
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Disaat keluarga pak Karim sedang berbahagia mempersiapkan keberangkatannya ke tanah suci untuk umroh. Sarah sedang berbaring di rumah sakit, semalam Sarah di larikan ke rumah sakit oleh tetangganya. Beruntung Sarah pingsan saat dia keluar dari kontrakan untuk mencari bantuan, dan ternyata saat membuka pintu Sarah pingsan.
Tetangga yang sedang melintas mendapati Sarah yang pingsan langsung menolongnya. Dan membawanya kerumah sakit. Para tetangga belum ada yang tahu, wanita seperti apa Sarah itu. Jika mereka tahu apa mereka akan tetap membantu Sarah?
"Aku ada dimana?."Tanya Sarah yang baru saja siuman.
"Eh mbak Sarah sudah bangun?." Tanya Ira orang yang sudah menolong Sarah.
"Kamu siapa? Dan kenapa aku bisa ada disini? Kenapa kamu bisa tahu namaku?." Tanya Sarah dengan wajah penuh keheranan.
"Saya Ira, mbak. Semalam saat saya pulang dari warung saya mendapati mbak pingsan di depan pintu kontrakan lalu saya memanggil pak Rt, dan pak Rt bilang mbak harus dibawa kerumah sakit saja. Dan pak Rt juga yang memberitahu nama mbak."Ucap Ira dengan ramah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar Sarah tidak salah paham.
Sarah mencoba mengingat apa yang semalam terjadi. Dia pun ingat jika semalam dia kesakitan dan badannya juga sangat lemas, saat dia memutuskan untuk keluar dari rumah dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Ira wanita yang baik, dialah yang dari semalam menemani Sarah. Dia tidak tega melihat Sarah yang harus dirumah sakit seorang diri. Dan hanya ira tetangga yang satu-satunya tahu jika Sarah mengidap penyakit kelamin. Sebab semalam dokter langsung bicara dengan Ira, setelah pak Rt dan yang lainnya pulang.
Namun Ira tidak akan membahas masalah itu dengan Sarah. Biarlah itu menjadi rahasia saja, jika Sarah yang membukanya langsung kepada Ira, dengan senang hati Ira akan mendengarkannya.
*Sepertinya mbak Ira ini orang yang baik dan tidak kepo dengan urusan orang. Jika dia bukan orang baik, sudah pasti saat ini dia sudah pulang dan tidak akan menemani aku.*Gumam Sarah dalam hati.
"Mbak Sarah mau makan?."Tanya Ira dengan sangat ramah.
"Tidak mbak, nanti saja."Jawab Sarah mencoba bicara dengan baik.
Dia tidak mau galak-galak dan ketus, sebab dia sangat membutuhkan bantuan orang lain. Sarah berusaha untuk duduk, Ira yang melihat Sarah kesusahan dengan cekatan dia langsung membantu Sarah untuk duduk.
"Mbak Ira tidak pulang? Apa tidak dicariin sama suaminya?."Tanya Sarah.
__ADS_1
"Saya sudah tidak punya suami mbak. Saya janda ditinggal mati. Suami saya meninggal 3 tahun yang lalu, dan saya mempunyai seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 13 tahun. Baru masuk SMP tahun ajaran baru ini."Jawab Ira dengan lengkap.
*Usia nya sama dengan Joni dan sekarang Joni juga baru masuk SMP.*Gumam Sarah dalam hati.
"Terus kalau mbak Ira dari semalam disini, bagaimana dengan anak mbak, Ira? Siapa yang menemani nya dirumah?." Tanya Sarah lagi ingin tahu lebih banyak soal Ira.
"Ada kedua orang tua saya, mbak. Mbak nanti saya tinggal pulang dulu ya, setelah dzuhur nanti saya datang lagi. Soalnya saya mau mengantar cucian pelanggan saya."Ucap Ira dengan sopan.
Sarah tertegun dengan kebaikan Ira, ternyata masih ada orang yang baik dan peduli dengannya. Padahal selama ini dia tidak peduli dengan orang lain, tapi sekarang orang lain justru memperdulikannya.
"Mbak Ira punya usaha loundry?." Tanya Sarah.
"Tidak mbak. Saya hanya buruh cuci dan setrika saja, kalau mau buka laundry mana bisa mbak. Modalnya tidak ada."Ucap Ira jujur.
Bahkan selama ini dia mencuci hanya memakai tangan saja. Sebab hasil dari menjadi tukang cuci tidaklah banyak, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan uang sekolah anaknya saja sering telat bayar. Kedua orang tuanya dulu punya toko sembako namun bangkrut karena almarhum mantan suami Ira yang banyak hutang.
"Saya pulang dulu ya mbak, Sarah."Ucap Ira berpamitan.
"Iya mbak, silahkan. Kalau memang mbak sibuk, mbak tidak perlu datang kesini. Nanti ada suster yang bisa menemani saya."Ucap Sarah lagi tidak mau mengganggu pekerjaan Ira.
"Iya mbak. Nanti saya usahakan untuk datang lagi, Assalamualaikum."Ucap Ira tidak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Ira bangkit dan keluar dari kamar rawat Sarah. Sedangkan Sarah terpaku memandang kepergian Ira sampai sudah tidak terlihat lagi.
