
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Satria baru saja selesai meeting dengan klien di salah satu restoran. Satria meeting dengan sekertatisnya, sebab hari ini Indra ada pekerjaan lain. Indra memang sudah masuk kerja dari seminggu yang lalu.
"Pak ini kan sudah sore, apa boleh saya langsung pulang saja. Nanti hasil meeting yang tadi biar saya kerjakan dirumah. Mau balik ke kantor juga sudah jam 4 sore."Ucap sekertaris Satria dengan sopan.
"Oh ya sudah kamu langsung balik tidak apa-apa. Aku mau paling lambat besok siang laporan meeting tadi sudah ada di meja kerjaku. Kamu mau memang tadi ke kantor tidak bawa mobil?"Tanya Satria.
"Tidak pak. Mobil saya kebetulan tadi dibawa suami saya untuk di servise. Saya pulang pesan taksi online saja pak."Ucap sekertaris Satria.
"Baiklah. "Jawab Satria sangat singkat dan padat.
Satria dan sekertarisnya berpisah di pelataran restoran. Namun saat Satria ingin masuk ke mobil, dia di kagetkan dengan seseorang yang memanggilnya. Satria tahu dan hafal betul siapa pemilik suara itu.
"Satria !!."Panggil Hakim cukup keras.
Satria langsung memalingkan kearah orang yang memanggilnya. Orang itu terlihat tersenyum kearah Satria, namun Satria hanya bersikap cuaek dan acuh dengan orang yang barnama Hakim itu.
"Sepertinya habis kencan nih? Masa iya kencan di sore hari begini? Oh iya bagaimana ya kalau Dinda tahu suami tercintanya sedang kencan di restoran?."Seru Hakim seenak jidatnya dia menuduh Satria berkencan dengan sekertarisnya sendiri.
"Otak kamu itu perlu di cuci agar pikiran kamu tidak kotor terus menerus. Bisanya cuma main tuduh saja, kami itu baru saja meeting dengan klien dan mana ada kami kencan?"
Hhaaaa Haaaaa Haaaaaa
Hakim bukannya diam justru dia tertawa dengan cukup lantang sampai banyak pasang mata yang melihat kearah mereka. Hakim sepertinya sudah tidak takut lagi dengan ancaman penjara dari Satria.
"Satria, Satria. Kamu kira aku ini anak kecil yang mudah begitu saja kamu bohongi. Mungkin istri polosmu itu yang akan selalu percaya dengan mu."Seru Hakim semakin membuat Satria kesal.
"Terserah kamu ! Percuma meladeni orang gila sepertimu. Dasar orang tidak waras !."Seru Satria dengan kesal.
"Huuuhhh tukang selingkuh. Mana pelit juga, kamu itu kakakku tapi kamu pelitnya tidak karuan. Padahal dalam harta yang kamu miliki itu ada hak ku juga."Seru Hakim dengan seenaknya mengklaim harta yang dimiliki oleh Satria.
Hakim sepertinya sengaja membuat Satria kesal, dia hanya ingin mencari perhatian dari orang-orang sekitar. Saat ini Hakim sudah kehabisan uang, bahkan dia hanya tinggal disebuah rumah kontrakan. Dia juga butuh uang untuk berobat, dan biaya hidupnya.
"Kalian lihat, dia ini kakakku tapi dia tega menguasai harta keluarga menjadi milik dia pribadi tanpa mau membaginya kepadaku. Bahkan perusahaan dia kuasai sendiri, sedikitpun dia tidak mau membagi dengan aku yang statusnya adik kandungnya. Kalian pasti tidak pernah menyangka kan, kalau ada kakak kandung seserakah dia. Bahkan saat ini aku hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil, miris banget ya hidupku."Seru Hakim pura-pura sedih untuk mencari pembelaan dari orang-orang.
Buggghhh
Buggghhh
Bukannya pembelaan dari orang-orang sekitar yang Hakim dapat, namun justru pukulan dari Satria yang mendarat di wajahnya. Satria sudah tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya, Hakim sudah keterlaluan dengan mengarang cerita yang tidak benar.
"Sudah puas belum mengarang ceritanya? Jika belum silahkan kamu lanjutkan tapi jangan salahkan aku kalau aku akan memukulmu lagi sampai mulutmu bonyok."Seru Satria dengan geram.
"Duhhh marah nih?."Seru Hakim sama sekali tidak takut dengan Satria.
