TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Berusaha Membujuk


__ADS_3

Selamat Membaca


Eva dengar suara siapa yang menyapa tetap melanjutkan jalannya. perasaannya sekarang bercampur aduk antara senang teman yang selalu menjaganya telah kembali tapi juga kesal saat melihat mukanya entahlah cuma dia yang tau apa dirasakan sekarang.


"Va tunggu "


Mengejar terus dia ngak peduli sekitar sebab orang ngak akan melihatnya cuma Eva seorang.Bagaimana cara menjelaskan ini semua begitu sulit memulai semuanya.


"Va dengar dulu aku mau bicara "


Jika saja bukan di sekolah mungkin sudah menyeretnya menjauh dari sana tapi ngak mungkin di lakukan dengan keadaan sekarang. Bisa di bilang Eva dalam posisi beruntung bisa cuekin Evan.


"Kamu mau apa Van, kamu mau orang bilang aku gila kalau jawab pertanyaan mu itu sekarang, aku masih mau di bilang waras Van dan jangan kamu anggap sudah memaafkan mu karna bicara ini"


Perasaan kesal masih bergelayut di hati Eva, menyebalkan tentu saja bukan marah namun masih kesal saja sama kejadian dulu saat dia tersesat di hutan malah meninggalkan dia sendirian sebelum ditemukan orang bagaimana kalau sampai tertangkap lagi dan dia sudah ngak ada.


*keras kepala mu masih sama dari awal kita bertemu Va tapi aku suka.


aku akan terus berusaha supaya kamu mau memaafkan ku, aku janji.


Dan anak baru itu berani sekali mendekati Eva ku lihat saja nanti aku kasih hadiah*.


Walau Eva Mendiamkannya masih mengikuti dari belakang dengan senyum senyum ngak jelas, sudah tau orang marah dia malah senang kelihatannya.


Kenapa Evan ngak masuk sekolah hari ini sebab tugasnya yang dulu belum selesai sempurna di lakukan jika ngak segera di tuntaskan akan sulit bertemu Eva lagi akan banyak rintangan untuk dia keluar.


*Sudah tau aku masih kesal, walau kejadian itu sudah lama bukan berarti aku akan mudah melupakan itu.


Cuma dia teman terbaik ku, ya teman cuma aku yang bisa melihat sendiri tapi kenapa sifatnya hampir sama sama Revan sih dan Revan kemana lagi kenapa ngak masuk sekolah kalau ada dia aku bisa buat tambah kesal karna aku cuekin.


Tapi tunggu bagaimana kalau dirumah nanti apa dia akan tetap mengganggu ya, semoga tidak*.


Duduk di sudut Sekolah seorang diri sambil menyenderkan diri memijit kepala yang sedikit pusing sama kejadian tadi membuat syok dan sebal secara bersamaan. Walau dia sudah ngak memikirkan kejadian lalu jika melihat Evan di membayangkan lagi kebersamaan mereka sampai akhirnya berpisah tanpa kata perpisahan.

__ADS_1


"Evan nyebelin banget sudah pergi tiba tiba dan sekarang dia datang tiba tiba juga, kayak hantu aja"


Gerutu Eva memainkan kaki di lantai Sekolah menggerakkan kekiri kanan dengan perasaan dongkol.


"Emang kenpa kalau hantu ? ''


Orang yang di omongin tiba tiba muncul kayak hantu lalu duduk di samping Eva tanpa dosa.


" Tuh kan beneran, muncul tiba tiba lagi "


Eva memegang dada saking kaget melihat sosok duduk disampingnya.


Perasaan kesal tadi hampir reda sekarang naik lagi ke ubun ubun apa kurang cukup mengagetkan tadi. Dia kira jantung akan diam saja jika di kejutkan terus, jantung akan bekerja lebih cepat jika di kejutkan begini.


"Masih marah ? "


Jika sudah tau buat apa menyakan pertanyaan yang kita sendiri sudah tau jawabannya, apa masih perlu bertanya lagi.


"Apa perlu aku jawab atau sudah tau jawabannya ? "


"Va kamu kenapa teriak teriak sendiri disana, sudah mulai gila ya ? "


Kebetulan ada kakak kelas sedang lewat disana dan menggeleng kepala sama tingkah Eva.


"Ah ngak kok kak, ini aku lagi baca novel"


Kilah Eva mencari alasan real tapi nyatanya malah kikuk sendiri.


"Mana novelnya kakak mau lihat siapa tau kakak minat baca juga"


Malah kejebak sama jawaban sendiri, sekarang bingung apa yang mau di tunjukan jika dia ngak membawa apa apa saat ini.


"Eh gimana ya kak "

__ADS_1


Eva menggaruk kepala tertutup hijab itu sambil mencari alasan biar bisa bebas sama jebakan yang di buat sendiri.


"Mana Va katanya lagi baca novel, kakak juga mau lihat kakak juga suka baca"


Mendekat ke Eva sambil tersenyum bisa dibilang dia kakak kelas yang terbilang cukup ramah juga pintar dan seantero Sekolah juga tau itu.


"Hhmm,,, ini kak kayaknya ketinggalan di kelas deh, aku lupa kalau tadi habis baca langsung ke sini jadi masih kebawa suasana cerita tadi he he "


Berharap kakak itu mau mengerti jika Eva hanya mencari alasan saja bisa terbebas cepat.


"Ya sudah nanti kakak ke kelas mu ya pinjam novel jika sudah selesai baca "


Pamit pergi setelah selesai mengatakan itu.


Eva mengelus dada lega setelah kepergian senior tadi kembali menyandar pada dinding sambil memejamkan mata menenangkan debaran jantung.


"Gara gara dia aku sampai di kira orang gila karna bicara sendirian, menyebalkan kamu Evan. "


Diam sejenak, suasana disana cukup tenang untuk bersantai menenangkannya fikiran yang lagi kacau seperti Eva. Jika kebanyakan siswa banyak fikiran karna tugas Sekolah berbeda dengan Eva fikiran nya kacau dengan kedatangan Evan lagi, bukan ngak senang tapi berusaha pura pura cuek saja.


*Kamu menggemaskan jika sedang sepeti itu bikin aku tambah semangat mengerjai mu, kayaknya hari ini belum cukup deh kalau kamunya se menggemaskan ini.


Lihat saja ekpresi itu masih begitu sama aku rindu muka kesal itu Va*.


Jika Eva sibuk sama sejuknya udara disana hingga dia tidak menyadari kalau sudah di tinggal sendirian dalam lamunan penuh damai itu.


"Semua ini gara gara kamu sampai aku mati kutu mencari alasan."


"Jangan pernah kamu muncul di hadapan ku jika di perkarang Sekolah lagi"


"Kamu dengar aku ngomong kan Van, kenapa ngak jawab ? "


Berbicara sendiri belum membuka mata dia fikir masih ada Evan disana menungguinya sambil mendengar ocehan panjang Eva Mengomeli dirinya.

__ADS_1


"Van ? "


Tbc.


__ADS_2