
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Malam ini, Hakim datang membawa calon istri yang sudah dia janjikan dengan keluarganya. Tepat jam setengah 8 malam, Hakim sampai rumah utama yang di tempati Satria.
" Hakim, mana calon menantu nenek?."Tanya nenek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon istri Hakim.
" Ada nek sebentar ya, dia malu-malu nek."Ucap Hakim dengan senyum mengembang.
Nenek dan Satria memang sengaja menyambut kedatangan Hakim. Dinda ada di meja makan sedang membantu bibi menghidangkan makanan.
Wanita yang di tunggu-tunggu pun masuk ke ruang tamu. Namun tiba-tiba Satria terdiam setelah tahu siapa wanita yang akan menjadi adik iparnya.
Ddeegghh
* Melisa.*Gumam Satria dalam hati.
" Wahh nak Melisa ya? Kenapa kamu tidak bilang kalau Melisa calon menantu nenek?."Seru nenek Murni bahagia.
" Buat kejutan Nek."Jawab Hakim.
Melisa berjalan mendekati nenek dan Satria lalu dia bergantian menyalami dan menyapanya. Wajah Satria terlihat datar, dia tidak menyangka jika Melisa akan menjadi adik iparnya. Mungkin jika dari awal dia tahu, dia akan meminta Hakim untuk menjauhi Melisa.
" Apa kabar nek?."Seru Melisa lembut sambil memeluk nenek Murni.
__ADS_1
" Baik sayang. Kamu beneran pacaran sama cucuku, Hakim?."Tanya nenek memastikan.
" Iya nek."Jawab Melisa dengan singkat.
" Ohh nenek sangat senang sekali. Kalau begitu, sekarang kita langsung makan saja yuk. Nanti setelah makan malam baru kita lanjutkan obrolan kita."Ucap nenek mengajak Melisa menuju ruang makan.
Hakim dan Satria masih berada di ruang tamu, Hakim sudah tahu dari Melisa jika Satria adalah mantan pacarnya. Melisa sudah menceritakan semuanya kepada Hakim, agar suatu saat nanti tidak ada yang salah paham. Hakim terlihat canggung saat Satria menatap ke arahnya.
" Kak Satria, maafkan aku. Aku tahu Melisa itu mantan pacar kakak, tapi aku tahu itu semua seminggu yang lalu setelah aku dan Melisa jadian. Kak, aku dan Melisa saling mencintai dan aku pastikan Melisa tidak akan mengganggu rumah tangga kakak dan kak Dinda."Ucap Hakim dengan penuh keyakinan.
" Tidak perlu minta maaf, soal hati kita tidak pernah tahu. Ya sudah yuk kita makan dulu, kasihan mereka sudah menunggu kita."Ucap Satria merangkul Hakim dan mengajaknya masuk ke ruang makan.
Sementara itu, Dinda pun terkejut dengan kedatangan Melisa. Tidak ada yang mengundangnya namun dia datang dan akan ikut makan malam.
" Loh Melisa? Kamu kesini juga?."Tanya Dinda dengan heran.
" Loh bagaimana si sayang? Melisa ini yang akan menjadi istrinya Hakim. Dari pertama kali dia datang kerumah ini, nenek itu sudah punya keinginan untuk menjadikan dia istri Hakim. Ternyata kesampaian juga, kalau jodoh memang tidak akan kemana."Ucap nenek Murni.
Satria dan Hakim sudah bergabung di meja makan, mereka makan malam bersama-sama. Sesekali di serta obrolan basa-basi antara Dinda dan Melisa. Dinda terlihat biasa saja, sedikitpun dia tidak menaruh rasa cemburu. Dia sadar jika setiap orang pasti punya masalalu, apalagi hubungan Melisa dan Satria dulu terjalin jauh sebelum Dinda mengenal Satria.
Setelah 30 menit, acara makan malam sudah selesai. Meja makan di berskan oleh kedua ART yang bekerja dirumah itu. Mereka saat ini berkumpul di ruang keluarga untuk membahas acara lamara Hakim dan Melisa.
" Saya kapan saja siap jika mas Hakim mau melamar saya. Orang tua saya juga sudah mengenal mas Hakim. Mama berharap jika mas Hakim segera menghalalkan saya, mama takut saya menjadi perawan tua.hehee"Ucap Melisa sambil tertawa kecil.
