
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
"Mas."Seru Dinda saat melihat Satria masuk kekamar rawatnya.
Satria berjalan mendekati sang istri mencium keningnya, dia terlihat sangat bahagia melihat istrinya yang sudah siuman dan lebih membaik. Tanpa malu Satria memeluk dan mencium Dinda yang terbaring diatas brankarnya.
"Maafkan mas ya sayang?."Seru Satria meminta maaf kepada Dinda.
"Mas tidak salah jadi tidak perlu memint maaf. Mas aku ingin melihat anak kita."Seru Dinda penuh harap.
"Tapi kondisi kamu masih belum pulih sayang. Ingat tadi siang baru operasi loh, tunggu sampai kondisi kamu sehat ya."Seru Satria tidak mau terjadi sesuatu dengan Dinda.
"Aku tidak apa-apa mas. Tolong, aku ingin sekali melihat anakku. "Seru Dinda sembari mengatupkan kedua tangannya.
Hhhuuuffff
Kalau sudah seperti itu Satria juga tidak bisa berbuat apa-apa. Satria keluar dari kamar rawat untuk mengambil kursi roda, dan meminta izin dokter terlebih dahulu untuk membawa Dinda ke kamar bayinya. Beruntung dokter mengizinkan dan hanya diberikan waktu 15 menit saja dan ada suster yang menemani Dinda.
Satria masuk kamar rawat Dinda membawa kursi roda dan satu orang suster yang akan membantu Dinda.
"Mari saya bantu bu."Seru suster dengan ramah.
"Terimakasih Suster."Seru Dinda tersenyum ramah.
"Emm.. Satria, Dinda. Maaf ya, aku mau pulang dulu ya. Soalnya Joni sendirian dirumah, tapi aku janji besok akan datang kesini lagi."Seru Reno berpamitan untuk pulang.
"Iya mas tidak apa-apa, kasihan juga Joni kalau harus dirumah sendiria. Mana mas Reno sudah dari siang kan disini? Oh iya, bapak sama ibu sekalian saja pulang sama mas Reno. Biar Satria yang menemani Dinda dirumah sakit, ibu sama bapak juga pasti capek dan butuh istirahat."Seru Satria meminta kedua mertuanya untuk pulang terlebih dahulu.
Satria tidak mau kedua mertuanya kelelahan dan akan jatuh sakit. Dinda juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Satria.
"Yang dikatakan mas Satria benar pak, bu. Lebih baik bapak dan ibu pulang dan istirahat dirumah, gampang besok bisa kesini lagikan?."Seru Dinda.
"Iya nak, bapak dan ibu kalau begitu pulang dulu ya. Kamu juga harus banyak istirahat, Satria kalau ada apa-apa tolong langsung hubungi kami."Seru pak Karim.
__ADS_1
Padahal ibu Rahayu masih ingin dirumah sakit menemani Dinda, namun suaminya juga sudah mengajaknya pulang. Dengan terpaksa akhirnya ibu Rahayupun ikut pulang bersama Reno dan suaminya. Setelah keluarganya pulang, Dinda dan Satria langsung datang ke kamar bayi khusus inkubator.
"Mas, kasihan sekali anak kita. Maafkan mamaya sayang, gara-gara mama kamu harus lahir lebih cepat."Seru Dinda sembari menitikan air matanya.
"Sabar ya sayang. Anak kita tidak akan kenapa-kenapa kok, dia akan sehat dan bisa untuk segera kita bawa pulang. Pasti nenek senang sekali melihat cucunya sudah lahir."Seru Satria yang ternyata dia melupakan memberitahu neneknya.
"Aamiin semoga saja anak kita selalu sehat."Seru Dinda namun tidak mendapat jawaban Satris.
Dinda beralih memandang kearah suaminya, ternyata suaminya sedang sibuk dengan ponsel ditangannya seperti sedang menghubungi seseorang. Satria memang sedang menghubungi seseorang, seseorang itu adalah neneknya. Dia lupa untuk memberitahu neneknya jika Dinda sudah melahirkan, pak sopir tadi siang sebelum pulang sudah Satria minta untuk jangan memberitahu neneknya dulu.
"Sepertinya suami ibu Dinda sedang nenghubungi seseorang."Seru suster yang ada disamping Dinda.
"Iya suster."Jawab Dinda sedikit kesal sebab Satria lebih penting dengan ponselnya.
[Hallo, assalamualaikum nek.]
[Waalaikumsalam Satria. Kamu ada dimana, kok jam segini belum pulang? Apa kamu sekarang bersama, Dinda. Dia pamit ke Cafe tapi sampai sekarang juga belum pulang.]
[Emmm.. Maaf ya nek sudah bikin nenek cemas. Dinda saat ini ada sama Satria kok nek, kami ada dirumah sakit.]
[ Apa ? Rumah sakit? Apa yang terjadi dengan kalian?]
[Huhhh bocah semprul. Melahirkan dari tadi siang kenapa baru memberitahu nenek. Sengaja kamu melupalan nenek mu. Tapi kenapa sudah melahirkan, bukannya kandungan Dinda baru 8 bulan?.]
[ Bayinya yang mau lahir cepat nek. Emm, nenek besok saja ya kesininya. Soalnya ini juga sudah malam banget , nenek lebih baik sekarang istirahat saja. Assalamualaikum.]
[Waalaikumsalam. Sat.....]
