
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Proses pulangnya Dinda dan Bayinya sama sekali tidak dipersulit oleh pihak rumah sakit. Dokter Iren dan Suster Ima ikut pulang kerumah Satria, dokter dan suster yang akan bergantian memeriksa Babby yang belum bernama itu. Kini mereka semua sudah berada di rumah Satria, dirumah utama.
Bayi yang belum bernama itu saat ini sudah ditempatkan di kamar tersendiri yang akan dijaga oleh suster Ima. Sedangkan dokter Iren akan pulang disaat sore hari, dan malam akan kembali datang jika dibutuhkan.
" Kamar suster Ima mau jadi satu sama ruang inkubator ini atau mau berbeda?." Tanya Dinda memberikan kebebasan terhadap suster yang menjaga anaknya.
"Satu kamar disini saja bu, Dinda. Jadi saya bisa kapanpun memantau adik bayinya. Maaf kalau boleh tahu nama adik bayinya siapa ya Bu, agar saya lebih mudah memanggilnya."Ucap suster Ima dengan sopan.
Dinda langsung memandang kearah Satria, sebab dia juga belun tahu siapa nama anaknya. Sebab Satria sendiri yang akan memberi nama anaknya, namun sampai sekarang Satria belum memberitahu siapa nama yang akan dia berikan kepada anaknya.
"Mas, siapa anak kita?."Tanya Dinda memandang kearah suaminya.
"Emmm.... Raja perkasa wardoyo. Apa kamu setuju jika nama itu aku berikan untuk anak kita? Kira bisa memanggilnya Raja atau Erka."Seru Satria meminta persetujuan Dinda.
" Nama yang bagus mas, aku suka nama yang mas berikan. Untuk panggilannya kita panggil Raja saja ya mas."Ucap Dinda terlihat menyukai nama yang diberikan oleh Satria.
Satria mengangguk dan akhirnya nama Raja yang dipilih untuk memanggil anaknya. Satria dan Dinda keluar dari kamar Raja dan meminta suster Ima untuk menjaganya. Sedangkan Satria membawa Dinda kekamar untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Mas, kira-kira kapan ya aku bisa leluasa menggondong bayi kita?." Tanya Dinda yang tiba-tiba wajahnya berubah murung.
"Sabar ya sayang, mas juga ingin bisa menggodong Raja. Tetapi kita harus sabar dulu, semoga semua ini segera berlalu. Raja itu anak yang kuat, dia pasti bisa melewati ini semua dengan baik dan cepat."Ucap Satria yang kini sudah memeluk Dinda.
"Iya mas, aamiin."Ucap Dinda.
Satria menemani Dinda dikamar sampai Dinda memejamkan matanya. Tidak menunggu lama Dindapun terlelap, sebab dia habis minum obat juga sehingga bawaan dia mengantuk. Dinda sudah tidur, Satria keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan nenek dan ibu mertuanya yang tadi ikut juga pulang kerumahnya.
"Bu, Nek. Maaf Satria titip Dinda ya, kalau Raja sudah ada suster yang menjaganya. Satria ada urusan dikantor sebentar, tolong kalau Dinda bangun sampaikan kalau saya kekantor."Seru Satria yang memang ingin kekantor untuk menemui Indra. Dia ingin membahas soal hukuman yang pantas untuk Sarah.
__ADS_1
"Raja?." Seru nenek dan ibu Rahayu bersamaan.
Nenek dan Ibu Rahayu saling pansang, siapa yang dimaksud Raja oleh Satria? Tadi memang saat Satria mengatakan nama anaknya, nenek dan ibu mertuanya tidak ada dikamar rawat Raja.
"Raja itu nama anak Satria dan Dinda. Bagaimana, nenek dan ibu setujukan dengan nama yang Satria berikan kepada anak kami?."Seru Satria menjelaskan kepada kedua wanita paruh baya yang ada dihadapannya.
"Nama yang bagus."Ucap mereka berdua bersamaan.
