Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Kepergian Sarah


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Siang itu sepulangnya dari sekolah Bagas, Sinta dan Ardi datang ke rumah sakit, mereka tidak membawa ikut serta. Bagas mereka titipkan di rumah neneknya. Sinta dan Ardi akan menjemput anak Sarah, sesuai dengan permintaan Sarah waktu itu.


" Sarah sedang apa mbak, Ira?."Tanya Sinta saat mendapit Ira ada di luar kamar rawat Sarah.


" Mbak Sarah sedang di periksa oleh dokter, Bu. Tadi mbak Sarah kesakitan dan sampai pingsan, sekarang dokter sedang menanganinya."Ucap Ira terlihat sekali dia khawatir dengan Sarah.


Sinta dan Ardi juga merasakan kekhawatiran yang sama seperti Ira. Pintu ruangan Sarah pun dibuka oleh dokter, dari raut wajahnya seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh dokter itu.


" Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?."Tanya Sinta menyebut Sarah sebagai adiknya.


" Anda kakaknya? Lebih baik kita bicara di ruangan saya saja."Ucap dokter dengan serius.


Sinta dan Ardi pun mengikuti langkah kaki Dokter itu dari belakang. Sesampainya mereka di ruangan dokter, dokter langsung menjelaskan kondisi Sarah yang sebenarnya. Sinta syok dan kaget saat tahu jika Sarah mengidap bebera penyakit.


" Jadi Sarah selain menderita Herpes dia juga terkena gagal ginjal dan serviks? Sudah separah apa dokter?."Tanya Sinta.


" Kemungkinan ibu Sarah tidak bisa bertahan lama lagi. Penyakit itu sudah menggerogoti tubuh dan imunnya, meskipun sudah kita berikan cairan tapi tubuh ibu Sarah seperti tidak meresponnya. Dengan berat hati saya sampaikan jika ibu Sarah sudah tidak disembuhkan lagi."Ucap dokter terlihat begitu serius.


Sinta tidak menyangka jika nasib Sarah akan seburuk ini. Setelah selesai bicara dengan dokter, Sinta dan Ardi keluar dari ruangan dokter dan menuju kamar Sarah. Sesampainya disana sudah ada mbak Ira yang menemani Sarah namun Sinta tidak melihat keberadaan bayinya Sarah.


" Mbak apa Sarah sudah siuman?."Tanya Sinta dengan pelan.


Namun belum juga Ira menjawab, Sarah tiba-tiba membuka matanya. Dan melihat kearah Sinta, Sarah tersenyum tipis melihat keberadaan Sinta yang ada di dekatnya.


" Mbak Sinta."Seru Sarah sangat pelan.


" Sarah kamu harus kuat, kamu harus sembuh demi Anggun. Anggun membutuhkan kamu, kamu harus kuat ya."Seru Sinta mencoba memberi semangat Sarah.


" Tidak mbak. Aaa.. Aku sudah tidak kuat lagi, tolong mbak jaga dan rawat anakku dengan baik. Aku percaya, mbak Sinta bisa menjada ibu yang baik untuk Anggun. Maafkan aku mbak."Ucap Sarah sudah terbata-bata dengan nafasnya yang sudah tidak beraturan lagi.

__ADS_1


" Sarah, Sarah kamu kenapa? Sarah ku mohon kamu harus kuat, mbak janji akan merawat Anggun dengan baik tapi kamu harus sembuh. Kamu harus sembuh, Sarah."Seru Sinta dengan menggenggam tangan Sarah.


Ardi keluar untuk memanggil dokter, di lihatnya nafas Sarah sudah tersengal-sengal dan harus segera ditolong oleh dokter. Sinta sendiri saat ini sedang menangisi Sarah, begitupun dengan Ira. Meskipun Ira sering dibuat kesal oleh Sarah, namun rasa kemanusiaan Ira tidak bisa di bohongi. Hati nuraninya selalu ingin menolong Sarah.


