Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Sinta kebingungan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Alhamdulillah akhirnya Badar sudah diamankan oleh polisi." Seru Satria dengan senang.


Jam 1 malam Satria terbangun dari tidurnya karena mendengar deringan ponselnya. Polisi menghubunginya jika Badar saat ini sudah berada di kantor polisi. Sesuai kesepakatan Polisi akan merahasiakan siapa orang yang sudah membocorkan transaksi Badar dengan pelanggan tetapnya.


Mendengar Satria berseru cukup keras membuat Dinda juga ikut terbangun dan menanyakan ada apa sampai Satria segirang itu. Dinda sendiri juga baru tahu jika suaminya sudah pulang, pasalnya dia sudah bilang jika akan pulang lebih malam sehingga Dinda tadi tidur duluan.


" Mas kamu sudah pulang ya ? Ada apa kok mas sepertinya mas lagi senang banget?" Tanya Dinda ingin tahu apa yang terjadi.


" Aku pulang jam 11 tadi, kamu sudah tidur. Ini Badar sudah ditangkap sama polisi sayang, akhirnya Hana bisa terbebas dari Badar." Seru Satria dengan senang.


" Alhamdulillah akhirnya pria itu tertangkap juga tapi mas, kita jangan bersenang atau berbahagia dulu. Masih ada mbak Sinta yang pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan tetap mengganggu kehidupan Hana. Meskipun dia itu ibu kandung Hana, aku tetap khawatir mbak Sinta menjual Hana kepada pria hidung belang seperti yang sudah terjadi dengan para wanita yang ada di tempat usahanya." Ucap Dinda mengingatkan Satria agar jangan bersenang dulu.


" Iya sayang aku sudah memikirkan semua itu, setelah masalah Badar ini selesai kita langsung persiapkan keberangkatan Hana ke luar negeri. Aku sudah meminta Indra untuk mengurus semuanya dan kepindahan sekolahnya." Jawab Satria secara gamblang.


Dinda mengangguk setuju dengan apa yang sudah disampaikan oleh suaminya. Dinda kembali merebahkan tubuhnya di kasur meskipun sudah tidak mengantuk lagi. Apalagi semenjak dia hamil biasanya dia memang susah untuk tidur.


Melihat Dinda yang sudah tidak bisa tidur lagi, membuat Satria ingin menanyakan soal kuliah Dinda. Kenapa dia sampai tidak bicara jujur kepada Satria perihal kuliahnya.


" Sayang kenapa kamu berkuliah tidak bicara dulu sama Mas?." Tanya Satria membuat Dinda hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Maaf mas, sebenarnya semua ini juga atas izin nenek. Aku dan nenek akan memberitahumu saat aku sudah menjadi sarjana. Aku hanya ingin memberikan kejutan atas pencapaianku kepada suamiku. Maaf ya mas, aku tidak bermaksud untuk berbohong." Seru Dinda sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Kalau sudah tersenyum manis begitu mana bisa Satria untuk memarahi sang istri. Alasan yang di berikan oleh Dinda juga bisa diterima oleh Satria. Satria memeluk istrinya dengan lembut sambil mengecup kening sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Iya sayang, mas tidak akan marah. Terimakasih untuk semuanya, kamu memang wanita kuat dan wanita yang mandiri." Ucap Satria sambil membela rambut Dinda.


" Iya mas. Terimakasih ya karena mas tidak marah. " Ucap Dinda lagi.


" Ya susah sekarang kita tidur yuk, sebentar lagi subuh juga nih. Mas tadi belum tidur nyenyak dan terbangun karena suara telepon." Seru Satria.


" Tidak mau tidur, aku sudah mengantuk. Emm... Aku minta sesuatu." Seru Dinda dengan manja.


Dinda membisikan sesuatu di telinga Satria, dengan malu-malu dia pun memberitahu apa yang saat ini dia inginkan. Dengan senyum lebarnya Satria menganggukan kepalanya pertanda jika dia setuju dengan apa yang diminta oleh Dinda.


" Jangan malu - malu dong sayang. Bilang saja kalau memang mau meminta jatah , kakandamu ini dengan senang hati akan memberikannya. Bahkan siap kapanpun juga kamu mau. " Ucap Satria membuat Dinda semakin tersipu malu.


" Mass,, apaan sih kok malah bikin Dinda malu begini." Seru Dinda sambil menutup wajahnya dengan selimut.


" Baiklah kita mulai saja pertempuran kita." Ucap Satria sambil terkekeh.


Tanpa menunggu lama Satria segera melaksanakan aksinya, begitu juga dengan Dinda. Kini mereka berdua sudah sama-sama dalam keadaan polos ,apa yang sudah sepatutnya terjadi di antara suami dan istri akhirnya pun terjadi juga di malam yang sudah beranjak dini hari.


***********


" Kemana pria brengsek itu ? Dari semalam aku mencoba menghubunginya tapi tidak bisa juga. Apa dia tertangkap polisi karena aksi transaksinya semalam diketahui polisi? Seandainya itu benar terjadi ya syukurin, berarti aku juga bisa terbebas dari pria itu. Tapi kenapa tidak ada kabar beritanya kalau dia memang tertangkap polisi ." Sinta bermonolog pada dirinya sendiri.