Satria mengangguk sembari tersenyum lalu dia berpamitan kepada nenek dan ibu mertuanya. Dengan segera dia menuju perusahaan yang memang sudah selama 2 hari dia tidak datang ke perusahaan. Satria memacu kecepatan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat di lampu merah dia berhenti. Dia melihat ada Hakim didalam mobil tepat di samping mobilnya.
*Hakim dan Sinta? Hemmm pasti dia sedang mencari keberadaan Sarah. Oh iya bagaimana kabar Mama dan Papa? Bukannya aku waktu itu ada janji sama Dinda untuk menjenguk mereka, namun sampai sekarang belum juga terlaksana. Anak manja itu juga pasti hanya memanfaatkan Sinta saja, mana bisa dia berdiri sendiri jika tanpa adanya Sinta. Selama ini dia hanya berlindung dibawah ketek mamanya saja.*Gumam Satria dalam hatinya sembari melirik kearah Hakim dan Sinta.
Merasa ada yang memperhatikannya, Sarah melirik kesamping. Dia melihat ada Satria yang melihat kearah mereka, mereka saling tatap sebab kaca mobil mereka sama-sama diturunkan.
"Mas itu bukannya Satria kan? Atau jangan-jangan dia ada hubungannya dengan menghilangnya, Sarah?." Seru Sinta berpendapat jika Satria ada hubungannya dengan menghilangnya Sarah.
"Itu memang Satria. Sudahlah, kamu jangan mikirin yang tidak-tidak. Ada hubungan apa Satria dan Sarah sampai Satria nenculik Sarah. Lebih baik kita jangan berurusan lagi dengan Satria, ingat Sinta. Satria itu tahu tentang bisnis kita, jika kita melawan dia sudah dapat dipastikan usaha kita akan hancur dan kita akan mendekam didalam penjara. Kamu mau hidup bertahun-tahun dalam penjara?." Tanya Hakim dengan serius.
"Ogah amat hidup dipenjara."Jawab Sinta dengan singkat.
Sementara saat ini, Reno sedang sibuk menyeken satu persatu barang belanjaan pelanggannya yang hendak membayar barang belanjaannya.
"Totalnya 430 ribu, Bu. Mau kas atau mau pakai kartu?." Tanya Reno dengan ramah.
"Kas saja pak, Reno. Dan ini uangnya pak."Ucap pelanggan dengan ramah.
Siapapun orangnya pasti akan ramah dan sopan serta menghargai kita, jika kita juga melayani mereka dengan sopan dan ramah. Adab itu sangat penting, Namun tidak berlaku bagi orang-orang yang memang sirik dan mempunyai penyakit hati. Contohnya seperti Sarah dan Sinta, dibaikin lama-lama dia akan ngelunjak dan bersikap semaunya.
"Oh iya bu, kembaliannya tunggu ya."Ucap Reno sambil menerima uang 5 lembar warna merah.
Setelah menghitung jumlah uang, Reno memberikan uang kembalian kepada ibu-ibu yang ada didepannya. Baru juga ibu itu pergi dari tokonya, tiba-tiba Sinta san Hakim datang ketokonya. Perasaan Reno tidak enak, pasti akan terjadi keributan jika mereka berdua sudah datang.
"Ramai juga toko kamu ini, Reno?."Tanya Sinta sembari mengitari sekeliling ruangan toko.
"Alhamdulillah. Mau apa kamu datang kesini?"Seru Reno sama sekali tidak menyambut dengan baik kedatangan Sinta dan Hakim.
__ADS_1
"Sabar, tenang. Jangan marah-marah dulu dong Ren. Aku datang kesini mau menanyakan soa Sarah. Kamu tahu tidak Sarah itu ada dimana? Sudah 3 hari ini kami mencari keberadaan Sarah tetapi tidak ada hasilnya."Seru Sinta menanyakan perihal Sarah kepada Reno.
Reno tidak tahu Sarah ada dimana, namun dia tahu jika Sarah saat ini memang ada dengan Satria. Atau tepatnya disekap oleh Satria, Reno tidak akan memberitahu jika Sarah ada bersama Satria. Dia kebih memilih diam dan bungkam serta pura-pura tidak tahu menahu soal Sarah.
