
"Dasar Evan ngak ada akhlak dia fikir aku apa di dandani putih putih gitu, awas saja kalau balik lagi aku balas kamu Van.
Gerutu Eva melanjutkan melihat tutorial tadi yang sempat tertunda karena leluconan Evan barusan.
Kenapa dia bisa sampai percaya sama ucapan makhluk seperti Evan yang jelas jelas tidak mungkin itu.
" Kak?."
Panggil Nana masuk ke dalam kamar ikut duduk di atas ranjang.
"Kenapa Na? udah pulang ya kok belum ganti baju?."
Nana masuk mengenakan baju berangkat tadi pagi.
"Nanti aja kak, besok juga libur."
Merebahkan badan di ranjang Eva yang bisa di bilang jika tidak sekarang kapan lagi karena jika Eva sudah menikah maka tidak bisa sesuka hati masuk kamar Eva lagi.
"Cie yang mau nikah bahagia banget kayaknya."
Sandra masuk juga di susul yang lain juga.
"Bahagia lah, emang kamu nikah sama abang ngak bahagia."
Jleb rasanya seperti ada yang menusuk tapi tak berdarah.
"Siapa bilang seperti itu, kalau ngak bahagia terus yang sekarang ini apa?."
Sambil mengusap perutnya yang masih rata itu.
__ADS_1
"Itu apa, kamu habis makan ya?."
Pura pura tidak tau apa maksud ucapan Sandra tentang perutnya itu yang sudah jadi bukti nyata bahwa keluarga kecil mereka lagi penuh ke bahagiaan.
"Ck anak di bawah umur mana tau."
Kesal Sandra merasa di permainkan oleh Eva.
Bumil muda itu merasa percuma bicara sama sahabat yang sekarang merangkap jadi ipar itu.
"Kakak ngak liat apa kalau sekarang kak San lagi bahagia karena sebentar lagi jadi mama muda."
Nana yang kecil saja langsung paham masa yang mau nikah malah kolot seperti ini.
"Masa sih, emang kamu di apain abang San?."
"Udah ah aku marah, mending sekarang suruh abang pulang aja."
Keluar dari kamar Eva dengan memasang wajah cemberut.
Rencana Eva berhasil membuat calon mama muda itu mengabari calon papa muda supaya cepat pulang buat di jadikan alat pelampiasan oleh Sandra.
"Kakak kenapa iseng sekali sih, kasian bang Dav tau kak di kerjai kak San terus."
Terkikik membayangkan wajah masam David yang tidak bisa membantah Sandra kalau tidak ingin berakhir tidur di kamar lain.
"Ngak apa sekali kali ini, kapan lagi coba."
"Va, kamarnya mau di dekor seperti apa?."
__ADS_1
Kalau soal merias dua saudara itu paling semangat siapa lagi kalau bukan Kesya dan Kesyi.
"Aku serahkan sama kak Key berdua aja, aku terima beres ok."
Buat apa Eva harus repot repot menghias kamar kalau sudah punya kakak yang selalu bisa di andalkan.
"Ok, serahkan saja sama kami semua pasti beres."
"Terus salon nya gimana, kapan mau perawatan?."
Yang nikah siapa? yang repot juga siapa?.
Tapi semua itu akan ada timbal balik nanti saat tiba giliran mereka yang nikah pasti sailing bantu juga.
"Kamu ngak kangen Kevin Va? udah lebih seminggu ngak bertemu."
Heran saja melihat wajah Eva yang biasa saja saat jauh dari calon suaminya.
"Kangen sudah pasti tapi aku bisa apa coba, masa harus murung atau nangis gitu."
Jawab Eva santai, siapa yang tidak rindu coba sama pujaan hati.
Namun balik lagi pada tujuan mereka di pingit buat apa? sudah jelas pada waktu yang sudah di tentukan mereka bebas bertemu atau melakukan apa saja.
Lagian ini cuma sementara bukan selamanya jadi tidak ada yang perlu di cemas kan atau di kwatirkan.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1