Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Satu masalah selesai


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Kedua orang tua Satria dan adiknya saat ini sedang berada di kantor polisi. Dan di kantor polisi inilah mereka juga diminta untuk konferensi pers, tidak banyak wartawan yang datang. Tetapi konferensi ini disiarkan secara langsung sehingga siapapun bisa melihat beritanya di tayangan televisi dan sosial media.


Rahma, Kandar dan Hakim terpaksa mengakui semua kebohongan mereka, karena Satria mengancam akan memenjarakan mereka lebih lama lagi jika mereka tidak mau membersihkan nama Satria. Lagi pula apa yang dibicarakan mereka memang benar-benar sebuah kebohongan.


Dan untuk kasus yang terjadi sekitar 29 tahun yang lalu tidak dibicarakan dalam Konferensi pers, biarlah masalah itu langsung ditangani oleh kepolisian. Satria tidak mau mempublikasikan masalah itu.


Karena kesalahan-kesalahan mereka terdahulu, ditambah dengan usaha perjudian yang selama ini mereka tekuni. Rahma dan Kandar terpaksa ditahan di kantor polisi begitupun dengan hakim, hakim sendiri hanya akan dituntut masalah pencemaran nama baik dan perjudian saja. Sebab kecelakaan yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu Hakim belum ada dan hanya kedua orang tuanya saja yang akan dituntut.


" Jangan kalian kira aku tidak berani memenjarakan kalian. Kalian sudah keterlaluan, jadi jangan salahkan aku. Aku hanya mengikuti alur permainan kalian saja. " Ucap Satria sebelum dia meninggalkan kantor polisi.


" Satria ! Mama mohon maafkan Mama, jangan penjarakan mama dan papa serta adikmu. Kami ini keluarga kamu tolong maafkan kami Satria."Ucap Rahma dengan wajah memelas.


" Untuk soal maaf, Aku sudah memaafkan kalian semua. Dan untuk berita kebohongan yang kalian ciptakan kemarin juga sudah aku maafkan. Sekarang bukan masalah itu yang jadi masalah, tetapi kejadian kecelakaan 29 tahun yang lalu yang sampai menghilangkan satu nyawa yang tidak bersalah dan ditambah usaha perjudian kalian berdua. Masalah itu yang akan menjerat kalian dan kalian akan membusuk di penjara." Ucap Satria dengan tegas.


Setelah selesai bicara, Satria dan Indra meninggalkan kantor polisi. Sedangkan Rahma, Kandar dan Hakim masuk ke dalam sel tahanan. Untuk Hakim dan Kandar berada dalam satu sel, untuk Rahma terpaksa dipisahkan karena untuk sel perempuan dan laki-laki harus terpisah meskipun mereka suami istri.


Satria sendiri menjamin jika mereka tidak akan mengalami pembullyan di dalam sel tahanan. Satria meminta mereka ditempatkan di sel tahanan yang berbeda dengan para narapidana yang lainnya.


Masalah hari ini cukup melelahkan bagi Satria dan Indra, dari pagi sampai malam mereka berkutat dengan masalah Rahmah dan Kandar. Hanya butuh waktu seharian semua masalah akhirnya terselesaikan.


" Kita lihat besok para perusahaan yang sudah menarik kerjasamanya dengan kita apa mereka akan kembali ke perusahaan kita lagi. Jika memang mereka masih melanjutkan kerjasama itu, nasib baik masih berpihak kepada kita. Tapi kalau memang mereka sudah tidak mau lagi bergabung dengan perusahaan kita. Kita terpaksa menghentikan kerjasama yang sudah setengah japan dan membiarkan mangkrak begitu saja." Ucap Satria saat dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.

__ADS_1


" Kamu tenang saja, mereka pasti akan kembali bekerja sama dengan kita. Soalnya saat di kantor polisi tadi salah satu dari mereka sudah ada yang menghubungiku dan mengatakan permintaan maaf karena sudah terpengaruh dengan berita hoax itu. Dan mereka melanjutkan kerjasamanya, mungkin besok mereka bertiga akan datang ke perusahaan kita. Nanti aku coba hubungi mereka saja."Ucap Indra yang sudah terlihat sangat kelelahan sampai mereka melupakan makan siangnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam mobil yang dikendarai Indra saat ini sudah sampai di depan rumah Satria. Satria meminta Indra untuk menginap saja karena waktu juga sudah malam, saat Indra dan Satria pulang Dinda dan nenek Murni menyambut kedatangan mereka berdua.


