Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Melisa malu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tak di sangka-sangka, hari ini Melisa datang ke rumah Satria dan bertepatan juga dengan kepulangan Hakim dari rumah sakit. Melisa memang sengaja datang kerumah Satria bukan untuk mengganggu rumah tangga Satria. Melainkan untuk meminta maaf soal kejadian di kantor waktu itu.


Melihat Melisa yang datang kerumahnya, Dinda tetap mencoba untuk bersikap biasa saja. Selagi Melisa tidak menjadi perusak rumah tangganya, Dinda akan tetap bersikap baik dan sewajarnya. Namun jika kedatangan Melisa ada rencana yang jelek, Dinda akan pasang badan untuk mempertahankan rumah tangganya.


" Maaf kedatangan saya di waktu tidak tepat, ternyata kalian juga sedang menyambut saudara kalian."Seru Melisa bicara dengan sopan.


" Oh tidak apa-apa kok mbak, Melisa. Silahkan duduk, ini Hakim. Dia ini adik kandung mas Satria, yang baru pulang dari rumah sakit."Ucap Dinda memperkenalkan Hakim.


Hakim dan Melisa mengangguk dan saling mengenalkan dirinya masing-masing. Tidak lupa , Melisa juga menyalami dan memperkenalkan dirinya kepada nenek Murni. Dari dulu Melisa memang belum mengenal sosok nenek Murni, dia hanya tahu dari cerita Satria saja.


" Melisa kamu cantik banget nak."Seru nenek dengan lembut.


" Terima kasih nek."Jawab Melisa malu-malu.


Satria memandang kesal ke arah Melisa, bisa-bisanya dia datang kerumahnya tanpa tahu malu. Sebagai seorang wanita seharusnya malu datang kerumah pria, terlebih sang pria sudah berkeluarga.


" Kamu temannya Dinda?."Tanya nenek Murni yang mengira Melisa adalah temannya Dinda.


" Bukan nek, saya teman sekolah Satria. Tapi sekarang juga sudah menjadi temannya Dinda juga. Bukan begitu Dinda?."Ucap Melisa meminta persetujuan Dinda.


" Oh iya mbak."Jawab Dinda dengan memaksakan tersenyum.


Ehhemm Ehhhemmm


Satria sengaja berdehem agar Melisa bisa tahu batasannya saat bertamu. Raut wajah Melisa langsung berubah masam, dia kecewa dengan sikap Satria.


Satria tidak mau berlama-lama melihat Melisa, kebetulan Hakim juga mau kekamar jadi Satria mengantarkan Hakim kekamarnya. Perawat yang akan membantu mengurus Hakim sedang menyiapkan makanan yang harus di konsumsi Hakim pasca operasi.


" Nenek tinggal dulu ya."Ucap nenek meninggalkan Melisa dan Dinda berdua saja.


" Nenek mau istirahat? Apa mau Dinda antar kekamar?."Tanya Dinda.


" Tidak perlu Dinda, kamu temani Melisa saja disini. Masa iya tamu nya di tinggal sendirian."Seru Nenek Murni.


Setelah nenek ke kamar, tinggallah Dinda dan Melisa saja. Mereka saling diam, tidak tahu apa yang akan menjadi topik pembicaraan mereka. Dulu sebelum Dinda tahu siapa Melisa, dia memang antusius berbincang dan tukar pengalaman dengan Melisa namun tidak dengan sekarang.

__ADS_1


Meskipun dia tidak membenci Melisa, hati Dinda terasa ada yang aneh saat ingat jika Melisa dan Satria dulu mempunyai suatu hubungan. Bahkan mereka dulunya cinta pertama, tentunya yang namanya cinta pertama itu sulit untuk di lupakan.


" Mbak Melisa belum mau menikah?." Tanya Dinda mulai membuka pembicaraan.


" Siapa yang mau sama aku, Din. Aku dulu mencintai seseorang tapi karena kesalahanku akhirnya pria itu melupakanku. Seandainya dulu aku tidak membohonginya, tentunya saat ini aku dan dia hidup bahagia. Tapi ya sudahlah, semua sudah masalalu. Meskipun aku masih menyimpan rasa ini, tapi aku tahu semua itu sudah tidak akan pernah lagi untuk kami bersatu."Ucap Melisa terlihat sekali dia menyesali apa yang sudah terjadi di masalalunya.


