
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Selepas maghrib Reno mendatangi rumah Dinda, dan kini Reno sudah berada di rumah Dinda dan sedang berbincang - bincang dengan Dinda dan Satria sembari Dinda menikmati es cendol buatan pak Marno dan terang bulan yang tadi dibawakan oleh Reno. Untuk Satria dan Reno lebih memilih minum kopi saja sebab mereka baru saja makan malam.
" Aku tidak keberatan dengan modal yang akan mas pakai, tidak perlu buat surat perjanjian segala. Aku percaya sama mas Reno." Seru Satria menolak keinginan Reno.
" Tidak bisa begitu dong, Satria. Aku ini kan pinjam uang sama kamu tidak sedikit jadi harus ada perjanjian hitam diatas putih. Sifat orang itu tidak ada yang tahu, Satria. Siapa tahu esok hari aku ingkar janji, pokoknya aku akan tetap buat surat perjanjian itu dan ini kebetulan sudah aku buatkan." Seru Reno sembari mengeluarkan dua lembar kertas dari dalam tas kecilnya.
Satria dan Dinda tidak bisa menolak yang sudah menjadi keputusan Reno. Satria mengambil kertas itu dan membacanya terlebih dahulu sebelum dia tanda tangani. Akhirnya kedua belah pihak menandatangani surat perjanjian hutang piutang itu diatas materai yang sudah terpasang.
" Sudah mas." Seru Satria sembari menutup pulpen yang baru saja dia gunakan.
" Sekarang surat itu kamu saja yang memegangnya. Soalnya kamu kan pihak yang memberi hutang, jadi kamu yang simapan." Ucap Reno dengan yakin.
" Baiklah, aku ikut apa saja kata mas Reno." Jawab Satria dengan pasrah.
Dinda hanya menyimak saja, membiarkan itu menjadi urusan suaminya dan sang kakak saja. Terlalu banyak yang harus dia fikirkan jika dia harus ikut campur dengan urusan mereka berdua.
" Mas, kapan toko mulai buka tokonya?." Tanya Dinda mengalihkan pembicaraan soal hutang pusing juga Dinda mendengar urusan uang.
" Insya Allah dalam minggu ini, beruntung ruko tidak harus renovasi. Hanya perlu persiapan saja, insya Allah besok selesai setelah itu bisa untuk segera diisi. Sudah ada 1 orang yang akan bekerja, nanti kalau misal berjalan dengan baik boleh nambah karyawan." Ucap Reno menjelaskan.
__ADS_1
" Iya mas. Kalau mas kerjakan sendiri mana mas bisa, kalau cuma 1 orang apa bisa terhendel mas? Ambil karyawan 2 dulu mas, soalnya barang yang akan mas jual juga banyak loh dan perlu menyusun serta cek nota ini dan itu." Ucap Dinda memberi usul.
" Iya juga ya Din. Heemm baiklah nanti si Akbar biar sekalian ajak temannya kalau begitu. Kemarin Akbar sempat bilang kalau temannya mau juga ikut kerja, tapi aku tolak." Seru Reno sambil terkekeh.
Dinda dan Satria juga ikut tertawa, mereka ikut bangga melihat perubahan dan semangat Reno untuk bangkit dan berjuang untuk masa depannya dan anaknya. Cukup lama Reno bertamu dan kini waktunya Reno untuk pulang. Reno berpamitan pulang, dan saat Dinda memberikan uang untuk makanan yang dia titip tadi dengan tegas Reno menolaknya.
Uang yang dipakai untuk beli makanan tadi tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan untuk Reno.
Setelah Reno pulang, Satria dan Dinda masuk kamar sebelumnya Dinda kekamar nenek terlebih dahulu namun ternyata nenek sudah tidur.
" Oh iya sayang, apa kamu sudah dapat kabar jika dalam dua bulan ini Indra dan Amara akan melangsungkan pernikahannya. Tadi siang si Indra baru memberitahu ku, mungkin saja nenek juga belum tahu." Ucap Satria memberitahu Dinda.
" Wahhhh tom dan jerry itu akhirnya menikah juga. Mereka dulu bukannya saling jual mahal kan mas? Siapa sangka mereka ternyata berjodoh." Ucap Dinda yang kini sudah membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
" Jodoh mana ada yang tahu sayang. Kita juga dulu tidak saling kenal kan? Kenalan dulu dan tidak lama dari itu kita langsung menikah. Padahal dulu kamu tahukan kalau aku ini hanya pedagang es cendol keliling tetapi kamu mau dengan tulus menerimaku." Ucap Satria mengingat masa disaat mereka baru saja berkenalan.