Satria tidak perlu menjelaskan panjang lebar ke orang-orang sekitar. Orang-orang itu pasti akan tahu mana yang salah dan mana yang benar. Satria cukup meminta mereka mengingat kejadian tahun lalu dimana seorang Satria yang di fitnah oleh keluarganya sendiri. Dengan begitu dengan sendirinya mereka akan tahu sebuah kebenarannya.
"Kalian tentunya tahu berita yang pernah viral tahun lalu. Dimana seorang anak yang bernama Satria pernah di fitnah oleh adik dan orang tuanya sendiri? Nah akulah yang bernama Satria dan dia adik yang telah memfitnahku."Seru Satria dengan menunjuk kearah Hakim.
__ADS_1
Hakim langsung bungkam dan menundukkan kepalanya. Tanpa bersusah payah membela diri, orang-orang disekitar sudah mulai berkasak-kusuk seperti membenarkan apa yang dikatakan oleh Satria.
"Ohh jadi ini orang yang tidak tahu malu itu?"Seru si A.
"Dasar tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Masih bagus kakaknya tidak menuntut nya lebih. Kalau aku jadi kakaknya mungkin sudah aku penjarakan saja seumur hidup."Seru ibu-ibu B.
Hakim semakin terpojok, niat hati ingin mempermalukan Satria namun justru dirinya sendiri yang malu di hadapan orang banyak. Parkiran memang dalam keadaan ramai, mereka semua memandang sinis kearah Hakim.
"Masih mau lanjut?." Tanya Satria dengan bersedekap tangan didepan.
"Awas kamu ! Lihat saja, aku pasti akan menghancurkan kebahagiaan mu dengan keluarga kecilmu. Gara-gara kamu mama dan papa juga memusuhiku. "Ucap Hakim mengancam Satria.
Selesai bicara seperti itu, Hakim langsung pergi meninggalkan Satria yang masih diam terpaku di samping mobilnya.
*Sepertinya Hakim serius dengan ancamannya. Aku harus waspada, Hakim itu orangnya nekat juga seperti Sarah. Apalagi saat ini dia sudah tidak lagi berpenghasilan dan sudah tidak lagi dengan mbak Sinta. Tentunya tidak ada lagi yang menopang biaya hidupnya.*Gumam Satria dari dalam hatinya.
Sementara itu saat ini, dirumah Satria sedang kedatangan seorang tamu. Tamu itu datang untuk mencari Dinda dan Satria.
" Maaf bu didepan ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Satria dan Bu Dinda."Ucap Satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang.
"Siapa pak?." Tanya Dinda merasa dia tidak ada janji dengan siapapun.
"Tidak tahu bu. Wanita itu cantik dan mengenakan hijab, apa mungkin orang yang datang untuk meminta sumbangan ya bu. Kalau begitu biar dikasih uang saja agar dia langsung pulang."Ucap pak Satpam.
Namun dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya. Dia merasa orang itu datang pasti ada sesuatu hal yang penting. Sehingga Dinda meminta pak satpam untuk mengizinkan wanita itu masuk. Lagipula jika wanita itu berniat jahat juga bakalan mikir-mikir, di depan rumah selain ada Satpam juga ada dua pengawal atau bodyguard pribadi.
Dinda memberikan Raja kepada pengasuhnya, dia ingin segera menemui tamunya.
"Dinda jika dia orang jahat kamu langsung teriak saja."Ucap nenek Murni mengingatkan.
"Iya nek."Jawab Dinda dengan cepat.
"Mbak Sinta !."Seru Dinda kaget saat mengetahui jika Sinta lah yang saat ini datang kerumahnya.
Dinda benar-benar kaget dengan penampilan baru Sinta. Sinta yang dulu selalu tampil modis dan seksi, kini berpenampilan serba tertutup dengan berbalut gamis dan hijab.
"Ini benar mbak Sinta kan?." Seru Dinda lagi.
"Iya Din, ini mbak Sinta. Assalamualaikum Din, kamu apa kabar? Maaf ya kalau kedatangan ku kesini mengganggu istirahatmu."Ucap Sinta dengan tutur kata yang sangat halus dan lembut.
"Waalaikumsalam mbak Sinta. Alhamdulillah kabar ku baik mbak. Masya Allah, Dinda tidak menyangka jika ini mbak Sinta. Jujur mbak aku sangat kagum dengan perubahan mbak Sinta. Mbak Sinta saat ini sudah berhijab dan menutup aurat, aku malu dengan mu mbak. Aku sampai sekarang belum mengenakan hijab."Ucap Dinda benar-benar kagum dengan perubahan Sinta.
