Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Hadiah untuk ibu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hooeeek hoeekkk hoeeekk


Pagi-pagi Cahaya sudah mual dan muntah-muntah. Selama dia ketahuan hamil 3 hari yang lalu, baru hari ini dia merasa mual dan muntah. Saat hendak menggoreng telor untuk teman nasi goreng saat sarapan nanti, tiba-tiba merasa mual dan seketika itu langsung muntah.


"Cahaya, kamu kenapa nak?."Tanya ibu Rahayu dengan panik.


Cahaya dan Reno sengaja belum memberitahu keluarga yang lain jika dia hamil. Hanya ibu Nursi saja selaku ibu kandung Cahaya yang sudah mereka kasih tahu.


Rencananya Cahaya dan Reno akan memberitahu saat ulang tahun ibu Rahayu minggu depan. Sebagai kado terindah untuk sang ibu.


"Cahaya mual sekali bu."Seru Cahaya terlihat lebih pucat.


"Mual? Jangan-jangan kamu hamil? Wajah kamu terlihat pucat sekali, Nak. Sekarang lebih baik kamu masuk kamar dan beristirahat saja. Biar ibj yang lanjutkan bikin sarapannya. Nanti ibu buatkan teh hangat untuk kamu, dan jika sudah enakan lebih baik nanti kedokter saja ya."Ucap ibu Rahayu terlihat sangat menghawatirkan keadaan menantunya.


"Ada apa ini bu?." Seru Reno yang tiba-tiba masuk ke dapur untuk mengambil air minum.


Reno melihat Cahaya yang duduk di kursi meja makan dengan tangan yang mengusap-usap perutnya. Sedangkan ibu Rahayu berdiri disamping Cahaya, terlihat cemas.


"Ini Ren, istrimu tadi muntah-muntah sampai wajahnya pucat ini. Kamu ajak saja dia ke kamar untuk beristirahat, jika nanti sudah agak enakan kamu antarkan ke dokter. Ibu khawatir jika Cahaya terus menerus mual dan muntah seperti tadi. Apa kemungkinan saat ini Cahaya sedang hamil? Tidak ada salahnya kan coba diperiksakan ke dokter?."Ucap ibu Rahayu.


Cahaya dan Reno saling melempar pandang, mungkin memang lebih baik dia memberitahu kehamilannya kepada ibu Rahayu. Agar sang ibu tidak khawatir, dan ikut bahagia dengan kabar kehamilan Cahaya.


"Emm.. Bu, sebenarnya saat ini Cahaya memang sedang hamil."Ucap Cahaya diserta dengan senyum yang terlihat tulus.


"Jadi Cahaya saat ini sedang hamil? Alhamdulillah."Seru ibu Rahayu langsung memeluk Cahaya.


Meskipun bukan cucu pertama, namun ibu Rahayu sangat bahagia dan senang mendengar kabar kehamilan Cahaya. Sebenarnya dia hanya menghawatirkan jika Reno sudah tidak bisa punya anak. Mengingat usia Reno dan Cahaya beda jauh. Namun ternyata Allah sudah menjawab rasa kekhawatirannya selama ini.


"Sejak kapan kalian tahu soal kehamilan ini? Kenapa baru kasih tahu ibu sekarang?." Seru ibu Rahayu.


"Sudah dari 3 hari yang lalu bu. Maaf bukan maksud kami ingin merahasiakan ini semua, tadinya kami sudah sepakat untuk memberitahu ibu saat Ibu ulang tahun. Tapi sepertinya rencana kami gagal, karena sekarang ibu sudah tahu."Ucap Reno menjelaskan alasan mereka belum memberitahu kabar bahagia itu.


Ibu Rahayu hanya menggelengkan kepalanya, namun dia tidak akan marah. Justru dia bahagia dan sangat bahagia akan menerima cucu kembali.


"Aku mau punya adik?." Tanya Joni yang juga tiba-tiba masuk kedapur.


"Iya, Jon."Jawab Cahaya dengan lembut.


"Alhamdulillah akhirnya Joni akan menjadi seorang kakak yang sesungguhnya. Kalau biasanya jadi kakak untuk Gibran dan Tiara, kini Joni jadi kakak untuk adik Joni sendiri."Seru Joni yang ikut bahagia dengan kabar kehamilan sang bunda.


Tinggal pak Karim saja yang saat ini belum tahu berita kehamilan Cahaya. Pak Karim saat ini sedang jalan-jalan pagi, biasa untuk sekedar olah raga ringan.


Jarum jam sudah menunjukan jam setengag 7 pagi, ibu Rahayu melanjutkan pekerjaan Cahaya menggoreng telur. Lima belas menit lagi Joni harus sudah berangkat sekolah, beruntung tinggal goreng telur saja sebab Cahaya sudah memasak nasi gorengnya sebelum dia mual dan muntah tadi.


"Apa perlu kedokter, sayang?." Tanya Reno dengab lembut.


"Tidak mas. Ini hal yang biasa kok, wanita yang hamil muda memang seperti ini kan mas. Mas, boleh aku minta sesuatu sama kamu?."Tanya Cahaya.

