk istirahat dikamar dan tidak dibolehkan untuk memegang pekerjaan terlebih dahulu. Satria keluar kamar dan menuju dapur, disana sudah ada pak Karim yang sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng hangat.
" Om Satria mau teh apa kopi?" Tanya Hana dengan sopan.
" Teh saja Han, tapi jangan terlalu manis ya." Ucap Satria dengan ramah.
Hana mengangguk lalu dia membuatkan teh untuk Satria. Ibu Rahayu juga menghampiri Satria , dan duduk di samping suaminya.
" Satria , ibu minta maaf ya karena selama ini ibu sudah membenci kamu dan memusuhi kamu." Ucap ibu Rahayu bicara dengan serius.
" Satria sudah memaafkan ibu dari jauh - jauh hari. Kita ini keluarga bu, jadi tidak perlu saling membenci dan bermusuhan." Jawab Satria.
__ADS_1
Ibu Rahayu merasa lega sudah bisa meminta maaf secara langsung kepada Satria. Pak Karim juga ikut senang dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, semoga mulai hari ini hubungan antara mertua dan menantu akan semakin membaik.
*******