Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Siapa wanita itu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Joni pulang dengan wajah murung, jujur dia tadi saat bertemu dengan Sarah merasa kaget melihat kondisi Sarah yang sedang hamil. Bahkan kehamilan Sarah sudah membesar dan sama dengan Cahaya. Dengan begitu dalam waktu dekat, Joni akan mempunyai dua adik sekaligus.


Pak Karim melihat cucunya yang diam melamun, dia pun menghampiri Joni. Pak Karim duduk di samping Joni, Joni hanya tersenyum kecil saat melihat kakeknya sudah ada di sampingnya.


" Kamu kenapa, Joni? Kakek perhatikan dari tadi kamu ini melamun, ada masalah di sekolahan?." Tanya Pak Karim dengan lembut.


" Kek, sebentar lagi Joni akan punya adik kek. Dan Joni akan punya adik dua, satu dari Bunda dan satu lagi dari mama. Kek, apa mama sudah menikah lagi?."Tanya Joni membuat pak Karim bingung menjawabnya.


Joni terus memikirkan apakah mamanya itu sudah menikah sehingga dia bisa hamil seperti itu. Meskipun dia tahu wanita seperti apa mamanya itu. Jika pun hamil ada suaminya, Joni tidak masalah akan tetapi jika hamil tanpa suami Joni sangat-sangat malu mengakui Sarah sebagai mamanya.


" Kenapa bicara seperti itu? Jika mama kamu sekarang hamil, sudah pasti dia sudah menikah lagi. Memangnya kamu tadi bertemu mama kamu dimana?."Tanya pak Karim dengan bahasa yang lembut.


" Joni bertemu dengan mama di cafe Kek, tadi aku dan teman-teman mengerjakan tugas sekolah di Cafe yang tidak jauh dari sekolahan dan mama ada disana. Perut mama sudah besar kek, sebesar perutnya Bunda."Jawab Joni bicara dengan jujur.


Hhhhhuuuuffff


Pak Karim mengusap punggung Joni, dia tahu saat ini cucunya itu bingung memikirkan mamanya, Sarah. Pak Karim sudah tahu jika Sarah hamil, tapi tidak tahu siapa suaminya sebab tidak pernah terdengar Sarah menikah lagu setelah bercerai dari Reno. Sarah hanya senang bergonta-ganti pasangan saja.


Cahaya yang melihat pak Karim dan Joni duduk di teras depan, Cahaya pun menghampirinya dan ingin tahu apa yang mereka bahas.


" Lagi bahas apaan sih kok kayaknya serius banget?." Tanya Cahaya.


" Bunda, tidak ada kok bun. Hanya bahas soal pelajaran sekolah yang semakin susah. Heheheee."Jawab Joni sengaja berbohong karena tidak mau menyingung perasaan Cahaya jika Joni berkata jujur.


Cahaya hanya manggut-manggut tanda dia paham dan mengerti. Setelah dia tidak bertanya lagi, dan hanya ingin mendengarkan apa yang dibahas oleh pak Karim dan Joni.


" Kek, Joni dapat tugas untuk membuat anyaman dari bambu, terserah mau buat apa saja yang penting dari bambu. Dan harus di kumpulkan minggu depan, nanti ajari Joni ya kak."Seru Joni mengganti topik pembicaraan mereka. Tapi memang benar Joni ada tugas dari sekolahnya.


" Iya nanti kakek ajarin, nanti kakek ajarin kamu buat tempat sampah dari bambu saja ya. Rumit sih tapi kalau mau belajar pasti bisa."Ucap pak Karim serius.


" Nah, boleh juga tuh Cahaya ikutan belajar pak. Cahaya juga pengen bisa, siapa tahu nanti bisa jadi juragan anyaman bambu. Hahaaa." Seru Cahaya tertawa lebar.


Hahaaaaa


Mereka bertiga pun tertawa bersama. Jika ada niat dan usaha semua nya pasti akan di permudah. Sore pun semakin senja, mereka bertiga masuk ke rumah. Namun sudah sesore ini, Reno belum juga pulang biasanya dia akan pulang sebelum magrib. Tapi sudah hampir tiba waktu magrib Reno belum juga kelihatan batang hidungnya.


