
Malam Hari setelah makan malam bersama para anak muda berkumpul di ruang keluarga tanpa ada orang tua mereka termasuk Efi dan Renal menginap di sana juga.
Raut wajah kesedihan terpancar di wajah mereka yang tidak bisa di pungkiri.
"Kakek kenapa ya bisa bisa di rawat gitu,tadi pagi masih baik baik saja."
"Iya padahal kemarin kakek ngak ada kelihatan sakitnya dan kita malah tiba tiba mendengar kakek di rumah sakit."
"Mungkin kakek bosan tidur di rumah makanya sesekali pengen nginap di sana."
Lah cucu lucknut kakek tidak bisa di ajak serius kalau tidak mengingat dia yang paling tua mungkin sudah dapat jitakan gratis satu satu dari mereka.
"Bang lo kalau ngomong kalau ngak ada faedahnya mending diam deh dari pada nih vas bunga melayang ke kepala lo."
Kesal Ken yang tidak habis fikir sama jalan fikir David yang suka sekali becanda.
"Lo ngak liat sekarang apa masa nginap di rumah sakit yang keren dikit nginapnya hotel gitu."
Memang cucu yang satu itu tidak bisa di ajak bicara serius ada saja yang dia jadikan bahan candaan.
"Gue heran dan kasihan sama Sandra kalau sampai harus punya suami seperti lo,takutnya hidup dia ngak tenang dan menyesal memilih lo."
Renal kesal apa iparnya itu sekali saja apa tidak bisa di ajak bicara serius.
"Lo nyumpahin kita bubar ya Re,dasar ipar ngak ada akhlak gue sumpahin juga supaya anak lo mirip gue."
Balas David menimpali ucapan Renal yang ikut menyudutkan dia juga emang dalam ruangan itu pilih kasih sama dia.
"Enak aja anak gue mirip lo,emang lo ikutan nanam saham waktu gue buatnya."
Efi memegang tangan Renal supaya jangan terlalu membalas ucapan David yang tidak akan ada habisnya.
"Lo nya ngak ngajak."
Semua bantal sofa melayang ke wajah David dari segala arah yang tidak bisa dia hindari saking dadakannya.
Tapi mereka bersyukur ada David di antara mereka yang bisa sedikit menghibur mereka kala sedih.
Walau kadang selera humor David keluar di saat yang tidak tepat tapi itu tidak masalah.
Mereka tau tujuan David supaya tidak larut dalam kesedihan yang lama lama.
Jika di tanya maka David yang paling sedih karena selalu saja ada cara mengajak kakek berdebat atau hanya sekedar adu mulut biasa dan pasti suatu hari akan rindu masa itu.
Hingga suara hp mereka membuyarkan pembicaraan mereka yang mulai melenceng jauh dari yang tadi.
Membaca group chat yang ternyata dari orang tua di rumah sakit yang mengabrkan kalau tuhan lebih sayang kakek dari pada mereka.
Bagai petir yang meyambar mereka setelah membaca isi chat itu.
Segelintir ucapan kakek tadi sore terbayang dalam ingatan mereka masing masing bagaimana kakek menginginkan mereka selalu aku,meminta mereka selalu saling bantu dan jangan pernah ada jarak di antara mereka walau bagaimana pun masalah datang menerpa di antara mereka.
"Ngak ini pasti bohongkan,ini prank kan."
"Sungguh ini ngak ada lucu lucunya tau prank kayak gini."
"Hey bilang ini becandakan?ini ngak beneran kan."
"Mama ini ngak lucu sama sekali ma,jangan ngelawak malam gini ngak lucu ngak ada juga yang nonton."
"Kakek jahat kenapa kakek ngak nunggu cicit kakek lahir dulu,kakek udah ngak sayang kami lagi kan.
Kakek tega cicit kakek ngak bisa lihat wajah kakek buyutnya.
Re bilang ini bohongkan,ini mama cuma salah ketikkan.
Jawab Re jangan diam aja."
Mereka tidak bisa bergerak di tempat duduk itu,rasanya seperti ada sebuah ikatan yang menahan mereka tetap di sana.
