
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Seminggu sudah usia pernikahan Reno dan Cahaya, kini Cahaya juga sudah diboyong tinggal dengan Reno dan mertuanya. Rumah itu memang warisan bagian Dinda namun Dinda dengan ikhlas memberikannya kepada Reno tentunya dengan persetujuan kedua orang tuanya dan Rena selaku kakak perempuan Dinda. Rena tidak akan iri ataupun menuntut hak yang sama, sebab rumah itu memang sudah bagian Dinda sehingga Rena tidak berhak melarang.
Selain sibuk dengan rumah tangganya, Cahaya juga sibuk dengan kuliahnya yang memasuki semester akhir. Sepulang dari kampus, dia akan membantu suaminya di toko.
Joni terlihat akrab dan menerima Cahaya dengan baik sebagai mama sambungnya. Begitupun dengan Cahaya, dia terlihat sabar dan tulus menyayangi Joni.
"Mas, makan siang dulu ya. Ini aku sudah bawa makan siang untuk kamu."Ucap Cahaya datang ke toko dan membawakan makan siang untuk suaminya.
"Iya Dek. Kamu sudah makan belum? Pasti belum kan?." Seru Reno menghentikan akfitasnya di toko.
"Belum. Kita makan sama-sama ya mas."Seru Cahaya dengan senyum mengembang tulus.
Reno mengangguk, mereka menuju ruangan pribadi Reno dan akan makan siang disana. Hari ini Cahaya memang libur kuliah, sehingga dia datang membawakan makan siang untuk suaminya, tentunya dia juga yang memasak nya dengan sepenuh hati dan sepenuh cinta.
"Ini pasti kamu kan dek yang masak?."Tanya Reno sembari menikmati semur daging yang dibawakan oleh Cahaya.
"Iya mas, tapi dibantu sama ibu juga kok."Jawab Cahaya malu-malu.
__ADS_1
"Kamu memang pintar memasak dek, sama seperti ibu. Tapi anak-anak ibu hanya Dinda yang pandai memasak, kalau Reno cuma sekedar bisa saja. "Seru Reno sambil terus mengunyak makanannya.
Cahaya menganggukkan kepalanya saja, hanya butuh beberapa menit saja Reno dan Cahaya sudah selesai makan siang. Reno sholat dzhur dan Cahaya kedepan membantu dimeja kasir.
"Ada apa ini, Cika?." Tanya Cahaya saat mendapati barang-barang yang tersusun di atas rak sudah bertaburan dilantai. Tidak sedikit tetapi hampir sebagian barang berantakan.
"Ini mbak, tadi ada orang belanja tapi dia bilang kalau barang yang kita jual sudah kadaluarsa. Padahal ini loh barang baru masuk 3 hari yang lalu, jadi kadaluarsa darimana? Saya cek juga masih lama tanggal kadaluarsanya, masih 1 tahun lagi. Mungkin itu orang memang sengaja ingin menjelekkan nama toko kita mbak."Jawab Cika menjelaskan.
Cahaya membantu Cika dan karyawan yang lainnya merapikan kembali barang-barang yang berserakan dan menyusunnya kembali di rak sesuai dengan susunannya masing-masing.
"Katanya tadi ada yang bikin ribut ya, Cik?."Tanya Reno yang sudah selesai sholat dan menghampiri Cika dan Cahaya yang sedang merapikan barang dagangan.
"Iya pak. Beruntung ini barang-barangnya tidak rusak banyak, ada sebagian kemasan yang sudah sobek juga ini pak. Saya juga tidak tahu kenapa orang itu tiba-tiba datang dan bicara dengan kasar. Dia menuduh barang kita kadaluarsa, padahal semuanya aman dan tidak ada yang kadaluarsa sama sekali."Jawab Cika menjelaskan.
"Siapa wanita ini? Perasaan aku tidak mengenal wanita ini dan aku juga tidak pernah punya masalah dengan wanita ini?." Tanya Reno pada dirinya sendiri.
"Bagaimana mas? Apa sudah ketahuan siapa pelakunya?." Seru Cahaya yang menyusul Reno keruangannya.
"Ini dek. Tapi mas tidak tahu dan bahkan tidak mengenal dia. Sepertinya orang ini memang sengaja ingin menghancurkan usahaku, dan pasti ada oranh yang nenyuruhnya."Jawab Reno
Apa yang dikatakan Reno sama persis dengan yang difikirkan Cahaya dan Cika. Orang tadi sengaja datanv untung membuat nama toko jelek, sehingga orang-orang tidak akan lagi datang ke toko. Reno masih terus mencoba mencari tahu siapa orang yang sudah berani berbuat jahat dengannya.
*Apa ini ada hubungannya dengan, Sarah, mbak Sinta dan Hakim? Biasanya hanya 3 orang itu yang memang suka cari ribut dan cari masalah dengan ku. Tapi bukannya Sarah ada di penjara? Kalau memang mereka pelakunya, apa tujuan mereka berbuat seperti itu?.*Gumam Reno dalam batinnya.
Sementara saat ini, Sinta dan Hakim sedang tertawa bahagia. Dia mendapat laporan dari orang suruhannya jika tadi berhasil mengacaukan toko Reno meskipun tidak maksimal.