"Alhamdulillah, Din. Aku ini wanita yang banyak salah dan dosa. Aku hanya ingin memperbaiki diri dan ingin mengurangi dosa-dosa ku. Kamu tahu sendiri bagaimana kehidupanku dulu. Hidupku berlumur dosa, Din."Ucap Sinta dengan penuh rasa penyesalan.
Dinda bisa melihat penyesalan yang begitu mendalam di wajah Sinta. Dinda pun memeluk Sinta untuk menguatkan Sinta. Setiap manusia pasti punya salah dan dosa. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, manusia tempatnya salah dan khilaf.
Sinta saat ini dalam proses memperbaiki diri, dia sudah menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Kedatangannya menemui Dinda dan Satria untuk meminta maaf kepada mereka. Hanya Satria dan Dinda yang belum dia temui untuk meminta maaf secara langsung.
" Dinda, kedatanganku ke sini memang aku sengaja. Aku ingin meminta maaf kepada kamu dan Satria, selama ini aku sudah banyak salah kepada kalian berdua. Bahkan di saat Mas Rudi masih hidup pun aku sudah memusuhi kalian berdua. Segala macam hinaan sudah pernah aku lontarkan kepada kalian. Hari ini aku datang dengan sengaja ingin meminta maaf kepada kalian berdua secara langsung."Ucap Sinta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Mbak Sinta, aku dan Mas Satria sudah memaafkan Mbak Sinta jauh sebelum Mbak Sinta datang meminta maaf kepada kami. Aku sangat senang saat mendengar Mbak Sinta sudah berubah lebih baik lagi, terlebih hubungan Mbak Sinta dan Hana juga sudah membaik. Sekarang di antara kita tidak ada yang namanya permusuhan lagi. Kita ini keluarga dan selamanya tetap akan menjadi keluarga."Ucap Dinda tanpa diminta air matanya juga sudah mengalir membasahi pipinya.
" Terima kasih Dinda. Terima kasih kamu sudah mau memaafkan aku, tapi bagaimana dengan Satria? Apa dia mau memaafkan wanita hina ini?"Tanya Sinta merasa ragu jika Satria akan bisa memaafkan semua kesalahan yang sudah dia perbuat.
" Sudah pasti aku akan memaafkan Mbak Sinta. Tidak ada keraguan bagiku untuk memaafkan mbak Sinta."Seru Satria yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu utama.
__ADS_1
Sebenarnya sudah sedari tadi Satria ada di ambang pintu. Dia tahu apa saja yang sudah dibicarakan oleh Dinda dan Sinta. Dia juga ikut senang melihat perubahan Sinta yang cukup drastis, yang paling membuat Satria bahagia adalah hubungan Sinta dan Hana yang sudah membaik.
"Terimakasih Satria."Jawab Sinta sangat terharu dengan kebaikan Satria dan Dinda.
Dinda menyambut kepulangan suaminya, dia mencium tangan Satria dan mengambil tas ketja suaminya. Lalu Satria sudah ikut duduk bergabung dengan Dinda dan Sinta.
Kini Dinda duduk bersebelahan dengan Satria tepat ada di seberang Sinta.
" Tidak perlu membahas masa lalu Mbak. Saat ini kami sudah memaafkan Mbak Sinta, jadi tolong jangan dibahas lagi hal-hal yang dulu pernah terjadi diantara kita. Sekarang kita bahas hal-hal yang positif saja."Ucap Satria meminta Sinta untuk tidak membicarakan masalalu lagi. Sebab dia tidak mau ada yang bersedih-sedih lagi.
Sinta mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Memang tidak baik jika terus-menerus membicarakan masa lalu. Apalagi saat ini diantara mereka memang sudah saling memaafkan.
" Kalau boleh tahu sekarang mbak Sinta tinggal di mana?."Tanya Dinda mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan.
" Aku tinggal di daerah blok B, Din. Disana dekat dengan pesantren, terkadang saat aku suntuk dan jenuh aku ikut pengajian dan belajar disana. Awalnya aku malu ikut belajar disana, karena aku sudah tua. Namun ternyata niat baikku disambut baik oleh pengurus pesantren itu. Aku sekarang juga buka usaha toko pakain muslim di samping rumah, kebetulan memang aku membeli rumah sudah sama tokonya."Jawab Sinta dengan jujur.