" Apa mbak tidak berusaha memberitahunya jika mbak masih sangat mencintainya? Apa mbak masih berusaha untuk mendekati dia?." Tanya Dinda ingin tahu apa jawaban Dinda.


" Aku sudah mengatakannya, tapi tidak ada respon darinya. Jika memang kami berjodoh, pasti suatu saat kami akan di persatukan."Jawab Melisa.


Dari jawaban dan apa saja yang dikatakan Melisa, Dinda sudah tahu jika Melisa masih berharap untuk bisa bersatu dengan Satria.


" Seandainya ada kesempatan, apa mbak mau menjadi yang kedua?." Tanya Dinda lagi.


" Mau. Aku sangat mau sekali, dan aku akan mengupayakan cara apapun agar aku bisa bersamanya lagi. Meskipun harus menjadi yang kedua." Jawab Melisa penuh ambisi dan keyakinan.


Dinda tidak tahu apa yang ada di fikiran Melisa, menjadi yang kedua itu tidak semudah yang dia bayangkan. Wanita berpendidikan bahkan lulusan luar negeri tapi cara berfikirnya sama sekali seperti wanita yang tidak berpendidikan. Untuk menjadi yang kedua, tentunya dia juga sudah merusak rumah tangga wanita lain.


" Apa mbak tidak malu menjadi yang kedua? Mbak itu cantik, berpendidikan tentunya banyak pria di luaran sana yang mau sama mbak. Dimana harga diri mbak jika sampai merusak rumah tangga wanita lain. Ingat mbak, jangan pernah menyakiti hati sesama wanita jika mbak sendiri tidak mau disakiti. Tidak ada mbak wanita yang mau berbagi suami, aku pun begitu. Tidak akan pernah sudi untuk berbagi suami dengan wanita seperti mbak Melisa."Ucap Dinda bicara dengan tegas.


Ddeeegghhh


Melisa langsung memandang lekat wajah Dinda. Dia kaget dengan kata-kata terakhir Dinda tadi. Dinda terlihat lebih santai dengan pandangan lurus kewajah Melisa.


" Kenapa mbak? Kaget? Aku sudah tahu siapa kamu di masalalu suamiku mbak. Aku tidak marah jika mbak masih mencintai suamiku, karena perasaan itu datangnya dari hati dan tidak bisa untuk di cegah. Tapi aku marah saat mbak Melisa mau menjadi yang kedua dan akan menghalalkan segala cara untuk memiliki suamiku. Mbak, dengan begitu kamu sudah menyakiti hatiku dan anak-anakku."Seru Dinda pelan tapi tegas dan penuh penekanan.


" Dinda, jadi kamu sudah tahu? Maaf, aku aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, Din."Seru Melisa meminta maaf. Dia tidak menyangka jika sebenarnya Dinda sudah tahu semuanya.


" Tolong mbak Melisa pulang saja, jika untuk berteman saya masih memberi izin. Tapi jika mbak sudah berniat buruk, maaf dengan tegas aku melarangnya dan lebih baik mbak Melisa jangan pernah lagi datang kerumahku dan jangan menemui suamiku lagi. Paham !!." Ucap Dinda dengan tegas.


Melisa terdiam, dia memang mengakui kesalahannya. Dia tadi terlalu bersemangat membahas cinta pertamanya, tanpa dia sadari jika dia sudah terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan Dinda.


Melisa sudah pasti malu dengan Dinda, dia pun meminta maaf kepada Dinda.


" Maaf kan aku, Din. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu dan Satria. Anggap saja tadi aku tidak pernah bicara seperti tadi, lupakan semuanya. Sekali lagi maafkan aku."Ucap Melisa sambil memegang erat tangan Dinda.


" Jika kata-kata mbak Melisa bisa di percaya aku akan memaafkan mu. Mbak Melisa itu cantik dan menarik, carilah laki-laki yang masih single." Ucap Dinda lagi.


" Iya Din, terimakasih. Aku permisi dulu ya Din, aku ada janji sama teman ku yang lainnya. Salam untuk nenek, oh iya semoga Hakim adiknya Satria cepat sembuh."Ucap Melisa berpamitan.


" Aamiin. Nanti salamnya aku sampaikan."Jawab Dinda.


Melisa memeluk Dinda, dan setelah itu dia langsung keluar dari rumah Dinda. Dia sebenarnya tidak ada janji dengan siapapun, dia hanya malu dengan Dinda.

