
Setelah lama tidak sadarkan diri mata cantik itu kembali membuka kelopak matanya dan mendapati berada di tempat tadi lagi.
"Kenapa bisa berada disini lagi?. "
Menyadari berada di tempat yang sama tadi rasanya bercampur aduk antara kesal atau putus asa. Kesal sudah susah payah lari tapi kembali lagi kesini dan putus asa siap menerima takdir apa yang mendatangi dia.
"Sudah capek kabur pas sadar, bangun disini lagi. "
Ruangan itu masih kosong cuma dia seorang berbaring di atas tempat tidur.
"Badanku rasanya lemas sekali, perut perih juga rasanya. "
Bicara sendiri memegang perutnya sambil duduk menurunkan kaki kelantai.
"Au kepala ku pusing juga, bagaimana bisa kabur lagi kalau aku ngak punya tenaga begini. "
Kepala terasa berat untuk di ajak berdiri , pandangan pun mulai berkunang kunang.
Efek berjalan jauh dan bangun di tempat yang sama membuat dia hilang semangat lagi. Kalau tau begini lebih baik tadi sembunyi saja mengumpulkan tenaga buat kabur.
"Baring sebentar lagi siapa tau hilang pusingnya. "
Berbaring lagi sambil memejamkan mata berharap hilang rasa pusing di kepala tidak tau malah ketiduran.
Cklek pintu terbuka masuk seseorang kedalam sana melihat Eva ternyata masih tidur dengan nyenyak tidak tau saja kalau tadi sudah bangun dan tidur lagi.
"Hhmm dasar, masih tidur aja dia betah banget. ''
Tersenyum sinis melihat wajah cantik itu tidur dengan tenang.
" Dia fikir sudah aman apa bisa setenang ini. "
Duduk di dekat Eva berbaring memandang lekat wajah Eva.
Wajah tenang itu yang selama ini dia rindukan setiap hari . Melakukan apa pun agar bisa dekat lagi seperti sekarang.
Waktu itu meninggalkan Eva agar suatu hari bisa bersama walau itu sulit terjadi dengan dunia mereka berbeda.
Berusaha dulu apa salahnya bukan, melakukan perjalanan panjang hingga berhasil sekarang sudah bisa bergabung dengan dunia Eva seutuhnya walau Eva belum tau itu.
"Hey bangun Va. "
Membangun Eva dengan lembut agar tidak syok atau ketakutan lagi seperti kejadian sebelumnya.
"Jangan,,, jangan mendekat,, pergi. "
Eva mengigau dalam tidurnya mungkin masih merasa berada di tempat yang bahaya.
"Va,, bangun. "
Menggoyangkan badan Eva pelan.
"Jangan pegang aku,, pergi. "
Memukul tangan yang memegang bahunya dan menepis tangan itu hingga terlepas.
"Va bangun ini aku Evan. "
Menggoyangkan lebih kuat lagi hingga benar-benar terbangun.
"Hah hah hah. "
__ADS_1
Eva bangun dari tidurnya namun masih belum menyadari kalau sekarang sudah berdua bersama Evan.
"Untung cuma mimpi. "
Bergumam sendiri belum menyadari keberadaan Evan disana.
Dan Evan tadi saat Eva teriak lagi malah menghindar berdiri dekat jendela.
"Sekarang aku harus kabur dari sini. "
Turun dari tempat tidur berjalan menuju pintu, memegang knop pintu siap untuk dibuka.
"Kamu mau kemana ?. "
Sebuah suara menghentikan langkah Eva yang siap untuk keluar dari sana.
"Suara itu kenapa ngak asing di telinga ku ya. "
Mendengar suara yang mencegah dia pergi tapi belum mau membalikkan badan takut akan membuat kecewa.
"Mungkin aku hanya halusinasi, dia saja ngak peduli lagi sama aku. "
Menggeleng kepala kuat mengusir pemikiran yang tidak mungkin itu sekarang sebab dari tadi sejak dia kabur dari sana hingga balik lagi dia tidak ada.
"Siapa yang halusinasi?. "
Bukannya langsung to the point saja malah mempermainkan Eva lagi tidak tau apa dia sudah ketakutan lagi.
"Kenapa ngak balik badan?. "
Langsung saja kenapa harus bertele tele begini juga, orang sudah takut jangan di tambah lagi.
"Van itu kamu?. "
"Iya aku memang kamu mengharapkan siapa lagi?. "
Apa sudah cukup bermain hingga mengaku sekarang, bermainlah di waktu yang tepat dan tempat yang nyaman bukan saat bahaya begini.
