
Dsngan perut yang sudah mulai besar, Efi begitu menikmati masa kehamilan yang kini ia jalani.
Sudah banyak acara ngidam yang di lewati tapi sampai sekarang belum juga berakhir, sebagai suami Renal hanya bisa pasrah menuruti kemauan anaknya yang masih dalam perut itu.
Bagaimana jadinya kalau nanti sudah lahir masih di dalam perut saja dia sudah berani minta yang aneh aneh beruntung semua keinginan itu masih bisa Renal kabulkan kalau tidak maka bersiaplah buat Efi diamkan.
Sang anak seperti tidak suka sama Ayahnya itu kayak punya dendam yang belum terbalas.
"Mas Re."
Ah dari nada suara saja Renal sudah di buat merinding, kalau begini caranya sudah bisa di pastikan karena ada sesuatu yang mau di minta.
"Iya honey mau apa bilang aja, kalau bisa akan aku turuti tapi yang masih di kota ini ya."
Tidak bisa di bayangkan kalau ngidam tapi barangnya hanya ada di kota lain.
"Hhmm aku mau kamu masak ikan asin, terong, tempe sama jengkol terus sama tumis kangkung."
Ucap Efi yang lagi menginginkan makanan kampung seperti itu, entah mengapa terasa sangat menggugah selera.
"Ok akan aku buatkan buat istri ku tercinta ini."
Lega karena permintaan kali ini tidak aneh aneh masih bisa di lakukan di rumah.
"Tapi aku mau masaknya menggunakan kayu bakar."
Sudah ampun deh Renal mendengarnya, apa tidak ada yang lain cara masaknya.
Ini zaman sudah canggih tidak ada yang menggunakan kayu bakar lagi apa lagi ini kota besar, apa kata orang nanti kalau melihat asap keluar rumah itu bisa di sangka kebakaran.
"Honey sama kompor aja ya, biar lebih bersih dan enak ya."
Seumur hidup belum pernah memasak menggunakan kayu bakar.
Hah barusan senang karena ngidamnya tidak aneh tapi sekarang tidak jadi lagi yang ada malah memikirkan masak menggunakan kayu yang benar saja.
Seorang dosen tampan, mapan, pintar harus masak menggunakan kayu bakar, berdoa saja semoga saat dia masak nanti tidak akan ada orang yang datang.
"Ngak mau aku maunya menggunakan kayu titik."
Merajuk kerena Renal mulai protes sama permintaan Efi yang bisa di bilang mudah itu.
__ADS_1
"Kalau ngak mau, sebulan tidur di luar."
Ancam Efi manyun duduk di sofa sambil melipat tangan ke dada dan berada di atas perutnya.
"Ok aku masak sekarang jangan marah lagi, tunggu di sini aku siapkan perlengkapan dulu.
Maunya masak di mana taman belakang atau depan saja?."
Sudah lah mengalah jalan terbaik sekarang tidak ada gunanya membantah yang ada dia juga yang bakal kalah.
"Depan aja mas."
Baru tadi manyun sekarang sudah tersenyum lagi, emang ya mood ibu hamil mudah sekali berubah.
Renal pergi menyiapkan segala yang di butuhkan di bantu satpam penjaga depan.
Setelah selesai bibi membawakan bahan masakan ke halaman depan di bawah pohon mangga.
Sekarang mereka seperti tinggal di sebuah kampung pelosok yang jauh dari kata modern.
Renal berganti baju biasa takut kena arang.
Saat sedang asik memasak rival David datang ke rumahnya.
Cegat Renal tapi dia sudah terlanjur masuk lalu mendekati orang yang lagi masak itu.
"Ini beneran lo bang, ngapain masak pakai kayu emang gas lo habis, udah sana kerumah pakai gas gue dulu.
Kasian amat hidup lo."
Cibir Bastian yang siap meledakkan tawa melihat pemandangan yang tersuguh di depan mata, lalu mengambil hp buat menghubungi seseorang.
"Eh lo mau hubungi siapa? simpan lagi ngak hpnya."
Bisa tambah malu kalau sampai bertambah lagi orang yang tau kalau dia lagi kembali pada zaman dahulu.
"Yah sorry bang udah ke kirim, tenang bentar lagi datang."
Memasang wajah tanpa dosa setelah mengirim chat pada seseorang.
"Woy Re ngapain udah miskin sekarang?."
__ADS_1
Satu orang sudah datang karena rumah mereka depanan saja jadi tidak perlu menunggu lama.
David yang lagi tiduran di kamar langsung bangun saat dapat chat dari Bastian mengabari kalah Renal lagi masak di halaman rumahnya.
Tanpa fikir panjang langsung datang kerumah Renal benar saja dia lagi masak.
"Berisik lo pada, udah pulang sana.
Enek liat muka lo terus."
Sebenarnya bukan enek tapi risih bin malu di lihat orang apa yang sedang dia lakukan, kalau di dapur tidak apa kalau ada yang tau.
"Udha ngak apa si sini aja, nanti kita makan bareng.
Aku mau suruh Eva datang sama Kevin."
Harus ektra mengumpulkan kesabaran yang akan segera di uji ini.
Untung istri sendiri kalau tidak sudah pasti marah marah Renal sedari tadi merasa harga diri dia hilang sudah.
Tidak lama Eva datang bersama Kevin juga.
Urut dada Re banyakin istiqfar biar di beri kesabaran lebih.
"Ya ampun bang, lo jadi babu sekarang? udah pindah profesi atau kampus lo lagi pengurangan tenaga dosen.
Kerja di rumah gua mau ngak bang? jadi kang kebun aja."
Kenapa sekarang mulut Kevin jadi ikutan lemes seperti mulut David dan Bastian emang cocok mereka berteman tidak perlu di ragukan lagi.
"Va ambil nasi sama lainnya ya bawa kesini kita makan bareng sekalian tikar juga."
Boleh tidak ya Renal protes tapi takut tidur di luar selama satu bulan.
Jangan satu bulan satu jam saja belum tentu sanggup.
"Terserah kamu honey yang penting bahagia."
Pasrah Renal, hilang sudah wibawa dia sebagai dosen.
Hari ini mereka habiskan di rumah Renal sambil mengejek serta mencibir Renal yang lagi masak hingga masakan itu habis mereka masih berkumpul di sana juga.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.