" Mbak maafkan aku. Tolong sampaikan maaf ku untuk keluarga mas Reno. Aku titip sesuatu untuk mereka, ada di bawah bantal ku. Haahhh.. Hhuuuff ...Haahhhh... Huuufff."Ucap Sarah dengan nafasnya yang sudah tidak teratur lagi.


" Kamu tidak boleh pergi Sarah. Aku dan semuanya sudah memaafkan kamu."Ucap Sinta yang sudah tidak dapat lagi menahan air matanya.


Ardi datang dengan 1 orang dokter dan 2 perawat. Melihat dokter datang, Sinta dan Ira menjauh dari ranjang Sarah dan membiarkan dokter memeriksa Sarah. Nafas Sarah sudah semakin sesak dan lambat.


" Maaf, bisa kalian tunggu di luar."Ucap dokter mengusir secara halus.


" Baik dokter."Jawab Ardi.


Ardi merangkul Sinta dan mengajaknya keluar dari ruangan Sarah. Begitupun dengan Ira, yang nampak meneteskan air matanya.


" Mbak Ira, dimana Anggun?."Tanya Sinta mendekati Ira.


" Ada di ruangan bayi, Bu. Dari semalam Anggun ada disana, soalnya keadaan mbak Sarah dari semalam ngedrop jadi dokter menyarankan untuk membawa Anggun keruangan bayi atau pulang lebih dulu. Karena jika dibawa pulang tidak memungkinkan, akhirnya saya setuju di bawa ke ruangan bayi saja."Ucap Ira menjelaskan secara detail.


Sinta semakin sesak mendengar penjelasan Ira. Kasihan dengan anak Sarah yang harus hidup seperti ini. Sinta semakin bertekad untuk merawat anak Sarah dan apapun yang terjadi anak Sarah harus dalam asuhannya.


Pintu ruangan Sarah terbuka, dan dokterpun keluar untuk memberitahu keadaan Sarah.


" Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah punya kehendak lain. Ibu Sarah sudah tiada."Ucap dokter dengan wajah sedihnya.


" Apa? Maksud dokter bagaimana?."Tanya Sinta.


" Ibu Sarah sudah meninggal dunia."Ucap Dokter dengan jelas.


Sinta langsung menyeruak masuk untuk memastikan keadaan Sarah. Dan ternyata dokter tidak berbohong, Sarah sudah tidak bernafas lagi dan denyut nadinya pun sudah tidak ada.


" Sarah kenapa kamu pergi secepat ini. Sarah, aku janji jika aku akan menjaga dan merawat Anggun selayaknya anak kandungku sendiri. Kamu tenanglah disana. Semua kesalahanmu di masalalu sudah aku maafkan, begitupun sebaliknya kamu pasti juga sudah memaafkanku."Ucap Sinta lalu mencium pipi Sarah untuk yang terakhir kalinya.


" Mbak Sarah, kenapa mbak pergi secepat ini."Seru Ira sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Suster menghampiri Sinta, dan memberikan 3 kertas yang tadi dia temukan di bawah bantal Sarah. Sinta ingat tadi Sarah memang sudah bilang jika dia titip sesuatu untuk keluarga Reno, ternyata itu semua adalah surat.

__ADS_1


" Mbak Ira, ini ada surat untuk mbak Ira. Aku tidak tahu apa isinya, yang pasti itu surat di tulis langsung oleh Sarah."Seru Sinta memberikan satu surat yang bertuliskan nama Ira.


" Untuk saya? Kenapa mbak Sarah memberikan surat untuk saya? Padahal saat dia menulis surat-surat ini ada aku, tapi aku tidak tahu apa yang mbak Sarah tulis."Ucap Ira sambil menyeka air matanya.


" Ma, jenazah Sarah mau dibawa pulang kemana? Biar mas urus semua adminstrasi nya sekalian."Ucap Ardi dengan lembut.


Ira meminta Sarah dibawa pulang ke rumah kontrakannya saja. Sebab Sarah sebelum meninggal sudah berpesan jika dia tidak ada umur panjang, Sarah mau dibawa ke rumah kontrakan dan dimakamkan di daerah sana.