"Kok tanya Sarah sama saya? Heiii Sinta, kamu itu pikun atau memang sudah lupa. Aku dan Sarah itu sudah bercerai dan tidak ada hubungan apa-apalagi. Aku sudah tidak mau tahu lagi dengan kehidupan Sarah, salah besar kamu Sinta!!."Seru Reno tegas.
"Kamu ini kan belum lama ini cek cok sama Sarah, pasti kamu dendam dan pasti kamu yang sudah membayar preman untuk membawa Sarah. Sudahlan mengaku saja, Reno."Seru Sinta dengan kesal.
"Sinta, Sinta. Biarpun aku ini pernah ribut dengan Sarah, aku tidak ada waktu mengurusi wanita yang bernama Sarah. Untuk apa aku mengurusi dia, lebih baik aku mengurusi hari pernikahanku saja."Ucap Reno dengan ketus.
"Jadi kamu benar tidak tahu dimana, Sarah?." Tanya Hakim yang akhirnya ikut buka suara.
Reno memandang sinis kearah Hakim yang berdiri tepat disamling kiri Sinta.
"Aku tidak tahu. Bukannya kamu itu pacar Sarah, eh calon suami Sarah ya kok aku lupa. Bukannya kamu juga baru sekitar dua atau tiga minggu yang lalu datang dengan mesranya ke toko ku bersama Sarah. Dan setahuku Sarah mengenalkanmu dengan sebutan calon suami? Heemm apa aku yang salah dengar ya?." Seru Reno sambil menyeringai dengan licik. Dia sengaja bicara seperti itu agar Sinta tahu kelakuan suaminya dan sahabatnya itu.
Benar saja, setelah mendengar pernyataan dari Reno, Sinta langsung menatap tajam kearah Hakim. Hakim terlihat sekali gugup dan salah tingkah. Kali ini Hakim salah lagi mendatangi tempat dan cari perkara dengan Reno.
"Apa benar begitu, Mas? Diam-diam kamu dan Sarah masih berhubungan?."Tanya Sinta dengan mata melitot bulat seperti bola pingpong.
"Dia bohong ! Pasti dia sengaja ingin menghancurkan rumah tangga kita saja, Sayang. Emm lebih baik sekarang kita pergi dari sini saja. Sebab tempat ini tidak sehat untuk hubungan kita berdua. Sepertinya Reno masih belum terima dengan kandasnya rumah tangganya bersama Sarah, sehingga dia mencoba menghasut hubungan kita."Ucap Hakim mencoba membela diri meskipun dengan kebohongan.
"Awas kamu kalau sampai macam-macam mas. Aku tidak segan-segan menendangmu dari kehidupanku, biar kamu jadi gembel sekalian."Seru Sinta mengancam Hakim.
Setelah bicara seperti itu, Sinta berjalan ke luar toko dan meninggalkan toko Reno. Dengan diikuti oleh Hakim di belakangnya. Hakim sempat berhenti sejenak dan memandang ke arah Reno dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aneh-aneh saja orang itu pak. Ternyata mantan kakak ipar pak Reno itu tidak punya adab dan sopan santun ya, datang-datang marah."Seru Cika yang sedari tadi hanya memperhatikan keributan yang terjadi di hadapannya.
" Begitulah manusia, Cika."Ucap Reno sambil menggelengkan kepalanya.
"Cika, aku titip toko ya. Nanti kalau ada barang datang tolong telepon saya. Saya mau pulang dulu, ada urusan yang harus saya selesaikan."Ucap Reno sembari bersiap-siap.
"Iya pak."Jawab Cika dengan sopan.
Reno keluar dari toko dan menghampiri mobil yang terparkir dihalaman toko. Tujuan utamanya saat ini adalah kampus Cahaya, sebenarnya Reno ingin menjemput Cahaya yang saat ini ada kampus. Pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi membuat Cahaya justru semakin sibuk dengan urusannya dikampus. Sehingga dia belum mengambil hari untuk libur kuliah.
__ADS_1
**********