Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Nasehat Reno


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Mobil Sinta sudah sampai di rumah mantan mertuanya, Sinta tadi sudah lebih dulu datang ke toko milik Reno namun karyawannya bilang jika Reno tidak ada dan kemungkinan ada di rumah. Dengan buru-buru Sinta turun dari mobil, lalu segera berjalan menuju rumah mantan mertuanya yang kebetulan pintu depan terbuka lebar.


"Ehh...mbak Sinta?." Seru Reno yang tidak sengaja keluar rumah untuk berangkat ke toko.


"Iya ini aku Ren, oh iya aku ada perlu sama kamu. Apa kamu ada waktu sebentar saja, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu."Ucap Sinta bicara dengan sopan.


Mendengar ada suaminya berbicara dengan seseorang membuat Cahaya penasaran. Sehingga Cahaya menghampiri suaminya dan ternyata benar, suaminya sedang bicara dengan seorang wanita cantik dan mengenakan kaca mata hitam. Meskipun sudah berada diteras rumah kaca mata itu belum juga dilepas oleh Sinta.


"Maaf mbak Sinta mau bicara soal apa?." Tanya Reno penasaran.


"Ini istri kamu, Ren. Hemm cantik dan terlihat masih polos, tidak seperti Sarah yang sudah over polosnya."Seru Sinta sambil terkekeh pelan.


"Iya mbak, ini istri saya namanya Cahaya. Cahaya kenalkan ini mbak Sinta, dia mantan istrinya almarhum mas Rudi. Dialah mamanya Hana yang pernah kami ceritakan. Oh iya mbak apa yang ingin mbak tanyakan, aku tidak banyak waktu sebab aku mau ke toko."Seru Reno lagi.


Cahaya dan Sinta saling berjabat tangan, sebagai tanda perkenalan mereka. Akhirnya Cahaya pun mengajak Sinta masuk dan bicara didalam rumah saja. Sinta pun kini sudah duduk di sofa ruang tamu, dan sudah melepas kaca mata hitamnya.


"Emm rumah ini terlihat sangat rapi sekali ya. Beda jauh saat dulu aku masih tinggal disini, istrimu selain cantik ternyata rajin juga ya, Ren. Begini Ren, aku datang kesini untuk menanyakan soal Sarah."Ucap Sinta sudah tidak mau berbasa-basi lagi.


"Sarah ? Ada apa lagi dengan Sarah mbak? Aku sudah lama tidak bertemu dengan Sarah. Terakhir bertemu saat dia membawa Joni pergi, itu sudah sekitar 10 hari yang lalu atau seminggu yang lalu aku juga lupa."Jawab Reno.


"Jadi kamu tidak tahu Sarah ada dimana?."Tanya Sinta serius.


"Aku tidak tahu menahu soal Sarah mbak. Mbak Sinta salah kalau datang kesini untuk mencari Sarah. Memangnya mbak ada masalah apa dengan Sarah? Bukannya mbak dan Sarah itu partner bisnis, kenapa bisa kamu mencari Sarah dan menanyakan kepadaku."Ucap Reno tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Sinta.


"Sebenarnya beberapa hari yang lalu Mbak Sarah datang ke rumah mencari mas Reno dan Joni. Katanya dia mau meminta maaf. Tetapi saat itu dirumah ada ibu yang memang pulang mengambil pakaian ganti untuk Joni. Tapi mbak Sarah sempat berdebat juga dengan ibu, setelah itu dia pulang."Seru Cahaya menceritakan perihal kedatangan Sarah waktu itu.


Sinta dan Reno hanya menyimak apa yang dikatakan oleh Cahaya. Reno sendiri malah tidak tahu jika Sarah datang kerumah, sebab Cahaya memang tidak cerita apa-apa soal kedatangan Sarah.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak cerita, Dek? Mungkin dia datang memang ingin segera pergi. Merasa bersalah dengan Joni, jadi dia ingin minta maaf. Beruntungnya Joni ada dirumah Satria, jadi tidak akan bertemu dengan Sarah. Lantas sekarang mbak Sinta mencari keberadaan Sarah kesini? Mbak kira aku ini tahu soal Sarah?."Tanya Reno secara beruntun.