Dinda dan nenek murni sudah melihat berita yang sedang heboh itu, dan mereka juga ingin menanyakan kebenaran dari berita yang dia tonton tadi sore.


" Kok belum pada tidur.?" Tanya Satria menghampiri Dinda dan Nenek.


" Kami sengaja menunggu kamu pulang mas." Jawab Dinda jujur.


" Apa semua berita yang beredar itu benar Satria? dan Konferensi pers tadi sore itu juga benar? jika itu benar nenek tidak menyangka jika mereka akan melakukan perbuatan seperti itu."Ucap nenek bicara dengan penuh amarah tidak menyangka anak perempuan satu-satunya yang dia lahirkan dan dia rawat penuh kasih sayang tega memfitnah anaknya sendiri demi kelangsungan hidupnya.


" Mas jangan diam saja kami sedari tadi sengaja menunggu mas pulang, karena ingin tahu cerita yang sesungguhnya langsung dari emas."Ucap Dinda sambil menatap ke arah sang suami.


Baru satu masalah saja yang diketahui nenek dan istrinya, mereka sudah terlihat sangat marah dan emosi. Bagaimana jika nenek dan Dinda tahu dua masalah yang lainnya? Namun Satria tidak akan menyembunyikan masalah itu sebab apapun yang akan terjadi dan apapun masalahnya, Satria ingin terbuka dengan keluarganya.


" Masalah itu benar semua Nek, Din. Dan alhamdulillah semuanya sudah selesai dan sudah beres. Tapi ada yang perlu kalian ketahui satu hal lagi, soal mereka bertiga sebenarnya kecelakaan yang terjadi 29 tahun yang lalu dan mengakibatkan satu nyawa orang yang tidak bersalah itu melayang , sebenarnya itu hanya rekayasa mama dan papa. Mereka sengaja merekayasa itu semua karena tidak mau mengurusku dan tidak mau hidup miskin. Dan selama mereka tinggal di persembunyiannya mereka mempunyai usaha perjudian. Dua perkara itu yang saat ini sedang mereka jalani, bisa saja mereka akan dihukum 20 tahun atau seumur hidup ." Satria bicara dengan sungguh-sungguh dan berterus terang tidak ada sedikitpun yang dia sembunyikan.


" Dinda tolong antar nenek ke kamar, sepertinya kepala nenek sangat sakit. Nenek tidak perduli lagi apa yang akan dilakukan oleh anakku itu. Biarkan dia membusuk di dalam penjara sana. Tapi nenek minta sama kamu Satria, Hakim masa depannya masih panjang. Apa kamu tidak kasihan dengan dia? Coba kamu bicara sama dia, jika dia masih bisa memperbaiki dirinya, merubah sikapnya. Tolong dia jangan sampai dia dipenjara seperti kedua orang tuanya." Ucap nenek penuh harap, bagaimanapun Hakim juga cucunya jadi dia tidak mau Hakim menghabiskan masa mudanya di penjara.


" Nenek tenang saja, kalau soal Hakim. Satria yakin tidak akan dihukum selama itu, sebab saat kecelakaan itu Hakim belum ada. Jadi Hakim akan diberi hukuman sesuai dengan kesalahannya saja soal usaha perjudian itu saja. Mungkin hanya beberapa bulan atau setahun dua tahun saja Ne." Ucap Satria dengan menyunggingkan senyumannya.


Nenek murni mengangguk, lalu dia bangkit dan meminta Dinda untuk mengantarkannya ke kamar. Dinda sendiri sebenarnya masih ingin mendengar penjelasan yang sejelas-jelasnya dari sang suami, tetapi Dinda tidak mau membuat neneknya semakin sok sehingga Dinda lebih memilih saat di kamar nanti, saat satria sudah selesai mandi dan membersihkan badannya Dinda akan menanyakan semuanya.


" Bik, bibik." Seru Satria memanggil salah satu pelayan di rumahnya.


