
Sudah dua hari ini ini Eva dan Kevin belum bertemu hanya saling bertukar kabar lewat chat atau malam telfonan buat melepas rindu,sebenarnya bukan Eva yang menghubungi duluan tapi Kevin yang menelpon dengan alasan rindu.
Dua bukan waktu yang lama buat mereka tidak saling jumpa tapi apa daya gelora asmara jiwa muda mereka yang tidak bisa di pungkiri.
Selama membantu papanya di kantor Kevin sibuk sekali sampai tidak sempat memegang hp,makanya pulang kantor Kevin langsung menghubungi Eva tanpa menunggu ganti baju dulu.
Baginya mendengar dan mengetahui kabar Eva yang lebih penting setelah itu baru membersihkan diri.
"Selama membantu papa di kantor,aku jadi ngak bisa jumpa Eva selama dua hari ini,inilah alasannya kenapa aku ngak mau ikut andil dalam masalah kantor.
Selain menyita waktu istirahat juga ngak ada waktu buat bertemu Eva,dunia kantor membuat banyak waktu habis disana saja.
Seperti sekarang hampir tengah malam baru balik padahal jam kantor sore sudah selesai tapi apa daya kerjaan kantor sangat banyak,pantas papa meminta ku membantu dia di kantor."
Sudah pukul sepuluh lewat Kevin baru pulang kantor dengan keadaan badan lelah,wajah kusut,serta fikiran ikut lelah juga.
Masuk kamar di lepasnya jas yang sedari pagi dia pakai lalu di lemparnya ke sofa dengan sembarangan.
Rasa lelahnya kian terasa saat sudah berada di rumah,masuk kamar mandi untuk menyegarkan diri lalu setelah itu ingin segera beristirahat.
"Hubungi Eva dulu,sudah kangen pengen dengar suaranya,seharian ini aku belum dengar suara lembut itu.
Ck ini kenapa aku ngak mau masuk dunia kantor sudah lelah pulang kerja di tambah harus menahan rindu seperti sekarang."
Menghubungi Eva tapi setelah di coba beberapa kali tetap Eva tidak mengangkat panggilan Kevin.
"Kamu kemana sayang ngak tau apa aku lagi kangen pengen dengar suara kamu,andai ini belum tengah malam mungkin udah susul ke kos kamu."
Kevin frustasi saat telpon dia tidak Eva angkat,menghempaskan badan ke kasur sambil terus menghubungi Eva.
Bunyi nada tersambung ada tapi tidak di angkat kalau begini caranya bisa bisa Kevin tidak tidur semalaman menunggu Eva mengangkat telpon Kevin.
Kevin terus menghubungi Eva hingga tidak sadar dia sudah tertidur dengan sendirinya dengan hp masih dia pegang.
"Besok waktu ku bersama dia,kamu ngak akan bisa bertemu dia."
Sosok itu sedari tadi sudah memperhatikan gerak gerik Kevin sejak sampai di rumah hanya saja dia mengikuti apa yang Kevin lakukan.
Lalu di menghilang dari sana setelah mengucapkan kata itu,sosok yang sudah beberapa hari ini bersama Eva tanpa Eva sadari yang menganggap itu Kevin kekasihnya.
Padahal Eva sedikit sudah menyadari bahwa Kevin ini dan itu sedikit beda saat tangan mereka berpegangan tapi Eva menepis rasa curiga itu begitu saja.
\=\=
Pagi menjemput hari yang siap di mulai,sinar mentari sudah malai menampakkan diri dengan cahaya cerah menandakan cuaca pagi cukup cerah tidak ada sedikit pun awan mendung.
Di kos kecil itu ketiga gadis cantik itu lagi sarapan pagi bersama dengan tenang,walau sudah dekat dan kenal lama saat makan tetap tidak ada yang mengeluarkan suara sampai sarapan selesai.
Bicara saat makan tidak baik buat kesehatan bisa menyebabkan tersedak dan nasi masuk kedalam saluran pernapasan.
"Kak gimana permintaan Ibu dan yang lainnya tentang meminta kita pindah ke rumah kakek?."
Selesai sarapan saat yang pas buat mereka bicara setelah membersihkan piring bekas sarapan.
"Gimana ya dek,bukannya kakak ngak mau tapi sayang sewa kos masih ada gimana kalau sewa sudah habis baru kita pindah.
Kakak ngak mau buang uang sebab buat mendapatkan susah jadi kita pernah menyia nyiakan atau membuang apa yang kita punya."
