
Berada di sana hampir sama saat berada di kampung,lingkungan yang masih asri,banyak pepohonan,udara yang sejuk,kicauan burung menyambut datangnya pagi.
Udara yang sejuk membuat kita betah berlama lama di bawah selimut.
Masih seperti kemarin Efi yang akan membantu Bibi membuat sarapan dan yang lain masih betah di dalam kamar apakah melanjutkan tidur setelah shalat atau hanya sekedar rebahan karena udara sejuk.
"Pagi,calon istri sudah di dapur aja pagi pagi."
Sapa Renal datang menghampiri Efi dia malas di kamar apa lagi tau kalau Efi di dapur lebih baik dia di sini sekarang dari pada di kamar tidak melakukan apa pun.
"Pagi Re,duduk dulu,bentar aku buatkan minum hangat dulu."
Efi membuatkan Renal segelas teh hangat sambil menunggu sarapan selesai.
Renal hanya duduk memperhatikan segala gerak gerik Efi yang fokus pada kegiatannya,seolah tidak terganggu sama tatapan Renal yang tidak lepas pada dirinya,mungkin Efi lagi belajar jadi istri yang baik buat keluarga mereka kelak.
"Makasih honey."
Ucap Renal saat Efi menaruh minuman di balas senyum manis saja lalu melanjutkan lagi membuat sarapan.
"Kalau lagi disini ingat waktu liburan ke kampung Bibi deh honey,suasananya hampir sama."
Renal ingat awal kisah mereka berawal sejak dia liburan ke kampung Efi kala itu.
Pertemuan yang tidak mereka sadari hingga sudah menjalin hubungan sampai sejauh ini.
"Iya dan aku juga ngak nyangka akan berjumpa kamu Re."
Efi merasa itu sudah jalan takdir buat mereka berdua tidak ada yang namanya kebetulan semua sudah di atur sang pencipta hanya saja kita kadang menganggap itu sebuah kebetulan.
"Iya honey,aku juga ngak nyangka bertemu jodoh di sana padahal kota besar banyak cewek tapi takdir menuntun ku ke sana buat bertemu kamu."
Sebagai seorang dosen tentu saja banyak yang menyukai Renal mulai dari sesama dosen atau mahasiswa dia sendiri tapi malah dapat jodoh di tempat yang jauh,kalau di buat judul novel akan lebih bagus berjudul 'Liburan berhadiah jodoh atau jodohku oleh oleh liburanku'.
"Wih pasangan hot beduaan aja nih."
Bastian datang sudah rapi bergabung duduk di samping Renal di susul Kevin,exel dan Rasya.
"Mata lo katarak bilang kita berduaan,terus Bibi lo anggap apa menekin."
Memukul pelan kepala Bastian yang kebetulan sampai di jangkau tangan Renal.
"Masih pagi bang main pukul aja,lama lama ni otak bisa konslet kalau tiap bertemu lo kena pukul."
Mengusap usap kepala yang tidak sakit itu hanya saja kaget dapat serangan dadakan.
"Biar konslet sekalian aja error."
Balas Renal cuek sambil meminum tehnya bodo amat sama ucapan Bastian.
"Kurang asem lo pada udah ngumpul ngak ngajak gue."
David datang sambil mengomel pada temannya itu cuma dia sendiri yang belum ada.
__ADS_1
"Lo yang kurang asem,datang datang nyerocos aja."
"Duduk bang Dave jangan ngomel pagi pagi ngak baik nanti cepat tua lalu Sandra dari yang baru dan."
Rasya menjawab ucapan David namun menggantung ucapan terakhirnya sambil milirik yang lain.
"Dan jomblo lagi."
Lanjut yang lain kompak,kebahagiaan mereka terasa ada yang kurang jika belum mengejek David.
"Makasih,ingat ucapan doa buat diri sendiri dan ingat karma akan di bayar tunai ngak kredit atau nyicil."
David duduk menyisakan kursi kosong buat Sandra biar nanti saat sarapan tidak perlu lagi pindah tempat.
"Nih minum dulu,debat juga butuh minum biar ngak kering."
Efi membuatkan minuman yang sama buat para cowok tampan disana sambil menunggu sarapan jadi dan yang cewek belum ada yang muncul.
"Kayak tuan rumah aja pada di siapkan segala,biasanya buat dan ambil sendiri."
Sisi datang bersama yang lain ikut bergabung,lengkap sudah formasi mereka sekarang.
Lengkap dari segi pasangan dan teman debat juga di antara mereka hanya Efi dan Eva yang kurang suka ikut debat baginya tidak ada guna biar jadi penonton yang adil tidak memihak pada siapa siapa.
"Kalau gue emang tuan rumah tapi kalau lo bocil siapa ya lupa gue?."
David menarik tangan Sandra agar duduk di samping dia dari tadi sudah di sediakan kursi kosong.