" Mas, kita urus pemakaman Sarah dulu baru kita pulang. Aku tidak mungkin pulang disaat semuanya belum selesai. Oh iya mas, masalah Anggun nanti langsung kita bawa pulang saja ya. Mbak Ira sudah setuju kok, dia juga tahu jika Sarah memang meminta kita untuk merawat Anggun."Ucap Sinta sudah mulai bisa menerima kepergian Sarah.


" Iya ma, mas ikut saja apa yang terbaik. Sekarang kita bawa pulang Sarah ya, biar proses pemakamannya cepat dilaksanakan. Kita nanti pasti akan pulang malam, jarak dari kontrakan Sarah ke tempat kita lumayan jauh. Sekitar 1 jam perjalanan, apa kita menginap saja? Kasihan Anggun jika malam-malam kita bawa perjalanan jauh."Seru Ardi.


Sinta setuju saja apa yang dikatakan oleh suaminya. Kebetulan besok memang hari libur jadi Ardi tidak ada jadwal masuk kantor.


Sesampainya di rumah kontrakan Sarah, para tetangga sudah mempersiapkan semuanya. Sinta dan Ardi ikut bergabung dengan para warga, untuk sementara Anggun ada di rumah Ira sampai proses pemakaman Sarah selesai.


" Ma, apa tidak mau mengabari Reno dan Joni?."Tanya Ardi.


" Astaghfirullah, Mas aku lupa. Kenapa tidak dari tadi kita kasih tahu mereka, terutama Joni. Pasti Joni sedih sekali jika dia tahu mamanya meninggal. Tapi ini sudah jam 4 mas, pemakaman sudah mau di laksanakan. Kalaupun kita hubungi mereka pasti juga butuh waktu 1 jam lebih untuk mereka sampai sini."Ucap Sinta dengan bingung.


Ardi juga mengiyakan apa yang dikatakan Sinta. Terlebih saat ini Sarah sudah mau dimakamkan. Namun, Ardi tetap berusaha untuk mengabari Reno agar Reno tahu jika Sarah meninggal. Meskipun tidak bisa datang ke pemakaman setidaknya Reno maupun Joni sudah dikasih tahu.


" Teleponnya tidak di angkat juga, Ma."Seru Ardi tetap mencoba menghubungi Reno.


" Mungkin lagi di jalan Mas, biasanya jam segini Reno pulang dari toko."Seru Sinta.


Acara pemakaman Sarah pun sudah di laksanakan, malam ini di rumah kontrakan Sarah di adakan acara tahlilan bersama. Sinta dan Ardi menginap di rumah kontrakan Sarah, dan malam ini Anggun pun sudah dibawa kerumah Sarah oleh Ira.


" Bu Sinta, maaf sebelumnya. Emm di surat ini tertulis jika mbak Sarah memberikan gelang masnya untuk saya. Dan dia menyimpannya di laci lemari pakaiannya. Maaf, sepertinya saya tidak bisa menerimanya. Saya kembalikan gelang itu untuk Anggun saja."Ucap Ira serius.


Dalam surat Ira memang tertulis jika Sarah memberikan gelang emas nya untuk Ira sebagai tanda terimakasihnya kepada Ira yang selama ini sudah baik dan mau menolong Sarah.


" Mbak Ira. Terimalah apa yang sudah almarhum Sarah berikan, itu adalah bukti terimakasihnya untuk mbak Ira. Terimalah mbak, Sarah akan sedih jika mbak Ira tidak menerimanya."Ucap Sinta.


" Apa ini tidak berlebihan mbak?."Tanya Ira dengan ragu.


" Tidak mbak. Sarah sudah memberikan gelang itu untuk mbak Ira, jadi mbak Ira harus menerimanya. Nanti kita ambil gelangnya di kamar."Seru Sinta dengan sopan.

__ADS_1


Ira akhirnya mau menerima gelang dari Sarah. Benda itu akan dia jadikan sebagai kenang-kenangan dan tidak akan dia jual.


********


__ADS_2