
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sarah dirumahnya sedang berkemas, dia mengemas barang-barangnya kedalam koper. Siang ini juga dia akan pergi dari rumah sebab rumah dua sudah dijualnya. Siang ini pemilik barunya akan mulai menempati rumah itu. Tanpa memberitahu Hakim dan Sinta, Sarah akan pindah keluar kota tanpa ada yang tahu.
" Aku harus cepat pindah dari sini sebelum Hakim datang ke rumah ini dan mengetahui apa yang sudah terjadi dengan diriku. Aku yakin dia pasti akan segera kedokter untuk memeriksakan sakitnya. Dengan dia tahu otomatis dia bisa menebak jika dia dapat sakit itu dariku."Ucap Sarah dengan tangan yanh terus memasukan barang-barang pribadinya ke dalam koper.
Sarah menjual rumahnya beserta dengan isi-isinya, Sarah menjual dengan harga yang terbilang murah. Rumah itu Sarah jual dengan harga 350 juta berikut perabot dan yang lainnya.
"Tidak apa-apa aku jual rumah ini rugi, yang penting aku dapat uang dan bisa segera pergi dari sini. Apalagi hari ini aku sudah dapat uang 250 juta dari Hakim manusia bodoh itu."Seru Sarah.
Sarah sudah selesai mengepak barang-barangnya dan dia memindahkannya ke mobil satu persatu. Kini dua koper besar dan 2 kardus besar sudah menempati ruang belakang mobilnya. Tinggal menunggu pemilik rumah yang baru, baru Sarah akan pergi.
"Semoga saja Hakim belum tahu tentang sakitnya, jangan sampai dia tahu disaat aku belum pergi dari sini. Lihat saja setelah aku di luar kota akan membuat laporan kepolisi soal usaha terlarang Sinta dan Hakim. Yang penting saat ini aku pergi dulu, baru nanti aku bertindak."Ucap Sarah.
Saat ini Sarah duduk di teras menunggu pemilik rumah yang baru. Setelah 10 menit menunggu, Ibu Ririn dan suaminya sudah sampai di rumah Sarah. Dengan segera Sarah memberikan kunci rumah nya kepada ibu Ririn.
"Bu, Sarah mau pindah kemana? "Tanya ibu Ririn dengan Ramah.
"Keluar kota bu, menyusul suami saya yang saat ini menetap disana. Suami saya bertugas di luar kota jadi mau tidak mau saya harus ikut dia. Apalagi saat ini saya memang disini tidak punya sanak saudara."Jawab Sarah dengan berbohong.
"Oh begitu. Hati-hati dijalan ya bu, kalau mengantuk lebih baik istirahat dulu."Seru Ibu Ririn berpesan.
"Iya bu. Terimakasih atas nasehatnya, kalau begitu saya permisi ya bu. Semoga ibu betah tinggal dirumah ini, dab terima kasih sudah mau membeli rumah saya."Ucap Sarah berpamitan.
"Sama-sama ibu Sarah."Jawab ibu Ririn dan suaminya secara bersamaan.
Sarah mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya. Dia terlihat bahagia meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. Sekarang tujuannua adalah kota M, dimana disana dia akan tinggal dan memulai kehidupan barunya. Dia akan melakukam pengobatan di kota M.
"Akhirnya aku bisa meninggalkan kota ini tanpa diketahuo oleh Hakim dan Sinta. Haahaaa.. Padahal uang 100 juta dari Hakim yang untuk bayar hutang Sinta itu masih utuh. Jadi sekarang aku mempunyai uang sekitar 700 juta. Hahahaaaa aku sekarang jadi orang kaya, selamat tinggal Sinta dan Hakim. Sebentar lagi kalian akan hancur!."Seru Sarah lalu tertawa dengan lantang.
Mobil Sarah sudah semakin menjauh dari tempat tinggalnya. Baru sekitar 20 menit Sarah meninggalkan rumahnya, mobil Hakim sampai di depan rumah Sarah. Hakim melihat ada mobil asing yang terparkir dihalamab rumah Sarah.
