Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Cendol gratis


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Haahaaaa Haaahaaaa


Sinta tertawa dengan lantang bahkan dia terlihat sangat bahagia. Sinta baru saja mendapat kabar jika Badar dan orang kepercayaanya tertangkap polisi saat melakukan transaksi malam itu.


Tempat persembunyianya atau markas tempat dia menyimpan barang-barang haram itu pun sudah digeledah oleh polisi. Dan barang - barang haram nya pun akhirnya diamankan oleh polisi. Beberapa anak buahnya pun ada yang sudah digelandang ke kantor polisi, bahkan sekarang sudah dijebloskan ke dalam penjara.


Tentu saja hal itu membuat Sinta sangat bahagia. Sebab dia sudah bisa terlepas dari Badar tanpa susah-susah untuk merayu Hana menikah dengan Badar. Dengan begitu dia lebih leluasa untuk menguasai Hana. Bagi Sinta, Hana saat ini adalah aset termahal yang akan dia miliki.


"Tidak masalah aku tidak mendapatkan uang 200 juta dari Badar, setidaknya aku sudah terbebas dari jerat badar dan aku bisa menguasai Hana. Sebab Hana tidak jadi menikah dengan Badar, aku tidak peduli meskipun Hana itu anak kandungku sendiri. Hidupku sudah terlanjur rusak jadi tidak ada salahnya aku mengajak anakku juga terjun dalam duniaku."Ucap Sinta sembari menyilangkan kakinya.


" Kenapa tidak dari dulu saja kamu masuk ke dalam penjara Badar ? Dengan begitu aku tidak akan menjadi wanitamu untuk memuaskan nafsu bejatmu itu. Akhirnya aku bisa terbebas juga dari Badar. Bebas hutang, bebas melayani dia, Hana terbebas dari Badar. Tapi bagaimana kalau suatu saat dia keluar dari penjara? Oh tidak sepertinya dia akan mendekam selamanya di penjara. Sebab dia adalah pemakai dan pengedar kelas kakap." Seru Sinta sembari tersenyum.


Sinta sudah seperti orang gila tertawa dan tersenyum sendiri bahkan bertanya dan dia jawab sendiri. Sinta akhirnya memanggil Joli agar masuk ke kamarnya, ada sesuatu yang ingin disampaikan Sinta kepada Joli.


" Ada apa bu ?" Tanya Joli saat sudah sampai di kamar Sinta.


" Kamu jangan lupa malam ini ada seseorang yang mau membayarmu 10 juta. Kamu harus bisa melaksanakan tugasmu dengan baik, jangan sampai dia tidak puas dengan pelayananmu. Paham kamu?" Tanya Sinta dengan tegas.

__ADS_1


" Sudah tenang saja Bu. Ibu kan tahu bagaimana kemampuanku, yang membuat panti pijat ini ramai juga aku kan bu. Gara-gara permainanku banyak orang yang datang lagi dan datang lagi. Sehingga tempat ini jadi seramai sekaranh. Apa masih ada yang ingin ibu sampaikan? kalau sudah tidak ada lagi yang ingin Ibu katakan aku mau kembali ke kamarku. Tadi sedang asyik lagi bergosip sama anak-anak yang lainnya." Ucap Joli sambil melambaikan tangannya ke arah Sinta.


Sinta hanya mengibaskan tangannya pertanda Joli boleh keluar dari kamarnya. Setelah Joli keluar dari kamarnya, Sinta pun bersiap-siap untuk menemui Hana di rumah Satria, padahal saat ini Hana tidak ada di rumah Satria melainkan ada di rumah kakek dan neneknya. Tidak memerlukan waktu yang lama Sinta sudah selesai bersiap dan kini dia sudah mengendarai mobil yang akan Badar hadiahkan untuk Hana, namun dipakai oleh Sinta.


* Heeemmm Aku harus bisa mengambil Hana dari tangan Satria ,jika Hana terlalu lama tinggal di sana sudah pasti dia akan diracuni fikirannya oleh Satria dan Dinda. Lagipula Hana itu aset mahal, mana masih ting ting. Dia kelak yang akan menjadi penerusku, aku akan cari orang yang berani bayar mahal untuk tidur dan mengambil keperawanan Hana. Sepertinya 500 juta cukup." Ucap Sinta terus bermonolg sebdiri.


Mobil yang dikendarai Sinta sudah sampai didepan gerbang rumah Satria. Sinta membunyikan klakson cukup keras namun Satpam tidak mau membukakan pintu. Dengan kesal dan bersungut - sungut Sinta turun dari mobil dan menggedor pintu gerbang.


Braaakkk Braakkk


Sinta membuat keributan dengan memukul - mukul dan menggedor pintu gerbang rumah Satria. Satpam yang merasa terganggupun akhirnya menghampiri Sinta dan bicara berseberangan dengan Sinta.


" Wooiii Satpam ! Kenapa kamu tidak membukakan gerbang untuk aku masuk? dasar satpam kurang ajar!!" Maki Sinta dengan kesal.


