
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Dinda dibawa kerumah sakit oleh pak sopir dan salah satu karyawan Cafe. Sedangkan menejer Cafe dia menghubungi Satria untuk memberitahu jika Dinda dibawa ke rumah sakit.
[Apa ? Istriku dibawa kerumah sakit?.] Tanya Satria lantang dari seberang sana sehingga sang menejer menjauhkan teleponnya dari telinganya.
[Iya pak......]
Klik
Belum juga sang menejer itu memberitahu apa yang terjadi, Satria sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya. Satria bergegas langsung keluar dari ruangannya, dan menghampiri mobilnya di basement. Tanpa menanyakan rumah sakit mana tempat Dinda dibawa, Satria langsung memaju mobilnya.
"Pasti Dinda dibawa diruman sakit yang tidak jauh dari cafe itu. Apa yang terjadi sampai Dinda harus dilarikan kerumah sakit."Seru Satria dengan melajukan mobilnya secepat kilat.
Satria tadi meninggalkan perusahaan tanpa bilang dengan sekertaris maupun Assistennya, Indra. Dia melupakan meeting dengan kliennya. Ponsel Satria terus berdering, ada panggilan masuk dari Indra.
[Hallo ada apa? Aku sedang dijalan!.] Seru Satria dengan singkat.
[Kamu ada dijalan mau kemana? Ini klien sudah datang untuk meeting, kamu malah kemana?.]Tanya Indra yang belum tahu jika Satria mau kerumah sakit.
[Aku mau kerumah sakit. Dinda masuk rumah sakit, aku lupa kalau ada meeting. Kamu saja yang handel meeting nya.]
Satria kembali mematikan sambungan teleponnya, dia terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah 30 menit mobil Satria sudah sampai di Rumah Sakit Sehat yang tidak jauh dari Cafe milik Dinda. Dengan segera Satria masuk rumah sakit dan menanyakan ruangan Dinda kepada pihak informasi. Ternyata Dinda masih ada di ruangan UGD.
"Pak Maman, bagaimana keadaan Dinda?." Tanya Satria dengan panik saat sudah sampai didepan ruangan UGD. Ada pak Maman dan Tina pegawai Cafe yang sedang menunggu.
"Pak Satria? Maafkan saya pak, sudah lalai menjaga bu Dinda. Bu Dinda ada didalam, sedang di tangani oleh dokter."Jawab pak Maman dengan ketakutan.
"Apa yang terjadi pak?."Tanya Satria ingin tahu apa yang sudah terjadi sehingga istrinya sampai masuk rumah sakit.
Pak Maman menceritakan semua kejadian yang terjadi di Cafe tanpa ada yang terlewatkan. Setelah mengetahui jika Sarah adalah pelaku utama yang membuat Dinda masuk rumah sakit, Satria mengepalkan kedua tangannya dan langsung menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan Sarah. Kali ini Satria ingin memberi perhitungan dengan Sarah dengan menggunakan tangannya sendiri.
*Lihat saja apa yang ingin aku perbuat dengan mu, Sarah. Kamu sudah membuat istri ku masuk rumah sakit dan kesakitan, tidak ada kata maaf untuk kamu Sarah.*Gumam Satria dari dalam batinnya.
Ceklekkk
__ADS_1
Pintu ruangan UGD terbuka dan keluarlah dokter yang tadi menangani Dinda. Satria langsung memberondong dokter dengan beberapa pertanyaan.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter? Kandungannya bagaimana? Semuanya baik-baik saja kan, dokter?." Seru Satria dengan wajah khawatirnya.
"Maaf pak, sepertinya kita harus mengambil tindakan untuk operasi, untuk menyelamatkan bayinya. Ibu Dinda mengalami pendarahan yang cukup serius, mungkin akibat benturan. Jadi saya harap bapak bisa mengurus semua surat-surat persetujuannya."Ucap dokter membuat Satria semakin khawatir.
Degggghhhh
Jantung Satria seakan tidak berfungsi dengan baik saat mengetahu Dinda harus operasi. Bagaimana bisa operasi, padahal usia kandungan Dinda baru 8 bulan. Satria sangat mengkhawatirkan istri dan calon anaknya.
"Tapi usia kehamilan istri saya baru 8 bulan dokter?." Seru Satria.
"Tidak apa-apa pak, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Namun jika tidak dilakukan operasi akan membahayakan kandungan ibu Dinda."Ucap dokter kembali menjelaskan.
"Baik dokter, saya setuju dan lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya. Saya akan memgurus semuanya."Ucap Satria.
"Baiklah pak. Kami akan segera membawa ibu Dinda diruang operasi, bantu doa ya pak." Seru dokter dengan ramah.
Setelah semuanya siap, operasi Dindapun dilaksanakan. Satria sendirian menunggu diruangan operasi, pak Maman sudah pulang mengantarkan Tina ke Cafe dan menjemput pak Karim dan ibu Rahayu sesuai dengan perintah Satria.
Sudah 20 menit namun operasi belum juga selesai, pak Karim serta ibu Rahayi yang baru sampai dirumah sakit langsung menghampiri Satria.
"Satria ? Apa yang terjadi dengan, Dinda?."Tanya ibu Rahayu dengan khawatir.
