TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Orang Tua Kevin.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam di selingi perdebatan yang di menangkan oleh Kevin sendiri dengan Eva masih memasang wajah sedikit kesal karena Kevin membawa bertemu orang tuanya tanpa persetujuan awal langsung bawa baru di jalan memberi tau.


Mobil Kevin memasuki perkarangan rumah yang luas Eva saja sampai tertegun melihat mewahnya rumah yang ada di depannya sekarang lebih besar dari rumah kakeknya.


Dalam fikiran Eva sekarang seberapa kaya orang tua Kevin dan apakah mereka akan menerima Eva yang hanya orang kampung tidak punya apa apa.


Ini rumah apa istana besar banget lebih besar dari rumah kakek padahal rumah kakek udah besar tapi masih ada yang lebih besar lagi.


Apa orang tua Kevin akan menerima ledatoku atau malah menolak nanti ya?


Aku takut kalau mereka menolak dan menyuruh meninggalkan Kevin.


Belum sadar jika mobil sudah berhenti tepat di depan pintu besar itu,dia masih asik bergelut dalam hati memikirkan apa yang akan terjadi nanti.


"Aku kan sudah bilang jangan pernah berfikir pada suatu hal yang belum pasti dan ingat kamu ngak bisa sembunyikan apa pun dari aku."


Kevin mendengar apa yang Eva bilang walau tidak secara langsung.


Bersyukur memiliki kelebihan itu jadi Kevin bisa tau apa yang Eva bilang kalau Eva tidak bicara langsung.


Jadi Eva tidak bisa mengelak yang kadang bicara tanpa sadar.


"Aku cuma takut di tolak sayang."


Menundukkan kepala karena sadar status mereka sangat jauh berbeda.


"Aku ngak peduli sekali aku sudah memutuskan sesuatu maka ngak ada satu orang pun yang bisa membantah."


Mengenggam tangan Eva supaya bisa lebih tenang,tidak habis fikir sama Eva padahal Kevin sudah memberi pengertian tadi.


"Kamu ngak merasakan sayang karena saat kamu bertemu keluarga ku mereka semua ngak peduli siapa kamu sebab sudah bisa di lihat dari penampilan kamu.


Sedangkan aku jika di tanya nanti aku harus jawab apa hanya anak yatim piatu ngak punya apa apa."


Sedih Eva menahan tangis yang siap pecah saat itu juga,sudah sampai sini baru dia merasakan perbedaan mereka selama ini Eva tidak tau tentang keluarga Kevin yang jauh berada di atasnya.


Mungkin kalau dari awal Eva tau pasti akan mempertimbangkan lagi menerima Kevin tapi kini sudah beda lagi rasa sayangnya pada Kevin sudah sangat dalam akan sangat menyakitkan buat keduanya jika memilih berakhir maka yang bisa Eva lakukan sekarang menghadapi yang ada di depan mata.


Eva hanya takut kalau perbedaan mereka membuat orang tua Kevin meminta Eva menjauhi anaknya tanpa Kevin tau.


"Yang menentukan kebahagiaan aku ya diri ku sendiri dan memilih dengan siapa aku bahagia.


Aku ngak peduli status kita yang harus kamu tau aku akan tetap mempertahankan hubungan ini walau harus menerima hal buruk sekali pun."


Bagi Kevin tidak ada yang lebih penting dari pada bersama orang yang dia sayangi.


Jika seandainya orang tuanya tidak setuju sebisa mungkin Kevin akan mencoba meyakinkan tapi kalau masih tidak bisa harus memilih jalan bahagia dia sendiri sebab orang tua itu tidak akan pernah lama marah sama anaknya apa lagi melihat anaknya bahagia sama pilihannya.


"Sekarang kamu tenang aja,kita turun."


Membukakan pintu buat Eva lalu menggandeng Eva masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum."


Salam keduanya masuk rumah di ruang tamu orang tua Kevin lagi bersantai sebab Kevin tidak memberi tau kalau akan membawa Eva hari ini cuma menjanjikan dalam waktu dekat saja.


"Waalaikumsalam."


Jawab keduanya menoleh pada siapa yang datang,di lihatnya sang anak menggandeng perempuan cantik dengan wajah sedikit menunduk.


Keduanya masih memperhatikan penampilan Eva dari atas hingga bawah yang tidak ada celah yang terbuka hanya telapak tangan dan wajah saja yang kelihatan.


Yang di perhatikan sangat malu hingga mengenggam tangan Kevin kuat buat meredam rasa takut di tolak.