"Huuhhh kenapa juga aku harus di rawat dirumah sakit? Uang di rekeningku memang masih banyak, sepertinya 500 juta masih ada. Aku harus menghematnya, sebab aku juga butuh banyak biaya untuk lahiran dan pengobatan. Kenapa aku jadi merindukan, Joni. Apa anak ku masih mau mengakui ku sebagai mamanya."Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.
Sarah meraih makanan yang ada di atas nakas samping brankarnya. Dia harus makan, sebab ada bayi yang harus dia beri nutrisi.
**********
"Joni kamu kenapa?." Tanya Cahaya yang melihat Joni seperti sedang kebingungan.
Joni hanya menggeleng pelan, dia tidak mau memberitahu apa yang saat ini dia fikirkan. Tidak mau membuat Cahaya merasa tersinggung.
"Kok cuma menggelengkan kepala saja, Jon? Ada apa? Cerita sama bunda."Ucap Cahaya dengan lembut.
__ADS_1
Usia Joni yang sudah menginjak remaja, membuat Cahaya sedikit was-was dan khawatir dengan tingkat pergaulan Joni. Namun saat ini Joni masih bersikap wajar, setiap pulang sekolah dia akan langsung pulang.
"Bunda, jangan marah ya."Seru Joni.
"Marah? Marah soal apa, Joni?." Tanya Cahaya tidak paham dengan arah pembicaraan Joni.
"Joni rindu sama mama Sarah. Semalam Joni mimpi bertemu dengan mama. Dalam mimpi itu mama kurus sekali, apa mama sedang samiy ya Bun?." Tanya Joni yang ternyata sedang memikirkan mamanya.
"Itu hanya bunga tidur saja, Joni. Insya Allah mama kamu sehat. Kamu jangan lupa terus berdoa untuk mama kamu, biarpun mama kamu pernah melakukan kesalahan. Sebagai anak tetap doakan yang terbaik untuk mama kamu. Jika kamu ingin bertemu dengan mama kamu, bunda dan papa tidak melarang kok. Tapi sepertinya mama kamu tidak tinggal di kota ini lagi."Ucap Cahaya mencoba menasehati Joni.
Cahaya tidak memberitahu jika dia dan Reno seminggu yang lalu bertemu dengan Sarah di rumah sakit. Apalagi Sarah sedang hamil dan suaminya juga masih sangat muda. Cahaya tidak mau membuat Joni bersedih.
"Aku memang merindukan mama, Bunda. Tapi aku masih marah dan benci sama mama, aku tidak mau bertemu dengannya. Untuk doa, Joni selalu mendoakan mama tanpa henti."Ucap Joni yang ternyata masih menyimpan amarah untuk mamanya.
"Joni, jangan terus-terusan membenci mama kamu. Buang jauh-jauh rasa benci itu, ingat !! Berkat mama kamu, kamu ada di dunia ini. Dia melahirkan kamu dengan bertaruh nyawa. Sebesar apapun kesalahan mama kamu, kamu harus bisa membuka pintu maaf untuknya tanpa menunggu mamamu meminta maaf lebih dulu. Bunda sekarang sudah menjadi orang tua Joni, tapi tetap mama Sarah lah orang tua kandung kamu."Ucap Cahaya menasehati Joni dengan pelan agar mudah dipahami dan tidak membuat Joni salah paham.
Joni hanya mengangguk dengan pelan, apa yang dikatakan Cahaya memang benar. Tidak semestinya Joni menyimpan dendam dan benci untuk mamanya.
"Terimakasih, Bunda. Bunda sudah memberikan nasehat yang baik untuk Joni. Maaf kan Joni ya Bun, jika Joni tadi sudah egois."Ucap Joni lalu memeluk Cahaya.
Sebenarnya Cahaya sedikit sungkan saat Joni memeluknya sebab Joni sudah beranjak dewasa. Terlebih Joni hanya anak tirinya, khawatir jika ada yang tidak suka dengan kedekatan mereka lalu bergunjing dan menjadi gosip di lingkungan tempat tinggalnya.
"Ma, kira-kira nanti adek bayinya cewek apa cowok?." Tanya Joni mengalihkan pembicaraan..
"Belum tahu, Joni. Tapi biarpun cewek ataupun cowok Bunda dan papa tidak masalah. Yang penting saat lahiran semua nya lancar dan sehat. Memangnya Joni mau adik cewek apa cowok?." Tanya Cahaya full senyum kearah Joni.
"Cewek atau cowok sama saja, Bunda. Bila perlu dua-duanya juga boleh. Hahaaa."Seru Joni sambil tertawa.
"Aamiin. "Ucap Cahaya mengaminkan ucapan Joni.
Cukup lama Joni dan Cahaya berbincang-bincang, kini Cahaya pergi kedapur untuk membuat Es teh manis. Yang dulunya tidak saat ini Cahaya ingin sekali minum es teh manis.
"Bunda, kakek sama nenek kemana? Kok sedari Joni pulang sekolah tidak melihatnya?." Tanya Joni.
"Oh kakek sama nenek ada perlu, katanya tadi mau belanja keperluan yang masih kurang untuk dibawa umroh. Besok lusa kakek dan nenekkan sudah harus berangkat. Tadi perginya sama papa kok, mungkin sebentar lagi pulang."Jawab Cahaya dengan detail dan jujur.
__ADS_1
Joni mengangguk paham, lalu dia meninggalkan dapur menuju kamar nya. Cahahaya sendiri melanjutkan membuat minuman yang saat ini dia inginkan.
***********