
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Satria memandang kearah Dinda yang diam menunduk, Satria tidak tega ingin memarahi Dinda. Satria hanya ingin Dinda itu bisa bersikap tegas kepada siapapun tanpa terkecuali. Entah itu keluarganya ataupum keluarga Dinda sendiri. Satria mengajak Dinda duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Dinda masih menunduk karena takut jika satria marah, karena dia sudah memberikan uang kepada mama mertuanya secara diam-diam atau tanpa seizin Satria.
" Kenapa kamu tidak bilang sama mas ? Besok lagi kalau mama Rahma datang ke sini meminta uang, jangan kamu berikan. Semakin kamu sering memberikan dia uang, dia akan semakin menggerogoti kamu." Ucap Satria bicara dengan tegas.
" Maaf mas . Aku kira waktu itu mama sudah tidak akan meminta uang lagi. Tetapi makin ke sini mama sering datang dan meminta uang. Mama memang mengancamku agar tidak memberitahu kamu. Sebenarnya aku mau memberitahu mas Satria tapi belum sampai aku bicara mas Satria sudah tahu lebih dulu. Maafkan aku ya Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi . " Ucap dinda meminta maaf dan terlihat sangat menyesal.
Satria mengusap lembut pucuk kepala sang istri , dia tidak mungkin memarahi istrinya karena dia sangat menyayangi Dinda. Seujung kuku pun Satria tidak akan memarahi ataupun bicara kasar dengan Dinda.
" Sudah tidak apa - apa. Mas tidak akan memarahi kamu, mas hanya mau kamu itu tegas dan kalau ada apa - apa bicara dulu sama mas. Oh iya lebih baik sekarang kita pulang saja yuk. Sudah sore juga ini " Ucap Satria lembut.
" Iya mas " Jawab Dinda mengangguk sambil tersenyum .
Dinda dan satriapun akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat dalam perjalanan pulang Dinda meminta Satria untuk mampir ke mini market terdahulu. Mobil Satriapun berhenti didepan minimarket yang berlogo warna merah. Dinda turun dari mobil dan masuk ke minimarket sedangkan Satria hanya menunggu di dalam mobil saja.
Di dalam minimarket dinda menuju rok tempat barang-barang yang ingin dia beli. Namun saat dia hendak mengambil barang yang akan dia beli, ternyata sudah didahului oleh seseorang.
" Sorry aku duluan ya. Kamu ambil yang lain saja " Ucap seorang wanita yang tidak dinda kenal.
__ADS_1
" Oh tidak apa - apa mbak. " Jawab Dinda dengan ramah dan sopan sembari mengulas senyum manisnya.
Dinda memilih mengambil yang lainnya dan sudah tidak memperdulikan wanita yang tadi sudah menyerobot barangnya. Namun ada yang aneh dengan wanita itu, wanita itu memandang Dinda dari atas sampai bawah.
Merasa dirinya terus diperhatikan membuat Dinda merasa tidak nyaman. Dinda pun segera mengambil apa saja yang ingin dibeli dan segera membawanya ke meja kasir untuk segera dibayar.
" Maaf mbak. Kenapa ya kok sedari tadi memandang saya seperti itu?" Tanya Dinda memberanikan diri karena dia merasa risih dengan pandangan wanita yang saat ini juga ada di meja kasir.
" Karena penampilan kamu udik mangkanya aku melihatmu aneh aja . " Jawab wanita itu seenaknya.
Dinda memang hanya mengenakan celana panjang hiram dan kemeja warna biru muda dipadukan dengan sepatu yang dibelikan oleh nenek, harganya cukup fantastis. Dinda tadi memang dari kuliah pagi sehingga dia tidak mau berpenampilan terlalu berlebihan.
" alAda yang salah dengan penampilan saya mbak?." Tanya Dinda lagi merasa heran kenapa orang yang taruh mengenalnya mengomentari penampilannya.
" Iya dong aneh , hari gini masih ada yang berpenampilan seperti kamu? Huh pasti kamu orang kampung kan.? " Cibir wanita itu seenaknya.
" Iya saya memang dari kampung. Lagi pula tidak ada yang salah dengan penampilan saya .Saya memakai pakaian mana yang menurut saya nyaman ,bukan untuk gaya-gayaan daripada mbak pakai baju tapi tidak seperti pakai baju, kelihatan sana-sini. "Cibir Dinda lalu segera meninggalkan meja kasir karena dia sudah selesai membayar.
Dinda segera masuk ke mobil karena tidak mau perempuan tadi mengejarnya. Dan jangan sampai Satria tahu jika ada wanita yang sudah menghinanya, bisa gawat dan panjang urusannya. Setelah dinda masuk mobil Satria segera tancap gas pulang menuju rumahnya, tepatnya rumah sang nenek. Sebab satria dan dinda saat ini tinggal dirumah nenek murni.
*********
Sore hari di rumah Rena dan Beni. Beni yang baru saja pulang dari bekerja disambut dengan omelan Rena, karena Rena tadi meminta Beni untuk membelikan makanan jadi di salah satu cafe favoritenya. Namun Beni tidak mau membelikannya, bukan karena Beni pelit. Beni seperti itu pasti ada alasannya, karena sudah seminggu ini Rena tidak mau memasak dan selalu meminta beli di cafe atau restoran langganannya. Sekali beli beni harus merogoh kocek 200 ribu hanya untuk 1 kali makan saja.