"Jangan memerhatikan Eva kayak gitu pa ma,dia bukan pencuri yang harus mendapatkan tatapan kayak gitu."


Kevin sedikit tidak suka dengan orang tuanya yang melihat Eva dengan inten.


"Siapa bilang dia bukan pencuri?."


Ungkap sang papa dengan santai tidak tau saja kalau Eva sudah sangat ketakutan.


"Jangan asal bicara pa."


Tolak Kevin tidak setuju sama yang papanya ucapkan.


"Iya diakan pencuri hati kamu sayang ya ngak pa?."


Tutur mama yang mendapat anggukan dari papa juga hingga Kevin menghela nafas dalam buat meredam amarah tadi,masih sempat orang tuanya becanda saat Eva sudah ketakutan.


"Sini duduk sayang dekat mama."

__ADS_1


Menarik tangan Eva yang di genggam Kevin hingga terlepas, Eva duduk di samping mama Kevin membiarkan Kevin masih tetap berdiri.


Kedua lelaki itu hanya bisa menggeleng kepala saja melihat tingkah mama.


"Kenalkan aku Eva tante om."


Menyalami keduanya sebagai tanda hormat pada yang lebih tua darinya.


"Jangan panggil tante dong, panggil mama aja."


Tolak mama saat di panggil tante sama Eva karena merasa lagi bicara sama orang lain bukan lagi sama calon mantu.


"Tapikan."


Sanggah Eva merasa belum pantas saja karena hubungan mereka masih sebatas sepasang kekasih.


"Ngak ada tapian anggap aja lagi belajar."


Tolak papa juga setuju sama mama dari pada di panggil om tante.


"Gimana sayang kuliahnya lancar ngak?."


Mama ingin mengakrabkan diri sama Eva juga kalau hubungan mereka berlanjut pada tahap lebih serius lagi maka mereka akan terus bersama.


"Lancar kok ma,mama sama papa apa kabar sehatka?."


Masih ada rasa canggung dalam diri Eva karena ini pertama kali bertemu orang tua Kevin dan itu tanpa persiapan.


"Kami sehat sayang,kamu gimana keadaannya kata Kevin kurang sehat ya?."


Yang mama tau Eva hanya kurang enak badan Kevin tidak menceritakan tentang kejadian yang menimpa Eva.


"Udah baikan kok ma."


Jawab Eva sedikit malu karena harus berbohong sama orang tua Kevin.


"Iya lah baikan dokternya aja ganteng ini."


Sindir papa melihat ke arah Kevin yang duduk di samping.


Eva hanya tersipu malu mendapat sindiran itu walau memang itu kenyataannya.


"Jangan gitu ah pa liat ni calon mantu mama jadi malu."


"Malu malu mau ma."


Bukannya berhenti malah di lanjutkan lagi sama papa.


"Kenapa ngak bilang ngajaknya hari ini sih sayang kan mama bisa masakin makanan spesial buat menyambut calon mantu mama."


Mama mengalihkan pembicaraan yang bisa saja Eva semakin malu karena ucapan papa.


"Kevin sengaja ma mau ngasih kejutan."


Bukan hanya mama papa yang terkejut tapi Eva juga yang dadakan datang kesana.


"Tadi Eva juga bilang gitu jadi gimana mama sama Eva aja yang masak."


Usul Kevin dari pada wanita kesayangannya harus pusing membahas soal memasak lebih baik memasak berdua.


"Kamu bisa masak kan sayang?."


Sebenarnya mama sudah tau Eva bisa masak dari Kevin kini hanya sebagai basa basi saja.


"Bisa ma."


Jawab Eva singkat.


"Ya udah sekarang kita masak berdua buat makan siang, ayo."


Menggandeng tangan Eva menuju dapur meninggalkan dua pria itu di ruang tamu.


Sampai di dapur mama mengeluarkan bahan masakan buat menu makan siang mereka nanti mulai dari sayur hingga daging semua lengkap hanya tinggal di olah.


"Kamu Kenal Kevin dimana sayang?."


Tanya mama di sela kegiatan mereka supaya tidak terasa bosan hanya saling diam saja.


"Awal pertama bertemu di toko buku saat aku baru dua hari sampai sini,hingga beberapa bulan berlalu kami saling kenal setelah itu Kevin sering datangi kos aku hanya buat bisa dekat dengan aku dan mengantar kuliah hampir tiap hari dan juga aku dulu kerja di caffe punya Kevin ma hingga akhirnya hubungan kami terjalin sampai sekarang."


