Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Dua wanita hamil bertemu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sarah mengajak Bayu untuk ke rumah sakit periksa kandungan. Untuk kali ini Sarah mengajak di rumah sakit yang cukup jauh, tepatnya ada di daerah tempat tinggalnya yang dulu. Sarah juga ingin menemui dokter yang menangani penyakitnya, untuk konsultasi penyakitnya karena dia juga saat ini sedang hamil.


"Kenapa ke daerah sana si, Sayang? Lama loh perjalanan 1 jam lebih."Ucap Bayu dengan malas.


"Kamu jangan banyak protes !! Sudah ikut saja apa kata saya, daripada kamu tidak aku kasih uang. Lagipula di rumah sakit itu lengkap dan pelayanannya bagus, tidak seperti rumah sakit di sini. Sudah ayok berangkat, kamu yang bawa mobilnya."Seru Sarah dengan kasar.


Hhuuuffff


Bayu hanya bisa pasrah, dia mengikuti apa saja yang sudah menjadi keputusan Sarah. Padahal dia ingin pulang dan tidak mau menemui Sarah lagi. Bayu lebih memilih kehilangan aset uangnya daripada harus menikah dengan Sarah. Dia masih ingin berkuliah dan menjadi sarjana seperti keinginan orang tuanya.


"Ya sudah terserah kamu. Tapi ini sudah jam 1 siang, kita sampai sana pasti hampir jam setengah 3 sore. Pasti kita sampai sini lagi saat malam atau petang."Seru Bayu mencoba untuk tetap protes.


"Tidak masalah. Ayo berangkat sekarang dan banyak bicara, kalau kamu ngoceh terus kapan mau berangkatnya."Ucap Sarah sembari mendengus dengan kesal.


Bayu menerima kunci mobil yang diberikan Sarah, dengan malas dia menuju mobil dan diikuti Sarah. Bayu duduk di tempat kemudi setir sedangkan Sarah duduk di sampingnya. Untuk kali ini Bayu akan mengikuti kemauan Sarah, namun tidak untuk hari berikutnya.


Mobil mulai melaju membelah jalanan yang cukup lenggang. Sepanjang perjalanan Bayu dan Sarah hanya saling diam, Sarah sibuk dengan ponselnya dan Bayu sibuk dengan kemudi setir nya.


Untuk mengurangi rasa sepi, Bayu mencoba mrnghidupkan musik agar perjalanannya tidak membosankan.


"Jangan kuat-kuat, kepala ku pusing kalau mendengar musik yang kuat seperti itu. Kecilkan volume nya !!."Seru Sarah tidak suka Bayu menyetel musik terlalu kencang.


Tanpa menjawab, Bayu langsung mengecilkan volume musik yang saat ini dis putar. Sarah melirik sekilas kearah Bayu, dilihatnya wajah Bayu sama sekali tidak bersahabat.


"Kamu tidak suka dengan kehamilan ku?."Tanya Sarah sembari memasukkan ponselnya di tas tentengnya.


"Iya."Jawab Bayu dengan singkat.


Tidak perlu berbohong, pada dasarnya Bayu memang tidak suka dengan kehamilan Sarah apalagi sampai harus menikah dengan Sarah. Dia selama ini mau dengan Sarah juga karena Sarah yang membutuhkannya. Jadi Sarah juga tidak berhak menuntut Bayu untuk menikahi nya.


"Kenapa kamu tidak suka?."Tanya Sarah.


"Bukannya dari tadi aku sudah bilang jika aku belum siap punya anak dan menikah. Aku ingin menyelesaikan kuliah ku dan bekerja. Kan kamu yang ngeyel mau menikah, ya sudah aku turuti. Lagi pula bayi itu juga bisa di gugurkan jadi kita tidak repot-repot menikah."Seru Bayu bicara tanpa melihat kearah Sarah.


"Apa? Digugurkan? Haii Bayu !! Meskipun aku ini bukan wanita baik-baik, aku tidak semudah itu mau mengugurkan bayi ini. Karena taruhan nya itu nyawaku. Kamu kira menggugurkan kandungan itu tidak sakit dan tidak butuh biaya? Memang kamu ada uang? Selama jalan dengan ku saja aku yang sudah keluar uang."Ucap Sarah dengan marah.


