
.
.
.
💞 HAPPY READING 💞
Seperti yang sudah dijanjikan kepada nenek murni jika dia akan memperkenalkan keluarganya kepada nenek murni. Kali ini dinda datang hanya berdua dengan nenek murni dengan diantar pak sopir, meskipun menjadi istri sang konglomerat tidak membuat dinda serta merta menjadi sombong dan lupa diri. Dia tidak lupa membawa oleh - oleh dan bingkisan untuk dibagikan kepada para tetangga sekitar.
Dinda datang dengan membawa 45 paket sembako untuk dia bagikan, untuk orang tuanya sudah pasti dinda sisihkan sendiri. Untuk pakaianpun dinda tidak memilih pakaian yang mewah dan mahal , siang ini dinda hanya mengenakan celana kulot dan kaos oblong rumahan sama sekali tidak mencerminkan istri konglomerat.
" Ini rumah orang tua kamu din ?" Tanya nenek murni pura - pura tidak tahu.
Padahal dia dari awal sudah tahu , bahkan bagaimana perlakuan keluarga dindapun sang nenek tahu. Selama ini nenek hanya pura - pura tidak tahu, yang dia tidak tahu hanya satu. Jika para kakak dinda bekerja di perusahaannya, hal itu sama sekali tidak diketahui oleh nenek.
" Iya nek, yuk kita turun. Em.. Pak nasrul boleh saya minta tolong untuk membagikan bingkisan itu kepada para tetangga sekitar. Insya Allah itu sudah saya hitung dengan pas, cukup untuk para tetangga sini. Hanya sampai batas gang kanan itu saja ya pak,maaf soal nya yang sebelah sana sudah terhitung keluarga mampu. Tapi insya Allah kalau nanti kita berkunjung lagi , kita bawa yang lebih sehingga bisa berbagi sama gang sana juga. " Ucap dinda menjelaskan .
" Alhamdulillah.. Baik Non akan saya bagikan. " Ucap pak nasrul dengan patuh.
Dinda tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Diapun mengajak nenek murni turun dari mobil dan menuju rumah orang tua dinda.
Tok Tok Tok
" Assalamualaikum " Seru dinda sambil mengetuk pintu rumah orang tuanya.
Cukup lama mereka menunggu akhirnya pintu terbuka dan ternyata ibu rahayu yang membukakan pintu untuk dinda. Tidak ada wajah bahagia sama sekali yang dia tunjukan untuk menyambut kedatangan dinda , yang memang anak kandungnya sendir. Justru dia menunjukan wajah sinis dan tidak bersahabat.
Tidak dapat dipungkiri jika dinda merasa sikap ibunya ini memang sangat berlebihan. Apalagi saat ini dia datang tidak sendiri, tetapi ada nenek murni yang bisa dibilang adalah besannya sendiri.
" Mau apa kamu datang kemari ?" Tanya ibu rahayu dengan ketus.
" Jawab salam dulu dong bu. " Ucap dinda.
" Tidak perlu ! Sudahlah tidak perlu berbasa - basi kamu mau apa datang kesini ? Mau menertawakan para kakakmu yang dipecat sama suami sombong mu itu ? Sudah kaya bukannya berbagi sama saudara nya eh ini malah dipecat, seharusnya dinaikin jabatan atau bagaimana,ini main asal pecat saja. Dasar menantu tidak tahu diri !" Gerutu ibu rahayu tanpa sungkan padahal dihadapannya ada neneknya satria. Tetapi dia memang belum tahu jika itu adalah neneknya satria.
Nenek satria hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan ibu kandung sang menantunya. Dari cara bicaranya dia sudah dapat menyimpulkan jika ibu rahayu itu adalah orang yang mendewakan kekayaan.
" Siapa tamunya buk , kenapa tidak ibu suruh masuk " Ucap pak karim.
" Loh dinda, ternyata kamu nak. Kamu datang sama siapa ini ? Yuk masuk dan jangan hiraukan ibumu yang mengoceh tidak jelas. " Ucap pak karim menyambut bahagia kedatangan dinda dan orang disamping dinda yang dia yakini nenek satria.
Dinda dan nenek mengangguk dan tersenyum ramah, merekapun masuk dan duduk diruang tamu yang terlihat sedikit kotor. Dulu saat dinda masih tinggal dikontrakan sebelah dia selalu datang kerumah orang tuanya untuk membantu membersihkan rumah.
__ADS_1
" Oh iya pak , buk kenalkan ini nenek murni . Beliau ini neneknya mas satria , tadi beliau yang mengajak kesini dan ingin mengenal bapak dan ibu " Ucap dinda memperkenalkan nenek murni kepada kedua orang tuanya.
" Orang kaya tapi datang tidak bawa apa - apa " Ucap ibu rahayu melirik dinda dan nenek murni dengan sinis.
