
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Tring
Notifikasi pesan masuk di ponsel Rena. Rena langsung membuka pesan itu ternyata pesan dari temannya Lisa.
[ Rena, tadi ada perempuan bernama Dina datang ketempat kerjaku. Sepertinya dia itu selingkuhan Beni, kamu harus hati - hati agar suami kamu tidak pindah kelain hati. ]
Pesan yang dikirimkan lisa itu berhasil membuat Rena terbakar api amarah dan emosi. Diapun langsung membalas pesan dari Lisa itu. Namun sepertinya Rena tidak sabar ingin mendengar pernyataan langsung dari Lisa sehingga Rena lebih memilih menghubungi Lisa terlebih dahulu.
Hanya butuh satu kali deringan, Lisa langsung mengangkat telepon dari Rena.
[ Halo Ren ! kamu sudah baca pesan yang aku kirimkan tadi ? Sekarang wanita itu masih ada di perusahaan, mungkin saja saat ini ada di ruangannya Beni] Seru Lisa semakin membuat Rena panas.
[ Tolong kamu cari tahu siapa wanita yang tu, Lis. Karena aku tidak mungkin ke perusahaan sekarang aku lagi sama anak-anak. Daman lagi pula jika aku ke perusahaan sekarang sudah pasti Wanita itu sudah pulang saat aku sampai.] Seru Rena.
[ Oke tenang saja aku pasti akan mencari tahu siapa wanita itu. Yang jelas wanita itu bernama Dina, dia tinggi dan penampilannya cukup kampungan masih bagus kamu ke mana-mana nya.]
[ lihat saja mas Beni jika sampai dia terbukti selingkuh aku pasti akan memberi dia pelajaran]
[ Oke baiklah Rena, Aku sudah mau mulai bekerja lagi ini. Rena, nanti kalau ada info tentang wanita itu aku pasti akan segera mengabarimu. Sebagai seorang teman aku sudah pasti tidak mau kamu disakiti oleh Beni.]
[ Iya terima kasih Lisa kamu memang teman terbaikku.]
Klik
__ADS_1
Rena pun mematikan sambungan teleponnya dan segera mencoba menghubungi Beni. Namun sampai panggilan ketiga, Beni tidak mengangkat telepon darinya. Dan itu berhasil membuat Rena semakin yakin jika saat ini Beni masih bersenang-senang dengan perempuan yang bernama Dina tadi.
" Kurangajar !! awas saja kamu mas Beni jika sampai kamu benar-benar selingkuh dengan wanita yang bernama Dina tadi, aku pastikan kamu akan menyesal." Ucap Rena bermonolog sendiri.
Rena akhirnya memilih mengirim pesan singkat kepada Banin berharap deh benih setelah membacanya akan membalas pesan yang dia kirim.
[ Siapa wanita yang tadi menemui mu di tempat kerjamu Mas?. Awas saja kalau kamu sampai berkhianat dan berselingkuh aku akan meminta Satria untuk memecatmu.] Tulis Rena dengan langsung menuduh Beni yang tidak - tidak.
Rena masih saja emosi bahkan dia tidak menghiraukan panggilan dan rengekan kedua anaknya yang meminta makan. Rena masih saja sibuk dengan ponsel yang masih tetap ada ditangannya. Kedua anaknya akhirnya memilih mencari makanan didapur tapi didapur tidak ada apa - apa. Tiara mengajak adiknya untuk kerumah neneknya yang memang rumahnya tidak jauh dari rumahnya.
Mereka berdua keluar rumah tanpa pamit dengan Rena, sebab Rena malah masuk kekamar dan tidak memperdulikan anaknya.
Berjalan selama 6 menit Tiara dan Gibran sudah sampai di halaman rumah nenek nya. Pak karim yang sedang duduk di teras , melihat kedua cucunya yang datang hanya berdua dan berjalan kaki. Cuaca juga sedang terik, wajah Tiara dan Gibran sampai memerah kepanasan.
" Tiara, Gibran ! Mama kalian kemana ? Kenapa kalian kesini berjalan kaki? Cepat sini masuk, kasihan cucu - cucu kakek. " Ucap pak Karim sambil mengusap peluh Tiara dan Gibran secara bergantian.
" Mama dirumah kek. Aku lapar tapi dirumah tidak ada apa - apa. " Ucap Tiara.
" Jadi mama kamu tidak memasak ? Dari sepulang sekolah kamu belum makan siang? Adik Gibran juga ?" Tanya pak Karim lagi.
" Loh Tiara sama Gibran datang sama siapa pak ?" Tanya ibu Rahayu yang baru saja pulang dari warung membeli sabun mandi.
Sabun mandi dan keperluan mandi yang lainnya waktu itu sudah diangkut oleh Reno dan hanya menyisakan sabun cuci piring dan shampo saja. Diterjen dan sabun mandi serta pasta gigi juga ikut diangkut.
" Mereka datang berdua, jalan kaki. Rena itu tidak memasak makanya mereka berdua datang kesini untuk makan. Anak itu memang tidak tahu diri, apa dia tidak mikir jika anak - anaknya butuh makan." Ucap Pak Karim dengan kesal.
" Yah... Tambah lagi parasit yang datang menghabiskan jatah makanan. Bahan makanan sudah diangkut Reno, sekarang justru anak - anak Rena yang kesini numpang makan. Padahal Beni gajinya juga besar tapi ngasih makan anak dua saja tidak bisa. Dasar tidak tahu malu banget sih." Ucap Sinta yang tiba - tiba saja keluar dari kamar dan berucap yang membuat kedua mertuanya kesal.
