Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Hasil pemeriksaan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Apa sakit j4ntung?." Seru Satria kaget saat Dokter Fikri memberitahu hasil pemeriksaan.


Dari hasil pemeringksaannya, terlihat jelas jika Hakim menderita sakit j4ntung yang sudah cukup parah dan harus menjalani operasi pemasangan ring secepatnya. Jika tidak dilakukan cepat, akan membahayakan Hakim.


" Kamu pasti sudah tahu kan? Dan kamu sengaja merahasiakanya? Sejak kapan kamu sakit?."Tanya Satria secara beruntun.


" Tiga bulan terakhir ini aku tahu jika aku sakit j4ntung, tapi aku sudah sering sesak nafas dari lama. Bahkan saat aku masih menjadi suami Sinta."Jawab Hakim berkata jujur.


Tidak ada gunanya juga dia bicara bohong dengan Satria. Sebab bohong dengan Satria itu percuma, Satria pasti juga akan tahu semuanya.


" Lakukan apa yang terbaik untuknya, Fik. Masalah biaya kamu tidak perlu khawatir, berapapun biaya yang dibutuh aku pasti akan menyediakannya." Ucap Satria dengan cepat.


" Kurang lebih 200 sampai 250 juta, dua ring yang harus di pasang."Ucap dokter Fikri.


Hahhhh? 250 juta?


Hakim kaget dan melongo mendengar dokter Fikri menyebutkan uang yang harus dikeluarkan untuk biaya operasi nya. Uang sebanyak itu sudah tentu Satria punya, bahkan lebih dari itipun Satria punya. Tapi, Hakim tidak mau menyusahkan Satria.


" Tidak masalah, berapapun aku sanggup."Jawab Satria dengan mudahnya.


" Kak ! Uang 250 juta itu bukan uang sedikit, apa kakak tidak akan rugi mengeluarkan uang sebanyak itu untuk ku. Itu hanya biaya operasi nya saja kak, belum obat dan yang lainnya. Sudahlah aku tidak usah di operasi, aku minum obat-obatan saja pasti bisa sembuh. Operasi tunggu nanti jika aku sudah punya uang sendiri." Ucap Hakim menolak operasi nya secara halus.


Sebenarnya dia sangat ingin segera dan bisa sembuh, tapi dia tidak mau menjadi beban Satria. Hakim dilema dengan keputusannya sendiri.


Satria tidak memperdulilan omongan Hakim, dia tetap meminta dokter Fikri untuk segera menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk operasi Hakim.


" Sepertinya mulai besok Hakim harus sudah rawat inap di di rumah sakit, agar aku bisa memantau kondisinya. Jika kondisinya sudah OK kita bisa langsung melakukan operasinya. Lebih cepat lebih baik, agar Hakim tidak semakin sakit dan tersiksa saat sesak nya melanda."Ucap Fikri dengan serius.

__ADS_1


" Apapun yang terbaik kamu lakukan saja, Fik. Aku percayakan semua ini sama kamu."Ucap Satria.


" Aku akan berusaha semampu ku, Satria. Oh iya, ini resep obat-obatan yang harus kamu tebus. Selama dirumah Hakim harus rutin minum obat, besok setelah di rumah sakit aku sendiri yang akan memantaunya."Ucap dokter Fikri sambil memberikan resep obat kepada Satria.


Satria mengambilnya, setelah urusannya selesai. Satria dan Hakim pun pamit, mereka berdua keluar dari ruangan dokter Fikri. Satria mengajak Hakim kesalah satu ruangan lagi dan Hakim hafal betul ruangan siapa yang Satria tuju.


" Kak, kenapa kesini?." Tanya Hakim serius.


" Tidak perlu banyak tanya, aku sudah tahu apa yang terjadi dengan mu. Jadi soal ini kamu tidak bisa merahasiakannya, kamu tidak perlu khawatir. Uang ku itu banyak dan tidak akan habis kalau hanya untuk biaya rumah sakit mu. Cepat masuk."Seru Satria ada dalam mode galak.


Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Hakim menurut saja dengan perintah Satria. Kini Hakim dan Satria sudah berada di dalam ruangan dokter Anwar. Dokter Anwar adalah dokter dimana dulu Hakim memeriksakan kesehatannya.


" Loh ini bukannya pak, Hakim? Bagaimana kabarnya pak?."Tanya dokter Anwar.


" Baik dokter."Jawab Hakim gugup.


Ehhheemmm


Satria sengaja berdehem untuk mencairkan suasana. Terlihat sekali Hakim tegang saat berhadapan dengan dokter Anwar.


" Jadi begini dokter, Anwar. Saya membawa adik saya kesini karena saya mau anda memeriksanya. Pasti anda sudah tahu apa yang dialami adik saya, sebab kalian juga sudah saling kenal. Saya mau pengobatan yang terbaik untuk adik saya." Ucap Satria serius.


Hakim masuk ketempat pemeriksaan yang ada di ruangan dokter Anwar. Tentunya hanya Hakim dan dokter Anwar yang masuk, Satria hanya menunggunya di kursi yang ada didepan meja kerja dokter Anwar.


*******


Sarah yang sudah tahu Ardi adalah suami Sinta, justru dia semakin berambisi untuk merebut Ardi dari tangan Sinta. Dia akan merebut Ardi seperti dulu saat dia merebut Hakim dari Sinta.