" Iya mas Satria, ada yang bisa dibantu." Tanya sang Bibi menghampiri Satria.


" Bi tolong siapkan aku dan Indra makan malam ya. Soalnya kami lapar sekali, dari siang belum makan. Kami mau bersih-bersih dulu, setengah jam lagi kami keluar untuk makan malam." Ucap Satria bicara dengan sangat ramah meskipun wanita itu hanya pelayan di rumahnya.

__ADS_1


" Baiklah, bibi buatkan makanan dulu ya." Ucap sang Bibi lalu undur diri untuk ke dapur menyiapkan makan malam untuk Satria dan Indra.


Satria dan Indra sendiri saat ini sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Indra memang dulu sering menginap di rumah nenek murni, sehingga dia di sini juga mempunyai kamar sendiri dan ada beberapa pakaiannya juga yang masih tertinggal di lemari kamar tempat dia menginap.


Sedangkan Dinda setelah mengantar nenek ke kamarnya dan membaringkan nenek di kasur, Dinda keluar kamar untuk menghampiri sang suami. Saat Dinda masuk kamar terdengar suara gemercik air dari kamar mandi yang berarti saat ini Satria pasti sedang mandim Dinda menyiapkan pakaian ganti rumahan untuk sang suami dan meletakkannya diatas kasur.


" Terimakasih istriku sayang." Ucap Satria saat melihat pakaian gantinya sudah disiapkan oleh Dinda.


" Sama - sama mas. Mas mau langsung istirahata atau mau aku buatkan teh , kopi dulu?" Tanya Dinda.


" Tidak sayang. Mas sama Indra mau makan saja dulu, kami lapar sekali. Sebab dari tadi siang kami belum makan." Ucap Satria membuat Dinda kaget.


Dinda benar - benar malu, kenapa dia tidak menawarkan suaminya makan dulu. Seharusnya jam berapapun sang suami pulang Dinda menawarkan makan terlebih dahulu. Hati Dinda sedikit tersentil dan merasa tidak enak dengan suaminya.


" Maaf ya mas, aku tidak tahu kalau mas belum makan. Baiklah aku kedapur dulu ya untuk menyiapkan makanannya." Ucap Dinda.


" Tadi mas sudah meminta bibik untuk buatkan makanan kok. Kamu disini saja temani mas, karena mas kangen sama kamu." Ucap Satria sambil memeluk Dinda dari belakang.


Dinda tahu jika sudah seperti itu pasti akan berakhir diatas kasur. Dinda tidak akan membiarkannya terjadi saat ini juga, dia merasa tidak enak dengan Indra yang pasti saat ini sudah menunggu suaminya untuk makan malam bersama.


" Eemm... Mas, jangan begini. Nanti kamu pasti minta yang lain. Tidak sekarang tapi nanti setelah kamu dan mas Indra makan malam. Tidak enak, mas Indra pasti sudah menunggu mas untuk makan malam. Lagi pula mas pastikan lapar, dari siang tidak makan."Ucap Dinda mencoba merayu sang suami agar tidak melakukannya sekarang.


Apalagi di ruang makan ada Indra yang sedang menunggu, masa iya Satria dan Dina harus bermain saat itu juga tidak enak membuat Indra berlama-lama menunggu.


" Baiklah pokoknya Mas nanti setelah makan malam akan memintanya. Janji jangan sampai tidur duluan ya, ya sudah mas makan dulu ya sama Indra. Kamu istirahat saja, tidak perlu menemani mas karena ada Indra di sana. "Ucap Satria meminta Dinda untuk beristirahat saja di kamar.


" Aku juga mau ke dapur Mas, aku mau membuatkan kalian kopi terlebih dahulu baru aku masuk kamar ya."Seru Dinda meminta izin.


Satria mengangguk setuju setelah itu dia menggandeng Dinda keluar dari kamar menuju ruang makan. Ternyata benar, di sana sudah ada Indra yang makan lebih dulu. Satria tidak mempermasalahkannya mungkin Indra memang sudah benar-benar lapar.

__ADS_1


**********


JANGAN LUPA, LIKE, VOTE SAMA HADIAHNYA YA KAK. TERIMAKASIH 🙏❤️


__ADS_2