Jiwa mereka tertarik ke dalam pusat bumi terdalam dan enggan buat kembali lagi.
Mereka juga di suruh membereskan rumah karena sebentar lagi jenazah kakek akan di bawa pulang dan mereka di larang datang ke rumah sakit.
Setelah kepulangan cucunya tadi kakek cuma terbangun sebentar hanya ingin melihat wajah anak mereka dan bicara sebentar setelah itu kakek munutup mata tidak bangun lagi.
Wajah kakek tampak bahagia karena impian kakek selama ini sudah terwujud bisa berkumpul bersama anak dan cucunya.
Satu jam kemudian sebuah ambulance datang memasuki perkarangan rumah kakek sudah mulai di datangi para pelayat.
Cucu laki laki lah yang mengangkat badan yang sudah tidak bernyawa lagi.
Sudah terbujur kaku dengan wajah tampak bahagia.
Sampai di dalam mereka mengelilingi kakek yang sudah terbaring di tengah rumah.
"Kakek beneran marah sama Lexa kan makanya ngak mau liat Lexa lagi.
Lexa kan udah janji mau bawa calon cucu mantu kakek masa kakek ngak liat sih."
__ADS_1
"Nana janji kalau bangun Nana akan turuti semua keinginan kakek tapi janji dulu kakek bangun ya."
"Kakek ngak sayang kita lagi kan,makanya kakek pergi apa kita nakal ya kek.
Masa kakek mau ninggalin aku sama seperti Ayah dan Bunda juga.
Ngak ada yang sayang sama aku sekarang."
"Kakek ngak mau liat calon cicit kakek lahir dulu ya atau kakek udah rindu sama Bunda ya makanya mau bertemu Bunda,bilang sama Ayah dan bunda aku sama Eva sayang dan rindu mereka."
"Kakek bangun kek tadi Kesya udah kasih tau dia akan nikah cepat kalau kakek sembuh.
Kakek tau apa jawabannya?dia setuju nikah cepat kalau perlu hari ini juga asal kakek sembuh."
Mereka tidak kuasa menahan air mata yang sulit di tahan buat keluar.
Rasa sedih itu memenuhi ruangan itu tapi mereka sadar tuhan memanggil kakek supaya kakek tidak perlu merasa sakit lebih lama lagi.
"Sayang ikhlas kan kepergian kakek,jangan hambat langkah kakek dengan air mata kalian.
Jika kalian sayang kakek maka ikhlas kan kakek ya,kakek pasti ngak mau melihat kalian bersedih gini,yang perlu kalian lakukan yaitu mendoakan kakek supaya tenang disana."
Marta mendekati anak anaknya supaya jangan terlalu larut dalam kesedihan yang mereka rasakan.
Tidak ada satu orang pun yang menginginkan sebuah perpisahan tapi tidak satu orang pun yang bisa menghindari itu.
Perpisahan mengajarkan kita bahwa jangan terlalu larut dalam sebuah pertemuan yang entah kapan saja bisa berakhir.
Berpisah bukan berarti akan kehilangan seutuhnya tapi perpisahan adalah cara kita menghargai kita saat masa bersama.
"Kakek ngak bisa bersama kita lagi tapi ingat kakek masih mengawasi kita dari jauh,maka jangan anggap kakek ngak bisa liat kita lagi.
Kakek akan selalu ada di antara kita dan ingat kakek juga sangat sayang sama kalian."
Sarah yang tidak kalau sedih setelah sekian lama berpisah dan baru berkumpul lagi tapi kakek sudah berpisah lagi sama dia.
Banyak waktu yang Sarah buang karena kesalahan dia dulu dan kini rasa penyesalan itu dia rasakan.
Menyesal pernah berbuat salah terhadap semua saudaranya terutama Sena adiknya.
Menyesal waktu dia bersama kakek cuma sebentar dan sudah di sayang tuhan.
Menyesal kenapa dulu dia begitu egois dan dalam diri dia hanya ada rasa iri dan dengki.
Malam berlalu dan kini sudah berganti pagi dan nanti pukul sembilan pagi mereka semua akan mengantar kakek pada tempat istirahat terakhir.