Namun untuk kali ini, Sarah harus bekerja secara ekstra. Sebab Ardi juga bukan pria hidung belang jadi sulit untuk ditaklukkannya.


" Pokoknya aku harus bisa mendapatkan Ardi. Aku sudah jatuh cinta dari pandangan pertama dengannya. Mana dia juga orang kaya, pasti dia banyak duitnya. Uang di tabungan ku juga sudah menipis, jadi aku harus cepat cari suami yang bisa menopang full kehidupanku."Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.


Semenjak bertemu dengan Ardi, kini Sarah lebih suka berada di luar rumah. Jalan-jalan tidak jelas, dan berharap bisa bertemu dengan Ardi. Tidak peduli meskipun Ardi suami Sinta. Seperti saat ini, Sarah sedang menikmati secangkir cokelat panas dan di temani dengan cake kesukaannya di salah satu cafe yang sedang hits dan di gandrungi para anak muda.


Segerombolan anak-anak sekolah datang secara bersamaan dan suasana yang tadinya tidak terlalu ramai kini menjadi ramai. Ada selitar 6 anak SMP yang baru datang dan duduk tidak jauh dari tempat Sarah duduk. Sarah mengenali salah satu anak SMP itu.

__ADS_1


" Joni." Seru Sarah yang mengenali salah satu anak SMP itu dan ternyata itu adalah Joni.


Sarah berjalan mendekati kumpulan anak-anak SMP itu, dan tanpa ragu dia langsung memanggil nama anaknya.


" Joni." Seru Sarah dan berhasil membuat mereka semua langsung terdiam.


" Siapa dia, Jon. Mama kamu?." Tanya salah satu teman Joni.


Ingin rasanya Joni menjawab bukan, namun dia tidak mau mempermakukan dirinya sendiri didepan teman-temannya. Dengan dia menjawab bukan, sudah pasti Sarah akan marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.


" Iya dia mama ku. Maaf, aku mau bicara dulu dengan mama ku ya."Ucap Joni terpaksa menjauh untuk bicara dengan Sarah.


" Ma, kita bicara di meja mama saja. "Ucap Joni dengan cepat.


" Iya." Jawab Sarah.


Sarah dan Joni kini sudah duduk di tempat yang tadi sudah diduduki oleh Sarah. Mereka diam seseaat, Sarah takjub dengan perubahan Joni yang sangat pesat. Joni semakin tinggi, badannya juga berisi, kulit nya semakin bersih dan yang pasti Joni semakin tampan mirip sekali dengan papanya.


" Kamu mirip sekali dengan papa kamu, Joni." Seru Sarah mulai membuka suara.


" Aku anak papa, sudah pasti aku mirip dengan papa ku lah Ma. Masa mau mirip sama tetangga, kan tidak lucu. Kecuali kalau dulu mama mencetaknya bukan dengan papa, baru Joni tidak mirip papa."Ucap Joni dengan senyum tersungging.


" Joni !! Jaga sikap kamu, biar bagaimanapun aku ini mama kandung kamu. Kalau bukan karena aku, kamu tidak akan pernah ada di dunia ini." Ucap Sarah dengan geram.


Menurutnya Joni terlalu berani dan kurangajar dengannya. Sarah mau, Joni tetap hormat dan tetap menghargainya sebagai orang tuanya. Tidak seperti ini, bicara semaunya dan tidak memperdulikan perasaan nya.


" Jika boleh memilih, aku juga tidak mau dilahirkan oleh mama. Jujur ma, Joni malu mempunyai mama seperti mama. Sebenarnya Joni ingin marah, ingin mencaci maki mama tapi Joni urungkan. Karena Joni tidak mau menjadi anak yang durhaka, seburuk apapun mama memang benar mama adalah mama kandungku. Sudahlah jangan membicarakan hal yang sensitif, sebenarnya mama ada apa sampai menemui ku saat aku sedang bersama teman-teman ku. Oh iya, lupa? Mama sedang hamil ya? Kalau dilihat-lihat usia kehamilan mama tidak jauh dari mama Cahaya." Ucap Joni baru menyadari perut mamanya yang sudah membuncit.


Usia kandungan Sarah saat ini sudah 7 bulan, hanya selisih 1 bulan dari Cahaya. Cahaya sendiri saat ini sudah masuk 8 bulan, dan acara tujuh bulanannya hanya diadakan di panti saja.


" Mama memang hamil, sebentar lagi kamu akan mempunyai adik, Joni. Dan ini adik perempuan, semoga saja nanti kamu dan anak ini bisa akur ya. Oh iya, kamu sekarang sudah SMP mama bangga melihat kamu seperti ini." Seru Sarah.


" Terima kasih. Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku mau kembali bergabung dengan teman-teman lagi."Seru dengan tegas.


" Baiklah, sana kembali berkumpullah dengan teman-teman mu. Mama juga sudah mau pulang, nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oh iya mama sekarang tinggal di kota X jika kamu ada waktu mainlah kerumah mama."Ucap Sarah sambil memgusap pundak Joni.

__ADS_1


* Kota X ? Dari sini ke kota X itu butuh waktu tempuh 1 setengh jam sampai 2 jam. Kenapa mama nongkrongnya di cafe ini, bukannya lumayan jauh dari tempatnya tinggal.*Gumam Joni dalam hatinya.


*************


__ADS_2