"Maaf pak, bu. Satria tidak bisa melindungi Dinda, tadi seharusnya Satria tidak mengizinkan Dinda ke Cafe. Satria menyesal tadi sudah membiarkan Dinda keluar rumah. Semua ini gara-gara mbak Sarah juga, mbak Sarah dan Dinda ribut di Cafe dan akhirnya seperti ini."Seru Satria juga menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dialami oleh Dinda.
" Sarah ! Jadi Sarah yang menyebabkan Dinda masuk rumah sakit?." Seru Reno yang tiba-tiba sudah ada disana.
Setelah mendapat telepon dari ibunya, Reno langsung meluncur kerumah sakit untuk melihat keadaan adiknya. Dan kenyataan baru dia dapati,ternyata Sarah lah yang sudah membuat adiknya harus masuk rumah sakit.
"Sarah."Seru pak Karim dan ibu Rahayu.
"Iya Sarah. Kejadian pastinya Satria belum tahu. Dari cerita pak Maman tadi Sarah dan Dinda sempat ribut di parkiran."Seru Satria mencoba menjelaskan.
Oooeeekkkk Oeeekkkk Ooekkk
Akhirnya mereka semua di kagetkan dengan tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Sudah pasti itu bayi Dinda, semua orang mengucapkan rasa syukur.
"Alhamdulillah anakku sudah lahir. Tapi bagaimana keadaan Dinda?." Seru Satria. Ingin sekali dia menerobos pintu ruangan operasi dan melihat keadaan Dinda.
"Sabar Satria, Insya Allah Dinda akan baik-baik saja. Dinda itu wanita yang kuat dan tangguh, pasti dia bisa melewati semua ini."Seru Reno menepuk punggung adik iparnya.
__ADS_1
Dokterpun keluar dari ruangan operasi dengan suster menggendong bayi yang masih merah.
"Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan lancar, bayinya laki - laki. Terlahir dengan selamat, dengan berat 2,4 kg dengan panjang 49 cm. Kami bersihkan dulu ya pak bayinya, namun kami akan menempatkan bayi pak Satria di inkubator, dan untuk ibunya masih belum siuman. Setelah ini kami akan memindahkan ibu Dinda keruang perawatan."Ucap dokter.
Semua keluarga terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter. Sampai detik ini Satria masih menghawatirkan keadaan anak dan istrinya.
"Apa yang terjadi dengan anak saya dokter? Dan apa boleh saya melihat istri saya dokter?."Tanya Satria sudah tidak sabar ingin melihat Dinda.
"Anak bapak tidak apa-apa. Karena anak bapak lahir diusia kehamilan yang baru 32 minggu dan berat badannya juga tergolong rendah, jadi kami harus menempatkannya di inkubator terlebih dahulu. Nanti ya pak, setelah kami pindahkan ke kamar rawat terlebih dahulu, baru bu Dinda boleh dijenguk "Ucap dokter menjelaskan dengan ramah.
"Lakukan perawatan yang terbaik untuk anak dan istri saya, Dokter."Ucap Satria.
"Baik pak Satria."Jawab dokter dengan ramah dan singkat.
Satria dan yang lainnya melihat bayi dalam gendongan perawat. Bayi itu masih terlihat sangat merah dan kecil, Satria mencium sekilas anaknya. Setelah itu perawat membawa bayi itu untuk dibersihkan terlebih dahulu.
"Sabar ya. Semua pasti akan baik-baik saja."Seru Reno.
"Iya mas."Jawab Satria singkat.
*******
Kini Dinda sudah dipindahkan diruang perawatan ditemani oleh ibu Rahayu dan pak Karim. Satria dan Reno ada diruangan bayi.
"Apakah sudah selesai di adzanin pak?." Tanya suster dengan ramah.
"Sudah suster."Jawab Satria.
"Baiklah kalau begitu bisa Bapak keluar ya, maaf kami tidak bermaksud untuk mengusir. Sebab ini sudah prosedur dari rumah sakit, jika bapak ingin melihat anak bapak bisa melewati kaca dari sana."Ucap suster dengan ramah.
"Baik suster. Terimakasih, kami akan keluar."Jawab Satria dan di angguki oleh Reno.
Satria dan Reno keluar dari ruangan bayi, disana ada 5 bayi yang ada di inkubator dan anak Satria menjadi salah satunya. Dengan langkah gontai Satria menjauh dari ruangan bayi dan menuju kamar rawat Dinda.
"Apa yang ingin kamu lakukan untuk membalas perbuatan, Sarah?."Tanya Reno.
"Belum tahu mas. Yang penting aku akan membalas dengan tanganku sendiri, penjara saja tidak akan membuat dia jera."Seru Satria dengan geram.
"Baiklah. Aku dukung apapun yang kamu lakukan, Sarah memang harus dibuat jera. Tapi jangan kasih tahu bapak dan ibu jika kamu akan membalas Sarah dengan tanganmu sendiri, bilang saja kamu serahkan Sarah sama polisi. Bapak dan ibu pasti tidak mau jika kamu berbuat kasar dengan tangan kamu sendiri."Ucap Reno membetikan saran.
Satria mengangguk setuju dengan saran yang diberikan oleh kakak iparnya. Kini mereka sudah sampai di depan ruang perawatan Dinda, mereka berdua masuk dan terlihat Dinda berbaring di atas brankar dalam keadaan mata terpejam.
__ADS_1
**********