Plaakk Plakk
Dua tamparan yang dilayangkan ibu Rahayu berhasil mendarat di pipi Sinta dengan mulus. Kedua pipi Sinta sama - sama merah. Siapa yang tidak akan kesal mendengar perkataan Sinta, apalagi yang dia katai adalah anak kecil.
__ADS_1
" Apa bedanya kamu dengan Reno ? Hahh... ! Kamu juga disini hanya numpang, makan minum juga aku yang menanggung. Bahkan untuk membantu mengerjakan tugas rumah saja kamu tidak mau, makan kamu tinggal makan. Mereka ini cucuku dan mereka masih kecil ! Seenaknya saja kamu mengatai mereka parasit. Yang parasit itu kamu !." Bentak ibu Rahayu penuh emosi.
Sinta masih memegangi pipinya yang masih terasa sakit dan panas akibat tamparan ibu mertuanya. Namun bukan Sinta namanya kalau tidak membalas dengan perkataan yang pedas.
" Dasar kurangajar kamu bu. Memang ibu ini siapa berani menamparku begini ? Wajahku ini wajah mahal bu, setiap bulan aku perawatan makanya wajahku mulus begini. Bangga banget sih bu, cuma ngasih makan gitu doang! Itu juga semua dari Dinda kan ? Jadi jangan berbangga diri . Lihat saja kalau saya kaya nanti aku tidak sudi berbagi sama kalian terutama ibu !!." Bentak Sinta tidak kalah sinis.
Pak karim memegangi dadanya yang terasa nyeri dan mulai sesak nafasnya. Melihat sang kakek seperti kesakitan, membuat Tiara bergegas menghampiri kakeknya dan mengajak kakeknya untuk duduk lalu Tiara mengambilkannya segelas air putih untuk kakeknya.
" Terima kasih Tiara." Ucap pak Karim dengan lembut.
" Iya kek sama - sama. Kakek jangan sakit ya, kalau kakek sakit aku dan adik Gibran pasti akan bersedih." Ucap Tiara sambil memijit tangan kakeknya.
Pak karim hanya tersenyum melihat kebaikan cucunya, Gibran juga ikut mendekat dan memijit tangan kakeknya juga.
* Anak- anakku hanya Dinda yang perduli denganku, dan 3 anakku yang lainnya sama sekali tidak perduli. Namun anak - anaknya sangat baik denganku, mereka menyayangiku .* Gumam Pak karim dalam hatinya.
Sinta dan Ibu Rahayu masih saja berdebat dan ribut di ruang makan sana. Pak karim sudah lelah menghadapi menantu dan istrinya itu yang semakin hari semakin tidak akur dan rukun. Ada saja yang mereka ributkan, seolah tidak ada habisnya. Sinta juga sebagai menantu tidak bisa bersikap sopan dan baik dengan kedua mertuanya. Bahkan dia selalu mencari masalah dengan ibu mertuanya itu.
" Kalau kamu masih kurangajar dengan ku, aku akan mengusirmu !" Seru ibu Rahayu masih saja bersitegang dengan menantunya.
" Tidak bisa ! Karena aku istri mas Rudi jadi aku juga berhak tinggal dirumah ini. Enak saja main usir segala memangnya situ siapa main usir - usir segala." Ucap Sinta seenaknya tanpa malu dia tetap bertahan dirumah mertuanya.
" Dasar menantu durhaka , menantu tidak tahu diri, menantu tidak tahu malu !! Ini itu rumahku, Jadi aku berhak mengusir siapapun dari rumah ini dan aku berhak menentukan siapapun yang mau tinggal di rumah ini. Jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini bersikap baiklah kepada mertuamu. Kalau tidak, aku benar-benar akan mengusirmu aku tidak peduli kamu mau tinggal dikolong jembatan sekalipun. Meskipun kamu istrinya Rudi. Paham !! " Bentak Ibu Rahayu.
Braaakkkk
Tanpa berkata apa-apa, Sinta langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan cukup kuat. Sebenarnya Sinta sendiri sudah tidak betah tinggal dengan mertuanya. Dia terpaksa tinggal dengan mertuanya karena saat ini hanya mertuanya yang bisa menampungnya, sebab orang tuanya sendiri juga orang tidak mampu dan tidak mungkin menghidupinya dan anaknya, Hana.
Kedua orang tua Sinta tinggal di desa yang cukup jauh, Sinta sendiri malu pulang ke rumah orang tuanya karena yang orang desa tahu Sinta dan Rudi hidup mewah dan enak di kota. Padahal sekarang ini hidupnya saja hanya menopang dari rumah mertuanya dan suaminya dipenjara.
" Coba saja kalau aku dan mas Rudi masih mempunyai rumah dan mobil sudah pasti aku saat ini tidak akan tinggal di rumah ini. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku juga aku malu, karena aku sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Perhiasanku juga makin hari juga makin habis, karena aku gunakan untuk merawat diri. Aku tidak mau wajahku kusam karena tidak perawatan." Ucap Sinta bermonolog sendiri.
__ADS_1
Meskipun sudah hidup miskin, Sinta tetap saja gengsi dan bergaya seperti sosialita. Bahkan ke salon pun masih rutin setiap bulannya dengan menjual sedikit demi sedikit perhiasan yang dia punya.
********