TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Permintaan Terakhir.


__ADS_3

Dalam ruangan sunyi itu cuma ada isak tangis Eva yang meratapi nasib buruk menimpa dirinya.


Terjebak dalam dunia yang sebelumnya tidak pernah difikirkan tapi kini malah berada di dalamnya.


Meratapi akhir hidup sungguh menyedihkan, sepanjang hidup sudah cukup menderita ditambah lagi sekarang tidak tau bagaimana cara akhirnya nanti.


"Aku sungguh kecewa sama kamu Van. Ngak nyangka aja kamu cuma pura pura baik selama ini bahkan yang selalu lindungi aku ternyata ada niat ngak baik yang kamu sembunyikan dari ku. "


"Aku rindu kamu yang dulu Van, kamu yang selalu nemani aku bukan kamu yang sekarang yang berubah jahat bahkan mau menghabisi aku. "


Kenangan itu terlintas indah dalam fikiran Eva, mulai saat bertemu di belakang rumahnya yang waktu meminta berteman sama dia, bertemu lagi di Sekolah hingga saat tersesat di hutan Evan lah yang selalu ada buat dia walau akhirnya pergi tanpa pamit.


Dia orang pertama yang mencari dirinya jika di kabarkan menghilang, mengkhawatirkan keadaannya bila belum di jumpai tapi apa sekarang semuanya berbanding terbalik tidak ada lagi sosok Evan yang baik ataupun melindungi dia semua sirna sekejap mata.


"Aku harap kamu merubah keputusan mu Van, aku tau kamu baik, aku tau kamu ngak bakalan tega menyakiti ku.


Mana Evan dulu, mana Evan baik, mana Evan peduli, mana mana mana Van. "


Eva teriak mengeluarkan apa yang dirasakan biarlah disangka gila bagi siapa yang mendengar setidaknya jika pun dia tiada tidak ada beban yang dia bawa nanti.


Masih berharap Evan berubah fikiran di saat terakhir ini walau kesempatan itu kecil tidak ada salahnya dia berharap.


Kadang dari sekian banyak doa atau permintaan kita kadang cuma sebagian kecil untuk di kabulkan.


B


"Van,,, Van,,, Van. "


Lirih Eva pelan sekali hingga hampir tidak terdengar sampai cuma bibir mungil itu yang bergerak tanpa mengeluarkan suara.


Lelah dengan meratapi nasib Eva duduk bersender pada tempat tidur itu dengan beralaskan lantai saja yang terasa dingin.


Mata yang biasa memancarkan kedaiman, sejuk bila dipandang kini yang terlihat cuma kekosongan tidak ada semangat lagi di dalam sana.


Perlahan mata itu tampak sayu sekali semakin lama semakin berat dan tertutup.


Eva tidur dalam kesedihan yang dibawanya berharap jika bangun lagi tidak merasakan lagi kesakitan pada dirinya.


Membawa semua rasa kecewa yang di dapat hingga tertidur dalam keadaan gelisah, tidak tenang sama sekali.

__ADS_1


"Enak sekali dia tidur dalam keadaan bahaya yang mengintai dirinya.


Tidurmu nyenyak sekali Va mending aku pindahkan ke kasur saja kalau tidur begini bisa sakit badannya saat bangun nanti. "


Diangkatnya badan mungil itu keatas kasur membaringkan dengan pelan takut terbangun nanti lalu menyelimutkan hingga dada.


Dipandangnya wajah cantik yang tidur gelisah, wajah yang menghiasi hari hari Evan selama ini.


"Maaf Va aku harus melakukan ini sama kamu biar kamu tau apa jadinya kalau jadi aku saat permintaan kita tidak di kabulkan."


Cukup lama Eva tertidur hingga mata cantik itu terbuka perlahan, pandangan pertama yang dilihatnya wajah Evan yang duduk di tepi ranjang dengan wajah datar tanpa ekpresi.


"Van, kamu."


Tidak melanjutkan lagi ucapan itu cukup sampai kata kamu saja saat teringat kalau Evan yang duduk dekatnya bukanlah Evan yang dulu lagi.


Spontan Eva langsung duduk dan menjauh dari Evan rasa takut kembali menghampiri saat tahu kenyataan sekarang.


"Kenapa? Apa kamu takut?."


Pertanyaan konyol yang tidak perlu terlontar dari mulutnya.


"Jangan Van, aku tau kamu baik kamu pasti lagi becanda kan Van."


Masih percaya saja kalau Evan itu baik tidak mungkin akan menjahati Eva


"Semuanya sudah Va sejak peemintaan maaf ku kamu tolak dan setiap perkataan harus ada konsekuensinya kan."


"Sebelum semua di mulai apa permintaan terakhir mu?."


Wajah datar itu sungguh sulit di tebak apa maunya.


"Bilang saja tapi jangan minta untuk aku melepaskan mu itu tidak mungkin ku kabulkan."


Eva diam buat apa meminta sesuatu tapi sesuatu itu tidak boleh di minta jadi memilih diam saja.


Gelengan kepala itu menandakan apa, tidak ada permintaan atau jangan lakukan sesuatu.


"Artinya apa gelengan kepala kamu itu, aku ngak ngerti."

__ADS_1


Artian berbeda tiap orang dalam setiap gelengan kepala.


Itu bukan jawaban ataupun sebuah keputusan pasti tapi jawaban ambigu membuat semua orang bingung dan bisa jadi mengambil keputusan sendiri.


"Bilang saja asal jangan yang ku bilang tadi karna sesuatu yang sudah di miliki tidak akan pernah di lepaskan."


Masih berusaha sabar menghadapi tanggapan Eva. Apa maunya sekarang tidak jelas sama sekali.


"Aku,,."


"Aku mau,,."


"Aku mau kamu,,."


"Aku mau kamu Van."


Ucapan Eva terbata tidak tau harus melanjutkan atau menerima nasib saat ini yang sudah jelas di depan mata.


"Kamu mau aku apa Va ? Yang jelas kalau bicara, masih bisa bicara dengan benarkan?."


Geram dengan jawaban tidak jelas, tadi cuma gelengan kepala Dan sekarang bicara tidak jelas.


"Aku mau kamu yang seperti dulu Van."


Mengumpulkan keberanian mengatakan itu, cuma sedikit kesempatan mereka seperti dulu.


"Maaf."


Lanjut Eva lagi mulutnya gemetar mengatakan itu.


Menutup mata siap menerima semuanya sekarang tidak berani menatap Evan yang tidak jauh dari tempat duduk Eva.


Terdiam mendengar kata singkat padat yang keluar dari mulut Eva.


Jika masih menginginkan mereka seperti dulu kenapa permintaan maaf Evan di tolak tanpa berfikir panjang.


Jangan pelit like, rate, komen and vote.


makasih.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2