" Kok Reno belum pulang, Cahaya? Apa dia ada nenghubungi kamu?."Tanya ibu Rahayu juga heran kenapa Reno belum juga sampai rumah.

__ADS_1


" Tidak tahu ini bu, kok tumben belum pulang juga. Di telpon juga tidak di angkat, apa mungkin lagi bongkaran barang terus ponselnya ada di ruangannya. Heemm coba Cahaya telepon Chika dulu bu."Ucap Cahaya lalu dia menghubungi Chika.


Hanya satu kali panggilan saja Chika sudah mengangkat telepon dari Cahaya.


[ Hallo, Chika apa toko sedang ramai ya?] Tanya Cahaya.


[ Toko lumayan ramai bu, memang nya ada apa bu?.] Tanya balik Chika.


[ Apa pak Reno masih ada di ruangannya?]


[ Loh pak Reno kan sudah pulang dari jam 4 tadi bu,memangnya belum sampai ya? Pak Reno bawa motor bu, soalnya mobilnya masih di servise dan besok baru jadi.]


Deggghhh


Tiba-tiba perasaan Cahaya tidak enak, dia tidak tenang. Takut terjadi sesuatu dengan Reno, jika dia pulang setengah 5 tadi setidaknya setengah 6 kurang sudah sampai rumah. Terlebih dia mengendarai motor, tapi kenapa sampai jam segini dia belum sampai rumah juga.


[ Terima kasih Chika.]


Klik


Cahaya langsung mematikan sambungan teleponnya. Ibu Karti langsung menanyakan keberadaan Reno, namun Cahaya hanya menggeleng pelan.


* Tidak biasanya mas Reno seperti ini, jika dia pulang telat pasti dia memberitahu. Tapi ini teleponnya pun tidak di angkat-angkat, balas chatt juga tidak. Mas, sebenarnya kamu ada dimana? Apa yang terjadi dengan mu? Apa kamu menduakan ku? Ahhh aku jangan berfikir bodoh dulu.* Gumam Cahaya dalam hatinya.


Cahaya takut terjadi sesuatu dengan Reno, dan dia juga takut jika Reno ada main di luaran sana. Namun Cahaya mencoba untuk tetap berfikir positif.


" Iya bu. Ya sudah kita shalat saja dulu bu, Cahaya mau ambil wudhu dulu."Jawab Cahaya.


" Iya, ibu tunggu di ruang sholat. Kita sholat berjamaah sama bapak dan Joni."Jawab ibu Rahayu.


Cahaya mengangguk, dia mengambil wudhu di kran yang ada di dapur. Namun fikirannya masih saja tertuju dengan Reno.


********


Sedangkan di salah rumah sakit Reno sedang di periksa oleh dokter. Kaki Reno luka-luka dan di kepalanya juga luka namun tidak parah, dan orang yang menabraknya bertanggung jawab.


" Bagaimana keadaan pasien pak?." Tanya seorang wanita yang tadi menabrak Reno.


" Pasien tidak ada yang parah, jika mau dibawa pulang pun tidak apa-apa." Jawab dokter.


Wanita yang bernama Melisa itupun langsung masuk keruangan Reno. Disana terlihat Reno sedang duduk di pinggiran ranjang sambil memegangi kepalanya.


" Maaf mas, ini ponsel mas nya. Maafkan saya ya mas, gara-gara saya mas harus luka-luka seperti ini. Untuk motor mas, sudah saya bawa ke bengkel dan nanti saya yang tanggung semua biaya perbaikannya. Mas mau pulang apa mau dirawat dulu di rumah sakit?." Ucap Melisa dengan ramah.


" Saya mau pulang saja, Istri dan keluarga saya pasti mencari saya. Lain kali kalau sedang mengantuk jangan berkendara mbak, beruntung tadi hanya saya yang mbak tabrak. Kalau tadi sampai terjadi kecelakaan beruntun bagaimana?." Seru Reno dengan kesal.

__ADS_1


" Maaf mas. Kalau begitu mari saya antar pulang, tapi mas kasih tahu arah jalan nya ya. Maklum saya tidak seberapa tahu daerah sini, karena baru 3 hari yang lalu saya pulang dari luar negeri." Ucap Melisa dengan sopan.