" Alhamdulillah, semoga usaha Mbak Sinta berjalan dengan lancar dan selalu mendapat ridho dari Allah. Komunikasi dengan Hana tetap lancar kan Mbak?."Tanya Dinda ingin lebih tahu perkembangan hubungan antara Hana dan Sinta.
"Aamiin. Terimakasih atas doanya, alhamdulillah hubungan ku dengan Hana semakin baik. Komunikasi dengan Hana juga sudah baik, hampir setiap hari kami berkirim kabar. "Jawab Sinta lagi.
Merasa dirinya tidak perlu terlibat obrolan dengan dua wanita yang saat ini sedang mengobrol itu. Satria pun memutuskan untuk meninggalkan dua wanita itu, Satria lebih memilih masuk ke kamarnya untuk membersihkan badan dan setelah itu akan bermain dengan Raja.
" Lebih baik aku merahasiakan pertemuanku dengan Hakim tadi. Aku tidak mau membuat Mbak Sinta kepikiran dengan masalah Hakim kembali."Ucap Satria bermonolog pada dirinya sendiri saat dirinya sudah berada di dalam kamar pribadinya.
Satria mengambil handuk dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Sementara itu Dinda dan Sinta masih fokus dengan obrolannya. Mereka hanyut dengan pembahasan bisnis fashion yang saat ini ditekuni oleh Sinta.
"Mbak Sinta hebat. Dinda salut sama mbak Sinta, nanti kalau ada waktu aku akan main kerumah mbak Sinta."Ucap Dinda serius.
"Oke aku tunggu kedatangan kamu. Ajak yang lainnya juga biar ramai."Ucap Sinta.
"Iya mbak. Oh ya mbak, bagaimana kabarnya mbak Sarah? Apa mbak Sinta sudah berhasil menghubunginya atau mbak Sinta sudah bertemu dengannya? Bagaimana masalah hutang yang ada pada mbal Sarah?."Tanya Dinda sangat ingin tahu soal Sarah.
Sinta menggelengkan kepalanya dengan cepat pertanda jika dia memang belum bertemu dengan Sarah. Sinta sendiri saat ini memang sudah mengikhlaskan hutang Sarah, dia tidak mau lagi mempermasalahkan soal uang yang dipakai oleh Sarah. Lagi pula uang itu juga dulu Sinta dapatkan dengan cara tidak benar bisa dibilang itu uang haram.
" Aku belum menemui Sarah dan aku tidak tahu di mana dia tinggal sekarang. Soal hutang aku sudah mengikhlaskannya, Din."Jawab Sinta terlihat lebih bijaksana dalam menyikapi permasalahannya dengan Sarah.
" Semoga Allah menggantikan rezeki mbak Sinta lebih dari apa yang sudah mbak pinjamkan kepada Sarah."Seru Dinda bicara dengan ketulusan.
"Aamiin. Emm Din, sepertinya hari sudah semakin sore jadi aku pamit pulang dulu ya."Ucap Sinta berpamitan.
"Ini bukan lagi sore mbak, sudah mau magrib loh mbak. Apa tidak sebaiknya mbak Sinta pulang habis magrib saja. Tidak baik loh diperjalanan saat magrib-magrib."Ucap Dinda mengingatkan Sinta.
Sinta melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. memang benar sekitar 20 menit lagi akab tiba magrib. Perjalanan kerumahnya membutuhkan waktu sekitar 25 menit itupun jika tidak macet.
"Tapi apa aku tidak mengganggu kalian?."Tanya Sinta merasa tidak enak.
"Jelas tidak dong. Nanti mbak bisa di antar sama sopir, aku tidak mengizinkan mbak pulang sendirian."Ucap Dinda.
"Tapi aku bawa mobil sendiri, Din."Ucap Sinta memberitahu.
" Itu soal mudah mbak, nanti biar Pak sopir mengikuti mobil mbak Sinta dari belakang."Seru Dinda yang tidak kehabisan akal.
Sinta hanya mengangguk pasrah, dia menurut saja dengan Dinda. Dia tidak menolak niat baik Dinda.
__ADS_1
* Masya Allah, terbuat dari apa hatimu Dinda. Dulu aku selalu menghinamu dan mengolok-olok kamu dan Satria, namun sedikitpun kamu tidak menyimpan rasa dendam kepadaku. Justru kamu tetap baik kepada diriku, dan kamu juga peduli dengan Hana. Berkat kamu dan Satria, Hana juga bisa terselamatkan dari Badar dan keegoisanku. Terimakasih Dinda, Satria.*Gumam Sinta dalam hatinya.
************