"Kamu,, sejak kapan disana?. "
Saat membalikkan badan terlihatlah pemuda yang seumuran dengan dia lagi berdiri yang tentunya tidak lagi memakai pakaian seperti saat pertama bertemu.
"Sejak kamu tidur tadi. "
Jawaban singkat Evan cukup membuat Eva bingung, kalau sejak dia tidur kenapa saat bangun tidak melihat dia berada diruangan yang sama dengan dia.
"Tapi aku kok ngak melihat mu berada disini?. "
Kurang percaya saja sebab Eva melihat dia berada di dunia berbeda.
"Kamunya saja yang tidak memperhatikan dari tadi. "
"Kamu mau kemana?. "
Pertanyaan konyol apa yang keluar du mulut Evan sekarang sudah pasti jawaban ingin segera pergi dari sana.
"Jangan bertanya kalau jawabnya sudah tau. "
Jawab Eva ketus saat teringat kalau dia masih marah sama Evan.
"Hey kamu masih marah?. "
__ADS_1
Dari nada jawaban Eva saja sudah jelas kenapa harus bertanya lagi sungguh bodoh bikinan sendiri- made in Evan.
"Apa kamu tau siapa yang membawa mu kesini dari mereka semua?. "
Sudah cukup mempermainkan Eva tidak mungkin terus becanda saat momen begini.
Eva cuma menggeleng memang itu kenyataan saat bangun pertama disini dan bangun lagi malah disini lagi, siapa yang berani mempermainkan yang tidak lucu ini.
"Kamu tau aku yang membawa mu kesini biar aman dan saat aku kembali memastikan kamu baik baik saja malah kamar ini kosong karna kamu sudah kabur dan harus susah payah lagi menyelamatkan mu dari dia. Dan sekarang kamu mau kabur lagi sebelum tau siapa yang menyelamatkan mu lagi. "
Jelas Evan panjang lebar tidak habis fikir sama teman satunya ini tapi bukannya cuma Eva sendiri temannya dari alam nyata.
Perjuangan panjang dia lalui mencari Eva yang menghilang lagi saat di tinggal sebentar dan hampir kecolongan lagi kalau datang terlambat.
"Jadi kamu membawa ku kesini dan itu dua kali?. "
Anggukan kepala Evan sudah jawaban pasti tanpa harus mengeluarkan suara.
"Dan oh kamu jangan lupa kalau kamu pernah mengatakan akan melakukan apa saja pada siapa saja yang menyelamatkan mu. "
Mengingatkan Eva pada janji yang sempat di ucapkan tadi sebelum tidak sadarkan diri dan Evan membawa pergi.
"Kapan? aku mengucapkan janji. "
Berusaha mengingat lagi apa saja yang telah di ucapkan saat dalam bahaya tadi.
"Kamu jangan pura pura lupa Va, dan permintaan ku ngak sulit kok. "
Mendekat ke Eva berdiri sambil menyeringai membuat Eva takut sebab selama ini Evan tidak pernah menampakkan ekpresi menakutkan.
"A,, apa yang kamu mau?. "
Ketakutan sudah ketara di wajah Eva, takut jika Evan juga menginginkan dirinya sama seperti mereka lainnya.
"Kenapa kamu takut? bukan tadi kamu bilang akan menuruti kemauan yang menyelamatkan mu Va. "
Ekpresi masih belum berubah dengan semakin dekatnya dengan Eva yang makin terpojok berdiri di pintu yang belum sempat dia buka tadi.
Jika sudah terbuka mungkin bisa menghindar dari tatapan maut Evan itu.
"Aku,,, aku,, aku. "
Cuma kata itu yang mampu keluar dari mulut Eva.
"Aku minta ngak sulit kok Va dan ngak akan menyakiti mu. "
Perkataan itu sama persis seperti sosok yang membawanya tadi.
Cuma omongan saja yang tidak akan menyakiti tapi malah mau melenyapkan dia.
"Van,,, kamu becandakan?. "
Eva masih belum percaya jika Evan juga menginginkan dirinya sebagai pelengkap tumbal seperti mereka semua.
Dia sudah salah menerima Evan sebagai teman selama ini jika mempunyai niat tidak baik juga terhadap dirinya.
Memang benar sesama manusia saja bisa saling menyingkirkan apalagi jika mereka berbeda dan itu ada manfaat sepihak nya.
Dan Eva merutuki dirinya yang bicara asal tadi hingga menyesal sekarang dengan terjebak dalam ucapan sendiri.
Benar adanya *jika kita senang jangan terlalu cepat mengambil keputusan dan jika sedang sedih jangan berlarut di dalam itu.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya cukup like, rate, komen and vote.
Tbc.