Heeemmm


Reno hanya menjawab dengan sebuah deheman saja. Dia mencoba turun dari ranjang namun kakinya terasa sakit untuk berjalan. Saat Melisa hendak membantu memapahnya, Reno pun menolak. Dia meminta Melisa untuk mengambil kursi roda saja.


Akhirnya Reno menuju parkiran dengan memakai kursi roda dan di bantu oleh salah satu perawat laki-laki.


Mobil yang di kendarai Melisa membelah jalanan yang sudah gelap, magrib pun sudah berganti. Reno tahu pasti istri dan keluarganya saat ini sedang menghawatirkannya. Reno mau menghubunginya ternyata ponselnya mati. Terpaksa Reno membatalkan niatnya dan memilih duduk menunggu sampai di rumahnya.


" Aku dulu tinggal di Indonesia sampai SMA saja, setelah lulus SMA saya pindah ke luar negeri."Ucap Melisa mengajak Reno berbicara agar dia tidak suntuk.


" Kok kamu bilang tidak tahu daerah sini kalau kamu pernah tinggal di Indonesia? Memangnya berapa lama sih kamu di luar negeri?." Tanya Reno.


" Hemm sekitar 12 tahun. Dulu aku jarang main mas, tapi aku sedikit tahu sih daerah sini. Heheee.. Tapi ya tidak tahu-tahu banget. Kalau cuma jalan lurus ikutin jalan raya ya aku tahu. Tapi kalau sudah masuk-masuk gang aku yang bingung." Ucap Melisa sambil terkekeh.


Reno diam, tidak menanggapi perkataan Melisa tadi. Dia memikirkan reaksi Cahaya, saat dia pulang dengan di antarkan wanita secantik Melisa.


* Semoga saja Cahaya tidak salah paham. Aku hanya menghargai niat baik Melisa saja, yang ingin bertanggung jawab dengan kecelakaan tadi.*Gumam Reno dalam hati.


" Depan belok kanan, dan rumah nomor 8 dari kanan itu rumah ku."Ucap Reno sambil menunjuk ke arah gang.


" Baik mas."Jawab Melisa dengan mengangguk.


Mobil yang di kendarai melisa pun berbelok ke arah gang yang sudah di tunjukan oleh Reno tadi. Melisa mengendarai nya dengan pelan, sebab sudah berada di dekat rumah Reno.


" Yang ini mas?." Tanya Melisa menunjuk ke salah satu rumah.


" Iya."Jawab Reno singkat.


Mobil Melisa berbelok ke arah rumah pak Karim, akhirnya Melisa dan Reno pun sudah sampai di depan rumah. Melisa turun lebih dulu untuk membantu Reno, namun Reno tetap saja menolak. Dia meminta Melisa untuk memanggilkan orang yang ada di dalam rumah.


Saat Melisa hendak melangkah ke rumah, Joni dan pak Karim keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang. Dia tidak mengenali Melisa, namun saat melihat Reno yang berdiri sambil berpegangan pintu mobil mereka langsung berlari.


" Papa, Reno." Seru pak Karim dan Joni bersamaan.


" Reno kamu kenapa?."Tanya pak Karim panik.


" Nanti Reno ceritakan di dalam rumah saja pak. Sekarang tolong bantu Reno masuk, kaki Reno sakit banget untuk jalan."Seru Reno.


Dengan sigap pak Karim dan Joni memapah Reno dan membantunya masuk kerumah. Sedangkan Melisa mengikutinya dari belakang. Cahaya yang mendengar suara suaminya pulang pun langsung keluar, namun dia kaget saat suaminya pulang dalam keadaan luka-luka dan di antar oleh wanita cantik.


Deegggghhhh


Jantung Cahaya tiba-tiba berdetak lebih cepat.

__ADS_1


* Siapa wanita itu? Dan kenapa dia bisa pulang sama mas, Reno. Dan mas Reno juga kenapa luka-luka seperti itu.* Gumam Cahaya dalam hati.


***********


__ADS_2