"Sisi bang (nunjuk pada diri sendiri dan David menganggukkan kepala) lo ngak ingat bang(David menggeleng) sama Sisi juga lupa."
"Sekarang kita makan dulu nanti debat lagi."
Menghidangkan masakan yang sudah jadi menata pada mangkok yang besar biar di ambil sendiri sendiri sesuai several dan pasti yang cewek mengambil alir mengisi piring.
"Masakan calon istri gue ngak perlu di ragukan lagi."
Puji Renal yang sudah tau itu masakan Efi walau di bantu Bibi tapi masih ada perbedaan rasa.
"Semerdeka lo aja bang."
Balas Sisi mulai malas mendengar pujian Renal terhadap Efi yang bahkan dia sendiri sudah hafal apa yang Renal ucapkan.
"Tenang sweety walau kamu ngak bisa masak aku akan kerja keras buat cari pembantu buat masak biar kamu ngak capek cukup urusan kamar kamu yang urus."
Gombal receh Bastian keluarkan membuat semua orang yang berada di sana serasa ingin muntah mendengarnya.
"Kalau pembantu yang mengerjakan semua mending lo nikahin tu pembantu."
Ujar David santai sambil terus makan seoalah apa yang dia ucapkan barusan bukan keluar dari mulut dia sendiri.
"Itu emang tugas pembantu kalau ngak ngapain orang sampai buat yayasan pelatihan jadi pembantu."
Bela Exel setuju sama ucapan Bastian dia juga tidak mau istrinya kelak harus capek mengurus rumah cukup dia saja yang di urus.
__ADS_1
"Lagian kita cari istri bukan buat di jadikan pembantu,lo ngak ingat orang tua mereka saja pakai jasa pembantu mengerjakan semuanya supaya anaknya ngak kelelahan masa kita yang dapat sudah gede saja malah nyuruh dia kerja.
Kalau orang tua mereka tau anaknya di suruh kerja lalu mereka dia mengambil anaknya lagi kita bisa apa.
Kita nikahin dia buat bahagia in bukan buat dia susah sama kita."
Rasya juga setuju sama pendapat Bastian dan Exel dia juga tidak mau menyusahkan istrinya,lagian urusan dapur dia bisa cari jasa pembantu hanya urusan kamar istrinya akan urus dan dia juga tidak mau ada orang lain masuk area pribadi.
"Uuuhhh calon suami idaman."
Ketiga cewek itu tersanjung mendengar ucapan pujaan hatinya yang tidak mengizinkan mereka capek membereskan rumah.
Kok aku merasa tersindir ya sama ucapan mereka barusan, memang kehidupan ku dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang tapi ngak apa mereka ngak tau kehidupan ku dulu yang mereka lihat aku yang sekarang yang memiliki keluarga lengkap.
Aku maklum mereka bicara seperti itu,mungkin itu sebagai tanda sayang dan cinta mereka pada pasangan masing masing.
Ayah Bunda aku rindu.
Eva sedih mendengar mereka yang menyebut orang tua yang begitu menyayangi yang masih bisa mereka rasakan hingga sekarang.
"Mereka ngak tau apa apa sayang dan ingat masih ada aku yang akan selalu menyayangi kamu."
Bisik Kevin sedih mendengar ucapan Eva barusan membuat Kevin semakin ingin mencurahkan segala kasih sayang dan perhatian pada Eva.
"Aku ngak apa sayang."
Eva tersenyum menanggapi ucapan Kevin kadang Eva masih suka lupa jika Kevin bisa mendengar apa yang tidak Eva ucapkan lewat mulut.
Selesai menghabiskan sarapan mereka semua duduk terdiam ada yang memegang perut,ada juga yang memejamkan mata karena kekenyangan hingga suara itu memecahkan keheningan.
"Rasanya malas buat balik masih betah disini."
Sisi bicara yang enggan buat meninggalkan tempat itu.
"Jadi kangen kampung kalau berada di sini."
"Ya udah lo tinggal di sini aja nanti barang lo gue kirim."
Itu bukan suara David tapi Renal yang bicara apa dia tidak akan kesepian nanti jika tidak ada lagi teman debat di rumah.
"Makasih bang tawarannya."
"Kita balik nanti siang saja gimana biar sampai ngak kemalaman jadi masih ada sedikit waktu lagi."
Usul Sandra yang sebenarnya juga masih betah berada di sana namun apa daya David besok harus balik kerja.
Akhirnya semua setuju balik siang sesuai permitaan para tuan putri yang tidak bisa mereka tolak.
Sekarang mereka lagi ngumpul di taman depan villa sambil melakukan permainan game dan juga bernyanyi bersama.
Mereka berencana akan balik selesai shalat dzuhur biar sampai sebelum malam tiba.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
I LOVE YOU ALL 💕💞💖💗💝😍😘😙😗🤗
Tbc.