Sebenarnya Reno merasa kesal dengan Sinta, sudah lama Reno dan Sarah tidak ada hubungan lagi tetapi kenapa justru mencari Sarah kerumahnya dan menanyakannya kepada dirinya. Reno hanya tidak mau jika Cahaya salah paham, mengira jika Reno masih sering bertemu dengan Sarah.


"Aku kira kamu tahu dimana Sarah, Ren. Soalnya Sarah kabur, dan dia masih punya hutang sama aku sekitar 75 juta. Uang 75 juta itu bukanlah uang yang sedikit."Jawab Sinta dengan nada bicara sedikit lemas.


Sintapun menceritakan semua yang terjadi dengan Sarah. Dari dia mempunyai hutang, dari Sarah menjual rumah dan pergi tanpa kabar. Reno kaget saat mengetahui Sarah sudah menjual rumahnya, lebih tepatnya rumah mereka.


"Jadi Sarah menjual rumahnya tanpa memberitahu ku terlebih dahulu?." Tanya Reno terkejut.


"Iya. Bukannya rumah itu memang punya Sarah?."Tanya balik Sinta.


"Iya rumah itu memang punya Sarah dan atas nama Sarah. Tapi saat beli rumah itu setengahnya pakai uang tabunganku begitupun dengan mobil yang dipakai Sarah. Seharusnya saat bercerai dua aset itu dijadikan harta gono gini. Tapi aku tidak mempermasalahkannya sebab rumah itu masih ditempati Sarah, ibu dari anakku sendiri. Tapi justru dia menjualnya tanpa persetujuanku, aku memang tidak akan meminta bagian sepeserpun. Setidaknya disana ada haknya Joni. Joni berhak atas aset itu, dasar Sarah serakah !!."Seru Reno dengan kesal.


"Sabar mas, sudah jangan emosi seperti ini. Kamu mau ke toko loh, nanti malah tidak konsentrasi saat di toko."Seru Cahaya sembari mengusap lembut lengan Reno.


Sinta melihat interaksi antara Reno dan Cahaya, terlihat sekali Cahaya seorang wanita yang sabar dan penuh kelembutan dan kasih sayang. Tidak salah jika Reno menikahi wanita seperti Cahaya.


Datang ketempat Reno tidak mendapat petunjuk apa-apa, membuat Sinta memilih untuk segera pulang saja.


"Kalau begitu aku pulang saja, maaf sudah mengganggu waktu kalian."Ucap Sinta lalu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.


Sinta berhenti dan membalikkan badannya menghadap kearah Reno dan Cahaya. Terlihat Reno berjalan mendekati Sinta, dan kini Reno sudah berdiri tepat di hadapan Sinta.


"Mbak Sinta, sebagai adik dari almarhum mas Rudi aku hanya ingin mbak Sinta hidup lebih baik. Aku hanya ingin melihat mbak dan Hana hidup bersama dengan bahagia. Jika mbak berubah pasti Hana akan memaafkan mbak Sinta dan Hana akan mau tinggal denganmu mbak. Mbak, berhentilah menjalankan bisnis dosa itu sebelum mbak Sinta menyesal."Seru Reno mencoba bicara baik-baik dengan Sinta.


Reno hanya ingin Hana bisa hidup bahagia dengan mamanya seperti anak pada umumunya. Sebagai saudara laki-laki dari almarhum Rudi, Reno berkewajiban untuk membantu biaya hidup untuk Hana dan membahagiakan Hana. Dalam segi materi Reno sudah sering mentransfer uang bulanan untuk Hana meskipun itu tidaklah banyak.


"Jangan ikut campur urusan ku kamu, Reno. Lebih baik kamu urus saja Hana, kamu kan saudara laki-laki dari keluarga ayahnya. Kamu pasti tahu apa yang aku maksud dan jangan pernah menggurui ku. Hana tidak mau mengakui mamanya ya tidak masalah. Tanpa aku Hana juga sudah bahagia kan?." Tanya Sinta dengan pandangan sinisnya.


"Tapi mbak, apa kamu tidak kasihan dengan Hana?"Tanya Reno lagi.