Sinta keluar dari kamarnya dan menemui para karyawan wanitanya ya yang sedang bersantai di ruangan yang terbilang cukup luas yang biasa mereka gunakan untuk tempat lesehan saat makan.


" Ehh Joli kamu tahu tidak kemana si Badar itu pergi ? Dari semalam loh dia itu tidak datang, biasanya tidak pernah absen." Tanya Sinta pada Joli sang anak buah kesayangannya yang dalam semalam bisa menghasilkan uang dua kali lipat.


" Aduhh mana saya tahu bu. Lagipula kalau dia tidak datang kesini bagus dong bu. Berarti ibu tidak harus melayani pria itu. Kenapa justru ibu sekarang menanyakan keberadaannya." Tanya Joli sambil memicingkan matanya karena heran.


" Aku mencari dia bukan karena soal layan melayani Joli, tetapi karena aku mau meminta uang. Dia sudah berjanji jika malam tadi seharusnya dia memberi aku uang. Dan dia juga berjanji akan memberikan aku rumah untuk tempat tinggalku dan anakku. Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada kabarnya ? Dan dia juga dihubungi tidak bisa orang kepercayaannya juga aku coba hubungi nomor ponselnya tidak bisa juga." Seru Sinta menjelaskan.


Sinta kembali masuk ke kamarnya dan mencoba menghubungi Badar kembali, tetapi sama saja hasilnya nihil. Nomor badar tetap tidak bisa dihubungi. Lalu Sinta beralih mencoba menghubungi Dinda untuk menanyakan soal Hana. Sebab dia juga sempat menghubungi Hana tetapi nomor Hana tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


[ Halo mbak Sinta, ada apa? Tumben telepon Dinda?.] tanya Hana merasa aneh kenapa Sinta menghubunginya tidak biasanya dia mau menghubungi Dinda.


[ Jangan GR kamu, aku menghubungi kamu lantaran nomor ponsel Hana tidak bisa dihubungi. Berikan ponselmu sama Hana sekarang, aku mau bicara sama Hana. Oh iya aku lupa kemarin Hana sempat bilang jika ponselnya rusak. Kamu kan kaya raya dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas hidupnya Hana, seharusnya kamu itu pengertian. Kenapa tidak memberikan ponsel baru untuk Hana? Kalau kamu tidak becus mengurus Hana,biarkan dia tinggal sama aku saja.] Cerocos Sinta tanpa tahu malu.


[ Oh iya ponsel Hana kemarin memang rusak, masuk ke dalam bak mandi. Dia mau mas Satrua belikan ponsel baru tetapi dia tidak mau. Untuk sementara dia ingin fokus sama sekolahnya dulu, karena sebentar lagi katanya dia mau ada semesteran.]


Dinda terpaksa berbohong karena dia tidak mau jika Sinta tahu nomor ponsel Hana. Sinta pasti akan terus meneror Hana untuk mau tinggal dengannya.


[Sudah jangan banyak bacot ! clCepat berikan ponselmu kepada Hana. Ada yang ingin aku bicarakan sama anak kurangajar itu. ]


Dinda mengusap dadanya dengan lembut setelah mendengar perkataan dari Sinta yang sangat kasar. Dengan segera Dinda memberikan ponselnya kepada Hana. Dengan malas-malasan Hana menerima ponsel yang diberikan oleh Dinda.


[ Halo ma, ada apa lagi ? Masih tetap mau mengajak Hana tinggal sama mama ? Hana tidak mau Ma, mau sampai berapa kalipun mama memaksa Hana tetap tidak mau. Hana akan tinggal atau ikut sama mama nanti kalau Hana sudah siap. Yang pasti mama perbaiki dulu kelakuan mama. ] Hana langsung bicara pada pokok masalah nya.


[ Dasar anak tidak tahu sopan santun, belum apa - apa sudah berani membantah mama kandungnya sendiri. Kamu itu lahir dari rahimku Hana tapi kenapa kamu tidak mau tinggal dengan ku ?.]


[ Hana takut mama jual .]


Satria dan Dinda langsung memandang kearah Hana, mereka berdua terkejut dengan apa yang barusan Hana katakan. Bagaimana bisa Hana langsung bicara seperti itu dengan Sinta. Satria hanya khawatir jika Sinta akan tahu jika sebenarnya mereka semua sudah tahu kebusukan Sinta.


Hahahahaaaaa


Tiba - tiba Hana tertawa dengan lantang, sepertinya kali ini Hana memang ingin bermain - main dengan mamanya.


[ Maksud kamu apa bicara seperti itu Hana?]


[ Hahahaa... Kenapa ma ? Kaget, jangan panik begitu dong ma. Hana hanya bercanda, soalnya mama sekarang itukan baru bekerja terus kalau Hana tinggal sama mama pasti mama harus keluar banyak uang dong. Nah, kalau tidak ada uang nanti mama menjual Hana seperti yang Hana lihat di televisi.]


Sssttt.... Satria menggelengkan kepalanya sembari meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Satria tidak mau jika Hana bicara masalah itu dengan mamanya. Bagaimanapun biarpun Badar sudah tertangkap, Hana harus tetap hati - hati bicara dengan Sinta.


***********

__ADS_1


__ADS_2