Beruntung mereka semua lagi berkumpul jadi proses pemakaman bisa cepat di laksanakan.
Segala proses penyelenggaraan jenazah kakek di lakukan semua cucunya karena mereka ingin berbakti kepada kakek untuk yang terakhir kali.
Hingga kini di sini mereka berada sekarang siap menyambut jenazah kakek yang akan di masukkan ke dalam liang lahat hingga selesai proses pemakaman.
Setelah doa bersama kini tinggal para anggota keluarga saja yang berada di sana.
Seperti di rumah semalam mereka mengelilingi makan kakek sambil berjongkok dan para orang tua hanya berdiri menyaksikan apa yang akan di lakukan anak mereka.
"Kakek yang tenang ya disana dan jangan pernah lupakan abang ya.
Abang akan pasti merindukan kakek setiap hari apa lagi kakek suka sekali debat sama abang,karena kakek udah ngak ada sama siapa abang akan debat lagi.
Abang akan selalu doain kakek di sini dan doain abang juga supaya bisa cepat ngasih kakek cicit ya kayak Efi."
David jongkok di depan nisan kakek dan memegang nya,setegar apa pun laki laki akan tumpah juga air matanya kalau melepas kepergian orang yang dia sayangi.
"Kakek sudah ngak sakit lagi sekarang yang tenang ya kek disana,sering sering lah liat kami di sini para cucu kakek yang tidak kalah tampan dari kakek ini."
"Kakek pasti udah senang kan bisa bertemu Bunda di sana bilang sama Bunda ya kek kalau Bunda udah mau punya cucu.
Doain supaya cicit kakek lahir dengan selamat ya kek dan juga sehat."
"Aku harap kakek tenang dan bahagia di sana ya,pasti kakek bahagia ya udah bertemu bidadari kakek.
Bilang sama nenek kalau aku rindu nenek juga dan bahkan aku ngak pernah bertemu nenek walau hanya sekali saja dan juga bilang sama nenek ya kek supaya datang dalam mimpi aku biar aku tau wajah nenek pasti ngak kalah cantik dari aku kan."
Memang di antara mereka hanya Eva dan Efi yang tidak pernah bertemu nenek mereka sama sekali.
Cuma foto lama yang bisa mereka lihat dan itu juga foto neneknya masih terbilang cukup muda saat meninggal.
Foto itu mereka lihat dari foto pernikahan kakek dan nenek mereka hingga para orang tua mereka lahir juga hingga dimana foto David di gendong nenek mereka hingga ada foto Kesya kecil juga dan setelah itu tidak ada lagi.
Cukup lama mereka disana hingga matahari mulai terik mereka mau beranjak dari sana.
"Tunggu."
Teriak Eva berlari menuju sebuah pohon yang tidak jauh berada di sana hingga yang lain mengikuti Eva juga.
"Jaga diri kalian baik baik ya di sini,kakek udah bahagia bertemu nenek kalian.
Ini dia (Memegang tangan perempuan yang berdiri di samping kakek).
__ADS_1
Jangan sedih lagi ya kakek tidak mau kalian semua bersedih terus ingat kakek akan selalu bersama kalian dan ingat pesan kakek ya."
Bayangan kakek yang Eva lihat sehingga Eva menghampiri kakeknya sebelum pergi lagi.
"Nenek bahagia bisa melihat kalian semua di sini,ternyata kalian pada tampan dan cantik ya sama seperti nenek dan kakek muda dulu.
Udah jangan sedih terus suatu hari nanti kita pasti akan berkumpul lagi."
Untuk pertama kali Eva bisa mendengar suara neneknya dan sayang cuma Eva yang bisa melihat dan mendengar semua itu sedangkan yang lain hanya melihat Eva yang fokus pada pohon itu.
"Kakek dan nenek baik baik ya di sana dan doain kami di sini selalu bahagia ya dan kami akan selalu doain kakek dan nenek dari sini.
Nanti datang ya acara nikahan aku sama Kevin kakek sama nenek jangan sampai lupa.