"Bukan urusan kamu. Sudahlah aku mau pulang, suamiku sudah menunggu dirumah. "Seru Sinta dengan kesal.


"Lebih baik mbak Sinta periksakan kesehatan mbak Sinta. Suami kamu itu suka celap celup jadi awas mbak nanti terkena penyakit."Seru Reno mengingatkan Sinta.

__ADS_1


Degghhhh


Sinta langsung terdiam setelah mendengar perkataan Reno. Namun dia pura-pura tidak termakan dengan perkataan Reno. Sinta keluar dari rumah tanpa mengucapkan salam, bahkan saat di halaman dia bertemu dengan pak Karim, Sinta hanya diam saja.


Mobil Sinta melaju menjauh meninggalkan pekarangan rumah pak Karim. Pak Karim yang heran dengan kedatangan Sinta pun langsung masuk dan menanyakannya kepada Reno.


"Ngapain Sinta datang kemari, Ren?." Tanya pak Karim.


"Dia menanyakan soal Sarah pak. Dia mengira jika Reno tahu Sarah ada dimana?. Sarah kabur dengan masih punya hutang 75 juta sama mbak Sinta. Bahkan rumah Sarah juga sudah dijual Pak. Ya sudah, Reno mau ke toko dulu kasihan anak-anak pasti kerepotan soalnya tadi pagi barang datang, jadi mereka ada kesibukan lebih."Seru Reno.


"Ya sudah sana berangkat kasihan sama karyawan kamu."Ucap pak Karim.


"Iya pak. Dek, mas ke toko dulu ya. Kamu istirahat saja jangan capek-capek."Seru Reno berpesan.


Cahaya hanya mengangguk sembari mengulas senyum manisnya. Reno pun pergi ke toko dengan mengendarai mobil nya. Saat ini Joni masih dirumah Satria dan akan pulang nanti sore, Reno yang akan menjemputnya.


sementara itu saat ini di rumah Sinta Hakim yang di dalam kamar terus merasakan kesakitan pada area senjatanya bahkan luka bintik-bintik disertai Nana sudah semakin banyak dan berbau tidak sedap.


" Kamu kenapa Mas? Itu tadi aku sudah mencarikan tukang pijat untuk kamu, nanti aku kasih tahu alamatnya kamu datang saja ke sana."Ucap Sinta menghampiri Hakim yang sedang berbaring di kasur.


Sinta melihat gelagat tidak baik, dia sesekali mendapati Hakim menyeringai kesakitan serta memegang senjatanya. Wajah Hakim seperti sedang menahan rasa sakit.


" Apa yang kamu rasakan Mas? Perasaan dari tadi aku melihat kamu memegang ke area itu terus? Memangnya kenapa, sakit?." Tanya Sinta yang memang tidak tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Hakim.


"Ohhh iya sakit, Sinta. Emm tadi tidak sengaja saat aku buang air kecil dia terjepit resleting. Sakit nya luar biasa dan rasanya sampai ke ubun-ubun." Ucap Hakim berbohong.


Hakim tidak berani berterus terang dengan Sinta, sebab dia sangat takut Sinta akan meninggalkannya dan hidupnya tidak ada yang menjamin lagi.


"Kok bisa sih mas. Coba sini aku lihat seberapa parah lukanya, biar aku olesin salep saja sini."Seru Sinta dengan santainya.


"Tidak !!!."Teriak Hakim dengan lantang sehingga membuat Sinta kaget.


Sinta merasa heran dengan Hakim, sebab Hakim tidak memperbolehkan dia melihatnya. Padahal biasanya paling suka jika Sinta memainkannya, namun tidak untuk saat ini. Hakim terkesan menitupinya seperti ada sesuatu yang memang dia sembunyikan.


Sinta pun teringat apa yang tadi dikatakan oleh Reno jika dia harus memperiksakan dirinya seban Hakim yang suka celap celup.

__ADS_1


*Kenapa aku jadi ingat kata-kata Reno tadi. Tapi bukannya mas Hakim tadi bilang jika itu karena terjepit resleting? Hemm sepertinya aku memang harus waspada juga dengan Hakim.*Gumam Sinta dalam batinnya.


********


__ADS_2