Klik.... Satria mematikan sambungan teleponnya, padahal terdengar neneknya masih ingin berbicara. Satria cari aman, tidak mau mendengar neneknya marah-marah ditelepon.
*Ohh mas Satria menghubungi nenek, aku kira sibuk dengan ponsel karena soal pekerjaan. Maafkan aku mas tadi sudah sempat kesal sama kamu.*Gumam Dinda dalam batinnya.
"Mas, baru memberitahu nenek?."Tanya Dinda memastikan.
"Iya sayang. Mas lupa, heheheee." Seru Satria sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suster boleh tidak saya masuk kedalam sana untuk melihat anak saya dari dekat?."Tanya Dinda penuh harap.
"Maaf ya bu. Untuk sementara hanya bisa melihat dari sini saja, doakan saja semoga dede bayinya bisa cepat keluar inkubator dan dibawa pulang kerumah berkumpul dengan keluarga yang lainnya."Seru suster dengan ramah.
__ADS_1
Dinda terlihat lesu karena keinginannya untuk bisa masuk dan melihat anaknya dari dekat tidak diperbolehkan. Satria dan Dinda akhirnya kembali lagi ke bangsalnya, sebab waktu yang diberikan oleh dokter sudah habis. Kini waktunya Dinda untuk istirahat agar keadaannya segera pulih.
*********
Sedangkan di rumah panti pijat plus milik Sinta, Sinta dan Hakim sedang gelisah menantikan kedatangab Sarah. Padahal seharusnya jam 9 tadi Sarah sudah datang ke hotel XX untuk menemui pelanggannya. Namun sampai jam 10 malam Sarah belum juga datang padahal uang 50 juta sudah masuk ke rekening Sinta untuk membayar jasa Sarah.
"Bagaimana ini mas? Sarah sampai sekarang belum sampai ke hotel juga, mana ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Padahal dia sudah terima uangnya 25 juta juga loh, awas saja kalau sampai dia tidak datang karena sibuk dengan teman prianya yang lain."Seru Sinta dengan geram.
"Coba kamu hubungi lagi, siapa tahu sekarang sudah bisa dihubungi."Saran Hakim meminta Sinta untuk menghubungi Sarah lagi.
Sinta mengangguk lalu kembali menghubungi Sarah dan berharap ponsel Sarah sudah bisa dihubungi. Namun ternyata hasilnya nihil, ponsel Sarah tetap tidak bisa dihubungi.
"Mas tetap tidak bisa. Sebenarnya kemana si Sarah itu? Kalau sampai dia tidak datang, pelanggan itu meminta ky untuk mengembalikan uangnya. Padahal yang 25 juta tadi siang sudah aku transfer kerekening Sarah, enak di dia dong tidak kerja dapat 25 juta. Sedangkan kita harus mengembalikan uang itu full 50 juta."Seru Sinta dengan kesal.
"Terus kita harus bagaimana? Apa kita kerumah Sarah saja untuk memastikan dia ada dirumah atau tidak."Seru Hakim juga bingung. Dia merasa heran dengan Sarah, padahal selama ini Sarah tidak pernah seperti ini. Biasanya jika ada pelanggan lain, Sarah selalu bilang dengan Hakim.
Dreett Dreettt Dreettt
Ponsel Sinta berdering tanda ada panggilan masuk, Sinta mengira itu panggilan dari Sarah sehingga tanpa melihat nama kontak Sinta langsung mengangkat teleponnya.
[ Hallo Sarah, kamu dimana?.]
[ Sarah... Sarah !! Aku ini Roki oranh yang akan menyewa wanita bersama Sarah. Mana Sarah ? Sampai sekarang dia juga belum datang, aku sudah menunggu nya dari jam 8 tadi. Seharusnya jam 9 dia sudah datang ini sudah lewat jam 10 malam. Sudah tidak ada toleransi lagi, cepat kembalikan uang ku, jika tidak aku akan hancurkan usahamu.]
[Haahh... Tolong jangan hancurkan usaha ku. Baiklah pak Roki saya akan mentransfer uang anda sekarang juga. Tolong kirimkam rekening anda.]
[Baiklah, aku juga minta ganti rugi 20 juta karena waktuku sudah terbuang sia-sia untuk menunggu hal yang tidak pasti.]
[Haahh.. Mana bisa begitu dong pak. Uang anda yang 25 juta itu sudah saya transfer kepada Sarah, jadi saya kembalikan 50 juta juga itu sudah bagus. Mana bisa anda minta tambahan 20 juta lagi.]
[Ok kalau begitu saya akan laporkan usaha kamu kepada polisi, kamu juga menjual minuman beralkohol dan usaha perjudian. Sama saja kamu itu juga memperjual belikan jasa wanita pemuas nafsu dengan kedok panti pijat. Tinggal pilih tambah 20 juta atau kamu aku laporkan polisi.]
[Baiklah. Kirim nomer rekening kamu.]
Dengan kesal Sinta langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan setelah ada pesan dari Roki, segera mentransfer uang 70 juta kepada pria yang bernama Roki.
"Sial ! Gara-gara Sarah aku rugi banyak. Mana lagi sepi begini, ini semua gara-gara Sarah. Mas,temani aku kerumah Sarahdan jika tidak ada dirumahnya kita cari dia."Seru Sinta dengan kesal.
Hakim menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua sama-sama keluar rumah menuju mobil yang terparkir di depan rumah mereka.
__ADS_1
************