Dulu tidak ada wanita yang mau dekat dengan Satria, biarpun tampan tetapi status pekerjaanya yang hanya pedagang cendol benar - benar membuat Satria merasa terkucil. Teman tidak punya, pacarpun tidak punya. Pertemuannya dengan Dinda dimini market membuat hidup Satria semakin berwarna.
" Sudah malam, yuk kita tidur. Kasihan dedek bayi dalam perut pasti juga sudah mengantuk." Seru Satria dengan mengusap perut Dinda.
" Iya suamiku sayang. Tapi apakah mas lupa kalau kita belum sholat isya loh?." Seru Dinda mengingatkan.
Plaaakkk
Satria menepuk keningnya sendiri, sebab dia sendiri memang lupa jika dia belum sholat isya sebab tadi asik mengobrol dengan Reno. Satria bergegas masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu, begitipun dengan Dinda yang juga turun dari ranjang lalu mengambil wudhu.
" Sholat dikamar saja ya mas." Ucap Dinda.
__ADS_1
" Iya sayang." Jawab Satria singkat.
Dinda memasang sajadah untuk Satria dan untuk dirinya, setelah itu mereka sholat isya secara berjamaah. Biasanya mereka akan sholat di mushola rumahnya bersama nenek juga, pasti nenek tadi sudah sholat sendiri.
*********
Sementara malam ini Sarah seperti biasa menerima tamu nya, namun kali ini dia melayani tamunya si sebuah hotel mewah. Sebab tamunya malam ini adalah seorang pengusaha yang berani bayar dia mahal untuk satu malam saja.
" Kenapa kamu mau menjalani pekerjaan seperti ini? Apa kamu tidak merasa rugi?." Tanya pria yang bernama Luki kepada Sarah.
" Kenapa aku rugi? Aku juga mendapatkan uang, jadi aku sama sekali tidak rugi. Oh iya apa kamu juga tidak merasa rugi menghianati istrimu dirumah sana? Kalau aku memang tidak punya suami jadi tidak ada yang merasa tersakiti." Ucap Sarah sedikit curhat dengan pelanggannya.
" Biarkan saja. Jika dirumah aku milik istriku tapi jika diluar seperti ini aku bebas dong. Lagipula istriku pasti tidak akan curiga, hemm kalau dilihat-lihat kamu ini cantik, putih dan terawat. Aku jadi tidak sabar ingin segera menikmatimu, Sarah. Jika malam ini kamu berhasil membuat aku puas, aku pastikan lain kali aku akan memakaimu lagi. Untuk malam ini bayaranmu sudah aku transfer kepada Sinta 50 juta." Ucap Luki dengan mata penuh gairah.
* Sial kenapa harus dia transfer kepada Sinta sih? Dia pasti akan langsung memotong hutangku, kalau seperti ini lebih baik pendapatan malam ini langsung potong full sisa hutang saja lah biar aku tidak pusing berurusan uang dengan Sinta.*Gumam Sarah dalam batinnya.
Sarah tersemyum licik kearah Luki, Sarah tahu Luki ini seorang pengusaha dan pastinya uangnya banyak. Dia akan memuaskan Luki dan jika Luki akan memakai jasanya bisa langsung menghubungi Sarah tanpa perlu melalui Sinta. Dengan begitu uang akan sepenuhnya milih Sarah.
" Aku yakin malam ini kamu akan puas. Emm jika kamu membutuhkanku kembali langsung saja hubungi nomorku, nanti kuta saling tukar nomor ponsel." Seru Sarah dengan tangan yang mulai menyusuri tubuh Luki.
" Baiklah aku setuju. Aku ingin segera melakukannya,Sarah. Cepatlah jangan lama - lama, malam ini satu malam full kamu akan bermain denganku. Jika kamu bisa mengimbangiku aku akan memberimu tips yang banyak." Ucap Luki dengan suara seraknya.
Luki adalah seorang pria yang hiper sehingga dia tidak pernah puas saat bermain. Bahkan selama bermain dengan wanita diluaran sana belum ada yang bisa mengimbanginya. Isyrinya saja tidak sanggup mengimbanginya, sehingga dia merasa tidak puas dan mencari kesenangan tambahan diluaran tanpa sepengetahuan istrinya.
" Ok kita mulai permainan kita,Sayang." Seru Sarah dengan senang hati.
Sarah mulai mengerjakan tugasnya dengan baik, permulaan yang cukup baik. Dia bermain 2 jam, lalu beristirahat dan membiarkan Luki yang mengambil alih kendalinya. Sarah mengakui jika Luki sangatlah kuat dan seperti kuda yang tidak mempunyai rasa capek.
__ADS_1
* Pria ini benar - benar luar biasa. Baru dia ini yang mempunyai stamina yang luar biasa. Kalau begini ceritanya aku juga akan puas. Hahahaa.*Gumam Sarah tertawa dalam batinnya.
*************