Jelas pendek Eva yang sangat jelas sebab tidak perlu bercerita panjang lebar buat menjabarkan sesuatu asalkan orang itu cepat tanggap.

__ADS_1


"Pantesan dulu Kevin sering berangkat pagi kuliah ternyata itu alasannya sampai dia harus bangun lagi buat ngantar kamu walau mama tau dia ngak ada jam kuliah.


Special banget ya kamu bagi Kevin hingga banyak mengalami perubahan dalam diri Kevin.


Kevin bilang akan segera bawa kamu kesini dan ngak bilang hari ini juga cuma melarang mama papa ngak keluar aja."


Tadi pagi sebelum Kevin berangkat dia sudah menanyakan apakah mereka ada kegiatan di luar atau tidak dan ternyata tidak makanya memutuskan buat membawa Eva hari ini menemui mereka.


"Kevin juga ngak bilang mau bawa aku kesini tadinya cuma bilang jalan jalan aja."


Jujur Eva yang tidak tau akan berakhir disana.


"Ngak apa sayang mama senang kamu datang,sering sering kesini ya biar mama ada teman."


Sejak kakak Kevin menikah dan ikut suaminya mama merasa kesepian tidak ada teman buat bisa di aja ngobrol apa lagi kalau papa lagi kerja dan Kevin kuliah rumah itu terasa sepi.


"Iya ma kalau Kevin yang ajak."


Biar bagaimana pun tidak mungkin Eva datang sendiri pasti Efi tidak akan mengizinkan Eva pergi keluar sendirian.


"Nanti mama bilang sama Kevin biar sering ngajakin kamu kesini."


Masakan mereka hampir selesai menu siang ini masakan kesukaan Kevin dan papa.


Eva menata masakan yang sudah jadi di atas meja lengkap dengan piring dan gelas tidak lupa juga buah sebagai pelengkap.


"Sepertinya enak ini."


Papa datang bersama Kevin dan langsung mengambil posisi duduk padahal masakan tinggal sedikit lagi selesai.


"Iya dong kan calon mantu mama yang masak."


Kini fikiran yang tidak menentu Eva tadi sirna sudah semua jauh dari ekspetasi Eva tadi yang berfikir bahwa akan mendapat penolakan dari orang tua Kevin.


"Calon mantu papa juga."


Papa tidak mau kalau sama mama.


"Calon istri Kevin."


Balas Kevin tidak mau kalau juga sama orang tuanya yang berebut Eva.


"Sudah jangan debat ngak jelas lebih baik sekarang kita makan."


Mama mengambil makanan buat papa begitu juga dengan Eva mengambil makanan buat Kevin.


Mereka makan dengan tenang hingga semua masakan yang mereka buat tadi hampir habis semua bahkan papa sama Kevin sampai nambah makannya.


"Memang benar calon mantu idaman udah cantik baik soleha pintar masak lagi."


Puji papa setelah selesai makan tidak salah Kevin memilih Eva menjadikan sebagai calon istri.


Selesai makan mereka shalat berjamaah lalu berkumpul lagi di ruang tamu hingga sore menjelang Kevin berpamitan buat mengantar Eva pulang lagi.


"Pa ma Kevin antar Eva pulang dulu ya tadi janjinya ngak sampai malam."


Menyalami keduanya di ikuti Eva juga.


"Aku pamit pa ma assalamu'alaikum."


"Sering sering kesini ya sayang hati hati di jalan wa'alaikumsalam."


Mama terasa berat melepas Eva pulang padahal lagi asik ngobrol tapi harus bagaimana lagi waktu yang memisahkan mereka berdua.


"Iya ma nanti aku datang lagi."


Setelah itu Eva pulang di antar Kevin dengan sedikit drama itu yang mana mama tidak rela Eva harus pulang sekarang dan meminta Eva menginap semalam saja.


Sekarang Eva bisa bernafas lega karena semua yang dia fikirkan tidak terjadi sama sekali padahal sudah takut duluan.


Seharusnya tadi mendengar ucapan Kevin pasti tidak akan segugup tadi.


Kadang kita hanya perlu waspasa serta hati hati karena tidak tau apa yang akan terjadi ke depan jadi wajar saja Eva sampai berfikir gitu.


\=\=\=\=\=


*Like, rate, komen and vote jangan lupa ya


Makasih ya


I LOVE YOU ALL 💕💞💖💗💝😍😘😙😗🤗*

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2