" Hussstt... Ibu tiddk boleh bicara seperti itu. Sudah sana buatkan minum dulu. Salam kenal ya bu murni, selamat datang digubuk kami. Maaf atas ucapan istri saya." Ucap pak karim menegur istrinya yang tidak tahu malu, lalu meminta maaf dengan nenek murni.
" Iya tidak apa - apa pak, saya memakluminya. Sudah tidak usah repot - repot pak buk. Kami tadi sudah minum kok, oh iya nanti oleh - olehnya biar diturunkan sama pak sopir. Beliau sedang membagikan bingkisan untuk para tetangga sekitar sini " Ucap nenek murni berhasil membungkam mulut besan perempuannya itu .
Dan benar saja , baru saja nenek berhenti bicara pak nasrul sudah masuk sambil membawa 1 karung beras kemasan 20 kg kedalam rumah.
" Maaf non ini mau ditarok mana ? Tadi bapak ada yang bantuin bagiin jadi bisa cepat selesai " Ucap pak nasrul tahu jika dinda bingung karena dia cepat sekali selesainya.
" Oh begitu, letakkan di sudut pintu tengah itu saja pak " Ucap dinda dengan sopan.
Pak nasrul mengangguk paham, beras sudah diletakkan dan kini dia kembali membawa masuk sembako yang lainnya. Setelah kurang lebih 7 menit semua barang bawaan dinda sudah tersusun rapi di tempatnya. Ada 1 karung beras, 1 kardus minyak makan, 1 kardus mie goreng, ada gula kopi teh dan lainnya. Semua itu bisa cukup sampai 2 bulan kedepan.
Melihat barang bawaan yang banyak begitu membuat ibu rahayu takut, takut jika uang jatah bulanannya akan di potong untuk mengganti barang - barang bawaan dinda.
" Tapi itu tidak memotong uang bulanan ibu kak ?" Tanya ibu rahayu segera meminta kejelasan. Dia tidak mau rugi dengan uang bulanannya yang terpotong.
" Ibu tenang saja, uang bulanan ibu tetap utuh dan akan dinda transfer setiap awal bulan." Jawab dinda dengan hati teriris sakit dan sangat perih atas perlakuan ibu kandungnya sendiri.
Dulu dia mengira saat tahu satria orang kaya , ibunya akan bisa berubah menyayangi dan menghargai satria sebagai menantu dengan tulus. Namun dia salah, ibunya tetap membenci dirinya dan satria , tetapi tetap mau uangnya. Ibunya menuntut ini dan itu tetapi tidak bisa bersikap dengan baik kepada satria dan dinda.
" Bapak ini sudah diam saja " Bentak ibu rahayu dengan ketus.
" Dinda, untuk uang bulanan lebih baik kamu simpan saja. Bapak dan ibu inikan cuma hidup berdua, sembako itu tadi tidak akan habis sampai 2 atau 3 bulan kedepan. Dan untuk makan sehari - hari bapak ada sawah yang digarap orang. Dari sana kami bisa mendapatkan bagian dari hasil panen setengahnya" Ucap pak karim.
Ibu rahayu melotot kearah suaminya, bisa - bisanya dia minta dinda untuk menghentikan kiriman uang setiap bulannya dan mengandalkan hasil panen yang tidak seberapa. Seminggu sekali hanya dapat bagian 700 ribu dari pengelola sawah, karena sawah itu ditanami sayuran dan tomat jadi bisa dipanan setiap hari. Saat ini untuk tomat memang masih musim panin, sehingga seminggu bisa dipanen sampai 3 kali dalam seminggu.
" Tidak pak, dinda tetap akan memberikan uang bulanan untuk bapak ataupun ibu. Karena itu juga keinginan mas satria, dia juga ingin berbakti dengan bapak dan ibu. " Jawab dinda.
Ibu rahayu tersenyum dengan puas, seperti merasa menang karena keinginannya untuk tetap menerima uang bulanan dari dinda tetap berjalan dengan baik alias tidak akan dihentikan.
" Nenek dinda kebelakang dulu ya " Ucap dinda .
" Iya sayang " Jawab nenek dengan manis.
Dari cara memanggil dan memperlakukan dinda, sangat terlihat sekali jika nenek murni sangat menyayangi dan menghargai dinda . Tidak seperti ibunya sendiri yang sama sekali tidak perduli dengan dinda anak kandungnya nya sendiri.
" Ibu tadi namanya siapa ?" Tanya ibu rahayu yang akhirnya mau berbicara dengan baik kepada nenek murni.
" Panggil saja ibu murni buk " Jawab nenek sedikit heran karena ibu rahayu yang tadinya galak dan sinis kini mau berbicara dengan baik dan ramah.
__ADS_1
" Oh iya ibu murni. Oh iya bu, memangnya kedua kakaknya dinda tidak bisa gitu ditarik kembali keperusahaan terus dikasih jabatan atau posisi yang bagus di perusahaan itu . " Ucap ibu rahayu ternyata ada udang dibalik bakwan.