__ADS_1


"Boleh sayang, kamu mau meminta apa?." Tanya Reno sudah penasaran.


"Emm.. Mas aku ingin sarapan soto madura yang di jual di dekat parkiran pasar pagi itu."Seru Cahaya yang ternyata dia sedang merasakan yang namanya ngidam makanan.


Reno sebagai orang yang dulunya sudah pernah mengurus wanita hamil. Tentunya saat ini dia tahu jika sang istri sedang mengidam. Reno tersenyum senang dengan apa yang diminta oleh Cahaya. Jika hanya sebatas soto madura, Reno saat ini juga bisa mencarikannya langsung tanpa harus di tunda-tunda.


"Jadi istri mas ngidam nih? Ya sudah, kamu tunggu dikamar saja ya. Mas akan belikan soto madura yang kamu minta. Mau berapa porsi? Apa ada lagi yang kamu inginkan?." Tanya Reno yang sudah bersiap-siap pergi kepasar.


"Satu porsi saja mas. Tapi coba Mas tanya sama yang lainnya siapa tahu mereka juga mau. Aku cuman mau itu saja mas, tidak ada yang lainnya. Nanti kalau aku menginginkan sesuatu yang lain, pasti aku akan memintanya kepada suamiku tercinta ini."Seru Cahaya mulai menggoda Reno.


"Baiklah istriku tercinta. Ya sudah mas ke pasar dulu ya, kamu tunggu saja disini. Nanti kalau mas sudah pulang, mas pasti akan memanggil istriku tercinta ini."Seru Reno tidak kalah romantis juga.


Cahaya hanya mengangguk dengan patuh, dia juga memang masih merasa lemas. Sehingga memilih di kamar saja untuk sekedar membaringkan tubuhnya.


"Cahaya tidak kamu ambilkan sarapan dulu, Ren?."Seru ibu Rahayu.


"Cahaya menginginkan soto madura bu. Ini Reno mau membelinya lebih dulu. Bapak sama ibu mau sekalian tidak? Oh iya, Joni sudah berangkat sekolah ya?." Seru Reno yang memang sudah tidak mendapati keberadaan Joni.


"Joni baru saja berangkat. Kamu belikan saja untuk Cahaya, bapak dan ibu ini lagi sarapsn nadi goreng."Ucap ibu Rahayu.


"Sudah sana berangkat. Nanti kehabisan, mau cari dimana kalau habis. Bisa muter-muter kamu nanti."Ucap pak Karim.


"Iya pak."Seru Reno.


Reno pun berjalan keluar rumah dan menghampiri motor Pak Karim yang sudah berada di teras rumah. Reno segera menghidupkan mesin motornya dan melaju menuju pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.


******


"Kata mas Reno 3 hari lagi ibu ulang tahun? Kita mau kasih kado apa, Sayang?." Tanya Satria saat sedang sarapan bersama-sama dengan neneknya juga.


" Iya Mas tiga hari lagi Ibu memang ulang tahun, seperti tahun-tahun yang terdahulu biasanya kita hanya akan makan malam bersama. Tapi sudah 2 tahun ini sepertinya kebiasaan itu hilang begitu saja. Untuk hadiah Dinda juga bingung Mas mau memberi apa untuk ibu."Jawab Dinda yang tidak tahu apa yang akan mereka berikan.


"Mas juga bingung, sayang."Seru Satria yang memang tidak tahu apa-apa saja yang disukai oleh mertuanya.


Nenek Murni sepertinya ada saran untuk Satria dan Dinda.


"Emm.. Apa nenek boleh usul?." Tanya Nenek menghentikan makannya.


"Boleh dong nek."Jawab Dinda dengan senang.


"Bagaimana kalau kalian berikan kado berupa tiket umroh. Kebetulan nenek juga ingin umroh, jadi nanti bisa berangkat bersama-sama dengan dua besan nenek sekaligus."Seru nenek Murni.


seketika Satria dan Dinda langsung mengangguk setuju dengan usul yang diberikan oleh nenek murni Dinda sangat berterima kasih dengan nenek murni sebab nenek murni sangat peduli dengan kedua orang tuanya sehingga dia mengusulkan untuk umroh.


"Kami setuju nek."Jawab Satria dan Dinda bersamaan.


"Terimakasih nek."Ucap Dinda sangat terharu dengan kebaikan nenek Murni.


"Sama-sama sayang. Mulai hari ini kamu urus tiket, paspor dan berkas-berkas mertua kamu, Satria. Jadi saat ibu Rahayu ulang tahun semuanya sudah siap. Waktu 3 hari itu lebih dari cukup, kamu punya banyak uang. Sesekali gunakan kekuatan uangmu. Heheee."Ucap nenek Murni sambil terkekeh.


"Tenang saja nek. Semua pasti beres."Jawab Satria yakin.


Mereka bertiga melanjutkan sarapannya, setelah selesai sarapan. Satria berangkat lebih dulu, dan berpamitan kepada nenek dan istrinya. Tidak lupa mencium Raja sang buah hatinya terlebih dahulu.