__ADS_1
Sinta sengaja ingin membuat Reno bangkrut, dengan begitu Sarah tidak akan lagi mengejar Reno dan ingin kembali dengan Reno. Sehingga Sinta bisa mengikat Sarah selamanya dalam bisnisnya.
"Sayang, bukannya dulu kamu itu setuju jika Sarah mengejar suaminya dan rujuk dengan suaminya? Tetapi kenapa sekarang kamu justru menentangnya dan tidak suka dengan keinginan Sarah."Seru Hakim merasa herab dengan sikap dan perubahan Sinta.
"Kamu ini memang bodoh mas ! Kalau sampai Sarah kembali lagi dengan mantan suaminya, sudah pasti kita akan kehilangan aset berharga kita. Sarah itu mesin penghasil uang untuk kita, kamu lihat sendirikan jika banyak pelanggan kita yang menanyakan Sarah dan ingin memakai Sarah. Jadi jika dia rujuk dengan mantan suaminya pasti kita yang akan rugi. Sudahlah mas, kamu diam saja biar aku yang urus semua ini. Sekarang kita ke kantor polisi untuk menjemput Sarah, sore ini dia sudah bisa bebas. Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk menjamin Sarah."Seru Sinta terlihat begitu percaya diri dengan ucapannya.
Hakim bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, dia hanya bisa mengiyakan dan mengikuti apa kata Sinta tanpa bisa menolak sedikitpun. Hakim menyiapkan mobil untuk mereka kendarai ke kantor polisi, sedangkan Sinta bersiap-siap dikamarnya.
Sepuluh menit berlalu, kini Haikal dan Sinta sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi. Tidak sampai satu jam perjalanan mobil yang dikendarai Hakim sudah sampai di depan kantor polisi. Mereka turun bersama-sama dan segera masuk kekantor polisi untuk mengurus semuanya.
"Akhirnya aku bisa bebas juga, hampir 1 bulan aku di penjara rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Sinta, aku ingin mampir ke salon dulu ya. Aku ingin creambath dan luluran, rambut dan kulitku rasanya sudah kasar dan kusam sekali nih. Kalau aku seperti inu mana ada pria yang mau memakai jasaku. Melihat kukitku yang kusam saja mereka pasti sudah lari dulua."Ucap Sarah seenaknya meminta ke langsung pergi ke salon.
"Kesalonnya besok saja, Sarah. Ini juga sudah sore loh, butuh waktu berjam-jam di salon. Malam ini juga kamu istirahatkan dulu tubuhmu, besok pagi kamu aku antar kesalon dan malamnya baru kamu bisa bekerja melayani para pelangganmu. Kamu tenang saja, para pelangganmu sudah banyak yang antri."Seru Sinta sembari memainkan alisnya.
"Iya juga sih. Ini sudah sore, baiklah besok saja kita kesalonnya. Malam ini aku mau istirahat full dulu biar tubuhku kembali segar, tapi malam ini aku tidur dirumahmu ya? Kamu tahu sendirikan, rumahku sudah hampir 1 bulan tidak dibersihkan pasti kotor banget. Oh iya tolong sekalian cari orang untuk membersihkan rumah ku, jadi besok bisa langsung aku tempati."Seru Sarah semakin seenaknya meminta ini dan itu.
Sinta dan Hakim hanya saling pandang, namun demi pundi-pundi uang yang akan dia dapatkan dari Sarah. Merekapun mengiyakan ucapan dan permintaan Sarah. Mobil yang dikendarai Hakim sudah sampai di halaman rumah, dengan segera Sarah turun dan berlari masuk. Sarah langsung menuju kamar tamu dan merebahkan tubuhnya disana.
"Akhirnya aku bisa tidur dikasur yang empuk juga. Setelah ini aku akan menyusun rencana untuk buat perhitungan kepada Satria dan Dinda yang sombong itu. Seenak jidatnya dia memenjarakanku, padahal hanya kesalahan kecil. Sampai sekarang Dinda dan anaknya juga baik-baik saja tanpa ada masalah, dasar lebay mereka. Oh iya, bagaimana kabar mas Reno ya? Aku ingin sekali bertemu dengannya, aku sangat merindukannya."Seru Sarah terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Hakim dan Sinta hanya senyum-senyum melihat tingkah Sarah. Sarah tidak tahu jika sebenarnya dia dijadikan mesin penghasil uang oleh Sinta dan Hakim. Setelah ini pasti Sarah akan terus bekerja untuk membayar hutang, hutang yang tidak sedikit. Sinta mengeluarkan uang 170 juta untuk mengeluarkan Sarah dari penjara, dengan begitu Sinta akan semakin berkuasa atas diri Sarah.
*Dasar wanita bodoh ! Apa dia itu tidak sadar diri jika aku sudah menjadikan dia sebagai mesin penghasil uang. Untuk anak buah yang lainnya masih tetap menghasilkan uang tetapi tidak sebanyak Sarah. Kamu tidak akan lepas begitu saja Sarah, ternyata kamu memang bawa Hoki. Beruntung dulu aku mengajakmu gabung dengan ku.*Gumam Sinta dalam batinnya.
************
__ADS_1