"Kamu kan banyak uang, jadi untuk apa aku keluar uang? Bukannya kamu juga yang selama ini membayarku setiap kali kita habis bermain? Seharusnya kamu tidak menuntutku untuk menikahimu, ibaratnya p3l@cur hamil itu sudah jadi resiko."Jawab Bayu monohok.


Sarah langsung terdiam setelah mendengar jawaban dari Bayu. Apa yang dikatakan Bayu memang ada benarnya, namun Sarah tidak mau hamil tanpa suami. Dia tidak mau mendapat cibiran dari masyarakat. Mau tidak mau dia tetap harus memaksa Bayu untuk menikahinya, tidak peduli usia mereka terpaut cukup jauh.


*Kurangajar !! Bocah ingusan ini mulutnya tajam juga kalau bicara. Huuhh biarpun bocah ingusan dia sudah bisa menghamiliku jadi bukan lagi bocah ingusan.*Gumam Sarah dalam hatinya.


Mobil yang dikendarai Bayu terus melaju ke rumah sakit daerah XX. Bayu sedikit takut, sebab daerah itu dekat dengan tempat tinggal kedua orang tuanya.


"Kamu tahu rumah sakitnya?."Tanya Sarah heran sebab Bayu tidak menanyakan arah jalan nya terlebih dahulu.


"Ini sudah mau sampai, jadi sudah pasti aku tahu."Jawab Bayu dengan malas.

__ADS_1


"Oh begitu."Jawab Sarah hanya ber oh ria saja lalu kembali fokus dengan ponsel ditangannya.


Sementara itu saat ini Cahaya juga sudah dirumah sakit dan masih ikut tergabung dalam antrian bersama ibu-ibu hamil yang lainnya. Masih ada 3 ibu-ibu lagi sebelum giliran Cahaya tiba.


"Sudah hamil berapa bulan mbak?."Tanya ibu-ibu yang duduk tepat di samping kanan Cahaya.


"Emmm belum tahu bu. Hari ini saya baru mau periksa, soalnya sudah 2 bulan ini saya telat haid."Jawab Cahaya jujur. Sebab dia memang belum tahu hamil atau tidak nya.


"Oh begitu. Semoga saja nanti hasil pemeriksaannya positif ya mbak."Ucap ibu itu terlihat tulus mendoakan Cahaya.


"Aamiin. Kalau boleh tahu usia kehamilan ibu susah berapa bulan?."Tanya Cahaya ingin tahu, sebab perut ibu itu sudah membesar.


"Sudah 7 bulan mbak dan ini hamil anak yang ke lima."Jawabnya dengan senyum ramah.


Cahaya mengira jika ibu-ibu disampingnya itu baru hamil anak pertama, ternyata sudah hamil anak yang kelima. Padahal usia ibu itu sepertinya juga tidak seberapa jauh dari usianya saat ini.


"Saya kira tadi hamil anak pertama atau kedua, ternyata sudah anak yang kelima ya bu."Ucap Cahaya berkata jujur.


"Saya dulu menikah usia 19 tahun mbak, saat ini usia saya 30 tahun. Jadi saya hamil sudah seperti kucing saja ya mbak. Di usia pernikahan menginjak 11 tahun saya sudah mau punya anak lima."Jawab ibu itu terkekeh dengan geli.


"Tidak apa-apa bu, banyak anak justru banyak rejekinya kok."Jawab Cahaya.


Obrolan mereka terhenti sebab ibu itu sudah mendapat giliran untuk masuk ruangan pemeriksaan. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Cahaya memainkan ponselnya berselanjar di dunia maya membaca artikel tentang kehamilan.


"Kamu tunggu saja disini, nanti tidak usah ikut masuk ruangan dokter."Ucap Sarah yang ternyata sudah sampai rumah sakit.


Sarah duduk di kursi tunggu depan Cahaya, Sarah maupun Cahaya belum saling tahu jika mereka ada di tempat yang sama.


"Iya."Jawab Bayu dengan singkat.


"Hai bukannya ini istrinya, Reno?." Tanya Sarah yang menyadari keberadaan Cahaya lebih dulu.


"Mbak Sarah?."Seru Cahaya dengan kaget.


Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Sarah di rumah sakit. Apalagi sama-sama sedang menunggu antrian di ruang dokter kandungan. Cahaya melihat ada seorang pria muda yang duduk di samping Sarah. Dia mengira jika pria itu adalah anak sambung Sarah dengan suami barunya.


"Kenapa kaget? Oh iya kamu sekaranv juga sedang hamil? Hemm sama dong, sekarang aku juga sedang hamil nih. Tapi kok kamu ke dokternya sendirian? Mana mas Reno? Atau jangan-jangan kamu sudah di campakkan oleh mas Reno. Huuuhh kasihan banget sih nasib kamu."Ucap Sarah mencibir Cahaya.


"Siapa yang kamu bilang mencampakkan istri sebaik dan selembut, Cahaya ?." Tanya seorang pria yang tiba-tiba saja datang dan melangkah mendekati Cahaya.


Cahaya tersenyum senang saat melihat suaminya datang seperti seorang pahlawan yanv menyelamatkannya. Cahaya malas berdebat dengan Sarah sehingga kedatangan Reno sangat dia butuhkan.


"Sayang kok kamu diam saja sih?."Seru Sarah sambil melingkarkan tangannya di lengan Bayu yang memang sedari tadi diam saja.


Kini Reno sudah duduk di samping Cahaya dan mereka sama-sama heran dengan kelakuan Sarah. Pria yang tadi Cahaya kira anak sambung Sarah, ternyata Sarah memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Jangan seperti ini dong, malu tuh dilihat orang."Seru Bayu pelan tapi masih bisa didengar oleh Cahaya dan Reno.


"Ihhh sayang, anak kita loh yang ingin bermanja-manja sama papanya. Sudah jangan malu-malu dong, lagian kita suami istri ini."Seru Sarah yang memang sengaja bermesraan di depan Cahaya dan Reno agar mereka merasa iri dengan keharmonisan dan keromantisan Sarah dan Bayu.


Sarah sampai berbohong jika mereka sudah menikah. Itu semua agar Reno menyesal menolaknya, dan Sarah bisa mendapatkan lelaki yang lebih muda darinya.


"Mas, masa sih pria itu suami nya mbak Sarah? Itu malah lebih cocok jadi anaknya loh, kok malah jadi suaminya? Yakin itu suaminya?."Tanya Cahaya secara beruntun namun dia memelankan suaranya.


"Sudah biarkan saja, jangan mengurusi hidupnya. Ini dirumah sakit jadi jangan buat keributan, kalau saja tidak dirumah sakit pasti tadi mulut lemesnya sudah aku tampar."Seru Reno sembari melirik tajam kearah Sarah.

__ADS_1


Kini giliran ibu yang lainnya masuk ke ruang pemeriksaan. Di ruangan tunggu itu kini hanya tingfal Cahaya dan Reno serta Sarah dan Bayu. Sarah terlihat memamerkan kemesraan di hadapan Cahaya dan Reno, namun justru Cahaya dan Reno mual dan berasa ingin muntah melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Sarah dan pasangannya.


Bagaimana tidak mual jika melihat orang berciuman di hadapannya. Sarah dan Bayu benar-benar tidak punya malu lagi, Bayu sendiri sebenarnya hanya mengikuti permainan Sarah saja.


"Sarah, kamu di cariin mbak Sinta tuh. Katanya kamu di suruh bayar hutang-hutang kamu. Enak saja pergi meninggalkan hutang yang lumayan banyak. Kamu jual rumah juga tidak memberitahu ku lagi, biarpun aku tidak meminta bagian dari hasil penjualan rumah itu, setidaknya kamu berikan bagianku untuk Joni. Sebab Joni berhak atas rumah itu."Ucap Reno akhirnya menyampaikan apa yang selama ini ingin dia sampaikan.


"Bukan urusan mu lagi, tah rumah itu atas namaku. Dan soal Joni, dia itu tanggung jawab kamu. Sebagai seorang ayah kamu yang wajib menafkahinya, rumah itu sudah hak milikku jadi uang nya ya milikku."Jawab Sarah membela diri dan menganggap dirinya paling benar.