" Maaf bu, kalau soal perusahaan itu urusan sama mas satria. Aku dan nenek tidak tahu apa-apa soal perusahaan, semuanya mas satria dan dia yang berhak menentukannya. Lagipula mas reno dan mas rudi sudah berbuat curang dan bekerja tidak profesional, jadi jangan salahkan mas satria jika memecat mereka " Ucap dinda yang keluar dari dapur sambil membawa 4 cangkir teh untuk nenek dan kedua orang tuanya. Serta untuk pak nasrul yang ada diteraa depan, setelah meletakkan 3 cangkir teh diatas meja. Dinda kembali melangkah keteras depan untuk memberikan tehnya pak nasrul.
Ibu rahayu langsung menatap sinis dinda dan dia kembali menunjukan wajah sinis dan ketusnya seperti tadi. Menurutnya percuma bicara dengan neneknya satria jika dia saja tidak punya kekuasaan di perusahaan.
" Buk, pak , nek diminum tehnya" Ucap dinda.
" Terimakasih menantu ku tersayang . " Ucap nenek mengambil teh dan meminumnya..
" Pak, buk besok malam nenek mengundang keluarga kita untuk makan malam dirumah nenek. Nanti dinda akan suruh pak nasrul untuk jemput bapak , ibu dan keluarganya mbak rena. Mas reno kan ada mobil dia bisa naik mobilnya sendiri ,oh iya pak mas rudi ada sekarang tinggal dimana ?" Tanya dinda.
" Ada di kampung sebelah. Mereka ngontrak disana , tidak jauh dari rumah reno. Biarkan saja mereka tinggak disana,biar tidak bikin bapak pusing " Ucap pak karim sambil terkekeh.
Sudah cukup lama dinda dan nenek bertamu di rumah orang tua dinda. Kini mereka berdua sudah berpamitan, tidak lupa dinda memberikan sedikit rezeki untuk ibu rahayu. Tentunya diluar uang bulanannya, dinda tidak menyembunyikan apapun dari satria dan nenek. Nenekpun tidak masalah jika dinda mau memberi kedua orang tuanya.
" Nek, maafkan sikap ibu tadi ya nek. Ibu orang nya memang seperti itu, dinda saja heran nek. Sebenarnya dinda ini anak kandungnya atau bukan. " Ucap dinda sambil terkekeh untuk menutupi perasaan sedihnya.
" Iya sayang,nenek tidak mengambip hati perkataan ibumu tadi. Emm...kita mampir butik ya, nenek ingin merilekskan tubuh nenek dilantai atas " Ucap nenek tersenyum.
Lantai atas butik adalah salon kecantikan, semua paket untuk kecantikan seluruh tubuh ada disana. Dinda mengangguk setuju, dia juga ingin merilekskan tubuh dan pikirannya.
* Mungkin berendam dengan aromatherapi atau mandi susu bikin tubuhku rileks, emm..nenek pintar juga cari ide bagus untuk membuat tubuh ini rileks dan fresh. Am lupa kalau sekarang aku punya butik.* Gumam dinda dalam hatinya .
" Pak nasrul kita ke butik ya " Ucap dinda.
" Bauk Non dinda. " Ucap pak nasrul.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju lades boutiqe & Salon. Setelah 40 menit mobil sudah sampai dan dengan segera nenek dan dinda turun dari mobil, du depan butik sudah ada amara yang menunggu kedatangan mereka berdua.
" Selamat datang Nyonya dan Nona dinda " Ucap amara dengan sopan dan ramah.
" Sudah berapa kali kamu itu saya suruh memanggilku nenek, bukan nyonya !. Kamu ini nanti menjadi calon menantuku juga, karena aku sudah menyiapkan jodoh untuk mu " Ucap nenek dengan kesal.
" Maaf nek, memangnya siapa sih jodoh yang sudah nenek siapkan untuk ku.?" Tanya amara penasaran.
" Indra " Jawab nenek dengan yakin.
Uhukkk.. Uhhukkk
Tiba - tiba amara tersedak dan batuk - batuk saat mendengar nama indra disebut oleh nenek murni. Amara heran , kenapa nenek bisa ada keinginan untuk menjodohkannya dengan indra , padahal setiap ketemu sudah seperti tom and jerry. Saat masih dikantor dulu amara paling benci jika berurusan dengan Indra.
* Nenek tidak salah ingin menjodohkanku dengan pria jomblo itu ? Duchh... Nek masak iya sih aku yang cantik ini dijodohkan sama pria jomblo sejati itu. Meskipun aku jomblo tapi aku juga mikir - mikir mau sama Indra yang ngeselin itu * Gumam amara dalam batinnya.
__ADS_1
*********