__ADS_1


" Si4l banget sih hidup ku. Aku tadi sangat-sangat malu dengan Dinda, kenapa juga mulut ku tadi asal bicara seperti itu. Sampai kapan aku tersiksa dengan rasa ini, aku tidak bisa begini terus, aku harus melupakan Satria dab aku harus membuka hatiku untuk pria lain. Aku tidak mau di cap wanita PELAKOR!!."Seru Melisa sambil menyetir mobilnya.


* Padahal niat ku datang kerumah Satria tadi untuk meminta maaf kepada Satria, karena aku tidak mau Satria menganggap ku wanita murahan. Karena aku sudah lebih dulu menciumnya, tapi kenapa justru Satria menghindariku. Justru aku malu sama Dinda, tidak lagi-lagi aku membahas soal Satria dengan Dinda. Dinda wanita yang baik, aku tidak mungkin menyakiti nya.* Gumam Melisa dalam hati.


******


Rumah tangga Sinta dan Ardi terlihat sangat adem ayem. Mereka sama-sama saling memahami satu sama lain, Ardi mencoba menjadi suami dan Papa yang baik untuk anak dan Istrinya.


" Mas, maaf ya kalau aku justru meminta mu untuk tinggal di rumah ku yang kecil ini. Seharusnya aku bisa tinggal di rumah mu dan mengurus ibu mertuaku, tapi justru aku mengajakmu untuk tinggal disini." Ucap Sinta merasa tidak enak dengan Ardi. Seharusnya dia yang ikut kemanapun suaminya tinggal, tetapi justru Ardi yang mengikutinya.


Sinta tidak bisa meninggalkan tokonya begitu saja, apalagi toko nya juga baru merintis tapi sudah mulai kebanjiran orderan. Sinta hanya ingin, usaha yang dia bangun dari nol ini berjalan dengan lancar.


" Sinta istriku tersayang, kenapa bahas masalah itu lagi sih. Mas sudah bilangkan kalau aku dan ibu tidak mempermasalahkan semua ini. Ibu juga masih ada adikku yang menemaninya, ibu juga masih sehat. Ibu justru setuju jika kita hidup mandiri seperti ini, lagi pula usaha kamu juga ada disini dan tidak ada salahnya kita tinggal disini. Sekolah Bagas juga lebih dekat dari sini loh, mas tidak mau kamu terus-terusan membahas masalah ini." Ucap Ardi sambil mengusap pipi Sinta.


" Terima kasih mas." Ucap Sinta.


Meskipun menikah belum ada satu bulan, Ardi dan Sinta sudah merencanakan program kehamilan. Mereka ingin segera mempunyai momongan, tidak akan menunda-nunda untuk hal kebaikan.


" Kapan disini ada dede bayinya?."Tanya Ardi sambil mengusap perut Sinta.


" Semoga secepatnya ya, Mas."Jawab Sinta.


" Aamiin. Yang penting kita harus rajin buatnya sayang, siapa tahu dengan rajin buat disini cepat terisi dedek bayi." Seru Ardi sambil terkekeh.


" Mas apaan sih, kalau didengar bagaimana. Jangan bicara seperti itu kalau kita ada di luar kamar, Bagas kalau dengar dia bisa tanya banyak dan macam-macam. Bingung deh nanti kita jawabnya."Seru Sinta mengingatkan Ardi.


Hahahahaaa


Ardi tertawa dengan kekhawatiran Sinta, mana mungkin Bagas mendengarnya sedangkan Bagas saat sedang mengaji di pondok yang ada di dekat rumah.


Aaoowwww


Sinta kesal sehingga dia mencubit perut Ardi, sampai Ardi kesakitan.


" Sakit sayang." Seru Ardi merengek manja seperti anak kecil.


" Makanya jangan suka menertawakan begitu. Mau dicubit lagi?." Seru Sinta.


" Mau, tapi nanti malam saja ya. Cubitan sayang dong tentunya, heheee." Seru Ardi semakin suka menggoda istrinya.


* Ya Allah, ribuan terima kasih ku dan rasa syukurku, aku panjatkan kepadamu. Terima kasih sudah memberikan aku suami terbaik, suami yang bisa menerima segala kekuranganku. * Gumam Sinta dalam hati.


**********

__ADS_1


__ADS_2