Baru juga Reno ingin menjawabnya, namun nama Cahaya sudah keburu di panggil. Akhirnya Reno menemani Cahaya masuk keruangan pemeriksaan. Sedangkan di ruang tunggu sedang terjadi perdebatan antara Sarah dan Bayu.


"Jadi pria tadi mantan suami kamu?."Tanya Bayu ingin tahu.


"Iya. Dia mantan suami ku, dan wanita tadi itu istri barunya. Kenapa? Kamu kaget karena aku mempunyai mantan suami yang tampan dan kaya seperti dia. Kamu di bandingkan dengan dia kalah jauh, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mas Reno.


"Lagi seperti itu kamu kembali saja sama dia dan tidak usah menikah dengan ku."Jawab Bayu dengan ketus.


Sarah langsung mencubit paha Bayu dengan keras, sampai Bayu mendengus kesakitan. Bayu semakin kesal dan muak berada di dekat Sarah.


"Kamu punya anak juga dengan mantan suami mu itu?."Tanya Bayu ingin tahu lebih banyak soal Sarah.


"Punya, anak laki-laki usianya sekitar 13 tahun dan saat ini sudah kelas 1 SMP."Jawab Sarah dengan sangat santainya.


Haaaahhhhh


Umur 13 tahun? Bayu terperangah saat mengetahui Sarah mempunyai anak laki-laki yang saat ini berusia 13 tahun. Hanya selisih 6 tahun dengan nya, membuat Bayu semakin yakin untuk meninggalkan Sarah.


"Alhamdulillah usia kandungan ibu Cahaya saat ini sudah 6 minggu."Ucap dokter Farah menjelaskan.


"Alhamdulillah. "Seru Cahaya dan Reno bersamaan.


Cahaya sangat senang mengetahui jika dirinya hamil. Bahkan usia kehamilannya baru ketahuan saat sudah masuk 6 minggu. Tiada kebahagiaan yang sempurna selain mengetahui jika dirinya benar-benar hamil. Cahaya secara reflek langsung memeluk suaminya, Reno.


"Terimakasih dokter. "Jawab Cahaya sembari secara perlahan melepaskan pelukannya.


Setelah pelukannya terlepas dia merasa malu dan sungkan. Namun dokter Farah tidak mempermasalahkannya, orang bahagia pasti di ungkapkan dengan caranya sendiri.


"Sama-sama pak, buk. Ini saya resepkan Vitamin dikonsumsi sampai habis ya."Seru dokter Farah dengan ramah.


"Iya dokter."Jawab Cahaya.


Selesai pemeriksaan dan urusannya dengan dokter selesai. Cahaya dan Reno pun keluar dari ruangan dokter Farah dan kini giliran Sarah yang masuk namun tanpa ditemani oleh Bayu. Bayu memilih menunggu Sarah di ruang tunggu saja ketimbang ikut masuk dan melihat janin dalam kandungan Sarah.


"Kamu sudah berapa lama menikah dengan Sarah?."Tanya Reno menghampiri Bayu.


"Emm.. Emm belum lama. Mungkin baru satu bulan ini."Jawab Bayu berbohong.


Tidak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya, jika dia dan Sarah belum menikah. Bayu tidak mau di cap sebagai lelaki b@jin9@n yang sudah menghamili wanita sebelum menikah.


"Oh.. Cepat juga ya Sarah hamilnya. Tapi kenapa aku tidak yakin ya kalau kalian sudah menikah."Seru Reno tersenyum mengejek.


"Mas, Sudah jangan buat dia takut karena kamu. Yuk kita tebus vitaminnya dulu, nanti keburu tempat penebusan obatnya tutup."Seru Cahaya mengajak Reno meninggalkan tempat itu.


Tanpa menolak ajakan Cahaya, Reno hanya mengangguk patuh. Dia juga tidak ada niat untuk mencari ribut dengan Bayu, dia tadi hanya sekedar bertanya saja.


*Sarah memang pembawa sial ! Gara-gara dia aku terpojok seperti ini. Tahu begitu aku menunggu di mobil saja. Huuhh lebih baik aku menunggu di mobil saja, nanti aku kirim pesan saja kepada Sarah. Lama-lama malu juga aku dilihat oleh banyak pasang mata.*Gumam Bayu dalam batinnya.

__ADS_1


************


__ADS_2