Apalagi uang bulanan yang diberikan beni baru 2 minggu sudah habis. Semenjak Rena tahu Beni naik jabatan dan gajinya bertambah membuat Rena menjadi boros. Rena memang berubah tidak lagi suka cari masalah dengan Dinda dan Satria. Tidak lagi menghina mereka, tapi untuk segi tanggung jawab sebagai istri masih kurang.
__ADS_1
" Aku sudah tidak ada uang Rena. Gajian masih 5 hari lagi. Jadi kita harus irit, lagipula tadi pagi aku kasih uang 100 ribukan untuk biaya makan. Belikan ayam sama sayur itu bisa cukup sampai makan malam " Seru beni memberi pengertian kepada Rena agar Rena tidak selalu boros.
" Pelit banget sih mas ! uang 100 ribu itu sampai mana ? Belum lagi jajan anak-anak, uang nya sudah habis . Tadi sudah aku beliin makanan tadi siang buat makanku sama anak-anak." Jawab Rena dengan ketus.
" Padahal aku sudah memberimu uang 3 juta untuk biaya makan sehari-hari dan 2 juta untuk keperluanmu pribadi. Masa uang 5 juta sudah habis dalam waktu 2 minggu ? Padahal saat siang hari aku tidak pernah makan di rumah. Kamu kira mencari uang itu enak Rena ! Tolonglah kurangi dulu boros kamu itu, kita itu juga harus menabung karena anak-anak juga masih sekolah butuh biaya banyak apalagi Gibran sudah mau masuk TK. " Ucap Beni dengan tegas.
Beni tidak habis pikir dengan Rena uang 5 juta habis dalam 2 minggu. Padahal 3 juta untuk biaya makan itu sudah lebih dari cukup, apalagi listrik air Rena sudah tidak mau tahu. Semua sudah ditanggung oleh Beni sendiri. Untuk uang jajan anak-anak setiap Beni berangkat ke kantor anak-anak selalu diberi uang masing-masing 10 ribu.
Beni memang tidak mau memberi uang jajan terlalu banyak, agar anaknya tidak jajan sembarangan. Untuk Rena sendiri sudah Beni berikan uang bulanan 2 juta namun uang itu tidak tahu habis selama 2 minggu saja.
" Terus malam ini kita mau makan apa mas ? karena kamu pulang tidak membawa makanan, aku sudah tidak memegang uang. Kasihan anak-anak dia pasti lapar."Ucap rena dengan kesal.
" Padahal uang yang aku berikan tadi pagi kalau kamu belanjakan dengan benar bisa untuk kita makan sampai malam lagi pula Gibran dan Tiara sudah aku beri jatah uang jajan sendiri. Kamu sekarang bukannya mencoba berhemat tapi malah semakin boros. Mulai bulan depan untuk uang belanja akan aku berikan setiap hari saja. Sehari 100 ribu dan harus cukup sampai makan malam." Ucap Beni kembali tegas.
* Maaf Rena aku terpaksa harus tegas sama kamu ,kalau begini terus aku yakin kita tidak akan pernah punya tabungan. Apalagi anak-anak masih kecil dan dia masih memerlukan uang untuk pendidikannya. " Gumam Beni dalam hatinya.
mendengar suaminya akan memberikan uang jatah belanjanya setiap hari membuat Rena terkejut Tentu saja dia akan menolak karena jika uang itu diberikan setiap hari 100 ribu Rena tidak bisa berbelanja sesukanya.
* Jangan sampai mas Beni memberikan uang belanjanya perhari. Bisa gawat kalau sampai seprti itu, aku tidak bisa menggunakan uang itu untuk belanja kebutuhanku lagi. Kalau dalam 2 minggu habis, sudah pasti mas beni mau keluar uang seperti kemarin - kemarin jadi kebutuhan perut tetap terpenuhi.*Gumam Rena dalam batinnya.
" Aku tidak mau ! pokoknya aku mau uang belanja full langsung 3 juta tanpa kurang sedikitpun. " Tolak Rena dengan keras.
" Tidak bisa. Keputusanku tidak bisa diganggu gugat ! Kamu tenang saja, jatah pribadi kamu yang 2 juta tetap aku berikan secara full tidak aku berikan secara harian. Sudah aku capek, aku lelah. Aku mau mandi, sudah mau maghrib. Persiapkan dirimu untuk sholat magrib, jangan lupa ajak anak - anak juga. " Ucap Beni lalu meninggalkan Rena yang masih berdiri di ruang tamu.
Rena memandang kesal kepergian Beni , kedua tangan Rena mengepal. Ingin rasanya fia memukul Beni namun tidak berani. Yang ada Beni akan semakin marah dan tidak memberikan jatah bulanannya.
__ADS_1
Kedua anaknya, Tiara dan Gibran yang ada di kamar sedari tadi mendengar perdebatan antara Rena dan Beni. Untuk Gibran dia belum paham jika Papa dan Mamanya sedang ada masalah. Tapi untuk Tiara yang sudah mulai mengerti merasa sangat sedih melihat kedua orang tuanya berantem.
* Papa marah sama mama karena mama yang memang boros. Sekarang mama dikit-dikit belanja online, dikit-dikit beli makan online, kan kasihan Papa yang cari uang * Gumam Tiara dengan sedih merasa kasihan dengan Papanya.