__ADS_1
Hakim mengira jika itu adalah mobil salah satu pelanggan Sarah. Hakim terlihat kesal dan marah, padahal Sarah sudah berjanji tidak akan bermain lagi dengan pria lain selain Hakim.
"Sarah !! Sarah ! Buka pintunya Sarah !."Teriak Hakim dengan lantang.
"Maaf anda cari siapa ya? Kenapa teriak-teriak didepan rumah saya?."Tanya ibu Ririn sambil memicingkan matanya.
Haaahhhhh
Hakim heran dengan ibu-ibu yang ada didepannya. Sebab ibu itu mengakui jika itu rumahnya, padahal sudah jelas-jelas itu rumah Sarah.
"Ibu siapa? Bukannya ini rumah saudara saya, Sarah?."Tanya Hakim berbohong dengan mengakuil sebagai saudara Sarah.
"Ohhh mas ini saudaranya mbak Sarah si pemilik lama rumah ini. Maaf mas, mbak Sarah sudah tidak tinggal disini lagi. Rumah ini sudah saya beli dari 4 hari yang lalu dan baru hari ini aku pindah. Mbak Sarahnya juga baru pergi kok, mumgkin belum ada 30 menit."Ucap ibu Ririn dengan jujur.
"Apa? Dijual?"Seru Hakim dengan lantang.
Hakim tidak pernah menyangka jika Sarah selicik ini, dengan rumah dijual dan dia pindah. Hakim sudah bisa menebak jika Sarah memang sudah tahu jika dia sakit dan sengaja merasahasiakan agar bisa menularkan keorang lain.
"Sarah pindah kemana ya bu?."Tanya Hakim.
"Iya bu silahkan. Maaf sudah menganggu waktunya."Ucap Hakim.
Ibu Ririn hanya mengangguk lalu dia menutup pintu dan kembali masuk ke rumahnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Hakim.
Hakim melangkah menuju mobilnya dengan langkah gontai, dia merasa menjadi orang yang bodoh sudah ditipu habis-habisan oleh Sarah. Uang 350 juta melayang begitu saja, padahal Hakim benar-benar menyayangi dan mencintai Sarah. Namun justru Sarah membohonginya dan memanfaatkannya saja.
Hakim mengendarai mobilnya dengan pelan, saat ini fikirannya sedang kalut sehingga dia lebih cari aman dengan tidak mengebut saat berkendara. Disaat seperti ini Hakim baru teringat orang tuanya yang sudah berbulan - bulan tidak dia jenguk.
"Mama dan papa pasti tertawa jika aku cerita kebodohannya kepada mereka. Apalagi Sinta? Bagaimana kira-kira tanggapan dia jika aku sudah ditipu habis-habisan oleh Sarah. Tidak ! Sinta jangan sampai tahu, kalau dia tahu pasti dia akan marah besar. Apalagi soal uang, aku memang mencurangi keuangannya dan bodohnya aku justru uang itu raib bersama Sarah."Ucap Hakim terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Mobil yang dikendarai Hakim berbelok me minimarket untuk membeli rokok dan minuman kaleng. Ternyata mengomel sendiri juga merasa haus.
*********
"Mas Reno, aku pulang duluan ya? Hari sudah mau sore nih, aku juga belum memasak untuk makan malam."Ucap Cahaya pamit pulang.
Seharian cahaya membantu Reno menjaga kasir, sebab Cika hari ini izin tidak masuk. Sehingga Cahaya yang dipercaya Reno untuk menggantikan Cuka sementara waktu.
__ADS_1
" Nanti pulangnya bareng sama Mas saja dek dan tidak perlu memasak. Nanti kita beli makanan jadi saja, lagi pula cuma kita berdua sama bapak saja kan yang makan? Joni sama ibu ada di rumah Satria."Seru Reno meminta Cahaya untuk tidak memasak.