Susah dari kecil dan harus banting tulang memenuhi kebutuhan supaya bisa bertahan hidup menjadikan Efi sosok yang sangat menghargai apa itu usaha.
Tidak semua orang bisa hidup dengan layak seperti mereka jadi sebisa mungkin tidak akan pernah menganggap remeh suatu hal.
"Iya kak,aku ngerti nanti kita bilang baik baik lagi ya supaya mereka mengerti."
Eva juga setuju apa yang Efi bilang,satu rupiah saja sangat mereka hargai apa lagi ini bisa di bilang cukup banyak dan jika di hitung harga sewa kos sebanding dengan biaya hidup mereka dulu saat di kampung.
"Nanti biar kakak aja yang bilang biar mereka ngerti."
"Iya kak."
"Kalau kakak dan Eva pindah berarti Sisi akan ikut pindah juga ngak mau tinggal sendiri di sini."
Sisi sedari tadi hanya diam saja menyimak perbincangan dua kakak beradik itu.
Baginya punya kakak perempuan sungguh menyenangkan beda kalau punya kakak laki-laki seperti Renal yang setiap kali bertemu tidak jauh dari perdebatan.
__ADS_1
"Ngak apa dong Si,kan kita masih tetangga dan kalau kakak udah nikah sama bang Re kamu satu rumah sama kakak."
Eva sedikit merasa sedih jika Efi sudah menikah nanti mereka akan pisah rumah,walau tidak jauh hanya depan rumah saja tapi tetap akan terasa beda.
Dari kecil sudah bersama hingga dewasa sekarang pasti akan terasa harus pisah rumah tapi Eva tidak bisa egois juga,jika saatnya dia menikah pasti akan berpisah rumah juga dengan Efi.
"Eh tunggu bentar kayaknya ada tamu."
Eva melangkah menuju pintu buat melihat siapa yang datang saat membuka pintu ternyata Kevin sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sudah rapi.
"Sayang,kamu pagi pagi udah kesini."
Senang Eva melihat Kevin datang sebab dua hari ini mereka belum ada berjumpa.
"Aku rindu,jalan yuk."
Sapa Kevin mengajak Eva jalan jalan.
"Tunggu bentar ya,aku ganti baju dulu."
Eva masuk kedalam buat ganti baju sekalian pamit sama Efi.
"Kak aku pergi sama Kevin dulu ya,bye assalamu'alaikum."
Pamit Eva menyalami Efi setelah ganti baju.
"Cie yang mau jalan melepas rindu setelah dua hari ngak ketemu."
Ledek Sisi melihat Eva yang sudah cantik saat keluar kamar.
"Cie yang ngak bisa jalan jalan karena doi belum sembuh,bye Sisi jangan nangis."
"Hati hati dek jangan lupa kabari ya,waalaikumsalam."
Teriak Efi saat Eva sudah berada di ambang pintu mau keluar Eva hanya menoleh dan tersenyum sebagai jawaban.
"Yuk sayang aku udah siap.Kamu ganti mobil?."
Tanya Eva saat mobil Kevin beda dari biasa sebab Eva sudah hafal segala hal yang menyangkut tentang Kevin.
Saking cintanya atau Eva selalu memperhatikan apa saja yang Kevin pakai jadi akan tau apa saja yang Kevin pakai apa lagi jika ada yang beda dari Kevin.
Jawab Kevin membukakan pintu buat Eva setelah Eva masuk di susul Kevin masuk juga duduk di kursi belakang kemudi.
Mobil melaju ke arah tempat yang Eva tidak tau mau kemana.
"Sayang gimana kerja kantor?capek ngak."
Tanya Eva memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Hah kantor? i iya capek kok."
Kaget Kevin saat ditanya masalah kantor padahal dia lagi fokus menyetir.
"Sabar ya,kan cepat atau lambat pasti kamu juga yang akan menggantikan papa kamu di kantor."
"I iya aku tau kok."
Kevin hanya menjawab singkat saja.
"Kamu kenapa kok aneh gitu sih,apa ada masalah?."
Setiap bersama Kevin Eva sudah tau apa ada yang beda atau tidak.
"Hhmm ngak kok,mungkin aku kelelahan aja."
Alibi Kevin sebab pertanyaan Eva barusan terasa aneh di telinga Kevin.
"Kita mau kemana sayang?."
Heran Eva sedari tadi mobil terus melaju belum ada tanda tanda mau berhenti.
"Ke tempat yang hanya akan ada kita berdua aja."