Sinta mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia memukul Satpam yang saat ini ada di hadapannya. Namun sayangnya ada pintu gerbang yang menghalanginya. Sinta tetap meminta satpam untuk membuka pintu gerbang, sebab dia ingin masuk dan menunggu Satria dan Dinda di dalam saja. Namun tetap sang satpam tidak mau membukakan pintu gerbang untuk Sinta.


" Dasar satpam tidak tahu diri !! Lihat saja suatu saat kamu akan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini."Seru Sinta marah - marah tidak jelas dengan Satpam. Namun kedua Satpam itu tidak memperdulikan semua ocehan yang keluar dari mulut Sinta.


Sinta kembali masuk ke mobilnya, dan menghidupkan mesin mobi. Lalu kembali melaju meninggalkan rumah Satria dengan perasaan kesal dan terus memaki-maki sang satpam yang tidak tahu diri itu.


Sementara itu saat ini di lapak cendol pak Marno, Dinda sedang menikmati masa-masa ngidamnya. Dua gelas es cendol buatan Satria sudah berpindah tempat ke dalam perut Dinda, bahkan satu mangkuk bakso juga sudah habis. Lapak cendol pak Marno siang ini terlihat cukup ramai. Sebab di samping pak Marno berjualan, anak pak Marno juga membuka warung bakso sehingga banyak para pelanggan yang sekalian makan bakso sembari minum es cendol.


Satria tidak malu untuk ikut turun tangan melayani pembeli yang datang. Dulu hampir selama 5 tahun dia juga berjualan cendol, bahkan dulu dia hanya berjualan secara keliling dan mangkal di sekolahan-sekolahan saja.


" Wahh nak Satria , bapak jadi tidak enak ini sudah merepotkan. Padahal datang kesini untuk minum es cendol kok malah sibuk bantuin bapak." Ucap pak Marno merasa tidak enak.

__ADS_1


"Sudah pak tidak apa - apa. Lagian memang saya sudah terbiasa seperti ini kan pak? Selama 5 tahun loh saya ini berjualan cendol juga."Seru Satria sambil terkekeh pelan.


" Iya nak. Kalau bukan nak Satria yang memberikan gerobak cendol beserta perlengkapannya secara cuma-cuma kepada bapak, mungkin saat ini bapak juga tidak berjualan cendol dan tetap menjadi kuli serabutan di pasar sana. Terima kasih ya nak Satria, berkat nak Satria akhirnya anak bapak juga bisa membuka warung bakso ini ."Ucap pak Marno sangat berterima kasih atas semua kebaikan yang diberikan oleh Satria.


" Sama - sama pak. Saya hanya menolong yang saya mampu saja. Oh iya pak kemana istri bapak kok sedari tadi aku tidak melihatnya?" Tanya Satria.


" Istri bapak ada dirumah. Tadi bantu - bantu saat buka lapak, setelah itu bapak suruh pulang sebab tadi bilang kepalanya pusing. Jadi bapak suruh istirahat dirumah saja." Ucap pak Marno.


Satria mengangguk paham, Satria membuat segelas cendol untuk dia minum sendiri. Satria membawa cendolnya tadi dan ikut duduk di samping Dinda yang saat ini sedang kekenyangan. Sampai dia hanya diam saja sebab perutnya berasa begah.


" Mau lagi sayang?" Tanya Satria sembari meletakkan es cendol miliknya diatas meja.


" Tidak kuat lagi mas. Lihat saja perutku sudah begah begini." Ucap Dinda sembari mengusap perutnya yang memang sudah mulai membesar.


Usia kehamilan Dinda saat ini sudah 3 bulan lebih dan sudah terlihat membesar. Satria jadi semakin senang mengusap perut Dinda.


" Kamu sih minum dua gelas jumbo masih ditambah bakso satu magkuk. Makanya lain kali kira - kira dulu kalau mau makan atau minum. Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang saja atau bagaimana? Atau mau beli sesuatu lagi atau mau makan apalagi?" Tanya Satria lembut dan penuh kasih sayang.


" Pulang saja mas." Jawab Sinta dengan singkat.


Dengan segera Satria menghabiskan es cendolnya yang masih utuh satu gelas, namun gelas yang dipakai Satria ukurannya lebih kecil dari kelas yang dipakai Dinda. Setelah es cendolnya habis Satria dan Dinda pun berpamitan kepada pak Marno. Namun saat satria mengeluarkan uang untuk membayar bakso dan es cendolnya, pak Marno menolaknya. Justru kak Marno memberikan 5 bungkus es cendol dan 5 bungkus bakso untuk dibawa pulang Satria.


Merasa tidak enak karena selalu menolak gratisan yang diberikan pak Marno, akhirnya tanpa menolak Satria pun menerima pemberian Pak marno. Mungkin ini yang dinamakan rezeki sehingga Satria tidak mau menolak lagi pemberian dari Pak marno.


************

__ADS_1


__ADS_2