" Wahh diam-diam Hakim ini sudah bergerak cepat juga ya? Langsung berkenalan dengan orang tuanya mbak Melisa."Seru Dinda menggoda adik iparnya itu.
" Iya dong. Kalau tidak cepat nanti keburu di ambil orang. Lagi pula Melisa ini kan cantik, pintar dan punya karier bagus. Justru aku yang sangat beruntung bisa mendapatkan wanita seperti dia."Ucap Hakim sambil melirik Melisa.
Satria terus memperhatikan Hakim dan Melisa, Satria khawatir jika Hakim hanya dijadikan pelarian Melisa saja. Tapi dilihat dari sorot mata Melisa, dia seperti benar-benar serius dan tulus dengan Hakim.
__ADS_1
* Semoga saja Melisa tidak akan mempermainkan perasaan Hakim.*Gumam Satria dalam hati.
Setelah obrolan panjang lebar, Hakim memutuskan jika seminggu lagi dia akan melamar Melisa kepada orang tuanya. Satria sebagai kakak setuju-setuju saja dengan keputusan Hakim.
*****
Sementara itu di rumah Sinta, saat ini Sinta dan Ardi sedang membicarakan soal permintaan Sarah yang meminta mereka untuk merawat anaknya.
" Mas, bagaimana tawaran Sarah tadi siang? Aku merasa ada yang aneh dengan Sarah mas?."Tanya Sinta.
" Mas juga bingung Ma. Apa kita ambil saja ya tawaran Sarah, setidaknya kita urus anak itu sampai Sarah benar-benar sembuh baru nanti kita serahkan lagi anak itu kepada Sarah. Mad kasihan sama anak Sarah jika berlama-lama di rumah sakit. Itu mbak Ira juga tidak mungkin bisa mengurus, seban dia sendiri juga sibuk bekerja terus belum lagi mengurus dan menemani Sarah."Jawab Ardi lebih bijak lagi.
Sinta menimang-nimang usulan dari suaminya. Tidak ada salahnya mereka membantu Sarah untuk mengurus anaknya. Siapa tahu dengan begitu Sarah akan semangat untuk sembuh dan tidak kefikiran terus menerus dengan anakknya. Lagi pula jika bukan mereka siapa lagi yang akan membantu Sarah. Meskipun dulu mereka rival, Sarah juga dulu sudah banyak menghasilkan uang untuk Sinta.
" Baik mas, aku setuju dengan usulan mas. Besok kita datang lagi kerumah sakit dan kita bawa anak Sarah. Mas benar, kasihan juga bayi itu kalau terlalu lama di rumah sakit. Jadi biar Sarah fokus dengan kesehatan dan kesembuhannya terlebih dahulu."Ucap Sinta.
" Iya ma, besok siang kita kesana lagi. Oh iya ma, apa Bagas tadi sudah bilang sama mama kalau besok di sekolah wali murid nya di suruh datang?."Tanya Ardi.
" Oh iya mas sudah, tadi mama juga sudah baca surat edarannya kok. Mas, sudah malam nih yuk kita tidur."Ucap Sinta yang memang dia sudah sangat mengantuk sekali. Bagas pun sudah terlelap dari satu jam yang lalu.
Ardi melirik jam dinding yang tergantung di ruang keluarga. Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, pantas saja jika Sinta sudah mengajak tidur. Ardi menekan tombol off pada remot Tv dan mencabut kabel Tv juga.
" Ahhh mas apa-apaan sih?." Seru Sinta yang kaget sebab tiba-tiba Ardi mengangkat tubuhnya.
" Katanya mau tidur. Makanya mas gendong mama nih, biar cepat sampai kamar. Tapi tidak gratis, sampai kamar harus ada bayarannya." Seru Ardi dengan mata bergerling manja.
" Halah mas, bilang saja kalau mau minta jatah. Pakai alasan gendong segala, hemm mas Ardi memang pintar cari-cari alasannya saja. Ya sudah yuk kekamar, biar cepat selesai dan cepat istirahat."Seru Sinta justru semakin menantang Ardi.
Tidak menyia-nyiakan waktu lagi, Ardi langsung membawa Sinta berlari ala bridal style. Sesampainya di kamar Ardi pun segera merebahkan Sinta di atas kasur. Dan tidak menunggu lama, mereka sudah mengarungi dunia nya sendiri.
__ADS_1
**********