Jawab Kevin masih fokus pada jalanan yang mereka lewati tanpa menoleh pada Eva.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa kok eneh gini sih?kok tangan kamu dingin gini apa kamu sakit?."
Kaget Eva memegang tangan Kevin yang berada di stir tapi terasa dingin seperti beberapa hari yang lalu sebelum Kevin masuk kantor.
"Ah masa iya ngak kok."
Elak Kevin ini yang dia hindari kalau Eva memegang tangannya pasti akan bertanya soal kenapa tangannya bisa dingin.
"Ngak kok aku ngak salah,ini beneran tangan kamu dingin lo."
Jujur Eva sebab memang benar tangan Kevin dingin tidak seperti biasa yang terasa hangat.
"Mungkin karena AC mobil aja."
Alasan Kevin supaya Eva tidak semakin curiga.
"Ngak sayang ini bukan kali pertama aku merasakan tangan kamu dingin,waktu itu juga pernah tapi aku ngak terlalu anggap serius."
Eva ingin kali ini dia tau kenapa tangan Kevin terasa dingin,kalau sekali saja bisa di terima alasannya tapi ini sudah beberapa kali.
"Kamu beneran mau tau apa alasan kenapa tangan kamu dingin?."
Eva menganggukkan kepala tanda ingin tau apa jawaban Kevin.
"Lihat aku baik baik."
Pinta Kevin dan Eva menuruti perkataan Kevin melihat Kevin dengan tatapan mata tanpa berkedip hingga perlahan tapi pasti wajah Kevin mulia berubah bentuk dengan mata merah,jari jari Kevin di tumbuhi kuku yang panjang tapi tidak beraturan bentuknya,di telinga itu darah mengalir secara perlahan hingga menetes melewati dagu.
Eva terdiam di tempat melihat apa yang ada di depan matanya ini,merasa tidak menyangka bahwa Kevin yang bersama dia sekarang bukan kekasihnya.
Dia adalah sosok menyeramkan yang menjelma menyerupai Kevin hingga Eva percaya dan masuk ke dalam permainannya.
"Ka kamu siapa?."
Nafas Eva terasa berat sekuat tenaga ingin keluar dari mobil itu,doa serta ayat ayat yang dia bisa tidak lupa di lafalkan.
Mulut Eva terasa terkunci lapat hanya hati Eva yang terus melafalkan doa supaya bisa keluar dari mobil itu dan menjauh dari makhluk yang menyeramkan itu.
"Kenapa kamu takut,bukannya tadi kamu ingin tau kau siapa."
Seringai dia tampak menyeramkan di mata Eva,setelah pintu mobil terbuka Eva keluar lalu berlari menjauh sebisa yang dia sanggup.
"Teruslah berlari ngak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkan mu."
Membiarkan Eva terus berlari manjauhi dia,ingin melihat sejauh mana Eva bisa.
Semakin jauh Eva berlari tapi tidak menemukan jalan yang dia lewati tadi yang ada hanya pohon besar atau semak semak.
"Kenapa aku ngak menemukan jalan tadi dan kenapa juga tempat ini beda dari yang aku lewati tadi,aku belum mau berakhir sia sia di sini."
Eva takut berada di tempat itu,berada di sana mengingatkan Eva dulu pernah tersesat di hutan saat kemping waktu dia hilang.
Berada disana sungguh hal yang sama sekali tidak Eva inginkan,pada siapa dia akan minta tolong yang ada disana hanya hutan belantara dimana jalan aspal yang di lewati tadi kemana juga pemandangan yang tersaji indah tadi.
"Kak aku takut,aku takut ngak bisa bertemu kakak lagi."
"Ya Allah tolonglah hamba,tolong tunjukkan jalan buat keluar dari sini.Hanya pada mu hamba bisa minta tolong sekarang."
Eva berlari tidak tau mau kemana lagi yang ada dalam fikirannya ingin menjauh dari sosok menyeramkan tadi.
"Mau kemana?."
Muncul lagi sosok lain menghampiri Eva dari arah belakang padahal Eva sudah berharap tidak bisa di temukan tapi nasib berkata lain.
\=\=\=\=\=
*Maaf author baru up hari ini,sebab mentok ide karena menulis tidak semudah kita membaca karya.
Harap maklum dan makin suka ya.
Tebak siapa yang akan menyelamatkan Eva dari sana atau apakah keluarga dia akan tau kalau sekarang Eva dalam bahaya.
Komen ok🤗🤗
Makasih
__ADS_1
I LOVE YOU ALL 💕💞💖💗💝😍😘😙😗🤗*
Tbc.