" Apa tidak apa-apa maa jika aku pulang nant bareng sama kamu dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah? Nanti aku dikira tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah oleh bapak."Ucap Cahaya merasa tidak enak jika Bapak mertuanya beranggapan dia pemalas.
" Bapak tidak seperti itu dek. Bapak itu orang yang paling sabar sedunia. Dia tidak pernah memberatkan anak dan istrinya serta menantunya untuk melakukan pekerjaan rumah. Sudah tidak apa-apa, kamu kalau capek istirahat saja di ruangan Mas. Nanti saat waktunya pulang mas akan memanggilmu. Kamu kelihatan terlalu capek itu, seperti itu kok mau pulang sendiri dan memasak."Ucap Reno sambil terkekeh.
Cahaya mengangguk, akhir-akhir ini dia memang sering merasa lelah dan terkadang juga pusing. Akhirnya Cahaya mengikuti saran suaminya untuk beristirahat di ruangan pribadi Reno.
"Pak mbak Cahaya mana?."Tanya akbar yang baru saja masuk dari pintu depan.
"Ada didalam, Bar. Dia lagi istirahat, memangnya ada apa kamu mencarinya?."Tanya Reno penasaran.
"Oh ini pak. Tadi mbak Cahaya minta beliin bakso yang ada di depan sana. Ini Pak Reno kasih ke mbak Cahaya saja. Siapa tahu mbak Cahaya memang sudah menunggu."Ucap Akbar sembari memberikan kantong plastik yang berisi dua bungkus bakso.
Reno menerima kantong plastik yang diulurkan oleh Akbar. Dengan segera dia membawa bakso itu kebelakang dan memindahkannya ke dalam mangkuk terlebih dahulu baru dia memberikannya kepada Cahaya.
"Dek, ini bakso nya dimakan dulu mumpung masih panas. Nanti kalau tidak panas kurang enak loh."Ucap Reno datang dengan membawa nampan yang berisi dua mangkuk bakso yang masih panas mengepul.
"Wahh sudah datang ya baksonya. Kok ada dua mas, aku cuma minta satu loh sama Akbar."Seru Cahaya dengan wajah keheranan.
"Sudah makan saja, kalau adek tidak mau satunya biar untuk mas saja ya. "Ucap Reno sambil terkekeh.
"Ya sudah untuk mas saja. Kalau aku semua jelas tidak habis, mana ini juga porsinya jumbo. Aku memang meminta Akbar beli yang porsi jumbo."Ucap Cahaya serius dan mulai menikmati bakso yang sudah dibelikan oleh Akbar.
Reno dan Cahaya akhirnya menikmati bakso itu berdua, padahal jam 1 tadi Cahaya baru saja makan nasi dua piring. Sekarang baru jam 4 sudah lapar lagi, Cahaya sendiri heran dengan keinginannya yang tiba-tiba ingin makan bakso.
Selesai makan bakso, Reno membawa mangkuk kotor itu kedapur kecil yang ada dibagian belakang dekat gudang. Cahaya sendiri melanjutkan istirahatnya.
"Akbar ini uang untuk kalian beli bakso, untuk kalian saja ya. Tadi aku sama Dinda sudah makan yang kamu beli tadi. Kamu pesan saja sama mas Agus, biar nanti karyawannya yang mengantarkannya."Ucap Reno sembari mengulurkan 2 lembar uang berwarna merah yang dia ambil dari dalam dompetnya.
"Iya pak terima kasih."Jawab Akbar merasa senang mempunyai boss yang sebaik Reno.
*Pak Reno ini baik banget. Saat ditoko apa yang beliau makan kami juga akan memakannya. Semoga rezeki pak Reno semakin lancar dan Barrokah. Aamiin.*Gumam Akbar dalam hati.
Maaf, Dua bab ini Up Sarah dan Hakim. Untuk bab selanjutnya kita Up Satria dan Dinda ya.
************
__ADS_1