"Nek, hari ini Dinda mau ke butik dan Raja mau Dinda bawa. Nenek mau ikut sekalian apa tidak? Sudah lama kita tidak ke butik bersama-sama, Nek."Seru Dinda memberitahu nenek Murni.

__ADS_1


" Boleh, kebetulan nenek juga di rumah tidak ada kerjaan apa-apa. Capek juga kalau cuman duduk, tiduran, nonton TV, ya sudah nanti jam 9 saja kita berangkat ke butik. Nenek juga ada yang ingin dibicarakan dengan Amara."Ucap nenek Murni setuju dengan ajakan Dinda.


Dinda juga memang sudah lama tidak ke butik, ke Cafe juga dia sudah jarang. Dia juga sudah mulai sibuk dengan kuliahnya, kebetulan hari ini memang tidak ada jam kuliah. Usia Raja saat ini sudah 5 bulan sehingga setiap ada kesempatan Dinda akan mengajak anaknya juga saat keluar rumah, selain ke kampus.


Trinnnnggg


[ Dinda, kamu apa kabar nak?.] Pesan singkat dikirim oleh ibu Rahayu.


Dinda tersenyum saat mendapati ibunya mengiriminya pesan singkat, dengan segera Dinda pun membalas pesan sang ibu.


[ Alhamdulillah Dinda sehat bu. Ibu sendiri bagaimana, apa semuanya sehat-sehat?.]Balas Dinda balik menanyakan keadaan ibunya.


[ Semuanya sehat-sehat, Din. Alhamdulillah pagi ini Ibu ada kabar bahagia untuk kita semua. Kakak iparmu, Cahaya sekarang sudah hamil.]


[ Alhamdulillah jika nbak Cahaya sudah hamil. Dinda ikut bahagia Bu, nanti kalau ada waktu Dinda mau ke rumah Ibu. Mau mengucapkan selamat kepada kakak iparku.]


[ Iya Ibu tunggu. Jangan lupa ajak juga nenek Murni dan Raja. Ibu kangen sekali dengan Raja.]


[Siap bu.]


[Ya sudah ibu cuma kasih kabar itu saja.]


[Iya bu.]


Dinda senyum-senyum sendiri saat berkirim pesan dengan ibunya. Dia ikut bahagia dengan kabar kehamilan Cahaya, akhirnya dia akan punya keponakan dari Cahaya.


********


"Untuk apa kamu datang kesini? Masih ingat kamu jika kamu itu masih punya orang tua?." Tanya Rahma ketus saat Hakim datang menjenguknya.


Hakim mendatangi kedua orang tuanya di penjara. Dia datang bukan hanya sekedar datang,tetapi ada maksud tertentu yang ingin dia sampaikan.


"Setelah 4 bulan kamu tidak menjenguk kami, kini kamu datang. Pasti ada maksud tertentu."Ucap Kandar yang memang sudah hafal betul dengan kelakuan anaknya.


"Ciiihhh datang salah tidak datang juga salah. Ya sudah aku langsung saja. Begini, kalian sekarang kan sudah berbaikan dengan Satria. Dan sudah pasti kehidupan kalian di penjara pun terjamin kan? Tidak mungkin Satria membiarkan kalian makan hanya dengan tempe dan tahu saja. Pasti dia juga sudah memberikan uang kepada petugas penjara untuk menanggung hidup kalian agar bisa makan enak. Buktinya kalian terlihat lebih sehat, bugar dan bersih."Ucap Hakim dengan senyum yang sulit di artikan.


"Tidak perlu bertele-tele. Bicara saja apa tujuan kamu datang, Hakim."Seru Rahma dengan kesal.


"Aku mau uang ! Kalian mintalah uang kepada Satria, aku yakin pasti dia akan memberikannya. Tidak banyak, hanya 200 juta saja. "Ucap Hakim seenaknya.


Haaahhh ?


Rahma dan Kandar membeo, dan saling melempar pandangan. Uang? Hakim memintanya untuk meminta uang kepada Satria. Dan uang 200 juta dia bilang tidak banyak? Rahma dan Kandar tidak tahu, bagaimana jalan fikiran Hakim. Seenaknya dia meminta uang, bahkan menurut cerita Satria belum lama Hakim meminta uang 50 juta kepada Nenek Murni.


"Orang tidak waras."Seru Kandar dengan emosi.


"Kamu kira Satria itu mesin ATM? Tinggal kamu mengucap terus uang datang? Kalau mau uang itu kerja, jangan mengandalkan orang lain terus menerus."Seru Rahma dengan kesal.


"Ayolah ma, pa. Tolong Hakim kali ini saja, uang tabungan Hakim juga sudah semakin menipis. Apalagi Hakim juga butuh biaya hidup, untuk biaya berobat juga."Ucap Hakim dengan memelas.


"Kamu minta sendiri, langsung sama Satria."Ucap Rahma ketus.


Rahma dan Kandar bangkit dan meminta penjaga untuk mengantarkan mereka kembali kedalam sel tahanan. Padahal jam besuk masih cukup lama, namun mereka memilih masuk ke sel daripada meladeni Hakim.


**********

__ADS_1


__ADS_2