Kenapa kakek ngak nunggu kami nikah dulu dan juga aku bertemu kakek dan kakek udah ninggalin aku lagi."
Para orang tua dan saudara Eva yang lain hanya heran melihat Eva bicara sendiri karena mereka tidak tau tentang Eva lebih jauh dan hanya David yang tau diantara yang lain.
"Ibu,mama,mami dan yang lain jangan kaget melihat Eva seperti itu,Eva sekarang lagi bicara sama kakek dan nenek dan itu sudah lama Eva dapat sejak masih di kampung dulu.
Aku juga ngak tau Eva punya kemampuan itu sejak kapan yang jelas semua itu ngak apa buat Eva ngak ada dampak buruk."
Efi baru Eva ceritakan beberapa bulan yang lalu setelah dia hilang hutan dulu.
Awalnya Efi tidak mau mempunyai kelebihan itu tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih karena itu ada tanpa Efi tau.
Mereka semua menutup mulut dengan tangan sendiri mendengar cerita Efi barusan dan bagaimana bisa Eva begitu santai seolah kalau dia tidak terusik sama apa yang dia miliki.
"Kakek sama nenek pergi dulu kalian jaga diri baik baik dan ingat pesan kakek,cucu Kakek pasti kuat."
Setelah itu kakek menghilang dari pandangan Eva hingga Eva terduduk di atas tanah tidak bisa menopang badan sendiri.
Pertama dan terakhir melihat wajah neneknya dan itu cuma sebentar.
Sakit dan rasa sedih Eva rasakan belasan tahun yang lalu kini Eva rasakan kembali.
Sakit dan sedih akan sebuah kehilangan yang sulit Eva terima termasuk mereka semua.
Cukup lama Eva duduk lalu di bantu berdiri sama yang lain buat pergi dari sana.
Dengan langkah berat Eva pergi dengan pandangan lurus ke depan.
"Dek jangan seperti ini,istiqfar dek."
Merangkul Eva berjalan ke arah parkir mobil berada.
Rasa sedih kehilangan kakek serta rasa sedih melihat kondisi adiknya seperti ini seperti orang kehilangan arah.
"Kakak tau ngak wajah nenek tadi beneran cantik mirip seperti Bunda dulu.
Senyumnya sama seperti kakak dan nenek bilang kalau dia sayang sama kita semua
Nenek bilang bahagia bertemu kakek tapi nenek ngak tau kalau kita sedih berpisah sama kakek."
"Kakek bilang jangan lupa sama pesan yang kakek sampaikan waktu di rumah sakit kemarin.
Tadi Bunda sama Ayah juga ada dan mereka bahagia akan punya cucu.
Mereka bilang nanti bawa cucu mereka ke kampung supaya tau di mana kampung kakek sama nenek mereka."
Air mata mereka mengalir deras mendengar cerita Eva yang tidak bisa mereka pungkiri bahwa perpisahan ini sungguh sangat memukul mereka semua.
Bagaimana bisa Eva bercerita dengan tenang serta air mata yang terus keluar.
Mereka yang mendengar saja sangat sedih bagaimana dengan Eva yang melihat serta mendengar langsung.
Mereka semua berpelukan dengan air mata yang belum berhenti keluar.
Bukan perpisahan yang ada dalam diri Eva tapi pertemuan singkat mereka yang masih terbayang dalam ingatan.
Bagaimana dulu kakek meminta dia dan Efi supaya mau tinggal bersama yang nyatanya sempat mereka tolak hingga kejadian itu mengantar mereka berkumpul bersama.
Dimana Eva masih ingat wajah bahagia kakek mendengar kabar bahagia kehamilan Efi dan hampir tiap hari mengajak Efi ngobrol dan merencanakan pulang kampung bersama kalau anak Efi sudah lahir.
Tapi semua itu tinggal cerita saja yang akan jadi kenangan buat mereka semua.
\=\=\=\=
*Hari ini up dua eps semoga cepat proses review ya karena beberapa Hari ini sedikit lambat.
jangan lupa
Like
Komen
and
Vote
__ADS_1
Makasih*
Tbc.